Showing posts with label Masjid di kawasan Pantura. Show all posts
Showing posts with label Masjid di kawasan Pantura. Show all posts

Saturday, June 15, 2019

Masjid Islamic Center Indramayu, Jawa Barat

Megah dan indah di malam hari dengan tata cahaya dan pancuran air mancur dari taman di depan masjid Syeikh Abdul Manan atau lebih dikenal dengan nama Masjid Islamic Center Indramayu ini. Masjid ini dibangun tahun 2015, selesai dan diresmikan tahun 2018.

Masjid Islamic Center Indramayu telah menjadi perhatian masyarakat dan netizen sejak bangunan masjid ini baru menunjukkan wujud awalnya meski belum selesai 100% keseluruhan pembangunannya, masjid ini bahkan disebut sebut sebagai masjid terindah di wilayah III Cirebon. Bentuk bangunannya yang indah dan megah menjadi daya tarik tersendiri. Masjid Islamic Center Indramayu ini dibangun di lokasi yang sama dengan Masjid Islamic Center sebelumnya yang memang sudah ada dilokasi tersebut.

Masjid ini secara resmi menyandang nama Masjid Islamic Center Abdul Manan Indramayu, namun masyarakat lebih mengenalnya sebagai Masjid Islamic Center Indramayu. Lokasi masjid ini berada di simpang lima Pekandangan dan memang sudah sejak lama menjadi persinggahan bus bus rombongan para peziarah wali untuk menunaikan sholat lima waktu dan untuk berisitirahat dalam perjalanan ziarah mereka.

Islamic Centre Indramayu (Syekh Abdul Manan)
Jl. Soekarno Hatta No.1, Pekandangan, Kec. Indramayu
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat 45214




Bangunan masjid Islamic Center yang lama kemudian dibongkar dan dibangun ulang dalam bentuknya saat ini. Sebuah bangunan masjid modern lengkap dengan tiga kubah di atap masjid ditambah dengan empat menara ramping yang tinggi menjulang di ke empat sudut masjid. Kubah utama masjid diapit oleh dua kubah yang lebih kecil disisi kiri dan kanan nya. Ornamen masjid  dibuat sangat apik mengesankan arsitektur bangunan masjid di Timur Tengah.

Ada pelataran parkir yang cukup luas yang mampu menampung cukup banyak  kendaraan roda dua dan roda empat. Di dekat halaman parkir dibangun taman air mancur yang jumlahnya cukup banyak dan tampak indah. Pada malam hari , ratusan lampu LED memancarkan sinar terang benderang sehingga mampu menyedot perhatian para pengguna jalan yang kebetulan melintasi Simpang Lima Pekandangan.


Jemaah wanita memadati pelataran tengah Masjid Islamic Center Indramayu dalam sholat tarawih.

Peresmian Masjid Islamic Center Indramayu

Pembangunan masjid Islamic Center Indramayu ini dilakukan bertahap dengan dana dari APBD kabupaten Indramayu, pembangunannya dimulai tahun 2015 dan rampung di tahun 2018. Dan diresmikan pada tanggal 1 Juni 2018 oleh Gubernur Jawa Barat H. Ahmad Heryawan. Peresmian masjid ini bertepatan dengan bulan suci Romadhon dan dilaksanakan setelah pelaksanaan sholat Tarawih berjamaah. Total keseluruhan biaya pembangunan masjid ini mencapai Rp. 180 milyar Rupiah.

Pembangunan masjid ini juga mendapatkan bantuan dari Gubernur Ahmad Heryawan sebesar Rp. 48 miliar untuk pembangunan Islamic Center ini. Upacara peresmian masjid ini juga dihadiri Bupati Indramayu Anna Sophana, wakil bupati Indramayu, para pejabat daerah sipil dan militer serta ribuan muslim Indramayu yang tumpah ruah ke masjid ini.

Sore hari masjid termegah di Indramayu ini menjadi salah satu tempat pavorit warga untuk berkumpul menikmati suasana senja.

Fasilitas Masjid Islamic Center Indramayu

Islamic Center Indramayu memiliki luas secara keseluruhan area 12 hektar. Adapun yang baru dimanfaatkan seluas 6,2 hektar. Bangunan masjid lantai satu seluas 860 meter persegi, dapat menampung sebanyak 1.250 jemaah. Lantai dua seluas 737 meter persegi dapat menampung hingga 1.000 jamaah. Adapun kluster masjid seluas 1.800 meter persegi mampu menampung sekitar 2.500 jamaah. Serta pelataran penghubung sekitar 1.000 meter persegi diklaim mampu menampung hingga 1.500 jamaah.

Masjid ini dilengkapi dengan sarana pendidikan berupa Raudhatul Arhfal atau Tamana Kanak Kanak Islam dan Pendidikan Anak Anak Usia Dini (PAUD). Nantinya masjid ini juga akan dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti gedung-gedung pertemuan, gedung training, gedung tahfidz Quran serta sentra pengembangan ekonomi masyarakat, mengingat letaknya yang strategis dan sejak sebelum dibangun semegah ini pun sudah menjadi persinggahan pavorit pengguna jalan di ruas jalan Pantura.

Dengan dana lebih dari 100 milyar rupiah, masyarakat Indramayu kini memiliki masjid dan Islamic Center yang begitu megah dan menjadi salah atu destinasi wisata dan persinggahan pavorit pengguna jalan Pantura.

Nama resmi Masjid Islamic Center Indramayu

Islamic Center Syekh Abdul Manan yang menjadi nama resmi Masjid dan Islamic Center kabupaten Indramayu ini mengabadikan tokoh ulama besar Indramayu dari era 1800-an. Makam beliau ramai di ziarahi hingga hari ini. Semasa hidupnya beliau tinggal di kelurahan Paoman kecamatan Indramayu dan rumah beliau masih terawat keasliannya hingga kini. Beliau juga mewariskan beberapa kitab.

Di masa hidupnya, Syekh Abdul Manan tinggal di sebuah rumah sederhana yang ada di wilayah Kelurahan Paoman, Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Meski sudah berusia ratusan tahun, namun hingga saat ini struktur bangunan rumah tersebut masih terjaga keasliannya. Pemerhati sejarah Indramayu berharap agar pemerintah memberikan perhatian untuk merawat rumah peninggalan beliau dan membangun jalan akses yang memadai menuju ke makam beliau untuk memudahkan para peziarah, ditambah lagi letaknya yang berada ditengah tengah kota Indramayu bila di kelola dengan baik tentunya akan lebih menarik bagi para wisatawan.

Dikunjungi Presiden Joko Widodo

Pada tanggal 6 Juni 2018, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo melaksanakan sholat tarawih di Masjid Islamic Center Indramayu, bersama warga muslim Indramayu yang turut hadir dalam kesempatan tersebut. Turut hadir mendampingi Jokowi, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Agum Gumelar, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki, Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi Saptopribowo, dan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Monday, June 10, 2019

Masjid Agung Indramayu, Jawa Barat

Situs kementrian Agama RI menyebutkan bahwa Masjid Agung Indramayu dibangun tahun 1965. Namun ada dua versi sejarah yang lain yang menyebutkan bahwa Masjid Agung Indramayu pertama kali dibangun sebagai sebuah langgar atau mushola ditahun 1937, versi lainnya bahkan menyebutkan sudah berdiri sejak tahun 1820.

Masjid Agung Indramayu di Kabupaten Indramayu merupakan salah satu masjid agung berusia tua di provinsi Jawa Barat, dan sejak saat berdiri sudah menjadi pusat kegiatan keagamaan di daerah tersebut. Masjid Agung yang di kota yang terkenal dengan buah mangga nya ini kini menjadi kebanggaan warga kabupaten Indramayu.

Masjid Agung Indramayu berdiri di sisi barat alun alun margadadi, kawasan pusat pemerintahan kabupaten Indramayu bersama sama dengan bangunan pendopo kabupaten Indramayu yang berdiri di tepian Sungai Cimanuk, sungai yang melintasi wilayah kabupaten tersebut dan sudah menjadi urat nadi peradaban sejak masa kerajaan hingga masa colonial sebelum jalur perhubungan darat terbuka lebar seperti saat ini.

Masjid Agung Indramayu
Alun-Alun, Margadadi, Kec. Indramayu
Kabupaten Indramayu, Jawa Barat 45212



Dua versi sejarah Masjid Agung Indramayu ; 1820 atau 1937?

Sejauh ini belum diketahui dengan pasti kapan masjid Agung Indramayu ini dibangun. Ada dua pendapat tentang tarikh pembangunannya. Ketua Indramayu Historia Foundation, Nang Sadewo mengatakan, Masjid Agung dan Pendopo Pemkab telah ada semenjak tahun 1820. Khusus untuk pendopo, pada masa itu berfungsi sebagai kantor kademangan. Pendopo menjadi pusat pemerintahan fase kedua dalam sejarah Indramayu.

Menurut beliau, pusat pemerintahan Indramayu, awalnya berada di Desa Dermayu, Kecamatan Sindang. Tercatat telah ada semenjak tahun 1613. Namun setelah Belanda hadir pada tahun 1620, pusat pemerintahan dipindahkan ke area pendopo sekarang. Perpindahan tersebut, seiring perkembangan Sungai Cimanuk yang difungsikan sebagai pelabuhan untuk bongkar muat komoditas. Sungai Cimanuk di area pendopo sempat berfungsi sebagai pelabuhan komoditas mulai sekitar tahun 1500.

Sentuhan gaya Masjid Agung Demak memang sangat kental pada arsitektur Masjid Agung Indramayu, hal itu yang menjadi dasar dugaan bahwa masjid ini dibangun oleh Wali Songo dan penyebaran Islam di Indramayu pun dilakukan oleh para tokoh yang sama.
Kemudian pada tahun 1772, kejayaannya perlahan surut seiring terjadi perang antara tiga pihak, yakni Belanda, Kerajaan Mataram, dan Kerajaan Banten. Pada tahun tersebut fungsi pelabuhan yang semula dipakai sebagai tempat bongkar muat komoditas, berubah menjadi tempat suplai persenjataan perang. Perubahan fungsi itulah yang membuat kejayaan pelabuhan Cimanuk berangsur-angsur memudar.

Masih menurut Nang Sadewo, puncak kejayaan Bandar Cimanuk adalah pada tahun 1513. Pada tahun tersebut, banyak kapal-kapal pedagang dari beragam wilayah, mulai dari Cina, Mataram, sampai Batavia. Jejak sejarah itu terekam dari berbagai sumber. Mulai dari naskah kuno, litografi, serta beberapa buku-buku berbahasa belanda. Beberapa bahan tersebut ada di Leiden, Belanda,” ujarnya.

Sejarawan berkeyakinan bahwa pembangunan Masjid Agung Indramayu serta pendopo kabupaten yang berada di sisi selatan Alun Alun atau sisi tenggara masjid ini berkaitan erat dengan peran sungai Cimanuk sebagai urat nadi transportasi di masa lalu pada saat perhubungan darat belum sebaik saat ini.
Menurut dia, meski pada tahun 1772 fungsi pelabuhan utama perlahan menyurut, namun pelabuhan-pelabuhan kecil masih berfungsi sampai sekitar tahun 1940-an. Hingga akhirnya pada era 1950, Bandar Cimanuk akhirnya ditutup untuk aktivitas perdagangan seperti sebelumnya, karena sungainya sering menimbulkan banjir.

Kontribusi Tjoe Teng

Versi lain terkait sejarah masjid Agung Indramayu ini justru menyebutkan bahwa pembangunannya dimulai tahun 1937 sebagai sebuah langgar (mushola) berukuran kecil di tepian sungai Cimanuk. Disebutkan bahwa tingginya intensitas perdagangan pada saat itu membuat sebagian besar warga pribumi yang beragama Islam berinisiatif gotong royong membangun sebuah langgar sederhana dengan ukuran kecil di tepi Sungai Cimanuk.

Foto lama dari masa Hindia Belanda memang menunjukkan bentuk bangunan Masjid Agung Indramayu pada era awal memang sangat mirip dengan Masjid Agung Demak meski dalam bentuk yang lebih sederhana.
Tujuan dibangunnya langgar tersebut untuk memberikan sarana beribadah bagi ummat Islam di kawasan tersebut. Keberadaan langgar yang saat itu belum bernama, cukup membantu ibadah masyarakat Indramayu, serta sejumlah pedagang asal Tiongkok yang beragama Islam dan kerap menjalankan aktivitas niaga di sana.

Seiring perkembangan waktu, langgar kecil tersebut mulai dipugar, dan dibangun secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Pemugaran langgar tersebut tidak terlepas dari peran sentral seorang mualaf asal Tiongkok bernama Tjoe Teng. Tanah seluas 1 hektare milik Tjoe Teng yang terhampar di sisi langgar tersebut, dihibahkan secara sukarela untuk kepentingan pembangunan langgar.

Interior Masjid Agung Indramayu dengan empat sokoguru dan sisi mihrab dengan mimbar berukir serta lampu gantungnya yang antik.
Tjoe Teng yang saat itu sangat terkenal sebagai saudagar kaya dengan berbagai jenis usaha baik beras maupun komoditi lainnya, ikut menyumbangkan sebagian rezekinya untuk pemugaran hingga pembangunan langgar. Tjoe Teng pun memiliki komitmen yang cukup besar untuk membangun tempat ibadah yang representatif, meski ia merupakan mualaf. Sikap dermawan sang mualaf asal Tiongkok ini membuat warga pribumi sangat menghormatinya, dan menganggap Tjoe Teng sebagai penduduk pribumi.

Selain mendapatkan bantuan dari Tjoe Teng, masyarakat sekitar ikut membantu baik dengan tenaga maupun materi. Setelah dibangun secara gotong royong, Masjid Agung Indramayu pun berdiri cukup besar di zamannya, dan menjadi pusat ibadah kaum muslimin dan muslimat Indramayu dalam menjalankan ibadah, termasuk juga menjadi tempat sholat ied bagi sebagian masyarakat Indramayu.

Tjoe Teng, seorang mualaf Thionghoa dan juga pengusaha kaya Indramayu ini diyakini sebagai toko sentral pembangunan awal Masjid Agung Indramayu. Kedekatannya dengan muslim pribumi membuat masyarakat setempat pun menganggap beliau sebagai pribumi Indramayu.
Sementara itu, situs kementerian agama memberikan data yang lebih baru lagi menyebutkan bahwa masjid Agung Indramayu dibangun tahun 1965. Berdiri di atas lahan seluas 4000 meter persegi dengan status tanah SHM dan luas bangunan 3500 meter persegi dan berdaya tampung 1000 jemaah. Bisa jadi yang dimaksud di situs kementrian agama ini adalah pembangunan masjid Agung Indramayu di masa kemerdekaan dan merupakan bangunan masjid yang berdiri saat ini.

Arsitektur Masjid Agung Indramayu

Masjid Agung Indramayu dibangun dengan arsitektur khas Indonesia berupa bangunan masjid dengan atap limas bersusun tiga. Budayawan dan sejarahwan Indramayu, Fuzail Ayad Syahbana, menjelaskan, berdasarkan sejumlah saksi sejarah Masjid Agung Indramayu berupa foto-foto tempo dulu yang diperolehnya dari kantor arsip Hindia Belanda, Masjid Agung Indramayu memiliki satu ciri khas pada konstruksi bangunannya yang mirip Masjid Demak.

Jemaah sholat Ied di Masjid Agung Indramayu yang membludak hingga ke Alun Alun.
Bangunan utama berdiri di tengah, kemudian ditambahkan bangunan serambi di tiga sisinya serta beranda di sisi sebelah timur. Di masing masing empat penjuru serambi dibangun atap limas bersusun dua, menambah keindahan masjid ini dengah enam atap limas bersusun mencuat menusuk langit.

Ruang utama masjid didominasi ornamen kayu dari empat sokoguru perssegi empat, langit langit hingga sisi kiblatnya. Di dalam mihrab ditempatkan satu mimbar khutbah dari kayu berukir, posisi khatib ditempatkan pada posisi lebih tinggi hanya dengan undakan anak tangga. Satu lagi ukiran ditempatkan di tengah sebagai tempat imam dan satu jam duduk berukuran besar di sisi mihrab sebelah kiri. Ukiran lafazd Allah dan Muhammad ditempatkan dibagian atas mihrab dibalut dengan warna emas.

Masjid Agung Indramayu juga dilengkapi dengan sebuah menara dari kerangka beton di sisi tenggara masjid. Pemerintah setempat menata kawasan masjid ini cukup apik dengan membangun taman di sepanjang bantaran sungai Cimanuk di sisi barat masjid ini.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga