Showing posts with label masjid di rembang. Show all posts
Showing posts with label masjid di rembang. Show all posts

Saturday, December 23, 2017

Masjid Agung Rembang

Masjid Agung Rembang (foto IG @ndirmundir)

Masjid Agung Rembang adalah Masjid Agung Kabupaten Rembang provinsi Jawa Tengah, lokasinya berada di sisi barat alun alun kabupaten Rembang, di sisi selatan jalur pantura. Berdiri di atas lahan seluas 3.795 meter persegi dan dapat menampung sekitar 2.500 jamaah. Masjid Agung Rembang ini berada di kawasan yang menyatu dengan rumah dinas Bupati (sekarang Museum RA Kartini), alun-alun kota Rembang, dan terminal kota Rembang.

Cagar Budaya

Bangunan masjid Agung Rembang dan makam Pangeran Sedo Laut yang berada di komplek masjid ini termasuk cagar budaya yang dilindungi pemerintah dan mendapat perawatan terus dari pemerintah kabupaten melalui dinas pariwisata. Papan informasi yang menyatakan bangunan masjid adalah cagar budaya berada di depan masjid, di samping papan Dewan Masjid Indonesia Kabupaten Rembang.

Masjid Agung Alun Alun Rembang
Jalan Gatot Subroto, Kutoharjo, Kec. Rembang
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah 59219
Indonesia



Sejarah Masjid Agung Rembang

Belum diketahui secara pasti kapan bangun masjid Agung ini pertama kali dibangun namun diperkirakan dibangun pada tahun 1232 H atau 1814 M, sesuai dengan tulisan tahun yang terdapat pada prasasti yang terdapat di pintu masuk ruang utama masjid, meskipun belum diketahui dengan pasti angka tahun tersebut merupakan tahun pembangunan atau tahun perbaikan. Dan dalam perjalanan sejarah-nya, Masjid Agung Rembang telah mengalami banyak perbaikan.

Perbaikan masjid pernah dilakukan oleh Bupati Rembang Raden Adipati Djoyodiningrat yang kemudian beliau menetapkan masjid ini sebagai Masjid Kabupaten Rembang pada tahun 1239 H/1832M. Selanjutnya, masjid ini diperbaiki lagi pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Pratikto Kusuma atau dikenal dengan Pangeran Sedo Laut pada tahun 1884 M. Makam Pangeran Sedo Laut berada di sebelah barat masjid dan masih berdiri di tanah masjid.

Meskipun Masjid Agung Rembang mengalami beberapa kali perbaikan, bangunan induk atau bagian dalam masjid masih dijaga keasliannya. Setelah Indonesia merdeka di tahun 1945, Masjid Agung Rembang juga direnovasi beberapa kali.

Masjid Agung Rembang (foto IG @rosaputrie) 

Tahun 1966, masjid ini direnovasi oleh Bupati Adnan Widodo. Genting biasa diganti menjadi genting pres dan memasang huruf Allah di atas mustaka. Tahun 1970, Bupati S. Hadi Sunyoto membangun serambi depan dan pilar-pilar porselen bermenara.

Pada masa Bupati Sunyoto juga memperbaiki kayu penyangga atap yang rusak. Dana renovasi tersebut berasal dari Gubernur Jawa Tengah H. Moenadi dan swadaya masyarakat. Renovasi besar-besaran dilakukan pada masa Bupati Rembang Wachidi Rijono pada tahun 1997.

Pada waktu renovasi Wachidi Rijono ini, serambi masjid dirombak dan dibangun lagi seperti terlihat sekarang. Renovasi ini melibatkan partisipasi masyarakat Rembang termasuk dalam pengumpulan dananya. Melibatkan camat-camat se-Kabupaten Rembang dalam forum-forum pengajian.

Menara Masjid Agung Rembang yang terletak di sebelah utara masjid dengan tinggi 37 meter diresmikan oleh Bupati Rembang H Moch Salim pada 3 Maret 2012. Pembangunan menara ini direncanakan sejak 2008 atas usul Sekda Rembang H Hamzah Fatoni.

Masjid Agung Rembang dari arah alun alun (foto IG @orang_rembang) 

Komplek Pemakaman Adipati Rembang

Sebagaimana prototipe masjid kuno di Indonesia, kawasan masjid juga selalu menjadi kompleks pemakaman. Di belakang masjid (sebelah barat) terdapat bangunan cungkup model arsitektur Eropa yang cukup megah, dengan ketinggian batu sekitar 1 (satu) m, bangunan cungkup ini berbentuk segi delapan yang berpusat pada lima buah makam yang ada di dalamnya. Kompleks makam ini terkenal dengan sebutan makam Pangeran Sedolaut (Pangeran Sekarlaut), meskipun di dalamnya terdapat lima buah makam yang secara berjajar dari barat ke timur dan makam-makam tersebut adalah:

·         Makam Adipati Condrodiningrat dengan jirat dari semen & nisan berbentuk kurawal dari batu putih (1289 H);
·         Makam istri Adipati Condrodiningrat dengan jirat & nisan yang hampir sama makam suaminya (1291 H);
·         Makam R. Tumenggung Pratiktoningrat/ Kanjeng P. Sedolaut dengan jirat  dari susunan bata & nisan dari semen (tahun 1757 atau 1831 M);
·         Makam istri Kanjeng P.Sedolaut dengan jirat & nisan hampir sama dengan suaminya (tetapi tidak tertulis tahunnya);
·         Makam istri Patih Pati, yaitu Raden Ayu Sasmoyo dengan jirat  dan nisan hampir sama dengan istri P. Sedolaut; yang juga tidak tertulis tahun.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, December 17, 2017

Masjid Tiban Gedongmulyo Lasem

Masjid Tiban Gedongmulyo, Lasem atau kini dikenal dengan nama Masjid Nurul Huda

Menghalau Pengaruh Candu Dan Kisah Tidur Tergulung Tikar

Masjid yang satu ini oleh masyarakat setempat kerap dijuluki sebagai Masjid Tiban, karena tiba – tiba sudah berdiri. Masjid tersebut juga dipercaya untuk menetralisir pengaruh candu atau minuman keras yang merajalela pada masa itu.

Dipinggir Kali Bagan Lasem, ada pemandangan mencolok dari sebuah bangunan Masjid yang arsitekturnya tampak lain dibandingkan bangunan pada umumnya. Masjid tersebut berada di sebelah utara jembatan Kali Bagan, turut tanah desa Gedongmulyo Kec. Lasem, berhadap – hadapan dengan rumah kuno China Lawang Ombo dan klenteng Tjoe An Kiong Dasun, dipisahkan oleh aliran sungai.

Warga sekitar kerap menyebutnya sebagai Masjid Tiban, lantaran mendadak sudah berdiri di lokasi itu. Ada beberapa versi cerita turun temurun yang berkembang sampai sekarang. Ada yang memperkirakan Masjid itu merupakan peninggalan Sunan Bonang, tapi ada pula yang percaya bagian dari riwayat sejarah Sunan Langgar, salah satu murid Sunan Bonang.


Dalam buku cerita Kabupaten Rembang dikisahkan Masjid Tiban sengaja dipindahkan Sunan Bonang dari Sluke menuju ke pinggir Kali Bagan. Sunan Bonang sendiri gencar menyebarkan agama Islam pada abad ke XV. Riwayat lain mengisahkan Masjid berdiri ketika masa Nyai Ageng Maloka, ketika Islam menjadi agama resmi istana untuk pertama kali di Lasem.

Terlepas dari teka – teki keberadaan Masjid Tiban, namun di pintu masuk utama Masjid terdapat tulisan angka 1899. Tidak jelas apakah tahun pembuatan Masjid atau petunjuk lain. Yang pasti, Masjid itu adalah bangunan kuno, saksi sejarah berkembangnya agama Islam tempo dulu.

Pemerhati sejarah dari Padepokan Sambua – Lasem, Abdullah Hamid mengatakan dugaan itu dikuatkan oleh tebalnya dinding tembok, kemudian daun pintu berbahan kayu jati tua, bentuk kubah Masjid yang unik dan ada pula peninggalan mimbar kuno untuk khutbah, mirip mimbar Masjid peninggalan Sunan Bonang di desa Bonang.

Menurut Abdullah, Masjid Tiban berhadapan dengan rumah Lawang Ombo yang terkenal menjadi tempat penyimpanan candu, karena pada masa itu pendiri Masjid ingin mengurangi dampak pengaruh minuman keras yang kian meluas. Begitu ada Masjid, diharapkan pelan – pelan kaum mau berubah, sekaligus meninggalkan candu.

Masjid Tiban Gedongmulyo

Pria yang juga pengelola Universitas Terbuka Pokjar Lasem ini menambahkan kebetulan beberapa waktu lalu salah satu kubah menara Masjid Jami’ Lasem diganti. Kubah yang lama selanjutnya dihibahkan kepada Masjid Tiban Gedongmulyo – Lasem. Pihak takmir Masjid Jami’ mensyaratkan pemasangan kubah jangan sampai mengubah keaslian Masjid Tiban.

Seorang pengurus takmir Masjid Tiban desa Gedongmulyo, Dudi Hamdudi mengungkapkan hingga saat ini bangunan utama Masjid masih tetap dipertahankan keasliannya. Sedangkan sisi serambi dan samping Masjid, merupakan tambahan untuk perluasan.

Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Tiban menjadi pusat kegiatan. Mulai dari sholat tarawih, tadarus Alqur’an maupun pengajian. Dudi menimpali tiap masuk Masjid Tiban, umat diharapkan benar – benar niat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Muncul kepercayaan, barang siapa masuk Masjid itu hanya ingin tiduran, akan mengalami hal – hal aneh. Dudi yang rumahnya kebetulan bersebelahan dengan Masjid sudah dua kali mendapati seseorang tidur di dalam Masjid, berteriak – teriak minta tolong, lantaran sekujur tubuhnya tergulung tikar yang menjadi alas tidur. Bahkan salah satunya sudah berpindah posisi ke pinggir kali, depan Masjid. Dudi menganggap semua itu karena kekuasaan Allah SWT.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga