Wednesday, November 5, 2014

Muslim Turki di Amerika Ubah Gereja Menjadi Masjid

Masjid Imam Buhari, tak telihat seperti masjid, karena memang sebelumnya adalah sebuah bangunan gereja Katholik.
Masjid Imam Buhari[i] di negara bagian Massachusetts, Amerika Serikat, merupakan masjid yang dikelola oleh Masyarakat Muslim Turki yang tinggal di kawasan tersebut. Menariknya bahwa bangunan masjid tersebut sebelumnya adalah sebuah Gereja Katholik yang sudah tidak dipakai. berikut ini alamat lengkap masjid tersebut, 50 Pinevale Street, Indian Orchard, MA 01151.

Gereja Katholik St. Matthew yang berada di kawasan Indian Orchard, Massachusetts tersebut dibangun pada tahun 1864 atau sudah berumur 142 tahun saat dibeli oleh Masyarakat Islam Turki (Turkish Islamic Society) pada bulan Oktober 2006 seharga $150,000 dolar Amerika[ii], bangunan tersebut kemudian di alih fungsi sebagai masjid setelah merenovasi interiornya disesuaikan dengan kebutuhan tanpa merombak ekteriornya. Sebelum dijual, Gereja Katholik tersebut telah ditutup sejak tahun 1998[iii].


View St. Matthew's Church in a larger map

Keputusan dijualnya gereja tersebut kepada Masyarakat Muslim Turki tidak terlepas dari harapan para pengurus dan jemaah Gereja yang menghendaki agar bangunan tersebut tetap digunakan sebagai tempat ibadah bukan sebagai tempat usaha atau untuk kepentingan bisnis. Sebagaima dikatakan oleh Pastor Father William Pomerleau bahwa Kepemimpinan paroki sangat senang bahwa bangunan tersebut akan terus menjadi rumah ibadah, -. Banyak di antaranya adalah mantan umat St. Matius - juga senang dengan keputusan tersebutiv”.

Bangunan gereja tersebut sebanarnya sudah ditawarkan ke publik lebih dari setahun, dan dana hasil penjualan bangunan tersebut akan digunakan untuk mendanai operasional dan kepentingan peribadatan lainnya bagi jemaah paroki yang sudah digabungkan dengan paroki yang lain sebelum gereja tersebut dijual,.

Kehidupan masyarakat setempat memang terjalin dengan sangat baik antara ummat Islam dan Katholik di kota tersebut. Peristiwa buruk paska tragedi 11 September 2001, nyaris sama sekali tak berdampak bagi hubungan antara muslim dan katholok di tempat tersebut. Wajar bila kemudian, manakala pengurus paroki memutuskan untuk menjual bangunan gereja tersebut, pilihan jatuh kepada masyarakat muslim Turki yang memang sudah lama memimpikan memiliki masjid sendiri.

REFERENSI

Wednesday, September 24, 2014

Penjaga Hajar Aswad, Pekerjaan Yang Membanggakan

Menggembirakan dan membanggakan, berdiri di salah satu sudut Ka'bah, bertugas menjaga Hajar Aswad. 30 tahun sudah pekerjaan itu ditekuninya.
Sersan satu Hamad Al-Sharif boleh jadi merupakan salah satu mahluk paling bahagia di bumi ini dengan pekerjaannya. Bagaimana tidak, Dia ditugaskan untuk menjaga batu hitam Hajar Aswad yang terletak di salah satu sudut ka’bah.

Tugas utamanya adalah mengkoordinir, mengatur dan membantu para jemaah yang ingin menyentuh atau mencium batu hajar aswad. 30 tahun sudah dia bertugas disana dan enggan untuk dipindahkan.

Komandan pengamanan Masjidil Haram, Mayor Jendral Yahya Al-Zahrani mengatakan bahwa Sersan Satu Hamad Al-Sharif bukan satu satunya petugas yang menjaga batu Hajar Aswad, tapi ada beberapa petugas yang bekerja secara bergiliran mengatur para jemaah.

Pekerjaan yang tentunya benar benar membuat hati senantiasa riang gembira. 


Friday, May 9, 2014

Masjid Pertama di Kuba Akan Segera Berdiri

Masjid Ortakoy di Istambul yang dijadikan model bagi pembangunan masjid pertama negara Kuba di Kota Havana.
Pemerintah Kuba telah menyetujui rencana pembangunan masjid pertama di negara itu. Pembangunan masjid pertama tersebut merupakan salah satu proyek dari Yayasan Urusan Islam Turki (TDV) yang secara intensif melakukan pembicaraan dengan pemerintah Kuba dengan mengirimkan delegasinya ke Havana untuk membahasa rencana pembangunan tempat ibadah bagi muslim yang tinggal di kota Havana selaku ibukota Negara Kuba.

Setelah berkunjung ke Departemen Urusan Agama Kuba, Asisten Manajer TDV Mustafa Tutkun meminta izin dimulainya pembangunan masjid. Rencananya, desain masjid mengacu gaya arsitek Masjid Ortakoy, salah satu masjid terkenal di pinggiran selat bosforus di Istanbul - Turki.

Tutkun mengatakan, masjid ini dibangun untuk melayani 3.500 Muslim di Havana dan diprediksi rampung satu tahun. Distrik Old Havana dipilih sebagai lokasi masjid. Menurut Yuksel Sezgin, (penasehat press TDV), desain Masjid Ortakoy akan cocok dan akan dapat dengan mudah membaur dengan arsitektur daerah sekitarnya. Terutama, di distrik bersejarah Old Havana yang memiliki arsitektur lingkungan Eropa. Masjid pertama di Negara Kuba ini rencananya akan dibangun seluas 32,300 kaki persegi dan mampu menampung 500 jemaah.


Hingga saat ini, Muslim Kuba shalat berjamaah di ruang tamu rumah pemimpin komunitas Muslim Havana Pedro Lazo Torre. Seorang profesor Kuba yang mempelajari studi Timur Tengah di El Colegio de Mexico di Mexico City mengatakan, Kuba sebenarnya telah merencanakan membangun sebuah masjid sejak lama dengan menggunakan sumber daya nasional.

Namun, karena keterbatasan dana akhirnya pemerintah meminta bantuan pada Turki. Rencana tersebut merupakan bagian dari proyek TDV yang lebih besar, yakni membangun masjid bagi umat Islam yang tinggal di Karibia. Proyek yang sama juga sedang dilaksanakan di Negara Haiti dan diperediksi akan rampung ahir tahun ini.

Source :

jafrianews.com – cubas first mosque approved
darulihsan.com - cubas-first-mosque

Wednesday, May 7, 2014

Setelah Genosida terhadap muslim, Masjid di Afrika tengah di ubah menjadi Pub

Masjid di Kota Bangui yang di ubah menjadi Pub oleh Ekstrimis Kristern Afrika Tengah.

Situs berita japrianew.com merilis berita yang sangat memprihatinkan tentang kondisi masjid masjid di Republika Afrika tengah paska genosida (pembersihan etnis) terhadap muslim disana.

Kelompok ektrimis Kristen Republik Afrika tengah mengubah masjid di Kota Bangui, Ibukota Republik Afrika tengah menjadi pub setelah ditinggal oleh kaum muslimin disana. Muslim kota Bangui terpaksa meninggalkan ibukota Negara tersebut setelah terjadi pembantaian secara brutal terhadap muslim disana oleh ektrimis Kristen.

Penodaan masjid tersebut tanpa mendapatkan reaksi apapun dari pemerintah setempat yang tidak melakukan tindakan apapun untuk menghentikan tindakan penodaan tempat ibadah muslim tersebut.

Merujuk kepada komisi tinggi untuk pengungsi (UNHCR) akibat terjadinya tindak kekerasan hingga pembunuhan brutal, muslim kota Bangui terpaksa mengungsi ke wilayah lain yang lebih aman terutama di bagian barat Negara tersebut. Menurut laporan PBB lebih dari 95 ribu jiwa telah mengungsi dan ribuan lainnya tewas.

Japrianews di akses 7-Mei-2014

Thursday, August 29, 2013

Gadai Rumah Untuk Bangun Masjid, Berani ?

Masjid Shunshine - Victoria, Australia.

Berani melakukan nya ?

Pasti akan fikir fikir dulu, gak usah malu, saya pun pasti begitu.
Tapi tidak untuk tiga bersaudara Hasan Dellal, Salih Huseyin dan Huseyin Deniz yang memiliki keberanian luar biasa itu di tahun 1985, demi untuk membeli sebuah lahan kosong di kawasan industri daerah Sunshine, Victoria, Australia.

Hasil dari keberanian mereka mengorbankan harta benda demi Rumah Alloh itu kini berbuah manis. Sebuah masjid megah bergaya Usmani berdiri kokoh menjadi penanda wilayah tersebut dan menjadi salah satu masjid terbesar di Australia. Kemegahan masjid ini menjadi penyejuk mata dan menghadirkan keindahan tersendiri bagi siapa saja yang melintas di ruas jalan lingkar luar menuju Melbourne.

Masjid Sunshine, begitu kini orang menyebutnya. Didirikan dan dikelola oleh Komunitas Muslim Siprus Turki di Australia. Turki, sebagai rumah terahir bagi sejarah kekhalifahan Islam memang meninggalkan begitu banyak warisan arsitektur menawan termasuk mewariskan rujukan seni arsitektur Islam mengagumkan di seluruh pelosok penjuru bumi.

Masjid Sunshine ini pun dibangun sebagai cerminan dari masjid biru di Istabul, Turki, dalam skala yang lebih kecil. Sampai sekarang pun pemerintah Turki turut memberikan dukungan dengan menyediakan Imam berkualifikasi tinggi bagi masjid ini, termasuk membayar ongkos pulang pergi (Turki –Australia dan sebaliknya) bagi Imam masjid serta keluarga nya, mengurus segala dokumen perjalanan hingga membayar gaji rutin dan biaya hidup Imam masjid dan keluarganya. Imam masjid Sunshine di ikat dengan kontak resmi dengan pemerintah Turki dalam masa kerja 3 tahunan.

Masjid. Memang tidak semata mata sebuah bangunan tempat melaksanakan ibadah sholat. Di setiap inci bangunan nya menyimpan sebuah sejarah, sebuah komitmen pengabdian Lillahita’ala. Terkadang juga menyimpan sejarah perjuangan yang teramat panjang suatu bangsa. 



Thursday, August 1, 2013

Selama Ramadhan, Muslim Bulgaria Ajak Non-Muslim Buka Puasa Bersama

Muslim Bulgaria
Muslim Bulgaria memanfaatkan momentum Ramadhan guna mempromosikan ajaran Islam. Mereka ajak kalangan agama lain untuk buka bersama.

Seperti dikutip Timeturk, Kamis (25/7),  Wali Kota Mestan, Akif Mehmet, mengatakan umat Islam ingin menciptakan suasana kehidupan keberagamaan yang hangat yang terwakili menikmati sajian makanan yang lezat dan hangat.

Menurut Akif, selama ini tidak pernah terjadi ketegangan antara Muslim dan umat agama lain. Umat Islam selalu mencoba bersikap terbuka dan hangat kepada umat agama lain. Mereka buka pintu masjid dan Islamic center kepada umat agama lain yang ingin tahu tentang Islam dan Muslim.


Stanka Mitleva, warga Bulgaria menyambut baik ajakan itu. Menurut dia, berbuka bersama umat Islam merupakan pengalaman yang menyenangkan. Ini membuatnya semakin mengenal tradisi dalam Islam.

Secara terpisah, Mufti Bulgaria, Beyhan Mehmed, mengatakan memasuki pertengahan Ramadhan, Muslim Bulgaria kian aktif memakmurkan masjid. Ini dilihat dari ramainya masjid hingga malam hari. Mereka pergunakan waktu melaksanakan shalat malam dan membaca Alquran.

Populasi Muslim Bulgaria mencapai 12 persen dari populasi total. Sebagian besar Muslim Bulgaria merupakan keturunan Turki. Maklum saja, Bulgaria merupakan bagian dari Kekalifahan Turki Ustmani sebelum akhirnya negeri itu memerdekakan diri.



Mohamed Arturo Cerulli, Walikota Muslim Pertama di Italia

Mohamed Arturo Cerulli, Walikota Muslim Pertama di Italia
Harian Italia, Il Corriere della Sera tanggal 18 April 2008 telah memuat sebuah artikel mengenai terpilihnya seorang suami warga Indonesia yang terpilih menjadi Walikota di Monte Argentario, Regione di Toscana, Italia, dengan judul ”Walikota Baru Argentario dari Partai Tengah-Kanan (Centrodestra) Pindah menjadi Islam karena cintanya dengan seorang wanita Indonesia”.

Mohamed Arturo Cerulli yang akrab dipanggil Arturo akhirnya terpilih menjadi walikota (Sindaco) Monte Argentario yang baru dari partai politik Tengah-Kanan (centrodestra), Popolo della Liberta merupakan satu satunya Walikota di Italia yang beragama Islam. Arturo memeluk agama Islam karena cintanya dengan istrinya. Demikian laporan dari wartawan Il Corriere della Sera, Marco Gasperetti yang dimuat di harian tersebut tanggal 18 April 2008.

Sebelumnya Arturo mempunyai nama baptis, Il Cristianissimo Arturo dengan marga Cerulli. Arturo lahir di Porto Santo Stefano dan saat ini berusia 53 tahun dan berprofesi sebagai insinyur nuklir. Sewaktu menikah dengan istrinya, Arturo pindah agama menjadi Islam dan mengambil sumpah diatas Quar’an dan juga melakukan sirkumsisi dengan seorang rekannya yang seorang doktor Italia di Rumah Sakit Ortobello. Arturo menjelaskan bahwa agama dengan politik mempunyai arah arah yang berbeda’’.


Walikota yang baru untuk Comune di Monte Argentario ini, terpilih dengan suara 45,42% dan dinyatakan sudah memenuhi ketentuan dalam kelompok suara Liberta, dimana koalisi terdiri dari PDL (Partai Demokrat Liberta), UDC (Unita Demokrat Cristiani) dan Parpol Kanan dan dari Partai Lista Civiche. Ditambahkan lagi bahwa kemenangan ini dipromotori oleh para VIP. Menurutnya menjadi walikota adalah salah satu kehormatan baginya karena posisi ini sebelumya adalah salah satu kedudukan politik yang paling dihormati, karena pernah ditempati oleh Susanna Angelli, yang dianggap penduduk sebagai seorang yang berjasa besar di daerah tersebut. Arturo berharap agar posisi ini dapat memberikan inspirasi baginya. .

Arturo sebelumnya pesimis bakal bisa bersaing menjadi walikota mengingat Arturo telah pindah agama menjadi muslim dengan nama Muhamed Arturo. Kisah kepindahannya menjadi seorang muslim adalah ketika pada tahun 1988 pada saat Arturo bertugas di Indonesia dan bekerja dibagian pusat tenaga Nuklir yang tempatnya tidak jauh dari Jakarta (BATAN Serpong, Banten).

Arturo ingat bagaimana dirinya jatuh cinta dengan istrinya yang bernama Sri Semiarti yang akrab dipanggil Nunuk. Sebelumnya orang tuanya sangat menentang karena tidak setuju dengan keberadaan orang asing dirumahnya, apalagi beragama yang berbeda. Namun, karena demi cintanya kepada istrinya Arturo pindah agama.

Sempat beredar kampanye negatif jikalau dirinya menjadi walikota tanda salib di setiap sekolah di daerah tersebut akan diturunkan, namun kenyataanya Arturo tidak pernah menyinggung masalah tersebut setelah menjadi walikota karena itu adalah kelakarnya saja, Namun diakuinya bahwa dirinya sangat senang masuk Islam.

Mohamed Arturo sebagai walikota sangat gembira dalam kehidupan keluarganya, Arturo saat ini sudah dikaruniai dua orang anak. Harapan Arturo dengan menjadi Walikota ini adalah dapat mengembalikan situasi di Argentario seperti apa yang dialaminya sebagaimana posisi Susanna Agnelli pada tahun 80an yaitu dengan mengembangkan kembali daerah Monte Argentario menjadi daerah tujuan wisata yang lebih besar.

Karena kinerjanya yang cukup bagus dan berhasil apalagi kebijakannya lebih pro terhadap kepentingan publik, masyarakat menghendaki dirinya memimpin kembali kota dengan jumlah penduduk sekitar 14 ribu itu.

Di pemilihan pada Mei 2013  ia terpilih sebagai wali kota untuk periode kedua (2013-2018).

Kini pria kelahiran 54 tahun ini datang ke Indonesia untuk menghadiri peluncuran buku Scappa per Amore: Mozaik Perjalanan Cinta di Benua Biru karya Dini Fitria di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (19/7) malam WIB. Arturo juga sekaligus memiliki agenda mengunjungi kerabatnya di Indonesia karena istrinya, Sri Semiarti Sastropawiro merupakan warga pribumi.

Berada di Indonesia, Cerulli sangat menikmatinya. Apalagi momennya bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Hal itu dinilainya sebagai berkah terselubung. Pasalnya, di tanah kelahirannya, datangnya Ramadhan hampir tidak terasa sama sekali.

Hal itu berkebalikan dengan kondisi di Indonesia yang serba meriah. Ia menilai denyut Ramadhan di Indonesia sangat terasa seperti di Arab Saudi, tempat dulunya, ia pernah bekerja. "Suasana puasa di Indonesia sangat terasa, seperti di Arab Saudi. Di Italia, suasana Ramadhan tidak terasa gebyarnya bagi seorang Muslim," katanya.***