Showing posts with label masjid kesultanan. Show all posts
Showing posts with label masjid kesultanan. Show all posts

Saturday, February 10, 2018

Masjid Gammalamo Jailolo

Masjid Gammalamo Jailolo.

Masjid Gammalamo adalah masjid tua di Desa Gamalamo, kecamatan Jailolo, kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara. Masjid tua ini merupakan peninggalan dari masa kejayaan kesultanan Jailolo. Dibangun tahun 1902 dengan luas bangunan 150 meter persegi, berdiri di atas lahan wakaf seluas 300 meter persegi.

Pembangunan masjid ini atas prakarsa Suku Moro (suku tertua di Jailolo) rakyat Jailolo bersepakat dan berswadaya mendirikan masjid. Empat suku di Jailolo yaitu suku Moro, Wayuli, Porniti, tiap-tiap suku memberikan kontribusi berupa pemasangan tiang kaba (soko guru) pada ruang ibadah masjid. Empat Tiang Kaba tersebut sebagai simbolisasi persatuan dan kesatuan rakyat Jailolo yang saling bersaudara dan tetap menjaga hubungan baik antarsesama walau beda suku dan agama.

Masjid Gammalamo Jailolo
Gamlamo, Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara


Kesultanan Jailolo memang tidak sepopuler Kesultanan Ternate, Ternate dan Kesultanan Bacan, namun Masjid Tua Jailolo atau yang familiar dengan Masjid Gamalamo masih terpelihara dengan baik. Menariknya, pada halaman masjid terdapat sebuah meriam tua peninggalan belanda dengan panjang 2,9 meter.

Masjid Gammalamo sempat menjadi markas para pejuang pada perang Jailolo atau Rogu Lamo Jailalo melwan penjajah Belanda di tahun 1914. di masjid ini para pejuang bertemu, bermusyawarah dan menyusun strategi. Masjid ini juga sebagai benteng muslim Jailolo dan Pemimpin Banau untuk menangkal dan menghalangi misi kristenisasi yang dijalankan oleh pemerintah Belanda. Seluruh rakyat Jailolo beserta para imam Masjid Gammalamo berdoa bersama dan menyusun strategi mengusir Kompeni Belanda dari Jailolo.

Masjid Gammalamo ini juga merupakan masjid tertua di Halmahera. Bangunan masjid ini telah mengalami tiga kali renovasi, namun secara filosofis arsitektur bangunannya tetap dipertahankan keasliannya. Lokasi Masjid Gammalamo berada di pesisir pantai Teluk Jailolo merefleksikan eksistensi komunitas muslim di Jailolo Halmahera.

Masjid Gammalamo.

Awalnya masjid ini sebuah surau atau langgar tanpa nama yang digunakan untuk melaksanakan shalat berjamaah lima waktu. Namun pada tahun 1920 setelah dipindahkan ke lokasi baru masjid ini bernama Masjid Al-Kabir yang berarti masjid besar yang menjalankan adat berlandaskan pada Islam adat matoto agama.

Pada tahun 1960 masjid ini direnovasi dengan tidak mengubah desain arsitektur asli bangunan. Letnan Miring sebagai penanggungjawab perbaikan masjid bersama panitia pembangunan masjid Raqib Abdus Samad memperbagus dan memperindah arsitektur bangunan masjid. Setelah selesai perenovasian bangunan masjid, penamaan masjid ini pun diubah lagi dengan nama Masjid Al-Amin.

Pada tahun 1993 sejak kemunculan anak cucu keturunan Sultan Jailolo Abdullah Abdul Rahman Haryanto Syah di Tagalaya Jailolo yang dinobatkan sebagai pewaris tahta Kesultanan Jailolo, maka Masjid Gammalamo menjadi masjid yang diklaim oleh keluarga Sultan menjadi masjid Kesultanan. Masjid Al-Amin berubah namanya menjadi Masjid Gammalamo yang pengelolaannya berdasarkan manajemen dan strukturisasi Kesultanan Jailolo.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi

Buletin Al-Turas, Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Syahid Jakarta, Indonesia, Vol. XXII No.2, Juli 2016.

Baca Juga

Saturday, November 18, 2017

Masjid Tiban Wonokerso Wonogiri

Masjid Tiban Wonokerso saat ini.

Masjid Tiban Wonokerso diyakini dibangun wali dan lebih dulu dari pada Masjid Agung Demak. Bahkan, masjid kuno itu disebut sebagai maket atau model awal Masjid Agung Demak. Masjid Tiban Wonokerso diperkirakan dibangun pada Tahun 1479 Masehi. Hal itu dapat dilihat dari tanda berupa bentuk penyu di bagian atas masjid yang dapat di artikan angka 1401 Saka atau sama dengan 1479 Masehi.

Warga dusun tidak ada yang tahu secara pasti siapa yang membangun masjid itu dan kapan dibangun. Pasalnya, masjid itu lebih dulu ada dari pada dusun. Dahulu kawasan masjid merupakan hutan belantara. Menurut cerita, Masjid Wonokerso kali pertama ditemukan Ki Ageng Tugu atau Tuhu Wono bersama pengikutnya, Ki Agung Serang dan Kiai Gozali, saat membuka hutan di wilayah Sembuyan (Wonogiri selatan).

Masjid Tiban Wonokerso
Dusun Tekil Kulon (Wonokerso ) RT 001/RW 005,
Desa Sendangrejo, Kecamatan Baturetno
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah 57673


Sejarah Lisan Masjid Tiban Wonokerso

Cerita yang berkembang, Masjid Tiban dibangun para wali. Saat itu wali diberi tugas Raja Demak untuk mencari kayu jati pilihan sebagai bahan baku saka guru Masjid Agung Demak. Saat itu Walisongo dipimpin Sunan Kalijaga menelusuri Bengawan Solo menuju Hutan Jati Donoloyo. Sesampainya di suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon jati Walisongo memutuskan untuk menghentikan pencarian. lantaran mereka meyakini itulah Hutan Jati Donloyo yang dimaksud.

Di situ mereka membangun sebuah masjid sebagai tempat beribadah sekaligus tempat bermalam. Namun setelah mengetahui ternyata kayu jati yang mereka cari tak jua ditemukan. Akhirnya Walisongo sadar bahwa tempat tersebut bukan hutan jati yang selama ini dicari. Sepakat mereka meninggalkan tempat itu berikut Masjidnya. Dan masjid yang mereka tinggalkan itulah yang diyakini sebagai Masjid Tiban Wonokerso dan kemudian ditemukan oleh Ki Ageng Tugu.

Dalam kaitannya dengan sejarah Kabupaten Wonogiri, disebutkan bahwa Raden Mas Said atau lebih dikenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa pernah suatu saat bersembunyi di bawah kolong masjid ini dari kejaran tentara Belanda. Hal ini membuat penjajah Belanda yang mengejarnya merasa kehilangan jejak.

Arsitektur Masjid Tiban Wonokerso

Bangunan Masjid Tiban Wonokerso masih orisinil, bentuknya mirip seperti bangunan rumah panggung yang dianjang, namun menyerupai Masjid Agung Demak dengan ukuran 7,5 x 7,5 meter. Semua sambungan kayu menggunakan pasak kayu jati bukan paku besi. Keempat ompak yang merupakan soko guru, semua terbuat dari pokok kayu jati. Antara satu dengan lainnya berbeda, baik bentuk maupun karakter batang kayu serta ukurannya.

Interior Masjid Tiban Wonokerso.

Dalam ruangan Masjid Tiban Wonokerso, terdapat sebuah mimbar kayu jati tua dengan ukiran unik. Di sana-sini terdapat simbolisasi kebesaran Islam bintang Oktagonsegi delapan. Ukiran yang sama banyak ditemui di tiap sambungan kerangka masjid.

Bentuk Kubahnya sangat unik dan berbeda dengan Masjid pada umumnya, Masjid Tiban Wonokerso memiliki Kubah berbentuk mahkota raja yang terbuat dari tanah. Walaupun dari tanah, sampai saat ini Kubah Masjid tersebut belum menampakkan kerusakan, meski dimakan usia dan didera panas maupun hujan.

Masjid tersebut telah ditetapkan sebagai cagar budaya dan dilindungi UU No. 11/2011 tentang Cagar Budaya. Hingga sekarang tempat ini tetapdipakai untuk sentra peribadahan kaum muslim di sekitarnya.

Perbaikan Masjid Tiban Wonokerso

Masjid berstruktur panggung itu pernah diperbaiki pihak berwenang. Satu dari empat saka guru atau tiang masjid sudah diganti kayu jati yang bentuknya serupa dengan saka guru aslinya. Bagian ventilasi atas juga ditambahi struktur kayu berkaca. Selain itu atap yang sebelumnya kayu jati diganti genting. Selebihnya seluruh bagian masjid masih asli, seperti mimbar dan dinding.

Pada 1982 dibangun struktur tambahan bagian depan yang sekarang berfungsi sebagai teras masjid. Sampai kini bagian dalam Masjid Tiban tetap bisa digunakan beribadah. Banyak jemaah dari berbagai daerah.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, September 9, 2017

Masjid Raya Tanjung Pasir

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah.

Masjid Raya Tanjung Pasir atau Masjid Raya Alhaji Muhammad Syah adalah masjid raya yang berada di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan, Kabupaten Labuhanbaut Utara, Provinsi Sumatera Utara. Masjid ini merupakan peninggalan Kerajaan Kualuh, Karenanya Masjid Raya ini juga seringkali disebut dengan Masjid Sultan Kualuh. Selain itu masjid ini juga dikenal dengan nama Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah, lokasinya berada jalan besar desa Tanjung Pasir.

Masjid bersejarah bercorak Melayu yang berukuran sekitar 20 x 20 meter ini terletak tak jauh dari sungai Kualuh, sungai yang membentang dari Kecamatan Kualuh Hulu, Kualuh Selatan, Kualuh Hilir, dan Kualuh Leidong. Selain arsitekturnya yang menarik, Masjid ini juga memiliki arti penting dari sisi sejarahnya di masa lampau.

Mesjid Raya Alhaji Muhammad Syah
Tj. Pasir, Kecamatan Kualuh Selatan
Kabupaten Labuhanbatu Utara
Sumatera Utara 21457



Didirikan oleh Sultan Kualuh III, Al-Haji Muhammad Syah pada tahun 1937.
Kesultanan Kualuh merupakan pecahan Kesultanan Asahan yang berdiri pada abad XVI, sedangkan Kesultanan Kualuh pada abad XVIII. Pada tahun 1920 Sultan Al-Haji Muhammad Syah memindahkan pemerintahan Kerajaannya ke Tanjung Pasir dan mendirikan Istana.

Anak gadis Sultan menikah dengan salah seorang pangeran dari kerajaan Langkat. Sebagaimana ayahandanya, Putri Sultan yang menjadi permaisuri tersebut berkeinginan membangun Masjid di Labura. Sultan berkunjung ke kerajaan Langkat, beliau sangat kagum melihat keindahan bangunan Masjid Azizi yang dibangun oleh Sultan Langkat pada waktu itu. Beliau menginginkan pembangunan masjid di seperti Masjid Azizi dan meminta agar membuatkan gambar dengan ukuran mini.

Sejarah Masjid Raya Al-Haji Muhammad Syah diawali berdirinya Kerajaan Kesultanan Kualuh di Labura pada abad XIX, tepatnya tahun 1829 dengan raja pertama Sultan Haji Ishaq Syah. Setelah beliau mangkat maka digantikan oleh putra tertuanya bernama Sultan Al-Haji Abdullah Syah dan memindahkan pemerintahan kerajaannya ke Kampung Masjid Kecamatan Kualuh Hilir yang sebelumnya kampung tersebut bernama Djatuhan Dadih.

Masjid Raya Tanjung Pasir

Perubahan nama kampung tersebut terjadi setelah kedatangan seorang ulama dari Rokan, Riau bernama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan beserta para pengikutnya sekitar 150 orang. Kedatangan ulama terkenal tersebut disambut oleh Sultan dan memberikan bantuan berupa beras dan sejumlah uang untuk keperluan para santri.

Atas anjuran Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan, setelah Sultan berguru beberapa tahun maka Sultan berniat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah beserta putranya yang bernama Tengku Biong (yang kelak akan berganti nama) pada tahun 1870 selama kurang lebih 3 tahun untuk memperdalam ilmu agama.

Di sana, Sultan mendirikan tempat tinggal di sekitar Masjidil Haram tepatnya berada di Pasar Seng. Tempat tinggal tersebut diperuntukkan bagi keluarga dan masyarakat Kesultanan Kualuh yang pergi melaksanakan haji pada saat itu sehingga tidak perlu lagi mencari tempat tinggal di Mekah. Selanjutnya setelah Sultan merasa cukup, atas permintaan rakyatnya maka Sultan kembali ke tanah air (Kualuh) dan mewakafkan tempat tinggal tersebut.

Sebelum Sultan berangkat ke tanah suci, bersama Tuan Syekh Abdul Wahab Rokan membangun sebuah masjid, yang kelak tempat tersebut bernama Kampung Masjid kerena terdengar kabar ada ulama besar mengajarkan ilmu agama di kampung tersebut.

Referensi


Sunday, July 16, 2017

Masjid Cipto Mulyo Boyolali, Masjid Peninggalan PB X

Masjid Cipto Mulyo Boyolali, denah bangunan masjid ini miring sangat jauh dari arah kiblat, pengurus masjid terpaksa memiringkan sajadah di dalam masjid ini tanpa mengubah arah bangunannya.

Masjid Cipto Mulyo yang terletak di Kecamatan Pengging, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada awalnya hanyalah masjid untuk kerabat raja Keraton Surakarta. Masjid dengan desain limasan ini dulu menjadi tempat jujugan dari kerabat keraton seusai melakukan peristirahatan dengan siraman (mandi) di Umbul Pengging.

Masjid kuno ini berdiri pada tahun 1838 dan terletak di komplek kawasan wisata Umbul Pengging. Di tempat ini tak hanya ada masjid kuno peninggalan raja Keraton Surakata, Pakubuwono (PB) X, tetapi ada juga tempat khusus pemandian kerabat raja, yaitu Umbul Pengging dan Umbul Sungsang, juga pesanggrahan.

Masjid Cipto Mulyo
Ngaliyan, Banyudono, Bendan, Boyolali
Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57373


Di belakang masjid terdapat makam pujangga Jawa kuno, Yosodipuro dan Ronggowarsito. masjid ini terbilang cukup unik. Salah satunya terlihat dari namanya yang menggunakan bahasa Jawa, tidak seperti masjid lainnya yang menggunakan bahasa Arab. Cipto Mulyo sendiri memiliki arti menciptakan kemuliaan di dunia dan akhirat.

Dilihat dari bangunannya pun terasa kuno yang merupakan perpaduan bagunan nuansa Jawa. Di mana desain masjid ini adalah limasan, menyerupai pendopo. Untuk pilar-pilarnya pun masih menggunakan kayu jati dengan warna krem. Meskipun, umurnya hampir satu abad, masjid ini masih terlihat kokoh dan gagah, berada di tengah-tengah lokasi sumber mata air.

Beberapa kali sudah dilakukan renovasi, tetapi hanya bagian atap dan lantai saja. Kalau untuk bagian dalamnya, termasuk tiangnya yang berasal dari kayu jati, sama sekali belum pernah dilakukan renovasi.

Dekorasi dari masjid dengan lima pintu utama ini masih terasa kekunoannya, seperti keberadaan lampu Jawa klasik. Ditambah ukiran-ukiran yang berada di atas tiap pintu dan jendela dengan sisipan tulisan PB X yang menandakan bahwa pembangunan masjid itu terjadi pada masa pemerintahan PB X.

Interior Masjid Cipto Mulyo Boyolali, perhatikan arah sajadahnya yang miring cukup jauh terhadap arah bangunan masjidnya.
Uniknya lagi, di bagian atas gerbang serambi terdapatnya tulisan aksara Jawa kuno. Aksara Jawa tersebut bertuliskan Adegipun Masjid Cipto Mulyo, Selasa Pon, Kaping 24 Jumadilakhir 1838. Selain itu, juga terdapat bedug dan kentongan yang diletakkan di sisi kanan serambi masjid.

Arah Kiblat Masjid Miring 45 Derajat

Sedangkan di tengah-tengah serambi terdapat arah mata angin, sebagai petunjuk arah kiblat. Ini sangat menarik, karena bangunan masjid ini miring sekitar 45 derajat ke utara dari arah kiblat sehingga shaf pun dibuat miring sesuai arah kiblat. Dan jarum arah kiblat itu dipasang oleh Departemen Agama Wilayah Jawa Tengah.

Kendati secara fisik mengalami renovasi berulang kali, namun perubahan bangunan masjid untuk mengarah ke tepat kilbat tidak dilakukan. "Arah bangunan ini dibiarkan saja, namun shaf tetap mengarah ke kiblat. Lagipula pihak kraton menginstruksikan untuk tidak mengubah bangunan masjid.

Adanya kesalahan kemiringan kiblat dari bangunan itu, diperkirakan yang menjadi arsitektur bangunan Masjid Cipto Mulyo ini merupakan orang Belanda pada waktu itu. Mungkin saja begitu alasannya, sehingga kiblat masjid itu miring 45 derajat.

Referensi


Sunday, June 4, 2017

Masjid Kraton Soko Tunggal, Tamansari, Yogyakarta

Masjid Kraton Soko Tunggal, Tamansari, Yogyakarta, terdiri dari dua bangunan yakni bangunan utama ditambah dengan sebuah pendopo.

Sesuai dengan namanya, masjid ini memang berada di lingkungan Kraton Yogyakarta dan memang hanya memiliki satu soko atau tiang penyanggah. Soko Tunggal yang dimaksud adalah tiang penyanggah struktur atap masjid yang dalam pakem masjid Jawa biasanya menggunakan empat sokoguru, namun di masjid ini hanya menggunakan satu sokoguru, berdiri di tengah tengah ruangan masjid menyanggah langsung ke puncak struktur atap.

Lokasi masjid Soko Tunggal berada komplek Kampung Wisata Tamansari, langsung terlihat disebelah kiri jalan ketika melewati gerbang kampung wisata tersebut. Selain Soko gurunya yang hanya satu saja, soko guru tunggal tersebut juga berdiri diatas umpak (landasan batu) yang berasal dari era kekuasaan Sultan Agung Hanyokro Kusumo (raja terbesar kesultanan Mataram Islam). Keunikan lainnya adalah bahwa pembangunan masjid ini sama sekali tidak menggunakan paku besi untuk menyambung masing masing struktur kayu-nya.

Masjid Soko Tunggal
Jl. Taman 1 No.318, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta 55133. Indonesia



Arsitektur Masjid Kraton Soko Tunggal

Masjid Sokotunggal dirancang oleh (almarhum) R. Ngabehi Mintobudoyo, arsitek Keraton Yogyakarta yang terakhir. Desainnya berbentuk joglo, dengan satu menara dari besi dan satu tiang (soko) berukuran 50 cm x 50 cm. Masjid yang sangat kental corak jawa. Atap masjid berbentuk Joglo, dengan 4 soko Brunjung, 4 soko bentung dan 1 Soko Guru. Ompak raksasa sebagai landasan bangunan berjumlah 2 dan berasal dari kraton Sultan Agung di desa Kerta, Kraton Plered.

Berdiri diatas lahan seluas 900 m2, yang merupakan tanah wakaf dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bangunan masjid berukuran 10 x 16 m2. dan ditambah dengan bangunan serambi berukuran 8 x 16 m2.Luas keseluruhan-nya mencapao 288 m2 dan mampu menampung 600 jamaah.

Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. 4 buah Saka Bentung dan 1 buah Saka Guru, semuanya berjumlah 5 buah, melambangkan Pancasila. Sedangkan sokoguru tunggalnya merupakan lambang sila yang pertama, “Ketuhanan yang maha esa”. Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga peniung merupakan lambang Kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.

Pendopo Masjid Kraton Soko Tunggal.

Beragam ukiran dimasjid ini juga mengandung makna dan maksud tertentu. Ukiran Probo, berarti bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran Saton, berarti menyendiri, sawiji. Sorot berarti sinar cahaya matahari. Tlacapan berarti panggah, tabah dan tangguh. Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan. Bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah. Ukiran tetesan embun diantara daun dan bunga yang terdapat di balok uleng. Maksudnya, siapa yang salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah.

Dari aspek konstruksi, bangunan masjid Sokotunggal ini juga sarat makna. Dalam konstruksi masjid itu ada bagian yang berbentuk bahu dayung. Ini melambangkan, orang-orang yang salat di masjid ini menjadi orang yang kuat menghadapi godaan iblis angkara murka yang datangnya dari empat penjuru dan lima pancer. Sunduk, artinya menjalar untuk mencapai tujuan. Santen, artinya bersih suci (kejujuran). Uleng, artinya wibawa. Singup, artinya keramat, Bandoga, artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Dan tawonan, yang berarti gana, manis, penuh.

Rangka-rangka masjid yang dibentuk sedemikian rupa juga memiliki makna. Soko brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan. Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo. Sirah godo, melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, sempurna baik jasmani dan rokhani. Dan mustoko yang melambangkan keluhuran dan kewibawaan.

Soko atau tiang tunggal berdiri ditengah tengah ruang masjid, bukan empat soko (tiang) seperti kebanyakan masjid masjid bergaya Jawa pada umumnya.

Sejarah Masjid Soko Tunggal

Berdarsarkan prasasti yang ada di masjid ini, Masjid Kraton Soko Tunggal selesai dibangun pada hari Jum’at Pon, tanggal 21 Rajab tahun 1392 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 1 September 1972. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 1973 Oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pembangunan masjid ini merupakan inisiatif dari masyarakat muslim setempat, yang memang membutuhkan masjid sebagai tempat peribadatan mereka. sebelum masjid ini berdiri masyarakat muslim disana melaksanakan sholat Jum’at di salah satu gedung di komplek Tamansari yakni gedung Kedung Penganten.***

Referensi



Saturday, April 22, 2017

Masjid Tengku Di Pucok Krueng Pidie Jaya

Masjid Kembar, demikian masjid ini seringkali disebut oleh masyarakat muslim setempat karena ada dua masjid yang bersebelahan, aslinya masjid tua yang sebelah kiri foto di atas adalah Masjid Tengku Dipucok Krueng.

Masjid satu ini memang terlihat tak biasa, ada dua bangunan masjid yang berdiri bersebelahan dan masing masing berdiri kokoh dengan gayanya masing masing. Satu bangunan masjid tradisional Nusantara dari bahan kayu dan terlihat sudah berusia cukup tua dan satu lagi bangunan masjid dengan bahan beton berlanggam modern. Masjid di kabupaten Pidie Jaya, ini adalah Masjid Tengku Di Pucok Krueng atau juga dikenal dengan nama masjid kembar.

Sepintar lalu tak ada yang istimewa dengan masjid ini, namun keunggulan arsitektur Nusantara pada masjid ini teruji manakala gempa gumi 7 Desember 2016 berkekuatan 6,5 Skala Richter menghantam Kabupaten Pidie Jaya, menyebabkan banyak bangunan yang roboh ataupun rudak parah, termasuk bangunan masjid modern yang dibangun bersebelahan dengan masjid kuno ini pun turut mengalami kerusakan parah, namun tidak dengan Masjid Tua Tengku Di Pucok Krueng ini yang mampu berdiri tegar tanpa kerusakan berarti.

Masjid Tgk Dipucok Krueng
Jl. Raya lintas Banda Aceh-Medan, Simpang Beuracan
Kemukiman Beuracan, Gampong Kuta Trieng
Kecamatan Meureudu, Kab, Pidie Jaya
Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia


Mesjid Teungku Dipucok Krueng

Masjid itu dinamakan sebagai Masjid Tengku Dipucok Krueng yang merupakan nama gelaran kepada pembangunnya Tengku Muhammad Salim, adapula yang menyebutnya Tengku Abdussalam atau Abdussalim, yang semasa hidupnya dikenal luas dengan nama Tengku Dipucok Krueng, karena beliau tinggal di “hulu sungai” Pucok Krueng, sehingga dikenal luas dengan nama Tengku Dipucok Krueng.

Beliau merupakan seorang ulama dari Madinah (Saudi Arabia) dan ahli pertanian. Beliau datang ke daerah Meureudu bersama dengan Tengku Japakah dan Malem Dagang, dalam rangka mensyiarkan ajaran Islam.

Masjid ini berdiri di atas lahan wakaf dari warga setempat dengan biaya sebagian besar berasal dari hasil pertanian. Tengku Abdussalim sendiri dengan keahlian-nya membuka lahan persawahan seluas 50 hektar dan tanah perkebunan di lingkungan mesjid seluas 6 hektar yang dijadikan aset milik pengelola masjid atau lazim disebut “Tanoh Meusara” yang dikelola untuk kemakmuran masjid.

Kerusakan paska gempa bumi 7 Desember 2016

Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa kekuasan Sultan Iskandar Muda (1607 -1636M), Dimulai sekitar tahun 1622 atas kesepakatan masyarakat Beuracan, masjid ini didirikan tak jauh dari sungai, dengan pertimbangan memudahkan dalam pengambilan air wudhu untuk bersuci. Pada tahun 1947 masjid ini direhab dengan memperindah bangunan tanpa mengubah bentuk semula, hanya menambah dinding bagian belakang (sisi barat).

Masjid Tengku Dipucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya sekawasan ini, sehingga selain digunakan warga Beuracan juga digunakan oleh warga ditiga kemukiman (desa) yakni kemukiman Ulim, Pangwa, dan Beuriwueh. Selain membangun mesjid di Beuracan, Tengku Abdussalim juga diketahui membangun tiga masjid lain-nya, yakni; Masjid Kuta Batei, Masjid Madinah dan Masjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Pada tahun 1990 dengan pengawasan bidang Permusiuman Sejarah Kepurbakalaan Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Daerah Istimewa Aceh, Masjid Beuracan direhabilitasi dengan memberikan dinding kayu berukir pada sekeliling masjid dengan yang dikerjakan oleh Utoeh Aiyub Desa Grong-Grong Beuracan. Hal tersebut dilaksanakan pada masa Prof. Dr. H. Ibrahim Hasan, MBA menjabat Gubernur provinsi Daerah Istimewa Aceh saat itu.

Beliau juga menyumbang sebesar Rp. 10 juta untuk keperluan rehabilitasi dimaksud. Selain itu pada saat shalat di masjid Teungku Di Pucok Krueng, beliau sempat meminta kepada pengurus masjid untuk melestarikan bentuk dan keaslian masjid Tengku Dipucok Krueng karena menganndung unsur keunikan dan menjadi bukti sejarah umat Islam di kemukiman Beuracan dan sekitarnya.

Arsitektur

Masjid Tengku Dipucok Krueng,  memiliki tiga atap tumpang yang terbuat dari seng, dinding yang terbuat dari kayu. Kini kayu-kayu aslinya sudah diganti dengan kayu lain yang diukir dengan motif Aceh. Sebanyak 16 tiang kayu digunakan sebagai penopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan. Lantainya terbuat dari semen.

Interior Masjid Tua Tengku Dipucok Krueng.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok keluar yang difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap/kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga. Didalamnya juga terdapat sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Bedug itu biasanya digunakan ketika Ramadhan tiba.

Guci Antik

Di kompleks masjid ini terdapat sebuah guci besar yang terisi air. Meski saat diisi air itu kotor, namun setelah diambil kembali ke dalamnya, airnya sudah sangat jernih.  Guci tersebut kini disemen dan tertanam didalam tanah, hanya bagian leher dan mulut gucinya yang nampak,  namun kain putih dipasang sebagai pembatas dan kain penutup tersebut.

Menurut pengurus masjid guci tersebut sempat berpindah tempat, dan ada aturan, air dalam guci tersebut tidak boleh diciduk oleh perempuan yang sedang haid. Kalau sempat diciduk, esok harinya air dalam guci tersebut harus diganti, karena airnya telah berbau busuk.  Guci tersebut disemen oleh pengurus masjid selain karena riwayat yang menyebut bahwa guci tersebut seringkali berpindah sendiri namun yang pasti warga juga khawatir guci ini dicuri orang-orang yang suka barang-barang antik. ***

Referensi




Saturday, April 15, 2017

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Tertua di Melawi

Masjid Jami' Nanga Pinoh saat ini, masih bertahan dengan bentuk setelah rehab tahun 1938 dan 1972

Masjid Jami’ Nanga Pinoh, Kabupaten Melawi, berusia lebih dari satu abad. Masjid ini adalah masjid tertua di kabupaten Melawi. Dari segi sejarah, Masjid Jami’ merupakan salah satu situs sejarah penting yang ada di Melawi mengingat letaknya dan sejarahnya terkait dengan kedemangan (perwakilan kerajaan) Sintang di masa lalu. Kampung Liang tempat masjid ini berada juga terdapat sejumlah situs sejarah Taman Makan Pahlawan Raden Tumenggung Setia Pahlawan, seorang tokoh pahlawan nasional asli Melawi.

Dari tahun pembangunannya, Masjid Jami’ Nanga Pinoh ini merupakan masjid tertua di Kabupaten Melawi. Peranannya sebagai pusat kegiatan dan peradaban Islam bertahan hingga hari ini. Mesjid Jami’ Nanga Pinoh yang terletak di Kampung Liang, Desa Tekelak Kecamatan Pinoh Utara dulunya merupakan pusat pengembangan Islam di kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Untuk mencapai Masjid Nanga Pinoh ini dari Kota Nanga Pinoh harus menyeberang menggunakan jasa penyeberangan perahu, yang biasa dimanfaatkan warga setempat.

Mesjid Jami’ Nanga Pinoh
Kampung Liang, Desa Tekelak Kec. Pinoh Utara
Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Indonesia.


Sejarah Masjd Jami’ Nanga Pinoh

Sesuai dengan dokumen dan cerita para pemuka-pemuka agama saat itu, Masjid Jami’ ini dibangun pertama kali di Kampung Liang tahun 1888, dan letaknya di Kampung (dusun) Liang, Desa Tekelak (saat ini masuk kecamatan Pinoh Utara), bukan di lokasinya saat ini. Bentuk Mesjid Jami’ pada awalnya (sebelum dipindahkan ke lokasi Mesjid yang baru sekarang). Masih menggunakan satu menara kubah yang terletak di depan pintu masuk Masjid Jami’

Masjid Jami’ tersebut mengalami tiga kali perpindahan lokasi. Kurang lebih setelah 50 tahun dibangun, kondisi masjid tersebut mengalami rusak berat dan kondisinya sudah tidak dapat diperbaiki kembali. Selain itu, lokasi masjid sudah semakin sempit karena perumahan masyarakat yang semakin padat dan tidak tertata.

Maka sesuai dengan mufakat para tetua dan pemuka agama, pada tahun 1938, Masjid Jami’ ini direhab total dan lokasinya dipindahkan sejauh kira-kira 500 meter dari posisi semula ke arah hulu Sungai Melawi. Posisi lokasi Masjid Jami’ tersebut, berada diantara perbatasan Kampung Liang dan Kampung Tekelak, lokasinya juga berada dipertigaan Sungai Melawi dan Sungai Pinoh, di tanah milik kerajaan dengan bentuk yang sama (posisinya di depan kantor Desa Tekelak).

Setelah itu, di tahun 1972 atau 34 tahun setelah pembangunan Masjid Jami’ di tanah kerajaan, Masjid Jami’ kembali direhab karena banyak bagian masjid yang mengalami rusak parah. Bagian pondasi bawah dan tiang-tiang mesjid sudah tidak dapat difungsikan kembali sehingga pemuka agama dan tokoh masyarakat yang dipimpin oleh H Aspar SE yang saat itu menjabat sebagai Kepala BPD Cabang Kalbar (bank Kalbar saat ini, red) wilayah Nanga Pinoh mengadakan mufakat untuk merehab kembali masjid tersebut.

Begini bentuk Masjid Jami' Nanga Pinoh sebelum tahun 1938, dan sebelum dipindahkan ke lokasi saat ini.

Rehab total yang dilakukan pada tahun 1972 akhirnya merubah bentuk Masjid Jami’ sekitar 50 persen dari bentuk semula. Lantai Mesjid terbuat dari beton di atas tanah dan Masjid Jami’ ini mengalami pergeseran 10 meter dari posisi semula. Di tahun 1993, Masjid Jami’ mendapatkan bantuan dari masyarakat, berupa bahan triplek, paku, kayu dan semen, dimana kayu dan triplek dipergunakan sebagai dek masjid serta merehab menara kubah masjid. Sedangkan bahan material seperti semen, dipergunakan masyarakat untuk membangun jalan dari pintu gerbang ke masjid, lantai luar, pintu gerbang serta pagar masjid. Sejak tahun 1972 posisi Masjid Jami’ tidak lagi mengalami perubahan serta sudah berkali-kali diperbaiki.

Tak banyak peninggalan sejarah yang tersisa dari bangunan masjid saat ini. Namun ada dua peninggalan bukti keberadaan masjid tertua di Melawi tersebut, yang masih dapat dijumpai. Pertama yakni mimbar khatib dan bedug. Secara kasat mata mimbar khatib masih kokoh. Mimbar masih difungsikan bagi khatib pada pelaksanaan salat Jumat. Tak banyak perubahan dari mimbar khatib tersebut, namun dahulunya dilengkapi anak tangga, sehingga agak lebih tinggi dari sekarang. Usianya sudah lebih dari 100 tahun. Sementara itu, bedug masjid juga masih dapat dijumpai di halaman masjid. Uniknya  tidak seperti bentuk beduk pada umumnya, namun beduk Masjid Jami bentuknya memanjang, menyerupai sebatang kayu, yang dijadikan bedug.

Aktivitas Masjid Jami’ Nanga Pinoh

Masjid ini sendiri, menjadi pusat kegiatan umat Islam yang ada di kabupaten Melawi. Di masa lalu, saat daerah lain belum memiliki mesjid, banyak masyarakat dari daerah lain seperti Tanjung Lay, Tanjung Paoh, Kebebu yang berada di daerah hulu sungai Melawi melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami’ ini, karena memang Masjid Jami’ ini masih merupakan masjid satu-satunya di Melawi. Mereka turun dengan cara mendayung sampan, sehingga saat shalat Jumat, di depan dermaga, banyak  sampan  yang berjejer.

Pada masa itu seluruh aktivitas kegiatan Islam di Melawi dipusatkan di Masjid Jami’ ini. Bahkan kelompok-kelompok tarbiyah berdatangan dari daerah di luar Melawi hingga dari semenanjung pulau Sumatera ke masjid tersebut. Saat ini, aktivitas masjid tersebut sama halnya dengan masjid lainnya yang berada di Melawi.

Apalagi di bulan Ramadani, Masjid Jami’ selalu dipadati dengan masyarakat yang melaksanakan shalat tarawih dan tadarusan. Selain ibadah shalat berjamaah dan shalat Jumat, juga ada pengajian dan majelis taklim. Dan saat ini juga TPA bagi anak-anak di sekitar Desa Tekelak juga sudah diaktifkan kembali.***

Referensi




Sunday, April 9, 2017

Masjid At-Taqwa Masjid Jamik Kerajaan Matan

Masjid At-Taqwa Ketapang, sebelum dipindahkan ke tempat ini dulunya merupakan Masjid Jami Kerajaan Matan.

Kerajaan Matan adalah sebuah kerajaan Islam yang pernah berdiri di wilayah kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Kerajaan ini pada masa jayanya memiliki satu masjid Jami’ yang merupakan masjid resmi kerajaan Matan. Masjid tersebut berada di kelurahan kauman, kecamatan Benua Kayong, kabupaten Ketapang. Meski sudah tidak asli namun bangunan masjid ini masih terpelihara dan digunakan dengan baik oleh muslim setempat dan kini disebut dengan Masjid At-Taqwa.

Kini Masjid ini juga sudah kehilangan statusnya sebagai masjid kerajaan sehingga kini tinggal kenangan sebagai masjid panembahan di masa Kerajaan Matan. Meski merupakan masjid kerajaan pada masanya, masjid ini tidak dibangun berdekatan dengan istana kerajaan. Sejarawan Dardi D Has menyebut, ketika pusat pemerintahan Ketapang berpindah dari Tanjungpura ke Mulya Kerta, bentuk pemerintahan kesultanan berubah menjadi kerajaan yang bersifat sekuler, dan itu salah satu penyebab pembangunan masjid ini tidak berdekatan dengan istana kerajaan.

Masjid At-Taqwa
Jalan KH Ahmad Dahlan, Kelurahan Kauman
Kecamatan Benua Kayong Kauman, Benua Kayong
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat 78821

 

Ketapang merupakan salah satu kota pertama yang kerap disebut sebagai pintu masuk tersebarnya Islam di Kalimantan Barat. Salah satu jejak sejarahnya adalah Masjid At-Taqwa ini. Awalnya letak Masjid Jami At-Taqwa persis di pinggir Sungai Pawan. Masjid tersebut begitu tinggi, layaknya bangunan-bangunan di masa lalu, di mana untuk mencapai lantai dasar masjid, harus menaiki tangga yang cukup tinggi, namun karena erosi, maka kemudian masjid tersebut dipindahkan ke daerah yang lebih tinggi.

Pemindahan masjid tua ke lokasi sekarang, berlangsung pada tahun 1950. Relokasi itu dirintis ulama besar Kampung Kauman, yang cukup lama bermukim di Mekah, H. Muhammad Ali Usman. Setelah pembangunan masjid selesai, Usman sempat mengajar di Darul Ulum. Ia wafat di Bandung, Jawa barat, 30 Maret 1988.

Dalam catatan warisan budaya di Kerajaan Tanjungpura, masjid dibangun pada masa pemerintahan Panembahan H. Gusti Muhammad Sabran yang memerintah Kerajaan Matan di Mulia Kerta pada tahun 1876-1909. namun bagian asli dari Masjid ini hanya tersisa satu batang bekas tiang saja. dam sejak dipindahkan ke lokasi baru, namanya pun berubah dari Masjid Jami’ Menjadi Masjid At-Taqwa.

Dulu, Imam Masjid Jami Kerajaan Matan Kampung Kaum adalah H. Muhammad Yunus yang bergelar Imam Maharaje berasal dari Tanjungpura dan selaku Mufti yakni H. Abdul Madjid bergelar Mulfi Setie Oegame Matan yang diangkat tahun 1903 M(1323 H).

Masjid At-Taqwa pada zaman Kerajaan Matan merupakan masjid satu-satunya yang ada di Ketapang. Masyarakat muslim dari Kampung Negeri Baru, Kampung Mulya Kerta, Kampung Arab, Kampung Tuan-Tuan, Kampung Banjar, Kampung Sungai Kinjil, Kampung Baru, Kampung Sukabaru, Kampung Mulia Baru, Kampung Kantor, Kampung Tengah, Kampung Sampit, serta Panembahan Sabran melaksanakan Salat Jumat di masjid tersebut.

Panembahan Sabran memerintah Kerajaan Matan setelah menggantikan Pangeran Perdana Menteri atau Pangeran Jaya Anom (1833—1845). Gusti Sabran kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Tanjungpura ke Mulya Kerta pada 1876. Di sini kemudian terjadi perubahan nama dari Kesultanan Tanjungpura menjadi Kerajaan Matan dengan kepala pemerintahan seorang panembahan.***

Referensi



Sunday, January 15, 2017

Masjid Sela Peninggalan Sultan Hamengkubowono I

Kecil dengan gaya dan kesannya sendiri, masjid Sela bertahan melintasi waktu dari era Sultan Hamengkubuwono I sebagai masjid Panepen hinga saat ini. 

Masjid Sela adalah salah satu masjid tua bersejarah di Yogyakarta, lokasinya berada di RT 41, RW II, Kampung Panembahan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Masjid ini terletak di tengah pemukiman penduduk yang cukup padat, akses jalan untuk menuju ke ini merupakan gang kampung yang sempit. Bahkan pengendara kendaraan beroda dua pun harus menuntun kendaraannya untuk memasuki wilayah ini.

Ukuran masjid Sela hanya seukuran sebuah mushola yakni sekitar 6 m x 6 m berdiri diatas lahan seluas 7 m x 8 m, dengan daya tamping hanya sekitar 30-40 jemaah saja. Atap masjid ini masih merupakan bangunan lama dengan motif atap wajik. Kemuncak dari masjid ini juga masih merupakan bangunan lama, berbentuk kerucut dengan ornamen yang kucup kaya di semua sisi dan sudutnya. Kemuncak semacam ini agak umum terdapat pada masjid-masjid Jawa di masa lalu.


Masjid ini dulunya juga dilengkapi dengan kolam di bagian depan (halamannya). Sama seperti masjid-masjid di Jawa masa lalu. Kolam yang difungsikan untuk mencuci kaki bagi siapa pun yang akan memasuki masjid dan sebagai lambang pensucian diri ini sekarang sudah tidak ada lagi. Keberadaan kolam ini telah tergantikan oleh lantai yang diperkeras dengan ubin batu.

Pada era 1960-an kompleks masjid ini sempat terbengkalai. Ruang di dalam masjid digunakan untuk tempat penyimpanan keranda, kolam di depan masjid ini digunakan untuk pembuangan sampah. Baru pada tahun 1965-an dilakukan rehabilitasi untuk memulihkan kondisinya dan setelah kembali difungsikan sebagaimana mestinya dan terbuka untuk khalayak umum.

Masjid Untuk Pangeran

Masjid Sela ini pada mulanya adalah sebuah masjid panepen yang dibuat di dalam kompleks rumah (dalem) pangeran. Jadi fungsinya lebih sebagai masjid keluarga pangeran. Sebagai masjid panepen yang berasal dari kata nenepi dan bermakna menyendiri atau semadi ini Masjid Sela memang lebih difungsikan untuk hal yang demikian. Artinya, pada waktu-waktu tertentu masjid ini memang digunakan untuk bertafakur oleh pangeran atau keluarga yang memilikinya.

Merujuk kepada angka tahun yang tertulis pada papan di atas pintu masjid ini, Masjid Sela dibangun tahun 1709 Saka atau sekitar tahun 1787 Miladiyah, dimasa kekuasaan Sultan Hamengkubuwono I yang berkuasa Antara tahun 1755 – 1792, kemudian dilanjutkan di masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana II (1792-1810).***

Saturday, January 14, 2017

Masjid Kagungan Dalem Pajimatan Imogiri Peninggalan Sultan Agung

Masjid Pajimatan, Masjid yang dibangun di komplek pemakaman raja raja Mataram di Imogiri.

Masjid Pajimatan merupakan salah satu masjid tertua di Yogyakarta, peninggalan raja Mataram Islam, Sultan Agung, Usia masjid tersebut hampir sama dengan Masjid Kotagede dan Masjid Giriloyo. Lokasinya berada satu kompleks dengan makam raja-raja Mataram di Dusun Pajimatan, Kecamatan Imogiri, Bantul. Dari Kota Yogyakarta, Masjid Pajimatan sekitar 17 kilometer ke arah selatan wilayah Imogiri.

Letak masjid berada di kawasan perbukitan Pajimatan yang menjadi satu kompleks atau satu kesatuan dengan makam Sultan Agung, makam trah Kasunanan Solo dan trah Kasultanan Ngayogyakarto Hadiningrat. Hanya saja letaknya masih di bawah bukit. Sedang untuk mencapai kompleks makam, dari masjid harus menaiki sekitar 415 anak tangga.

Tidak diketahui dengan pasti mengapa masjid itu dinamakan Masjid Pajimatan, hanya diketahui nama dusun di kawasan itu bernama Dusun Pajimatan begitupun dengan bukit tempatnya berdiri. Namun nama Pajimatan mengingatkan kita akan nama jimat yang berarti sesuatu yang dianggap keramat, sakral atau mistik.

Masjid Kagungan Dalem Pajimatan
Komplek makam raja raja Mataram Dusun Pajimatan
Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul
Prov. Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia



Masjid Pajimatan diperkirakan dibangun pada tahun 1632 oleh Tumenggung Citrokusumo atas perintah Sultan Agung Hanyakrakusumo. Sejak itu pembangunannya dilanjutkan raja-raja berikutnya. Bangunan ini masih asli meski ada beberapa tempat yang direstorasi untuk mencegah kerusakan. Pada saat gempa melanda wilaya Bantul tahun 2006 lalu, bangunan masjid tidak banyak yang rusak seperti kompleks makam yang ada di atasnya. Beberapa tembok bangunan hanya retak-retak dan sudah diperbaiki.

Dari sisi arsitektur bangunan masjid juga sama dengan bangunan masjid tua lainnya dengan model limasan dengan atap tumpang satu (tajug) di ujung atapnya terdapat Mustaka menyerupai mahkota berbentuk bunga kenanga dari tembaga. Tembok bangunan menggunakan batu bata merah namun bila dibandingkan dengan batu bata sekarang ini, ukurannya lebih besar dan tebal dengan bahan perekat menggunakan batu kapur, sedangkan konstruksi penopang atap dan lainnya menggunakan kayu jati.

Ruang utama masjid ini kira kira seluas 89 meter persegi terbagi dua yang terpisah untuk jamaah laki-laki dan perempuan, dilengkapi dengan mimbar dan bedug masjid. Di halaman masjid menjelang pintu masuk terdapat kolam yang dulunya merupakan kolam untuk berwudhu dan mencuki kaki sebelum masuk ke masjid namun kini sudah dijadikan kolam ikan. Untuk keperluan berwudhu dan mencuci kaki sudah disediakan keran keran air.

Oleh karena masjid ini merupakan satu kesatuan dengan kompleks makam, lanjut Mangun, masjid ini diurus dan dijaga oleh 12 orang abdi dalem keraton. Mereka semua adalah warga dusun sekitar yang diberi tugas merawat sekitar lingkungan masjid secara bergiliran. Dan karena lokasinya juga, masjid ini menjadi tempat beriadah bagi para peziarah yang datang ke komplek pemakaman tersebut.***


------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Baca Juga