Showing posts with label masjid di kota semarang. Show all posts
Showing posts with label masjid di kota semarang. Show all posts

Sunday, November 26, 2017

Langgar Al-Yahya Gandekan, Sisa Kejayaan Tasripin di Pecinan, Semarang

Langgar (Mushola) Al-Yahya, Kampung Gandekan, Semarang

Langgar Gandekan di Semarang merupakan salah satu bangunan tua bersejarah di Semarang. Lokasinya berada di kampung Gandekan di sekitar jalan MT. Haryono. Langgar atau mushola ini diperkirakan berdiri pada tahun 1815 merupakan salah satu sisa sisa kejayaan Taspirin, tuan tanah yang begitu Berjaya pada masanya dan menguasai banyak sekali daerah di seantero semarang.

Pada masa jayanya, kampung Gandekan ini merupakan salah satu kampung yang dihuni oleh karyawan Taspirin, seperti halnya dengan kampung kampung disekitarnya. Namun kini Kampung Gandekan didiami oleh warga campuran. Hampir setengah penduduk Gandekan sekarang adalah etnis Tionghoa.

Langgar Al-Yahya Gandekan
Jalan Gandekan RT 01/RW 07 No 15.
Jagalan, Semarang Tengah
Kota Semarang, Jawa Tengah 50613


Meski demikian keberadaan sebuah langgar kuno di Gandekan tak berubah. Bahkan sebagian warganya bertekad terus mempertahankan keaslian bangunan tersebut. Berdiri di sudut jalan, langgar ini sudah terbuat dari tembok.

Dari kusen pintu dan jendela lita bisa melihat detail kerentaan langgar yang juga memiliki nama Al Yahya. Tak hanya itu, ornamen-ornamen lainnya pun sengaja dipertahankan oleh pengurus langgar, karena sudah diberi amanah oleh pendahulu-pendahulu yang telah mewakafkannya, sehingga akan tetap mempertahankan keasliannya. Selama ini pengurus langgar Gandekan hanya melakukan pergantian genting dan penambahan porselin pada sebagian tembok.

Langgar Gandekan berukuran sekitar 8 x 40 meter. Kubah langgar ini berbentuk bunga. Di dinding atas ruang imam tampak sebuah kaligrafi yang bertulis Allah dan Muhammad. Sementara itu dikeliling plafon terlukis pula kaligrafi yang bertuliskan "Lailla laillallah Muhammaddarosullah", yang dilukis dengan bahan malam yang biasa untuk membatik.

Lantai mushola ini terbuat dari kayu jati dan juga terdapat sebuah tangga kuno yang mengubungkan ruang utama langgar dengan bagian atas plafon. Kini ruang itu lebih berfungsi sebagai gudang. Banyak orang yang menawarkan bantuan sejumlah uang untuk menggantinya dengan lantai keramik, namun ditolak oleh pengurus langgar untuk menjaga keaslian bangunannya.

Cagar Budaya

Bangunan langgar ini merupakan peninggalan Tasripin dan sudah dijadikan cagar budaya Semarang dan diwakafkan tahun 1997. Tahun 2002 Walikota Sukawi Sutarip pernah berkunjung kesini. Beliau juga berpesan agar langgar ini tidak diubah. Langgar tersebut sempat menerima bantuan dari gubernur Jawa Tengah untuk membangun tempat wudlu dan peneduhnya.

Sebagai bangunan tua tentu saja membutuhkan banyak sekali biaya untuk merawat. Untuk hal tersebut pengurus langgar yang tersebut hanya mengandalkan swadaya masyarakat sekitar.

Aktivitas Langgar Gandekan

Di saat bulan Ramadan, langgar Gandekan selalu penuh dengan pengunjung yang hendak menunaikan shalat. Tak hanya warga Gandekan, namun ada juga yang datang dari Kentangan, Gabahan atau karyawan-karyawan yang bekerja di pertokoan sekitar Jl. MT Haryono.

Ada juga muslim Tionghoa yang sering shalat disini. Kebetulan mereka adalah warga GandekanDi bulan suci, setiap sore diadakan pengajian anak-anak. Sedangkan sesaat setelah buka puasa, rutin dilaksanakan shalat tarawih dan dilanjutkan dengan tadarus.***

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga



Sunday, September 10, 2017

Masjid Layur Kampung Melayu Semarang

Masjid Layur Kampung Melayu Semarang

Masjid Layur adalah salah satu masjid kuno di kota Semarang, Jawa tengah. Masjid tua ini kadang kala disebut pula Masjid Menara Kampung Melayu. Dinamakan Kampung Melayu karena sudah merupakan tempat hunian pada tahun 1743 yang sebagian besar orang yang mendiami kawasan tersebut adalah orang melayu. Masjid Layur ini disebut sebut sebagai Masjid tertua di Semarang.

Pada masa tersebut di kampung ini terdapat tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan. Lokasinya yang sangat strategis mengundang orang untuk berdiam disitu pula. Dicatat bahwa orang-orang dari Arab kemudian menempati kampung tersebut. Pada masa itulah kiranya masjid yang telah ada dikembangkan lagi dan memperoleh pengaruh yang dapat dilihat sekarang.

Mesjid Layur
Jl. Layur, Dadapsari, Semarang‎
Kota Semarang, Jawa Tengah 50173



Berpengaruhnya orang Arab di situ diperkuat oleh catatan Liem (1930) yang menyebutkan bahwa usaha pendirian klenteng oleh masyarakat Cina yang tidak begitu banyak jumlahnya di kampung tersebut ditentang habis-habisan oleh penduduk keturunan Arab pada tahun 1900. Penambahan menara pada bagian depan masjid menyebabkan masjid juga terkenal dengan nama masjid menara.

Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh Masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.

Lokasinya cukup mudah dijangkau, dari arah pasar Johar ikuti jalur putar yang menuju arah kantor pos besar jalan pemuda atau arah stasiun Tawang, dari rel kereta api di depan Jalan Layur, menara Masjid Layur sudah kelihatan kokoh menjulang tinggi.

Arsitektur Masjid Layur

Dari arah jalan raya yang tampak dari masjid ini hanya gapura berkubah dan menaranya saja, sedangkan masjidnya berada di dalam pagar tembok nya yang cukup tinggi seperti benteng. Dari gapuranya baru terlihat bangunan masjidnya berdiri kokoh dengan gaya bangunan masjid tradisional Indonesia sekali.


Bangunan masjidnya beratap tumpang bersusun tiga ditambah lagi dengan kanopi dibagian bawah atap terbawagnya. Lantai bangunan ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya dan hanya dapat dicapai dengan melewati tiga anak tangga tangga yang terdapat pada sisi muka.

Pondasi bangunan dari batu yang memikul struktur kerangka kayu. Masjid ini dilihat dari gaya arsitekturnya merupakan percampuran dari tiga budaya yaitu Jawa, Melayu dan Arab dengan sentuhan keindahan oleh para pembuatnya.

Walaupun sudah dimakan usia namun masjid ini masih kokoh dan masih digunakan oleh masyarakat sekitar untuk beribadah. Sampai sekarang masjid ini masih terus dirawat oleh yayasan masjid setempat sebagai upaya pelestarian sejarah dan sebagai masjid tua kebanggaan Kota Semarang. Secara menyeluruh masjid Layur masih asli seperti pertama kali dibuat, hanya ada sedikit perbaikan seperti penggantian genteng dan penambahan ruang untuk pengelola pada sisi kanan kompleks masjid.***

Sunday, June 11, 2017

As-Safinatun Najah, Masjid Kapal Nabi Nuh di Semarang

Masjid Safinatun Najah secara harfiah bermakna kapal penyelamat

Ada kapal laut ditengah tengah hamparan sawah, sepertunya memang hal yang muskil, namun hal itu benar benar terjadi di kampung Padaan, Desa Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Hanya saja kapal laut yang satu ini sebenarnya adalah sebuah bangunan masjid yang sengaja dibangun menyerupai sebuah kapal.

Bangunan masjid ini masih gress alias anyar, baru sekali. Pada saat tulisan ini di unggah Google street view bahkan masih menampilkan citra lokasi tempat masjid ini berdiri masih berupa lahan kosong yang baru dibersihkan, tidak ada bangunan apapun. Masjid berbentuk kapal laut ini bernama Masjid As-Safinatun Najah (kapal penyelamat). dan Masjid ini bukanlah masjid pertama yang dibangun berbentuk kapal, sebelumnya sudah ada Masjid Al-Baakhirah di kota Cimahi, Jawa Barat.

Masjid As-Safinatun Najah
Jalan Kyai Padak, RT 05 RW 05, Kelurahan Podorejo
Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang
Jawa Tengah, Indonesia



Pembangunan masjid ini di danai oleh satu keluarga muslim di Uni Emirat Arab yang menginginkan agar dibangunkan sebuah masjid dengan arsitektur bahtera Nabi Nuh di Indonesia. Melalui hubungan yang baik dengan pemimpin salah satu yayasan di kota Semarang kemudian mulailah dibangun masjid dimaksud di lokasi sekarang ini sejak awal tahun 2015.

Rancangan Masjid Bahtera Nabi Nuh ini terinspirasi dari sebuah masjid di kota Islamabad, Pakistan namun dengan gaya lokal. Meski bergaya Pakistan, pembangunan masjid kapal itu mempekerjakan sekitar 40 warga lokal. Bentuk dek kapal besar yang menyerupai kayu pun seluruhnya beton yang digarap apik oleh warga, sehingga mirip sebuah dek kapal berukuran raksasa.

Ada falsafah khusus kenapa bangunan masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh. Sesuai nama Safinatul Najah (kapal penyelamat), mengingatkan umat Islam tentang kisah Nabi Nuh saat diperintahkan Allah untuk menyelamatkan kaumnya dari bencana banjir.

Objek wisata baru di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pembangunan masjid ini menghabiskan dana lebih dari 5 Milyar Rupiah, dibangun di atas lahan seluas 7.5 hektar dan bangunan masjidnya sendiri seluas 2500 meter persegi, lengkap dengan sejumlah fasilitas pendukungnya, tak hanya untuk salat, tetapi juga dibangun klinik kesehatan serta lembaga pendidikan Islam atau pesantren.

Sedangkan untuk pemilihan lokasi masjid itu, karena kebetulan mendapatkan lahan yang relatif murah di kampung Padaan, Desa Podorejo, Kecamatan Ngaliyan. Kebetulan lokasinya juga di areal perkebunan durian serta diapit sawah-sawah warga setempat. Untuk sampai ke lokasi, pengunjung harus melewati beberapa perkebunan karet dan persawahan.

kehadiran masjid unik ini kini menambah khazanah objek wisata religi di kota Semarang setelah sebelumnya kota ini telah memiliki Masjid Agung Jawa Tengah. Setiap hari masjid ini menjadi tujuan kunjungan warga dari berbagai daerah.

Referensi