Showing posts with label masjid tiban. Show all posts
Showing posts with label masjid tiban. Show all posts

Sunday, December 17, 2017

Masjid Tiban Gedongmulyo Lasem

Masjid Tiban Gedongmulyo, Lasem atau kini dikenal dengan nama Masjid Nurul Huda

Menghalau Pengaruh Candu Dan Kisah Tidur Tergulung Tikar

Masjid yang satu ini oleh masyarakat setempat kerap dijuluki sebagai Masjid Tiban, karena tiba – tiba sudah berdiri. Masjid tersebut juga dipercaya untuk menetralisir pengaruh candu atau minuman keras yang merajalela pada masa itu.

Dipinggir Kali Bagan Lasem, ada pemandangan mencolok dari sebuah bangunan Masjid yang arsitekturnya tampak lain dibandingkan bangunan pada umumnya. Masjid tersebut berada di sebelah utara jembatan Kali Bagan, turut tanah desa Gedongmulyo Kec. Lasem, berhadap – hadapan dengan rumah kuno China Lawang Ombo dan klenteng Tjoe An Kiong Dasun, dipisahkan oleh aliran sungai.

Warga sekitar kerap menyebutnya sebagai Masjid Tiban, lantaran mendadak sudah berdiri di lokasi itu. Ada beberapa versi cerita turun temurun yang berkembang sampai sekarang. Ada yang memperkirakan Masjid itu merupakan peninggalan Sunan Bonang, tapi ada pula yang percaya bagian dari riwayat sejarah Sunan Langgar, salah satu murid Sunan Bonang.


Dalam buku cerita Kabupaten Rembang dikisahkan Masjid Tiban sengaja dipindahkan Sunan Bonang dari Sluke menuju ke pinggir Kali Bagan. Sunan Bonang sendiri gencar menyebarkan agama Islam pada abad ke XV. Riwayat lain mengisahkan Masjid berdiri ketika masa Nyai Ageng Maloka, ketika Islam menjadi agama resmi istana untuk pertama kali di Lasem.

Terlepas dari teka – teki keberadaan Masjid Tiban, namun di pintu masuk utama Masjid terdapat tulisan angka 1899. Tidak jelas apakah tahun pembuatan Masjid atau petunjuk lain. Yang pasti, Masjid itu adalah bangunan kuno, saksi sejarah berkembangnya agama Islam tempo dulu.

Pemerhati sejarah dari Padepokan Sambua – Lasem, Abdullah Hamid mengatakan dugaan itu dikuatkan oleh tebalnya dinding tembok, kemudian daun pintu berbahan kayu jati tua, bentuk kubah Masjid yang unik dan ada pula peninggalan mimbar kuno untuk khutbah, mirip mimbar Masjid peninggalan Sunan Bonang di desa Bonang.

Menurut Abdullah, Masjid Tiban berhadapan dengan rumah Lawang Ombo yang terkenal menjadi tempat penyimpanan candu, karena pada masa itu pendiri Masjid ingin mengurangi dampak pengaruh minuman keras yang kian meluas. Begitu ada Masjid, diharapkan pelan – pelan kaum mau berubah, sekaligus meninggalkan candu.

Masjid Tiban Gedongmulyo

Pria yang juga pengelola Universitas Terbuka Pokjar Lasem ini menambahkan kebetulan beberapa waktu lalu salah satu kubah menara Masjid Jami’ Lasem diganti. Kubah yang lama selanjutnya dihibahkan kepada Masjid Tiban Gedongmulyo – Lasem. Pihak takmir Masjid Jami’ mensyaratkan pemasangan kubah jangan sampai mengubah keaslian Masjid Tiban.

Seorang pengurus takmir Masjid Tiban desa Gedongmulyo, Dudi Hamdudi mengungkapkan hingga saat ini bangunan utama Masjid masih tetap dipertahankan keasliannya. Sedangkan sisi serambi dan samping Masjid, merupakan tambahan untuk perluasan.

Selama bulan suci Ramadhan, Masjid Tiban menjadi pusat kegiatan. Mulai dari sholat tarawih, tadarus Alqur’an maupun pengajian. Dudi menimpali tiap masuk Masjid Tiban, umat diharapkan benar – benar niat untuk beribadah kepada Allah SWT.

Muncul kepercayaan, barang siapa masuk Masjid itu hanya ingin tiduran, akan mengalami hal – hal aneh. Dudi yang rumahnya kebetulan bersebelahan dengan Masjid sudah dua kali mendapati seseorang tidur di dalam Masjid, berteriak – teriak minta tolong, lantaran sekujur tubuhnya tergulung tikar yang menjadi alas tidur. Bahkan salah satunya sudah berpindah posisi ke pinggir kali, depan Masjid. Dudi menganggap semua itu karena kekuasaan Allah SWT.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Saturday, December 16, 2017

Masjid Tiban Pangkah, Gresik

Masjid Tiban Pangkah, atau Masjid Jami Ainul Yaqin Ujung Pangkah Kabupaten Gresik. tampak bangunan baru dengan kubah bundar berdiri di sisi timur bangunan lama masjid ini.

Ujungpangkah merupakan salah satu kecamatan di wilayah kabupaten Gresik yang berada di wilayah paling utara kabupaten Gresik. Banyak peninggalan dan situs-situs bersejarah yang terdapat di wilayah Ujungpangkah. Salah satu peninggalan bersejarah yang ada di Ujungpangkah adalah masjid Tiban Pangkah atau kini dikenal dengan nama Masjid Ainul Yakin Ujung Pangkah.

Berbeda dengan masjid masjid di tanah Jawa lainnya yang disebut sebagai masjid tiban karena tidak diketahui kapan berdirinya atau tiba tiba sudah berdiri di suatu tempat tanpa diketahui asal usulnya, Masjid Tiban Ujung Pangkah ini disebut masjid tiban karena bahan bahan kayu jati yang digunakan untuk membangun masjid ini pada awalnya muncul dengan tiba tiba.

Masjid Jami' Ainul Yaqin Ujungpangkah Gresik  
Ujungpangkah, Pangkah Wetan, Ujungpangkah
Kabupaten Gresik, Jawa Timur 61154
Provinsi: Jawa Timur, Indonesia



Menurut Syekh Muridin, keturunan kelima Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban, dalam buku Primbon Sunan Bonang bahwa bahan-bahan masjid Ujungpangkah itu kiriman dari Sunan Bonang Tuban. Sunan Banang mengirim bahan-bahan masjid yang berupa kayu gelondongan kepada putranya Jayeng Katon yang telah lama bermukim di Ujungpangkah dan sebagai penyebar agama Islam di Ujungpangkah.

Jayeng Katon datang ke Ujungpangkah bersama adiknya yang bernama Jayeng Rono dan putra pertamanya yang bernama Pendil Wesi. Kedatangan ketiga keturunan Sunan Bonang di Ujungpangkah itu ditandai dengan penanaman tiga pohon asem yang melambangkan adanya tiga keturunan Sunan Bonang. Tiga pohon asem itu bernama Asem Resik, Asem Growok, dan Asem Angker.

Asem Resik berada di pertigaan jalan Sitarda Ujungpangkah, Asem Growok berada di jalan Jiwosoto Pangkahkulon Ujungpangkah, dan Asem Angker berada di kampung Kauman Pangkahkulon Ujungpangkah. Namun, sayang pohon bersejarah itu kini tinggal Asem Growok sedangkan Asem Resik dan Asem Angker tinggal kenangan karena telah dipotong dan berganti menjadi bangunan rumah.

Jayeng Katon mendirikan pondok di tepi pantai Ujungpangkah, sebelum pantai Ujungpangkah berubah menjadi ujung akibat endapan lumpur Bengawan Solo. Pondok itu sebagai sarana mengajarkan agama Islam kepada penduduk. Pondok itu ditandai dengan batu gilang. Batu itu sering digunakan sebagai tempat duduk-duduk Jayeng Katon menikmati keindahan pantai Ujungpangkah mengusir kepenatan usai memberikan pelajaran kepada santri-santrinya.

Tempat mandi dan wudlu pun dibuat di timur pondok itu, berupa sumur senggot berukuran 2x3m yang bening airnya dan beji atau jublangan yang berukuran 3 x 5 m yang airnya bisa berubah menjadi hijau atau merah delima.

Sisi depan (timur) Masjid Jami' Ainul Yaqin, berdiri megah bangunan masjid baru dengan arsitektur modern, sementara bangunan lama masih dipertahankan di sisi barat.

Bak gayung bersambut, pondok Jayeng Katon dibanjiri santri-santri untuk menimbah ilmu agama Islam. Santri-santri yang mengaji tidak hanya penduduk Ujungpangkah, namun banyak juga yang berasal dari luar seperti Ronggo Janur, Ronggo Seto, Ronggo Lawe dari Tuban.

Tidak hanya itu, banyak penduduk yang membuat rumah di sekitar pondoknya. Mereka itu merupakan penduduk Ujungpangkah yang memeluk agama Islam berkat bimbingan Jayeng Katon. Perkampungan mereka disebut Kauman. Keberadaan mereka diikuti penduduk yang lain yang berada di wilayah Ujungpangkah. Berkat bimbingannya seluruh penduduk Ujungpangkah menganut agama Islam.

Setelah Jayeng Katon berhasil mengembangkan Islam di Ujungpangkah bersama adiknya Jayeng Rono. Jayeng Katon berkeinginan memperluas daerah pengembangan agama Islam, maka Jayeng Katon mengutus Jayeng Rono adiknya untuk mengembangkan agama Islam di pulau Madura.

Kabar keberhasilan Jayeng Katon dalam pengembangan Islam di wilayah Ujungpangkah sampai juga ke Sunan Bonang ayahandanya di Tuban. Karena pondok Jayeng Katon belum mempunyai masjid yang dapat menampung penduduk bila melaksanakan salat Jumat, Sunan Bonang mengutus seorang santrinya mengirimkan kayu-kayu jati gelondongan untuk bahan pembangunan masjid di pondok putranya. Kayu-kayu itu dilarung ke laut dikawal seorang santri Sunan Bonang yang dikenal dengan nama panggilan Kyai Maskiriman.

Kayu-kayu yang diikat dengan tali lingir dari tematan yang dikawal Maskiriman itu berhenti di pantai Ujungpangkah di sebelah utara pondok Jayeng Katon. Tempat berhentinya kayu itu kini dinamai kampung Kramat karena tempat itu dianggap sebagai tempat yang kramat. Jayeng Katon bersama para santri dan penduduk setempat merancang kayu-kayu menjadi sebuah masjid.

Salah satu sokoguru masjid ini beserta dengan Mimbarnya merupakan pemberian dari Sunan Giri, karena pada saat pembangunan masjid, kayu kayu yang dikirim Sunan Bonang kurang satu untuk Sokogurunya.  Masjid itu semuanya terbuat dari bahan kayu jati. Masjid itu beratap susun tiga. Atap susun yang paling atas semuanya terbuat dari kayu, termasuk gentingnya. Kayu penyangga atap susun ketika itu diikat dengan tali lingir.

Arsitektur Masjid Tiban Ainul Yakin Ujung Pangkah

Masjid Tiban Ujung Pangkah berukuran 12 m x 12 m dengan empat tiang sokoguru, dan 32 pilar. Di tengah-tengah masjid terdapat tangga untuk ke atas menara. Masjid itu dinamai masjid Jamik artinya masjid untuk berjamaah Jumat. Masjid itu berpagar tembok keliling dengan satu pintu gapura. Pintu itu bentuknya mirip dengan pintu gapura memasuki kompleks pemakaman Sunan Bonang.

Di pintu masuk terdapat batu hitam berukuran 1,5 m x  0,30 m x 0,15 m. Konon Batu itu sejenis dengan batu yang digunakan untuk membangun Kakbah di Mekkah. Batu hitam itu disandingi dengan batu berbentuk keris. Batu itu replika keris Aji Saka.

Mimbar masjid ini yang merupakan hadiah dari Sunan Giri  terbuat dari kayu jati dengan candra sengkala naga kale warni setunggal ( tahun 1428 saka/ 1506 masehi/ 911 hijriah). Masjid itu juga dilengkapi dengan beuk (Jawa: jidor) dan kentongan yang terbuat dari kayu jati

Bangunan baru Masjid Jami Ainul Yaqin saat dalam proses pengerjaan kubah.

Di timur Masjid terdapat alun-alun yang ditanami lima pohon beringin. Lima pohon beringin itu sebagai tempat berteduh atau bernaung. Berjumlah lima melambangkan lima rukun Islam. Lima pohon beringin mengisyaratkan lima putra Jayeng Katon yang siap membawa masyarakat Ujungpangkah di bawah perlindungan ajaran Allah yakni agama Islam.

Kelima putra Jayeng Katon sebagai penerus perjuangan adalah Pendel Wesi, Jaka Karang Wesi, Jaka Berek Sawonggaling, Jaka Sekintel alias Cinde Amo, dan Jaka Slining alias Jaka Tingkir. Kelima putra Jayeng Katon mengikuti jejak abahnya dalam mengembangkan Islam. Mereka juga mendirikan pondok sebagai sarananya. Pendek Wesi mendirikan pondok Bekuto di Bekuto Ujungpangkah, Jaka Karang Wesi mendirikan pondok Rebuyut di Rebuyut Ujungpangkah, Cinde Amo mendirikan pondok Unusan di Unusan Ujungpangkah, dan Jaka Slining mendirikan pondok Sabilan di Sabilan Ujungpangkah. Jaka Berek Sawonggaling mengasuh pondok Pangkah menggantikan Jayeng Katon.

Suatu hari ada seorang tamu dari Aceh. Orang Ujungpangkah memanggilnya Syeh Aceh. Ia pergi bersilaturrahim ke pondok-pondok keluarganya yang berada di pulau Jawa. Ia kunjungi pondok Sunan Ampel Surabaya, pondok Sunan Bonang Tuban diteruskan ke Pondok Pangkah. Sampai di Pondok Pangkah, ia tidak bertemu dengan Jayeng Katon, putra Sunan Bonang ,karena Jayeng Katon sudah wafat. Ia hanya bertemu dengan anak dan cucu Jayeng Katon. Syeh Aceh mengunjungi pondok-pondok anak cucu Jayeng Katon.

Setelah selesai mengadakan kunjungan itu ia pergi ke Masjid Tiban Ujungpangkah untuk melaksanakan salat. Ia tidak melihat tempat wudu dan mandi untuk kaum wanita. Ia berinisiatif membuat jublangan khusus wanita. Bersama anak cucu Jayeng Katon serta penduduk Ujungpangkah dibuat jumbangan. Jumblangan itu berada di sebalah selatan jumblangan bagian utara yang dibuat Jayeng Katon dan berada di sebelah timur pohon sawo kecik yang ditanam Jaka Berek Sawonggaling. Air jublangan itu berwarna hijau. Sayang, jublangan itu kini tinggal kenangan karena telah diratakan dengan tanah guna perluasan masjid pada tahun 1975.

Kini, Masjid ‘Tiban’ Ujungpangkah itu bernama Masjid Jamik Ainul Yaqin Ujungpangkah. Masjid itu sudah mengalami beberapa kali perubahan. Namun, bentuk aslinya masih nampak pada bagian depan(barat) masjid yang berupa atap tumpang, sedangkan bangunan di sisi timurnya merupakan bangunan yang sama sekali baru dengan rancangan masjid modern.*** (Disarikan dari http://masnukhan.blogspot.co.id/2011/10/masjid-tiban-pangkah-ujungpangkah.html)

------------------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------------------

Baca Juga




Saturday, November 25, 2017

Masjid Tiban Beji Pasuruan

Masjid Tiban dusun Nyangkring, Desa Bujeng, Beji, Pasuruan

Masjid Tiban atau masjid yang menurut masyarakat setempat sebagai masjid  yang tiba tiba ada tanpa tahu kapan dan oleh siapa dibangunnya. Ada beberapa masjid yang disebut sebut sebagai masjid tiban di tanah Jawa, dan masjid di Dusun Nyangkring, Desa Bujeng, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur ini adalah salah satunya.

Menurut mitos keberadaan Masjid Tiban adalah dibangun secara ghaib, pembangunannya bukan dibuat oleh manusia, melainkan makhluk ghaib (jin). Masjid Tiban merupakan masjid yang tertua di Di Desa Baujeng Dusun Nyangkring Kec. Beji Kab. Pasuruan.

Masjid Tiban
Dusun Nyangkring, Desa Bujeng
Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan
Jawa Timur 67154 Indonesia



Konon, awal mulanya posisi Masjid Tiban ini berada di Dusun Tanggul Desa Baujeng, namun entah bagaimana kemudian pindah ke Dusun Baujeng, dan yang terakhir letak lokasinya di Dusun Nyangkring. Konon perpindahan tempat ini disebabkan karena sedikitnya jumlah jamaah masjid penduduk setempat.

Masjid Tiban di Dusun Nyangkring ini hingga kini dikeramatkan oleh masyarakat setempat karena proses terjadinya yang “ajaib” itu dan dikatakan menyimpan sejuta nilai-nilai spiritual. berdasarkan kisah tutur masyarakat setempat usia masjid ini sudah mencapai tujuh generasi, dan di akui bahwa memang tidak banyak yang tahu tentang sejarah masjid ini.

Usia yang sudah begitu tua dan telah melewati beberapa generasi dan tanpa bukti sumber sejarah yang dapat di verifikasi dengan car acara modern, memang sangat sulit untuk memastikan tentang kebenaran sejarah pembangunan masjid ini. Namun demikian keberadaan Masjid Tiban di dusun Nyangkring, Pasuruan, ini menambah khasanah sejarah masjid masjid Nusantara.

Pada awalnya masjid ini berdiri dengan 4 pilar yang terbuat dari batangan kayu. Namun lantaran dikhawatirkan ambruk seiring perkembangan zaman, pilar-pilar kayu kemudian dibalut dengan cor-coran beton agar lebih kokoh dan kuat. Perbaikan dan perluasan lokasi masjid pun juga sempat dilakukan.

Masjid Tiban dusun Nyangkring, Desa Bujeng, Beji, Pasuruan

Sumur di dalam Masjid

Di dalam masjid pun juga terdapat sebuah air sumur yang sangat jernih. Bukan sekedar jernih saja, namun air sumur itu dipercaya sangat manjur untuk obat maupun bobok (untuk diusap ke tubuh). Airnya tidak pernah habis meskipun musim kemarau. Sayangnya, karena terkendala dana, kondisi masjid tersebut terlihat kurang terpelihara dan terawat.

Mimbar Masjid

Selain penyangga yang kokoh, masjid tiban juga dikenal orang karena lubang mimbar yang berukuran kecil. Meskipun kecil, ternyata orang setinggi berapa pun bisa masuk ke dalam lubang mimbar itu. Selain itu, ornamen kuno atap dan jendela berhias bunga menjadi petanda tuanya masjid tiban.

Kini perkembangan penduduk semakin banyak, masjid tiban juga telah diperluas dengan membangun bagian serambi, agar bisa menampung warga beribadah. Khusus bulan ramadhan, banyak warga menjalankan ibadah di masjid tersebut. Mulai aktifitas  mengaji dan sholat berjamaah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, November 18, 2017

Masjid Tiban Wonokerso Wonogiri

Masjid Tiban Wonokerso saat ini.

Masjid Tiban Wonokerso diyakini dibangun wali dan lebih dulu dari pada Masjid Agung Demak. Bahkan, masjid kuno itu disebut sebagai maket atau model awal Masjid Agung Demak. Masjid Tiban Wonokerso diperkirakan dibangun pada Tahun 1479 Masehi. Hal itu dapat dilihat dari tanda berupa bentuk penyu di bagian atas masjid yang dapat di artikan angka 1401 Saka atau sama dengan 1479 Masehi.

Warga dusun tidak ada yang tahu secara pasti siapa yang membangun masjid itu dan kapan dibangun. Pasalnya, masjid itu lebih dulu ada dari pada dusun. Dahulu kawasan masjid merupakan hutan belantara. Menurut cerita, Masjid Wonokerso kali pertama ditemukan Ki Ageng Tugu atau Tuhu Wono bersama pengikutnya, Ki Agung Serang dan Kiai Gozali, saat membuka hutan di wilayah Sembuyan (Wonogiri selatan).

Masjid Tiban Wonokerso
Dusun Tekil Kulon (Wonokerso ) RT 001/RW 005,
Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57673


Sejarah Lisan Masjid Tiban Wonokerso

Cerita yang berkembang, Masjid Tiban dibangun para wali. Saat itu wali diberi tugas Raja Demak untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru Masjid Agung Demak. Saat itu Walisongo dipimpin Sunan Kalijaga menelusuri Bengawan Solo menuju Hutan Jati Donoloyo. Sesampainya di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon jati Walisongo memutuskan untuk menghentikan pencarian. lantaran mereka meyakini itulah Hutan Jati Donloyo yang dimaksud.

Di situ mereka membangun sebuah masjid sebagai tempat beribadah sekaligus tempat bermalam. Namun setelah mengetahui ternyata kayu jati yang mereka cari tak jua ditemukan. Akhirnya Walisongo sadar bahwa tempat tersebut bukan hutan jati yang selama ini dicari. Sepakat mereka meninggalkan tempat itu berikut Masjidnya. Dan masjid yang mereka tinggalkan itulah yang diyakini sebagai Masjid Tiban Wonokerso dan kemudian ditemukan oleh Ki Ageng Tugu.

Dalam kaitannya dengan sejarah Kabupaten Wonogiri, disebutkan bahwa Raden Mas Said atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa pernah suatu saat bersembunyi di bawah kolong masjid ini dari kejaran tentara Belanda. Hal ini membuat penjajah Belanda yang mengejarnya merasa kehilangan jejak.

Arsitektur Masjid Tiban Wonokerso

Bangunan Masjid Tiban Wonokerso masih orisinil, bentuknya mirip seperti bangunan rumah panggung yang dianjang, namun menyerupai Masjid Agung Demak dengan ukuran 7,5 x 7,5 meter. Semua sambungan kayu menggunakan pasak kayu jati bukan paku besi. Keempat ompak yang merupakan soko guru, semua terbuat dari pokok kayu jati. Antara satu dengan lainnya berbeda, baik bentuk maupun karakter batang kayu serta ukurannya.

Interior Masjid Tiban Wonokerso.

Dalam ruangan Masjid Tiban Wonokerso, terdapat sebuah mimbar kayu jati tua dengan ukiran unik. Di sana-sini terdapat simbolisasi kebesaran Islam bintang Oktagonsegi delapan. Ukiran yang sama banyak ditemui di tiap sambungan kerangka masjid.

Bentuk Kubahnya sangat unik dan berbeda dengan Masjid pada umumnya, Masjid Tiban Wonokerso memiliki Kubah berbentuk mahkota raja yang terbuat dari tanah. Walaupun dari tanah, sampai saat ini Kubah Masjid tersebut belum menampakkan kerusakan, meski dimakan usia dan didera panas maupun hujan.

Masjid tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi UU No. 11/2011 tentang Cagar Budaya. Hingga sekarang tempat ini tetapdipakai untuk sentra peribadahan kaum muslim di sekitarnya.

Perbaikan Masjid Tiban Wonokerso

Masjid berstruktur panggung itu pernah diperbaiki pihak berwenang. Satu dari empat saka guru atau tiang masjid sudah diganti kayu jati yang bentuknya serupa dengan saka guru aslinya. Bagian ventilasi atas juga ditambahi struktur kayu berkaca. Selain itu atap yang sebelumnya kayu jati diganti genting. Selebihnya seluruh bagian masjid masih asli, seperti mimbar dan dinding.

Pada 1982 dibangun struktur tambahan bagian depan yang sekarang berfungsi sebagai teras masjid. Sampai kini bagian dalam Masjid Tiban tetap bisa digunakan beribadah. Banyak jemaah dari berbagai daerah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, November 12, 2017

Masjid Jamik Tiban Babussalam Probolinggo Peninggalan Syekh Maulana Ishaq

Masjid Tiban Babussalam Probolinggo

Masjid Tiban di Probolinggo ini dipercaya masyarakat setempat merupakan bangunan masjid tempat Syekh Maulana Ishaq melakukan Syiar Islam. Syech Maulana Ishaq, adalah ulama yang mengislamkan Samudera Pasai dan Blambangan, menikah dengan putri Raja Blambangan, Dewi Sekardadu. dari pernikahan itu lahir seorang putera, bernama Ainul Yaqin atau Raden Paku yang dikenal dengan gelar Sunan Giri.

Masjid ini juga dipercaya hadir begitu saja dan warga sekitarnya tidak ada yang tahu kapan masjid tersebut dibangun, tiba tiba sudah berdiri kokoh di lokasi tersebut, dan karena itu masjid ini disebut masjid tiban. diperkirakan masjid ini sudah ada sejak tahun 1600-an (abad ke 17).

Masjid ini bukan satu satunya yang disebut masyarakat setempat sebagai masjid tiban karena tidak tahu siapa dan kapan dibangunnya dan dipercaya hadir begitu saja, sekonyong konyong dan tiba tiba. Selain masjid ini ada banyak masjid lainnya yang juga disebut masjid Tiban seperti Masjid Tiban di Pasuruan, Masjid Tiban Pangkah (gresik), Masjid Sunan Bonang di desa Bonang, Masjid Tiban Gedongmulyo atau Masjid Tiban di pinggir Kali Bagan desa Gedongmulyo Kec. Lasem, dan lain lainnya.

Masjid Jami' Tiban Babussalam
Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Pilang
Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo
Jawa Timur 67212 Indonesia



Masjid Tiban Babussalam ini kini terdiri dari dua bangunan, yakni bangunan asli yang berada di sisi barat dan bangunan masjid baru di sisi timur yang dibangun kemudian. masing masing dua bangunan ini memiliki bentuk dan gaya arsitektur yang sama sekali berbeda.

Bangunan asli atau bangunan lama Masjid Tiban Babussalam ini berukuran 9 x 9 meter dan berbentuk masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun dengan tembok dinding dari batu paras, sedangkan bangunan baru yang berada di sebelah timurnya merupakan bangunan masjid dengan rancangan modern berukuran sekitar 900 meter persegi.

Masjid ini diyakini sebagai tempat Syekh Maulana Ishaq melakukan Syiar Islam, hingga ke Banyuwangi. Hingga kini bangunan lama Masjid selalu didatangi warga untuk melakukan wisata religi.

Masjid Tiban Babussalam Probolinggo

Rancangan Masjid Tiban Babussalam

Rancang bangun Masjid Tiban tersebut juga masih menggunakan cara-cara kuno, seperti tembok pada bagian atap, menggunakan batu padas putih dan tidak memakai paku logam melainkan dari paku kayu, untuk merakitkan kayu satu dengan kayu yang lain.

Penyangga dalam Masjid, menggunakan kayu jati berukuran 40 kali 40 senti meter, dan di atasnya ada beberapa ukiran sederhana dan ventilasi. Di belakang Masjid, ada sebuah batu lempeng yang berukuran besar. Konon, batu tersebut dibuat Syekh Maulana Ishak untuk berkhotbah menyebarkan agama Islam.

Selain itu, ada sebuah sumur tua dan tanaman yang ada di sekitar masjid bisa menyembuhkan segala macam penyakit, maka tak jarang banyak musyafir yang selalu berkunjung ke Masjid tersebut.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga