Showing posts with label masjid di Maluku. Show all posts
Showing posts with label masjid di Maluku. Show all posts

Sunday, June 1, 2025

Masjid Al-Falah Waihaong Kota Ambon

Masjid Al-Falah Waihaong kota Ambon setidaknya sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda.
 
Masjid Al-Falah Waihaong merupakan salah satu masjid tua di kota Ambon provinsi Maluku. Masjid ini “setidaknya” sudah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda. Sebuah peta kuno dari masa penjajahan Belanda, Masjid ini sudah berdiri di kawasan yang mereka sebut sebagia kawasan Pecinan Kota Ambon.
 
Sebuah foto dokumentasi militer Belanda menunjukkan kawasan Pecinan Kota Ambon (Chinese street in Ambon) tahun 1948 bangunan masjid ini tampak di kejauhan dilatar belakang kawasan pecinan di ruas jalan Hativestraat yang kini menjadi Jalan Sultan Babullah kota Ambon.
 
Masjid Al Falah Waihaong - Ambon
Jl. Sultan Babullah, Kel Waihaong, Kec. Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku
 
 
Dimasa kini Masjid Al-Falah masih berdiri kokoh ditempatnya dengan bentuk yang sudah berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan ruang yang lebih besar untuk mengakomodir jemaah yang sudah semakin meningkat.
 
Dimasa kini Masjid Al-Falah Waihaong secara administratif masuk dalam wilayah Keluarhan Waihaong Kelurahan Waihaong kecamatan Nusaniwe Kota Ambon provinsi Maluku.
 
Merujuk kepada dkm.or.id Masjid Al-Falah dibangun pada tahun 1985, kemungkinan yang dimaksud adalah renovasi bangunan masjid Al-Falah yang kini berdiri, bukan pembangunan awalnya. Masjid Al-Falah merupakan kategori Masjid Jami . Memiliki luas tanah 50 m2 , luas bangunan 215 m2 dengan status tanah Wakaf. ***


Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 

Saturday, July 27, 2019

Masjid Agung Ibnu Abdullah Masohi - Maluku Tengah

Dibangun tahun 2009, Masjid Agung Ibnu Abdullah merupakan masjid termegah dan terbesar di kabupaten Maluku Tengah.

Kota Masohi merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah. Kota Masohi merupakan salah satu dari tiga wilayah kabupaten Maluku Tengah yang berada di Pulau Seram bersama dengan Kecamatan Amahai dan Tehoru, sebagian lagi wilayah Kabupaten Maluku Tengah berada di pulau Ambon dan pulau pulau disekitarnya. Wilayah kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten/kota lainnya di Provinsi Maluku memang sangat khas dengan ribuan pulau pulau tropis dengan segudang keindahannya.

Kabupaten Maluku Tengah merupakan salah satu kabupaten di provinsi Maluku dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1952 (L.N. No. 49/1952) tentang pembubaran daerah Maluku selatan dan pembentukan Maluku Tengah dan Maluku Tenggara. Kabupaten Maluku Tengah beribukota di Kota Masohi sedangkan Kabupaten Maluku Tenggara beribukota di Kota Langgur.

Masohi memiliki Masjid Agung Megah yang dikenal luas dengan nama Masjid Agung Masohi meskipun nama resmi masjid ini adalah Masjid Agung Ibnu Abdullah. Masjid megah ini diresmikan oleh Bupati Maluku Tengah pada tanggal 21 Agustus 2009. Lokasi tempatnya berdiri berdekatan dengan pendopo kabupaten (rumah dinas Bupati) dan komplek perkantoran DPRD kabupaten Maluku Tengah. Lokasi masjid Agung Ibnu Abdullah terpaut sekitar 800 meter sebelah timur dari komplek kantor Bupati Maluku Tengah.

Masjid Agung Ibnu Abdullah Kota Masohi
Namaelo, Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku 97511


Nama resmi masjid ini memang sempat menuai protes dari KNPI Maluku tengah. Sebelumnya masjid ini bersama Masjid Raya Al-Mu’awanah, namun setelah dibangun ulang dan diresmikan pada tanggal 21 Agustus 2009 oleh Bupati Maluku Tengah Abdullah Tuasikal, kemudian nama masjid ini di ubah menjadi Masjid Agung Ibnu Abdullah, sebagai penghargaan kepada Bupati pertama Kabupaten Maluku Tengah, Abdullah Soulisa.

Meski memiliki kesamaan dengan nama Bupati Abdullah Tuasikal, namun demikian pemberian nama tersebut merupakan kesepakatan dari seluruh imam imam masjid di Masohi sebagai bentuk penghormatan kepada Abdullah Soulisa yang merupakan Bupati Pertama Maluku Tengah yang pertama kali membuka dan membangun kota Masohi ibukota kabupaten Maluku Tengah.

Tradisi Pemasangan Tiang Alif

Muslim maluku memiliki tradisi yang sangat khas dan sejauh ini diketahui tradisi ini hanya ada di Maluku. Tradisi tersebut adalah tradisi pemasangan Tiang Alif sebagai rangkaian akhir dari seluruh rangkaian pembangunan masjid sekaligus sebagai tanda peresmian masjid. Prosesi pemasangan Tiang Alif ini merupakan sebuah prosesi yang sangat sakral bagi muslim Maluku.

Ekterior Masjid Agung Ibnu Abdullah Masohi didominasi warna hijau dengan aksen warna kuning.
Tiang Alif yang dimaksud adalah ornamen yang dipasang di puncak atap / puncak kubah masjid. Di tanah Jawa dan pulau pulau lain biasa disebut sebagai mastaka. Bentuk mastaka masjid masjid tua di Maluku memanglah sangat khas karena memang bentuk dasarnya berupa tiang lurus seperti lurusnya huruf Alif. Pemasangan tiang Alif ini pada umumnya dilakukan oleh tokoh masyarakat langsung dipuncak / di atap masjid, sederet tangga panjang dibuat khusus dari pekarangan hingga ke puncak / atap masjid yang digunakan untuk mengusung tiang alif dan dipasangkan ke tempatnya.

Prosesi pemasangan tiang alif telah dimulai sehari sebelum pemasangan, tiang alif akan di bawa berpawai keliling negeri (Desa) dengan penuh khidmad, kemudian pada malam harinya dilakukan doa dan zikir bersama dipimpin oleh para ulama hingga pagi. Prosesi ini melibatkan khalayak ramai yang begitu antusias karena memang tak terjadi setiap waktu. Berbagai persiapan dilakukan sebelum pelakanaan termasuk persiapan pembuatan tangga yang kokoh hingga ke puncak atap masjid tempat tiang alif akan ditempatkan.

Peresmian dan prosesi pemasangan tiang alif Masjid Agung Masohi ini dilakukan pada hari Jum’at tanggal 21 Agustus 2009 oleh Bupati Maluku Tengah, Abdullah Tuasikal bersama jajarannya, tokoh masyarakat sipil dan militer, para alim ulama dan tentu saja khalayak ramai yang tumpah ruah menyaksikan peristiwa penting tersebut. Momen tersebut memang sangat dinanti oleh muslim disana sejalan dengan bulan suci Romadhon yang segera menjelang menjadikan peresmian masjid tersebut laksana hadiah sangat indah bagi muslim Maluku Tengah.

Interior Masjid Agung Ibnu Abdullah.
Sebagai masjid agung kabupaten, masjid agung Ibnu Abdullah Masohi menjadi pusat aktivitas Islam tingkat Kabupaten Maluku Tengah, termasuk menjadi pusat pelaksanaan sholat dua hari raya besar ummat Islam, pusat peringatan hari hari besar Islam, hingga pelepasan dan penyambutan calon Jemaah haji dari kabupaten Maluku Tengah.

Arsitektur Masjid Agung Ibnu Abdullah

Masjid Agung Ibnu Abdullah dibangun dalam bentuk masjid agung modern lengkap dengan kubah utama berukuran besar di atap masjid diapit oleh empat kubah berukuran lebih kecil di ke ermpat penjut atapnya. Masing masing empat kubah pengapit ini dibangun diatas beranda yang di ke empat sudut masjid. Penempatan beranda di sudut bangunan seperti ini memang cukup unik.

Ada banyak pilar pilar tinggi besar di Interior masjid menopang struktur atap, namun memberikan ruang yang cukup luas di bawah relung kubahnya yang berukuran besar. Interior masjid ini tidak terlalu ramai dengan beragam ragam hias. Satu mimbar kayu ditempatkan di dalam ruang mihrab dan bagian dalam kubahnya dihias dengan lukisan berpola geometris.

Berdiri dilahan yang cukup luas, masjid ini tidak atau belum dilengkapi menara. Dengan lahannya yang masih cukup luas, sangat memungkinkan untuk pengembangan lebih lanjut di masa masa mendatang.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga


Sunday, December 4, 2016

Masjid Agung Nurul Haq Kepulauan Aru

Ada kemiripan Masjid Nurul Haq Kepulauan Aru ini dengan masjid raya Baiturrahman di Banda Aceh, perhatikan fasad depan berandanya serta kubah nya yang bewarna hitam.

Kepulauan Aru tercatat dalam sejarah nasional Indonesia dalam peran pentingnya selama operasi Trikora Pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda yang dikobarkan Bung Karno di tahun 1963. Di salah satu pulau di gugus kepulauan Aru ini menjadi rendezvous point kapal kapal perang armada angkatan laut RI yang bersiap menyerang Belanda di Irian Barat.

Sejak tahun 2003, Kepulauan Aru telah berstatus sebagai Daerah Otonomi Baru dengan nama Kabupaten Kepulauan Aru berdasarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2003, dimekarkan dari kabupaten Maluku Tenggara. Saat ini wilayahnya daratannya terdiri dari 187 pulau dan hanya 89 saja yang berpenghuni. secara geografis kabupaten Aru berbatasan langsung dengan Australia di laut Arafura. Pusat pemerintahan Kabupaten Aru berada di kota Dobo yang terletak di Pulau Dobo.

Masjid Agung Nurul Haq
Galay Dubu, Pulau-Pulau Aru
Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Indonesia
Koordinat : 5° 45' 34" S 134° 14' 7" E


Kota Dobo telah memiliki Masjid Agung megah yang arsitekturnya memiliki kemiripan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Masjid Agung Dobo diberi nama Masjid Agung Nurul Haq berada di tengah-tengah Kota Dobo ini menjadi salah satu pusat perhatian di Dobo karena kemegahan-nya. Dalam perjalanannya Masjid Agung Nurul Haq telah direnovasi dan diresmikan oleh Gubernur Maluku K.A.Ralahalu.

Sebagai Masjid Agung Kabupaten, Masjid Agung Nurul Haq menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Kepulauan Aru termasuk penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Aru. Di tahun 2011 yang lalu Masjid Agung Nurul Haq Kepulauan Aru juga menjadi pusat penyelenggaraan MTQ XXIV provinsi Maluku 21-28 Mei 2011. Menariknya ajang tersebut tidak saja dinanti nanti oleh kaum muslimin disana, namun dalam kesempatan tersebut, para pendeta dan umat Kristen Protestan dan Katholik menyanyikan mars dan hymne MTQ sehingga membuat suasana haru.

Pawai Ta'aruf jelang Ramadhan di Dobo di mulai dari depan Masjid Agung Nurul Haq Dobo.

Kerukunan antar ummat beragama di Kabupaten Kepulauan Aru memang telah terjalin dengan baik. menjelang bulan suci Romadhan diselenggarakan pawai ta’aruf yang diikuti berbagai lapisan masyarakat yang dimulai dari Masjid Agung Nurul Haq dan berahir di lapangan Yos Sudarso.

Selain itu para tokoh lintas agama disana setiap menjelang bulan suci romadhon sepakat meminta apparat pemerintah sipil dan militer untuk menutup sementara semua tempat hiburan selama bulan suci Romadhan untuk menghormati dan memberikan suasana khusu’ kepada ummat Islam yang menjalankan ibadah puasa Romadhon.***

Saturday, December 3, 2016

Masjid Agung Al-Buruj Pulau Buru

Gugusan Bintang. Al-Buruj yang menjadi nama masjid agung di kabupaten Buru ini bermakna gugusan bintang dan merupakan nama surah ke 85 di dalam Kitab Suci Al-Qur'an.

Pulau Buru di Provinsi Maluku dikenal dalam sejarah nasional kita sebagai salah satu pulau tempat pembuangan para narapidana politik yang terlibat dengan G 30 S/PKI. Pulau yang dulu terkesan begitu terpencil dari peradaban, terkonotasi dengan daerah yang menyeramkan, kini dengan pasti mengubah wajah dan kesan seramnya. Di Pulau ini kini berdiri sebuah masjid Agung begitu megah dengan nama Masjid Agung Al-Buruj. Emas, kini menjadi bahan tambang primadona di pulau ini dengan segala kelebihan dan kekurangan dari proses pertambangannya yang kini mulai masiv.

Masjid Al-Buruj merupakan masjid agung sekaligus merupakan Islamic Center bagi Kabupaten Buru, merupakan bangunan masjid yang begitu megah. Dan bagian paling menarik dari masjid ini adalah dana pembangunannya yang berasal dari urunan masyarakat muslim disana, fakta yang cukup mencengangkan tentunya. Dana yang mengalir masuk ke masjid ini setiap hari Jum’at juga lumayan besar, belum termasuk dana zakat/infaq/shadaqah dan lainnya, dana tersebut digunakan untuk membiayai operasional masjid megah ini.

Masjid Agung Al Buruj
Namlea, Buru, Kabupaten Buru
Provinsi Maluku, Indonesia


Hal kedua yang tak kalah menarik dari masjid ini adalah penamaannya dengan nama “Al-Buruj” yang merupakan nama surah ke-85 Kitab Suci Al-Qur’an, yang penyebutannya hampir sama dengan nama pulau Buru. Al-Buruj berarti gugusan bintang, sama dengan Pulau Buru yang kini mulai berkilau menghapus kelamnya masa lalu sejarah pulau itu.

Bangunan masjid ini terdiri dari dua bagian utama yakni bangunan masjid ditambah dengan area pelataran tengah yang dikelilingi oleh selasar. Bangunan utama masjid berdenah segi empat dengan satu kubah utama di atap masjid diapit dengan empat kubah lebih kecil dipuncak bentuk Menara yang tak terlalu tinggi masing masing empat penjuru atapnya.

Masjid Al-Buruj dilihat dari pelataran tengah

Pelataran tengah berada di sisi timur masjid, seluruh permukaan lantai dibagian ini ditutup dengan keramik lantai yang warnanya mirip dengan keramik lantai area pelataran masjid Istiqlal di Jakarta. Dari area ini pengunjung dapat melihat kemegahan masjid ini dengan kubah utamanya yang begitu menonjol di atap masjid.


Masjid Agung Al-Buruj diresmikan pada tanggal 2 Februari 2009, berdiri di atas lahan seluas 25 Hektar dengan luas bangunan mencapai 2867 meter persegi dan dapat menampung hingga 8500 jemaah sekaligus. Di komplek masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas sekretariat, baik untuk yayasan internal masjid maupun organisasi keagamaan kabupaten Buru.***

Interior Masjid Agung Al-Buruj.