Tuesday, June 23, 2015

Masjid Beras Segenggam di Pidie, Aceh

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin
Bangunan tua berusia 64 tahun bercat putih berdiri tegak di pinggir jalan Medan-Banda Aceh, Beureunuen. Dua menara berwarna putih menjulang tinggi ke atas semakin tampak gagahnya bangunan kuno tersebut.

Bangunan itu adalah masjid Baitul A’la Lilmujahidin yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat masjid Abu Beureueh yang terletak di Beureuenuen, Kecamatan Mutiara Barat, Kabupaten Pidie, Aceh. Nama Abu Beureueh disematkan pada masjid ini karena dialah yang memprakarsai pembangunannya sejak tahun 1951-1952.

Di belakang masjid, atau arah barat masjid terdapat makam Abu Beureueh. Makam ini dipagar dengan teralis putih dan di dalamnya ada dua pohon jarak dan batu nisan bertuliskan 'Tgk Syi’ Di Beureu'eh (Tgk. Muhammad Dawud Beureu'eh), Lahir Ahad 17 Jumadil Awal 1317 (23 September 1899), Wafat Rabu 14 Zulqaidah 1407 (10 Juni 1987).'
Makam Abu Beureueh

Di sekeliling bangunan masjid seluas 1.350 meter sudah terpasang paving block tertata rapi. Di ujung paling timur sekarang sedang proses pembangunan sebuah menara setinggi tower seluler.

Pembangunan masjid ini sejak 64 tahun lalu dikerjakan secara sukarela dan bergotong royong secara massal. Abu Beureueh yang merupakan tokoh karismatik di Aceh ini memimpin pembangunan masjid ini.

Sumber dana masjid ini bukanlah dari sejumlah donatur besar atau suntikan dana dari pemerintah. Akan tetapi biaya pembangunan masjid ini murni dari bantuan masyarakat secara bersama-sama menyumbang secara sukarela.

Kala itu Abu Beureueh meminta kepada seluruh penduduk di Pidie untuk menyumbang pembangunan ini dengan cara menyisihkan beras di rumah masing-masing, kemudian lebih dikenal dengan Breueh Sigenggam (Beras Segenggam) untuk biaya pembangunan masjid.

Setiap hari Abu Beureueh memerintahkan kepada seluruh masyarakat sebelum memasak agar mengambil segenggam beras, lalu ditempatkan ke tempat khusus. Kemudian beras segenggam itu akan dikumpulkan oleh petugas panitia pembangunan masjid tersebut.

Di dalam masjid
"Jadi satu minggu sekali ada petugas diutus oleh Abu Beureueh untuk mengambil beras di rumah-rumah warga, tidak hanya beras, kalau ada warga sumbang semen atau lainnya juga diterima," kata bilal masjid Abu Beureueh, Tgk Sulaiman.

Pembangunan masjid ini tidak berjalan mulus. Bahkan sempat terhenti selama 10 tahun lebih. Saat itu hanya baru selesai dilakukan pembangunan pondasinya. Sehingga selama kurun waktu itu pembangunan masjid terbengkalai.

Tertundanya pembangunan masjid 10 tahun ini akibat Abu Beureueh pada tahun 1953 memimpin pasukan untuk berperang yang dikenal dengan pemberontakan DI/TII. Abu Beureueh kala itu naik ke gunung berperang gerilya bersama ribuan pasukan pengikutnya.

Baru kemudian setelah Abu Beureueh turun gunung bersama gerilyawan lainnya pada tahun 1963, masjid Abu Beureueh kembali dilanjutkan pembangunan dengan pola mencari dana seperti semula, yaitu beras segenggam dari masyarakat.

"Selesai bisa salat masjid ini tahun 1973, jadi masjid ini bisa menampung 1000 jamaah," terangnya.
Hingga sekarang, masjid Abu Beureueh juga dikenal di tengah-tengah masyarakat sebagai masjid Breueh Sigenggam (Beras Segenggam). Atas sejarah ini, penduduk setempat menganggap masjid ini sangat sakral dan pemerintah telah menetapkan bangunan kuno ini sebagai cagar budaya.

Masjid Baitul A’la Lilmujahidin
Tgk Sulaiman menyebutkan pembangunan masjid ini 100 persen menggunakan tenaga manusia. Tidak ada penggunaan perangkat teknologi dalam proses pembangunannya kala itu.

Ia mencontohkan proses penggalian dua menara yang menjulang tinggi ke langit dikerjakan oleh tenaga manusia. Kedalaman pondasi menara itu sedalam 6 meter digali oleh manusia.

"Abu Beureueh waktu itu menggilir pekerja yang bergotong royong, jadi minggu ini desa A misalnya, minggu depan desa B, mereka bekerja selama 1 minggu, karena waktu itu gak ada kendaraan untuk pulang pergi," ulasnya.

Selama ini banyak pengunjung yang sedang melakukan perjalanan jauh singgah untuk sekadar beristirahat sembari menunaikan ibadah 5 waktu. Bahkan banyak juga datang untuk melepaskan nazar di masjid kebanggaan rakyat Pidie ini.

Di dalam masjid tidak diperkenankan untuk tidur dan hanya diperbolehkan beribadah. Kendati demikian, bila ada pengunjung hendak merebahkan diri, pengurus masjid telah menyediakan dua balai dan bisa dijadikan tempat tidur melepaskan penat.

Saat masuk bulan Ramadan, masjid ini penuh sesak oleh pengunjung, baik untuk beribadah seperti mengaji pada siang hari, maupun malam hari menunaikan salat sunnah tarawih.

Karena meningkatnya pengunjung ke masjid dalam bulan Ramadan, pengurus harus memasang tenda di depan masjid atau arah timur masjid. Tenda itu diperuntukkan untuk jamaah khusus perempuan.