Showing posts with label masjid di sumatera barat. Show all posts
Showing posts with label masjid di sumatera barat. Show all posts

Saturday, June 7, 2025

Masjid Ummul Qura Danau Manjinjau

Megah ditepian Danau Maninjau.
 
Masjid Ummul Quro adalah sebuah masjid tua nan indah baik bangunan masjidnya begitupun lokasinya yang berada ditepian danau Maninjau, salah satu danau paling indah di Sumatera Barat. Lokasi masjid ini berjarak 3,9 Km atau lebih kurang delapan menit berkendara sebelah utara dari Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka yang juga berada ditepian Danau Maninjau.
 
Nama Ummil Qura berasal dari bahasa Arab yang artinya “kota tua” juga berarti “Ibu kota” atau dalam bahasa Minang disebut “Ibu Nagari” yang juga merupakan nama lain dari Kota Mekah. Dari papan nama yang terpasang di depan masjid tersebut, dapat diketahui bahwa masjid ini dibangun pada 1907.
 
      Masjid Ummul Qura
      Bancah, Maninjau, Tanjung Raya, Agam Regency, West Sumatra
 
 
Arsitektur Masjid Ummur Quro
 
Masjid Ummul Quro benar benar berdiri tepat ditepian danau Manjinjau, sisi barat bangunan masjid ini menghadap ke danau dan dari pelataran belakang (sisi barat) masjid terdapat akses anak anak tangga batu ke danau untuk keperluan berwudhu dan lainnya. Selain itu beberapa sisi bangunan masjid juga terdapat kolam.
 
Hal ini berkaitan dengan kebiasaan pada zaman dahulu di Ranah Minang. Jika anak laki–laki sudah berusia 7 atau 10 tahun, maka akan tinggal di masjid atau surau. Selain itu masjid juga menjadi pusat aktivitas masyarakat, tempat masyarakat mandi, mencuci dan mengambil kebutuhan air bersih. 
 
Bangunan masjid yang sangat khas bernuansa Minangkabau.

Bangunan masjid tua ini sangat khas Minangkabau dengan denah persegi empat beratap limas beringkat tingkat seperti layaknya sebuah bangunan pagoda. Dua tingkat atap paling atasnya berbentuk seperti sebuah payung terkembang, sedangkan dipuncak tertinggi atapnya dihias dengan bentuk bentuk bola dari bahan metal, dan bagian paling ujungnya ditempatkan ornamen bulan sabit dan bintang.
 
Sebuah menara dengan gaya khas Minangkabau dibangun disisi timur masjid, dan pada sisi belawanan atau disisi barat bangunan dibangun bangunan khusus untuk mihrab yang juga diberi atap serupa dengan bangunan menara ini.
 
Interior Masjid Ummul Quro Maninjau.

bangunan induk masjid dibagi dua bagian yakni ruang utama yang merupakan ruang sholat dan teras masjid yang dibangun di tiga sisi ruang utama (sisi utara, selatan dan timur). Teras masjid ini dikelilingi pilar dan arkade (lengkungan) yang mendominasi bangunan utama.
 
Interior Masjid Ummul Quro
 
Didalam ruang utama masjid terdapat sembilan buah pilar yang menyangga atap dengan satu pilar yang berada di tengah–tengah ruangan. Dinding masjid ini dihiasi dengan kaligrafi surat Al Fatihah dan petikan Al Quran Surat Al Baqarah ayat 46.
 
Cagar Budaya.

Mihrab masjid ini terdiri dari tiga cerukan dibangun dari semen dengan lengkungan dibagian atasnya. Hingga saat ini Masjid Ummil Qura di Desa Bancah Maninjau masih digunakan sebagai tempat aktivitas keagaaman oleh warga setempat.
 
Cagar Budaya
 
Menurut pengurus Masjid, Masjid Ummul Quro ini merupakan masjid tertua di Maninjau dan merupakan syarat berdirinya nagari Maninjau. Setiap pengangkatan gelar adat harus melalui masjid ini. Saat ini Masjid Ummul Quro sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Rujukan
 

Sunday, August 18, 2019

Masjid Agung Baitul Makmur Curup – Bengkulu

Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, Kabupaten Rejanglebong, Bengkulu.

Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup adalah masjid agung kabupaten Rejanglebong, provinsi Bengkulu, lokasinya berada di kota kecamatan Curup, ibukota Kabupaten Rejanglebong. Merujuk kepada situs Simas Kementrian Agama, Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup ini dibangun tahun 1990, berdiri di atas lahan seluas 5000 m2 dan luas bangunan 2500m2, berlokasi di Jl. S. Sukowati, kelurahan Air Putih Lama, Kecamatan Curup, Kabupaten Rejang Lebong.

Menurut penuturan tokoh masyarakat setempat, Masjid Agung Baitul Ma’mur ini dulunya sempat direncanakan akan dibangun di lokasi Makodim 0409, namun saat itu terkendala dengan perizinan relokasi Makodim. Hingga akhirnya dipilih lokasi di Jl. S. Sukowati. Pembanguannya menggunakan dana APBN, APBD dan donasi dari masyarakat muslim Rejanglebong.



Di komplek masjid ini berkantor berbagai lembaga lembaga Islam di Kabupaten Rejanglebong termasuk kantor MUI dan Baznas Kabupaten Rejanglebong, Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT), Sekretariat Majelis Zikir Kabupaten Rejanglebong, Islamic Center, Taman Kanak kanak hingga Madrasah Tsnawiyah.

Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup berdiri berdekatan dengan Balai Rakyat Pat Petulai (rumah dinas Bupati Rejanglebong), Politeknik Raflesia dan kantor kantor instansi pemerintahan kabupaten Rejanglebong, sedangkan Kantor Bupati Rejanglebong sendiri tidak berada di lokasi ini namun berada sekitar 750 meter di sebelah timur komplek Masjid Agung di ruas jalan yang sama. Nama balai rakyat atau pendopo kabupaten Rejanglebong ini diambil dari nama kerajaan Pat Petulai yang pernah berkuasa di daerah tersebut.

Menara Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, tampak tak senada dengan induk bangunan masjidnya. Sepertinya menara dan bangunan masjid ini dibangun diwaktu yang berbeda.

Aristektur Masjid Agung Al-Ma’mur Curup

Lahan komplek masjid agung ini berbentuk persegi panjang, membujur dari barat ke timur, bangunan masjidnya sendiri berada di sisi paling barat, agak menyerong sedikit ke kanan terhadap ruas jalan raya S. Sukowati untuk menyesuaikannya dengan arah kiblat. Menara tunggal nya bediri di sebelah timur bangunan masjid.

Arsitektur bangunannya sangat kental dengan gaya bangunan modern Eropa, berupa bangunan beton tinggi besar dengan jejeran pilar pilar yang juga berukuran besar di ke empat sisi bangunan-nya. Jejeran anak tangga berukuran besar di sisi utara menghadap ke jalan Raya S. Sukowati dan sisi timur menghadap ke taman masjid, menjadi akses utama dari dan ke ruang sholat yang berada di lantai dua.

Kubah besarnya begitu mendominasi, namun proporsional dengan ukuranbangunannya.

Sebuah kubah berukuran besar bewarna hijau mendominasi bagian atap bangunan utama masjid, diapit oleh empat kubah berbentuk dan berwarna senada dengan kubah utama, di ke-empat sudut atap masjid. Belakangan kubah masjid ini di ubah coraknya menggunakan bahan enamel warna warni menghadirkan pemandangan yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya.

Hampir seluruh bangunan masjid ini bewarna putih dengan sedikit sentuhan warna emas pada ornamen pilar bangunan, menonjolkan kemegahan bangunan-nya. Menara masjid yang berdiri terpisah dari bangunan masjid ini tampak tak senada dengan bangunan utamanya. Baik bentuk arsitektural maupun warnanya. Sepertinya menara ini merupakan bagian dari bangunan lama sebelum bangunan masjid di renovasi ke bentuknya saat ini.

Interior Masjid Agung Baitul Ma'mur Curup, Bengkulu.

Bagian interior masjid juga di dominasi warna putih, kecuali sisi kiblatnya yang dilapis dengan keramik berwarna lebih gelap. Empat pilar beton berdiri di ruang utama menopang struktur atap di kempat sisi lingkaran kubah. Bagian dalam kubah dihias dengan lukisan kaligrasi asmaul husna warna warni.

Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Baitul Ma’mur Curup ini menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Rejanglebong, termasuk penyelenggaraan manasik haji, sholat dua hari raya, peringatan hari hari besar Islam dan acara ke-Islaman tingkat kabupaten lainnya. Sebagai tambahan informasi, selain masjid Agung Baitul Ma’mur ini, kota Curup juga memiliki dua masjid lain yang cukup besar dan megah yakni Masjid Jami’ Curup dan Masjid Al-Jihad Curup.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Sunday, July 28, 2019

Masjid Agung Nurul Islam Kota Sawahlunto

dibangun dari bekas pembangkit listrik tenaga uap, Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan

Masjid Agung Nurul Islam adalah masjid agung di kota Sawahlunto, Sumatera Barat. Ditilik dari usia bangunannya masjid ini adalah salah satu masjid tertua di Indonesia, lokasinya berada di Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar, Kota Sawahlunto, provinsi Sumatra Barat. Lokasinya berjarak sekitar 150 meter dari Museum Kereta Api Sawahlunto.

Bangunan masjid ini pertamakali dibangun pada masa penjajahan Belanda ditahun 1894 sebagai gedung pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dan berubah fungsi menjadi masjid sejak tahun 1952. Menaranya yang setinggi 85 meter itu dulunya adalah cerobong asapnya kemudian dijadikan sebagai menara dengan tambahan kubah setinggi 10 meter.

Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto
Kelurahan Kubang Sirakuak Utara, Kecamatan Lembah Segar
Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, Indonesia



Kota Sawahlunto di Sumatera Barat dikenal sebagai kota wisata. Kota tua yang mulai didirikan pada tanggal 1 Desember 1888, seiring dengan ditemukannya tambang batubara di daerah itu di masa penjajahan Belanda. Explorasi batubara mulai dilakukan oleh Belanda pada tahun 1892. Kota ini berkembang menjadi pusat pertambangan. Infrastuktur kota dibangun sejak masa itu termasuk fasilitas pembangkit tenaga listrik, jalur kereta api, pemukiman dan sebagainya.

Perkembangan kota ini sempat seakan mati manakala penambangan batubara dihentikan. Kini kota tua Sawahlunto dikenal luas sebagai kota wisata, salah satu yang terbaik di Indonesia. Peninggalan masa lalu termasuk lorong lorong panjang tambang tambang bawah tanah seakan berkisah dalam sepi tentang perihnya penderitaan para pekerja paksa yang diperah tenaganya oleh penguasa Belanda untuk mengorek batubara dari perut bumi Sawahlunto.

DULU & KINI. Foto sebelah kiri adalah bangunan asli Masjid Agung Sawahlunto dimasa penjajahan Belanda berupa gedung pembangkit listrik tenaga Uap. Perhatikan cerobong asapnya yang kini berubah menjadi menara masjid pada foto sebelah kanan.

Masjid di Bekas PLTU

Pertumbuhan infrastruktur di Kota Sawahlunto yang dipicu oleh aktivitas pertambangan batu bara mengalami perkembangan pesat pada akhir abad ke-19. Eksploitasi batu bara mendorong masuknya transformasi teknologi uap ke Sawahlunto.

Sejalan dengan itu, untuk dapat menggerakkan berbagai mesin listrik pemerintah Hindia Belanda membangun pusat pembangkit listrik bertenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan aliran Batang Lunto di Kubang Sirakuak pada tahun 1894. PLTU ini menjadi PLTU pertama di Sawahlunto.

Cerobong asap yang sama, di foto kiri jelas terlihat cerobong asap PLTU dengan asap nya yang membubung, Dan di foto sebelah kanan cerobong tersebut difungsikan menjadi menara masjid. 
PLTU Mudik Air merupakan tempat penggerak utama peralatan dan mesin – mesin pertambangan, sumber penerangan kota, gedung, kantor serta rumah – rumah warga Sawahlunto. Namun mengingat debit air sungai yang berada di pinggir PLTU tersebut kian berkurang, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun PLTU pengganti di Salak, Talawi pada tahun 1924 yang memanfaatkan aliran Batang Ombilin.

Bangunan PLTU di Kubang Sirakuak yang sudah tidak berfungsi lagi sempat dijadikan sebagai tempat perlindungan dan perakitan senjata oleh para pejuang kemerdekaan di Sawahlunto Pada masa Agresi Belanda I dan II, Pada saat mengalami peralihan fungsi banyak ditemukan sisa – sisa amunisi pada banker tersebut dan kini amunisi tersebut disimpan sebagai koleksi Museum Goedang Ransoem Sawahlunto.

Ekterior dan Interior Masjid Agung Nurul Islam Sawahlunto. 
Bangunan bekas PLTU itu pernah juga sebagai rumah hunian pekerja tambang batu bara Ombilin, sampai akhirnya berubah menjadi masjid sejak tahun 1952 dengan nama Masjid Agung Nurul Islam. Bekas cerobong asapnya yang kini sudah berubah menjadi menara tampak indah dimalam hari dengan cahaya cahaya lampu yang dipasang disana.

Bangunan utama masjid ini berukuran 60 × 60 meter dan memiliki lima kubah terdiri dari satu kubah besar di tengah yang dikelilingi oleh empat kubah dengan ukuran yang lebih kecil. Di bawah bangunan masjid terdapat lubang perlindungan yang sempat dipakai untuk tempat merakit senjata, granat tangan, dan mortir. Saat ini selain berfungsi sebagai tempat ibadah umat Islam, masjid berlantai dua ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Saturday, August 26, 2017

Masjid Agung Al-Muhsinin kota Solok

Masjid Agung Al-Muhsinin kota Solok (foto akun IG @deddy_haryadi_edward)

Masjid Agung Al-Muhsinin adalah masjid agung di kota Solok, provinsi Sumatera Barat. Masjid Agung Al-Muhsininin ini juga merupakan masjid terbesar di Kota Solok, lokasinya berada di Jalan Datuak Perpatih Nan Sabatang, Kelurahan Aro IV Korong, Lubuk Sikarah. Sebagai masjid Agung, masjid ini menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan skala regional seperti tabligh akbar dan pertemuan jemaah, khususnya di Kota Solok.

Masjid Agung Al-Muhsinin pertama kali dibangun tahun 1984 dibiayai dari sumbangan Yayasan Bhakti Muslimin dan digunakan pertama kali tahun 1987. Namun bangunan tersebut mengalami rusak berat dan roboh setelah rangkaian gempa bumi pada Maret 2007. Pembangunan kembali dimulai pada tanggal 20 Agustus 2009 saat Kota Solok masih dipimpin Syamsu Rahim.

Masjid Agung Al-Muhsinin Solok
Aro IV Korong, Lubuk Sikarah, Kota Solok
Sumatera Barat 27316 Indonesia



Proses pembangunan memakan waktu 28 bulan dan diresmikan pada tanggal 14 Desember 2011 oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar, bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kota Solok ke-41.

Biaya pembangunan menghabiskan dana Rp36,63 miliar, terdiri dari Rp35,45 miliar dari APBD Kota Solok dan infak yang terhimpun sebesar Rp1,18 miliar. Bangunan utama terdiri dari dua lantai dengan denah dasar ruang berukuran 50 × 50 meter.

Interior Masjid Agung Al-Muhsinin Kota Solok.

Dengan ukuran nya yang cukup besar ini, Masjid Agung Al-Muhsinin Solok mampu menampung mampu menampung 5.000 jamaah, dengan rincian untuk ruangan lantai satu sebanyak 2.000 jamaah, lantai dua 1.000 jamaah dan 2.000 jamaah lainnya ditampung dipelataran parkir, menjadikannya sebagai salah satu masjid terbesar di provinsi Sumatera Barat.

Bangunan utama masjid menggunakan kubah tunggal berukuran besar, kubah besar ini dibangun bertumpuk dua menjadikan atap masjid ini seolah olah tetap merupakan masjid dengan atap bersusun seperti halnya masjid tradisional khas Indonesia. Selain kubah utama, ada empat kubah berukuran lebih kecil di ke empat penjuru masjid.

Bangunan utama Masjid Agung Al-Muhsinin kota Solok ini dilengkapi dengan empat menara yang menjulang yang mengapit bangunan utama masjid di ke empat penjurunya masing masing setinggi 40 meter. Rancangan menara ini di dominasi bentuk geometris senada dengan bentuk bentuk geometris pada bangunan utamanya.

Referensi


Baca Juga


Saturday, August 5, 2017

Islamic Center Koto Baru Solok

Islamic center Kuto Baru Solok (pict from google)

Masjid Agung Nurul Mukhlisin Islamic Center Koto Baru atau biasa dikenal sebagai Islamic Center Koto Baru, adalah pusat ke-Islaman di Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Koto Baru merupakan ibukota dari kabupaten Solok, itu sebabnya Masjid dan Islamic Center ini disebut dengan Islamic Center Koto Baru.

Pembangunan masjid ini dilaksanakan pada masa pemerintahan Bupati Solok Syamsu Rahim dan wakil Bupati Desra Ediwan. Masjid megah ini pertama kali dibangun tahun 1994 dikomplek Kantor Bupati Solok lama, diresmikan oleh Menteri Penerangan Harmoko pada tahun 1994.

Islamic Center Koto Baru
Kecamatan Kubung, Kab. Solok
Sumatera Barat


Ketika Kantor Bupati Solok pindah ke Aro Suka, maka keberadaan masjid sudah di manfaatkan oleh masyarakat setempat untuk kegiatan keagamaan. Masjid ini mengalmi kerusakan parah akibat gempa tahun 2007 dan 2009 silam sehingga tidak layak digunakan.

Setelah dilakukan rehab sedikit kondisinya masih meragukan. Baru kemudian di tahun 2013 Kementerian Agama Mengusulkan ke Bupati Solok agar dilakukan pembangunan Islamic Centre yang baru yang merupakan Ikon Kabupaten Solok yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana LPTQ, PHBI, BASNAS, MUI  yang lengkap termasuk rencana diadakannya mini Makkah

Usulan Kementerian Agama di respon baik oleh Bupati Solok dan di kabulkan oleh DPRD, maka langsung dianggarkan oleh Pemda untuk APBD Tahun 2014. Islamic Center yang dibangun dengan dana APBD ini berdiri dilahan bekas gedung pertemuan Solok Nan Indah, lahan bekas gedung DPRD Kabupaten Solok dan MAsjid Agung Nurul Mukhlisin.

Pembangunan fisik yang dimulai semenjak pertengahan tahun 2014 dikerjakan oleh PT.Nindya Karya dengan sistim kontrak multi year. Selain merobohkan bangunan lama, pembangunan baru ini juga mengorbankan gedung DPRD yang saat itu difungsikan sebagai kantor BPD dan kantor Pustaka Daerah.

Islamic Center Kuto Baru Solok (pict from IG @maizalchaniago )

Setelah hampir delapan bulan pekerjaan fisik, bangunan ini diresmikan pada tanggal 30 Juli 2015, diakhir masa jabatan Syamsu Rahim dan Desra yang jatuh pada 2 Agustus 2015. Ada kesamaan masjid yang sekarang ini dengan masjid sebelumnya yang rusak akibat gempa, yakni pada saat diresmikan keduanya sama-sama fisiknya belum selesai seratus persen. pada saat diresmikan pembangunan masjid ini baru mencapai 60% dari gambar perencanaan.

Sholat Ied Pertama

Lebaran Idul Fitri 1436H / 2015 yang lalu merupakan sholat idul fitri pertama yang diselenggarakan di masjid ini, dan dihadiri oleh Bupati Solok, H. Syamsu Rahim, Wakil Bupati Solok, H. Desra Ediwan, Ketua DPRD Kabupaten Solok,  Hardinalis Kobal, Kabag Kesra, Suharmen.

Sholat Idul Fitri pertama tersebud juga dihadiri oleh anggota DPD RI dari daerah Sumbar, H. Nofi Chandra dan unsur Muspida serta SKPD lainnya serta ribuan umat Islam dari berbagai nagari di kabupaten Solok memadati masjid ini hingga melimpah hingga ke halaman bahkan  berjejer sampai ke tepi jalan raya Solok-Padang.

Islamic Center Koto Baru ini dibangun dengan dana 25 milyar rupiah dari APBD kabupaten Solok tahun 2014, berlantai dua dan akan kembangkan untuk banyak hal. Diantaranya tempat manasik,  pemondokan, lapangan parkir dan taman yang indah dan fasilitas pendukung lainnya, termasuk memfungsikannya untuk berbagai kegiatan seperti pesantren, belajar tafsir dan juga pesrpustakaan.

Referensi

simaskemenag – masjid nurul mukhlisin

Saturday, July 30, 2016

Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia terutama bagi Kabupaten Solok dan Propinsi Sumatera Barat umumnya. Masjid ini dipekirakan sudah berdiri sejak abad ke 16 tepatnya sekitar tahun 1599. Keberadaan masjid ini sekaligus menjadi bukti bahwa agama Islam di Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat ternyata telah berkembang sejak abad ke-16. Masjid beratap ijuk yang didirikan oleh beberapa ulama daerah tersebut tetap dijaga keasliannya hingga kini. Di sebelah masjid terdapat sebuah tabuh (bedug) yang diyakini seumur dengan masjid tersebut.

Lokasi Masjid Tuo Kayu Jao
Jorong Kayu Jao Nagari Batang Barus
Kecamatan Gunung Talang, kab Solok
Provinsi Sumatera Barat, Indonesia
Koordinat : -1.004386, 100.628652


Di samping keasliannya yang tetap terjaga hingga kini, arsitekturnya masjid ini juga memiliki kesamaan dengan Masjid Demak dan Banten terutama pada bentuk atapnya yang bersusun tiga. Sedangkan dari sisi filosofis bangunan masjid ini memiliki beragam perlambang. Atapnya yang terbuat dari ijuk melambangkan desain rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang. Di bagian mihrab juga diberi gonjong seperti Rumah Gadang. Jumlah tiangnya sebanyak 27 buah yang melambangkan enam suku yang masing-masing terdiri dari ampek jinih (empat unsur pemerintahan adat) sehingga jumlahnya 24 bagian.

Ditambah tiga unsur dari agama yaitu khatib, imam dan bilal, sehingga jumlahnya menjadi 27. Aroma kuatnya agama Islam di daerah tersebut juga tergambar dari jumlah jendelanya yang 13 buah. Ini untuk mengisyaratkan rukum Shalat yang 13 macam.

Interior Masjid Tuo Kayu Jao

Di awal pembangunan masjid tersebut hingga beberapa tahun lalu, pola bangunan yang tidak memakai paku masih dipertahankan. bangunan tersebut tetap kokoh meski tidak satu bagian pun yang dipaku. Tapi hanya menggunakan pasak di setiap sambungannya. Namun hal itu sedikit berubah setelah dilakukan pemugaran. Namun yang jelas ciri khas masjid yang memakai ijuk dengan desain aslinya tetap dijaga.

Sebagai sebuah kebanggaan dan situs cagar budaya, mesjid tersebut dijadikan sebuah bukti bahwa di Nagari Batang Barus dan Kabupaten Solok secara umum, Islam telah berkembang sejak 400 tahun lalu. Hal ini menurutnya menjadi cerminan masyarakat yang memegang teguh agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perkembangannya sebagai tempat pariwisata yang ramai dikunjungi, wisata religi yang ditawarkan masjid tersebut sangat memukau pengunjung. Tidak hanya dari segi arsitektur bangunan yang unik, tapi juga dari kondisi alam yang memiliki topografi menawan, Masjid ini berada di lokasi yang berhawa sejuk dan dikelilingi oleh perkebunan teh. Di samping itu, kontur wilayahnya sangat memukau. Terdiri dari lurah dan bukit yang saling bertaut dan berkombinasi sempurna.***


Friday, July 29, 2016

Masjid Asasi Nagari Gunung

Masjid Asasi Nagari Gunung

MASJID ASASI terletak di Kelurahan Sigando Padang Panjang, merupakan Masjid tertua di Kota Padang Panjang. Masjid ini diperkirakan berusia ± 400 tahun, dibangun pertama kali oleh penyebar agama Islam pertama di Padang Panjang yang berasal dari Air Bangis Pasaman. Ada juga yang menyebutnya didirikan oleh masyarakat dari 4 koto yaitu dari daerah Gunuang, Paninjauan, Jaho dan Tambangan.

Lokasi Masjid Asasi Sigando
Desa Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur
Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia
Koordinat : -0.473155, 100.422458


Pembangunan masjid ini memakan waktu Lebih kurang sepuluh tahun. Tanah masjid ini adalah tanah wakaf Imam Basa dan Khatib Kayo. Keduanya menurut adat yang berlaku diangkat menjadi imam masjid dan khatib Masjid Nagari Gunung. pengurus masjid Asasi disebut Tuanku Ampek Jurai Nagari Gunung.

Masjid Asasi dibangun di atas tanah 25 x 22 m, berbentuk segi empat, melambangkan bahwa yang mencetuskan pembangunan masjid adalah Nagari Ampek Jurai. Di tengah ruangan masjid terpancang tiang resar, melambangkan bahwa Nagari Gunung mempunyai kesatuan pimpinan (komando) yang tercermin dalam pepatah: ada orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.

Interior Masjid Asasi

Masjid ini merupakan masjid tertua di Kodya Padang Panjang, dibangun secara gotong royong oleh seluruh masyarakat Nagari Nan Ampek Jurai dan nagari sekitamya. Arsitektur masjid ini  menerapkan konsep arsitektur tradisional Minangkabau. Ini terlihat bentuk atap dan ukir-ukiran dinding masjid. Sedangkan, kubahnya sebagai ciri sebuah masjid, berbentuk atap limas bertingkat tiga, sebagai perlambang bahwa Nagari Gunung dikuasai oleh 3 unsur, yakni agama, unsur adat, dan unsur pemerintah.

Masjid ini memiliki ciri khas arsitektur bangunan Minangkabau berupa bangunan berpanggung dengan ukiran-ukiran khas Minangkabau. Saat ini Masjid Asasi berada dibawah lindungan Kantor Wilayah Suaka Alam dan Peninggalan Sejarah Propinsi Sumatera Barat. Masjid Asasi pernah dijadikan sebagai basis pengembangan Islam terutama mengembangkan Madrasah Thawalib Gunuang. Tokoh-tokoh seperti Buya HAMKA pernah menggelar pengajian disini. Masjid Asasi memiliki 3 motif ukiran dari aliran yang berbeda yaitu Hindu, China dan Minangkabau.***