Showing posts with label masjid di riau. Show all posts
Showing posts with label masjid di riau. Show all posts

Saturday, March 10, 2018

Masjid Agung Al-Huda Tembilahan


Masjid Raya Al-Huda Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.

Tembilahan adalah kota kecamatan yang merupakan pusat pemerintahan kabupaten Indrahiri Hilir di provinsi Riau. Kota tua di pinggiran sungai Indragiri yang menawan. Sesuai dengan namanya, kabupaten Indragiri Hilir ini memang berada di bagian hilir Sungai Indragiri yang mengalir dari kabupaten Indragiri hulu, melewati kota Tembilahan dan bermuara ke Laut Cina Selatan di perairan kabupaten Lingga.

Sebagai ibukota kabupaten, Tembilahan memiliki sebuah masjid Raya yang cukup megah. Masjid Raya Al-Huda, lokasinya sangat menarik perhatian karena berada di tepian sungai Indragiri. Seperti kita ketahui bersama sebagaian besar perjalanan sejarah kota kota di Indonesia pada masa lalu menyandarkan sarana transportasi sungai dalam kehidupan kesehariannya, maka wajar bila kemudian fasilitas fasilitas umum pun lokasi nya tak jauh dari alur sungai.

Masjid Agung Al-Huda Tembilahan
Jl. Jenderal Sudirman, Tembilahan Kota
Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau 29214
riaugnn.com




Lokasinya yang berada di tepian sungai Indragiri ini menghadirkan pemandangan tersendiri bagi kota Tembilahan, bila dipandang dari arah sungai atau dari seberang sungai. Tampak kota tembilahan dengan latar depan Masjid Agung Al-Huda dengan kubah besar dan empat menaranya yang menjulang.

Masjid Raya Al-Huda Tembilahan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 1900-an dengan konstruksi bangunan dari kayu yang menggunakan atap sirap (atap yang terbuat dari kayu ulin). Kala itu masjid ini merupakan satu-satunya Masjid yang berada dikota Tembilahan, sehingga menjadi menjadi pusat kegiatan keagamaan kaum muslimin dan muslimat untuk kota Tembilahan dan sekitarnya.

Pembangunan masjid tersebut menggunakan biaya yang berasal dari sumbangan wakaf, infaq dan sedekah dari kaum muslimin dan muslimat yang berada di kota Tembilahan dan sekitarnya.

Masjid Raya Al-Huda Tembilahan dari masa ke masa.

Masjid ini dibangun dengan biaya yang berasal dari sumbangan waqaf, infaq, dan shadaqah dari kaum muslimin dan muslimat yang berada di Kota Tembilahan dan sekitarnya.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan akan masjid yang lebih besar untuk menampung Jemaah yang semakin bertambah masjid ini mengalami beberapa kali renovai dan perluasan. Perombakan pertama dlakukan ditahun 1935, kemudian dilakukan perombakan lagi di tahun 1968 dan terahir tahun 1994. Bangunan mengah yang kini berdiri merupakan hasil pembangunan di tahun 1994 tersebut.

Perombakan tahun 1994 juga menambahkan bangunan kantor Yayasan Al-Huda dan kantor Pengurus Masjid Al-Huda, kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indragiri Hilir dan ruang perpustakaan MUI dan MAsjid Al-Huda, lantai atas Masjid Al-Huda dipergunakan untuk kegiatan Tahfizil Quran, Taman Pengajian Al-Quran dan kegiatan Remaja Masjid Al-Huda.

Peresmian pemakaian Masjid Agung Al-Huda Tembilahan dilakukan oleh Bapak Drs H. Azwin Yacub ( Bupati Indragiri Hilir) pada tanggal 12 Januari 1999 bersamaan dengan tanggal 24 Ramadhan 1419H.

Referensi



Baca Juga


Sunday, March 4, 2018

Masjid Sultan Abdul Djalil Rachmadsyah

Masjid Sultan Abdul Djalil Rachmadsyah, Desa Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, kabupaten Siak, Provinsi Riau (photo dari akun instagram @sholat_di_mana)

Masjid Sultan Abdul Djalil Rachmadsyah ini baru saja diresmikan oleh Bupati Kabupaten Siak, Drs H Syamsuar MSi pada tanggal 18 Februari 2018 yang lalu. Peresmian masjid ini ditandai dengan pengguntingan pita dan penandatanganan prasasti. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari program pemerintah kabupaten Siak untuk membangun masjid di setiap kecamatan dalam upaya mewujudkan visi misi kabupaten Siak mewujudkan masyarakat yang agamis dan berbudaya melayu.
.
Masjid Sultan Abdul Djalil Rachmadhsyah ini berada di tepian ruas jalan yang menghubungkan Pelalawan-Siak, di desa Rawang Kao, kecamatan Lubuk Dalam, kabupaten Siak, provinsi Riau.
Masjid ini cukup megah, luas dan arsitekturnya sangat menawan. Lokasi wudlu dan toiletnya juga teratur dan bersih. Area parkir sangat luas namun masih berupa tanah yang dikeraskan.

Masjid Sultan Abdul Djalil Rachmadsyah
Rawang Kao, Lubuk Dalam, Kabupaten Siak, Riau 28671



Baca Juga

Sunday, December 24, 2017

Masjid Raya Rengat, Indragiri Hulu, Riau

Masjid Raya Rengat

Masjid Raya Rengat adalah masjid raya di kota kecamatan Rengat, kabupaten Indragiri Hulu, provinsi Riau. Masjid ini merupakan peninggalan dari Kesultanan Indragiri, pertama kai dibangun oleh Sultan Ibrahim berupa sebuah surau bersamaan dengan pembangunan Istana Kesultanan Indragiri di tahun 1786. Saat itu yang menjadi guru dan penyebar agama Kerajaan adalah Sayed Putih Al-Idrus.

Sultan Ibrahim adalah sultan Indragiri ke 18, beliau adalah putra dari Sultan Salehuddin Keramatsyah. Sultan Salehuddin merupakan sultan Kerajaan Indragiri yang ke- 16. Sebelum naik takhta, ia bemama Raja Hasan yang mulai berkuasa tahun 1735. Oleh karena Sultan Salehuddin dikenal seorang yang taat beragama, setelah meninggal oleh masyarakat dikeramatkan sehingga namanya menjadi Sultan Salehuddin Keramatsyah.

Masjid Raya Rengat
JL. Hang lekir, Kp. Besar Kota
Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu
Riau 29319 Indonesia


Ia mempunyai tiga orang anak. Anak tertua mendapat gelar Raja Kecik Besar Mambang yang kemudian naik tahta menjadi sultan Indragiri ke 17 sepeninggal ayahandanya, Putra kedua-nya bernama Raja Hasan yang kemudian menjadi Panglima Kerajaan pada saat Raja Kecik Mambang menjadi Raja.

Raja Kecik Besar Mambang menjadi sultan di Kerajaan Indragiri hanya beberapa tahun saja. Ia lebih senang menjadi penyebar agama Islam daripada menjadi raja, sehingga ia menyerahkan mahkota kerajaan kepada adiknya, Raja Ibrahim yang naik tahta menjadi Sultan Indragiri ke 18.

Sedangkan Raja Kecil Besar Mambang berdakwah menyebarkan Islam hingga ke Daik (sekarang masuk ke dalam wilayah provinsi Kepulauan Riau) hingga ahir hayatnya, Makam beliau berada di Masjid Bukit Cengkeh, beliau dikenal dengan gelar Sunan Inderagiri

Masjid Raya Rengat Sekarang dan Dulu

Sultan Ibrahim kemudian membangun istana di daerah Rengat yang kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Indragiri. Dan mendirikan surau disekitar tahun 1786. Pada tahun 1787, surau tersebut dirombak menjadi sebuah masjid. Setelah Sultan wafat, ia dimakamkan dalam masjid buatannya. Ketika Kerajaan Indragiri berhadapan dengan penjajah Belanda, masjid ini pun sering dijadikan tempat dalam menyusun kekuatan untuk mengusir Belanda.

Masjid yang berukuran 28 m x 27 m, mulanya terbuat dari kayu. Sejak berdiri sudah beberapa kali mengalami perombakan. Pada masa pemerintahan Sultan Indragiri ke 24 di tahun 1887 dilakukan penggantian seluruh papan kayu dengan batu. Kemudian pada masa pemerintahan Bupati Masnoer dilakukan pemugaran tahun 1970.

Masjid terakhir dipugar dan dipagar tahun 1990 sampai dengan bentuknya sekarang oleh Drs. H. R. Rifa`i Rahman, putra Rengat yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Provinsi Riau. Kemudian dibangun pula menara oleh Pemerintah Kabupaten Inderagiri Hulu.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, August 21, 2016

Masjid Istiqomah Bengkalis

Masjid Istiqomah di Pulau Bengkalis provinsi Riau

Bengkalis adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Sebagian wilayah kabupaten ini berada di pantai timur Pulau Sumatera, sebagian lagi berada di pulau Bengkalis yang berada di lepas pantai Pulau Sumatera di Selat Malaka terpisah dari Pulau Sumatra. Ibu kota kabupaten berada di Pulau Bengkalis.

Di kota ini terdapat masjid indah yang menjadi kebanggaan masyarakat Bengkalis, yakni Masjid lstiqomah. Masjid Istiqomah merupakan rumah ibadah megah yang menjadi ikon Kabupaten Bengkalis, Pembangunan masjid ini merupakan terobosan mengingat tingginya tingkat kesulitan untuk membangun sebuah masjid megah dengan tiang-tiang menara tinggi di atas tanah Bengkalis yang gembur atau tanah gambut.

Masjid Istiqomah Bengkalis terdaftar di Kementrian Agama RI dengan nomor ID : 01.2.04.03.01.000001. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi berstatus tanah wakaf, dengan luas bangunan mencapai 5000 meter persegi dan mampu menampung hingga 4000 jemaah sekaligus.

Bangunan Masjid Istiqomah Bengkalis ini begitu megah, mengingatkan kita pada bangunan bangunan istana dalam dongeng 1001 malam. Bangunan megah bewarna putih dengan kubah warna warni ditambah dengan empat menaranya yang menjulang. Namun siapa sangka dibalik kemegahan masjid ini tersimpan sebuah kisah inspiratif dari sebuah kegigihan dalam artian sebenarnya dari muslim Bengkalis demi memuwudkan impian memiliki sebuah masjid.

Sejarah Pembangunan Masjid Istiqomah Bengkalis
 
Masjid Istiqomah Bengkalis berdiri pada tahun 1960 di atas tanah yang merupakan wakaf dari H. Abdurrahman. Pada awalnya, luas masjid ini hanya seperempat luas sekarang (2500 m2) dan luas halamannya pun hanya setengah dari luas sekarang. Peletakan batu pertama Masjid Istiqomah Bengkalis dilakukan oleh Bapak Raja Rusli yang menjabat sebagai ketua MUI Provinsi Riau.

Berdirinya Masjid Istiqomah ini merupakan hasil dari usulan para ulama dan pemuka masyarakat ketika itu, serta gotong royong secara bergiliran oleh masyarakat dengan tidak mengambil bayaran. Mayoritas yang terlibat dalam gotong royong ini adalah warga Bengkalis Kota, Desa Wonosari, dan Desa Pedekik.   



Pembangunan Masjid Istiqomah terkendala pada tahun 1962 karena kehabisan dana dan bahan baku bangunan. Pondasi dan tiang-tiang pancang dari besi yang belum dicor sempat terbengkalai. Bebeberapa waktu kemudian, hadirlah pihak yang bersedia memberikan bantuan untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Istiqomah. Mereka adalah seorang pejabat tinggi kepolisian yang bernama Zakawi Ros dan seorang pedagang besar cina yang bernama Pulut.

Namun bantuan ini tidaklah cuma-cuma. Mereka menuntut sebuah kesepakatan dengan masyarakat Bengkalis berupa izin menjadikan Pulau Bengkalis sebagai jalur perdagangan karet mereka keluar negeri. Permintaan keduanya diizinkan oleh masyarakat Bengkalis hingga 80% pembangunan Masjid Istiqomah rampung pada tahun 1967.   

Pembangunan kembali dilanjutkan dengan bantuan dari pemerintah daerah hingga Masjid Istiqomah benar-benar selesai secara sempurna pada tahun 1968. Pada tahun yang sama pula masjid ini kemudian diresmikan bertepatan dengan acara MTQ tingkat provinsi. Dalam perjalanannya, Masjid Istiqomah pernah beberapa kali dipugar.

Oleh Bupati Bengkalis tahun 1975, Imron Suheman, Masjid Istiqomah mendapat beberapa perbaikan bangunan dan perluasan halaman sehingga luas halamannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Pada tahun 1977 ditambahkan 4 tiang utama di bagian dalam masjid sekaligus perombakan bagian atas masjid. Pembangunan di tahun 1977 ini dilaksanakan oleh CV Riau Putera di bawah pimpinan direkturnya H. Abu Bakar.

Pada tahun 1986. Ketika Bengkalis dipimpin oleh Bupati Johan Syarifudin, langit-langit Masjid istiqomah kembali mendapat pemugaran. Berbeda dengan sebelumnya, pemugaran kali ini tidak dilakukan oleh kontraktor, melainkan melalui program AMD (ABRI masuk desa).  

Ketika Bengkalis dipimpin oleh bupati Fadlah Sulaiman pada tahun 1998, terjadi pemugaran besar-besaran hampir di semua bagian masjid. Ini dilakukan karena jamaah Masjid Istiqomah sudah terlalu ramai. Namun pemugaran ini baru selesai di zaman Bupati Bengkalis selanjutnya, Syamsurizal. Pemugaran ini termasuk perbaikan rumah imam, pendirian sekretariat dan penambahan tempat wudhu.

Arsitektur Masjid Istiqomah Bengkalis

Masjid lstiqomah dibangun dengan arsitektur bangunan masjid moderen, dalam artian dibangun dalam bentuk bangunan masjid universal sebagaimana bangunan masjid yang dikenal oleh dunia internasional, yakni berupa bangunan besar ber-aula luas dengan kubah dan menara. Atap bangunan utamanya bertingkat dua dengan kubah bawang berukuran besar di atasnya di hias dengan panel panel ornamen bewarna biru dan kuning dengan garis garis diagonal. 

Empat menara tinggi dan ramping khas Turki mengapit empat sudut bangunan utama masjid ini. Bagian ujung menara yang meruncing seperti ujung pensil yang diraut diperindah dengan padanan warna kuning dan biru terang berpola geometris, membuatnya tampak kontras dengan birunya langit Bengkalis.

Tiga sisi bangunan utama kemudian ditambahkan teras dan beranda yang cukup luas untuk menambah luasan lantai masjid ini. Jejeran pilar dengan arkade mengelilingi bagian teras dan beranda masjid dengan sentuhan arabia. Masing masing beranda dilengkapi dengan kubah berukuran lebih kecil dengan warna biru terang, sisi kiri dan kanannya di apit dengan bentuk menara kecil. Bagian atas teras juga di lengkapi dengan beberapa kubah mini. Padu padan beranda dan teras masjid ini mengingatkan kita pada seni bina bangunan bangunan masjid dan istana dari dinasti Islam Mughal di India.

Elemen hias di dalam masjid dipengaruhi oleh gaya Arab dan Melayu. Perpaduan ini dapat dilihat dari banyaknya kaligrafi dengan motif dan warna-warna cerah yang merupakan ciri khas ornamen Melayu. Kaligrafinya ditulis dengan warna emas sedangkan elemen lainnya menggunakan fola floral dengan warna warna yang senada. Tiang tiang masjid ini juga di hias dengan kaligrafi dengan ragam hias khas melayu berupa ornamen pucuk rebung di sisi atas dan bawahnya.

Menjelang senja, suasana sekitar masjid terasa begitu hidup dengan aktivitas masyarakat Pulau Bengkalis. Mereka tampak berlalu-lalang di pertigaan jalan depan gerbang masjid atau duduk-duduk di teras, menunggu waktu shalat Maghrib tiba. Lingkungan sekitar masjid dipenuhi oleh toko yang bagian atasnya dijadikan tempat penangkaran walet. Suara ciutan riuh rendah burung-burung walet menjadi suara khas keseharian di sekitar masjid megah ini.***