Thursday, June 6, 2013

Potret Kerukunan Beragama di Indonesia (Bagian-1)

Indonesia kaya dengan ke-aneka-ragaman suku, bangsa, ras dan agama, tapi kita punya Bhineka Tunggal Ika, warisan dari para leluhur yang masih sakti hingga kini. Alhamdulillah.
Bila dalam posting sebelumnya sudah disajikan beberapa Potret Kerukunan Hidup Beragama di berbagai negara dengan refrentasi pembangunan tempat ibadah di lokasi yang sama atau berdekatan, kali ini kita ulas beberapa contoh kerukunan hidup beragama di berbagai daerah di tanah air kita, Indonesia. Kerukunan hidup beragama di Indonesia sudah terjalin jauh sebelum republik ini berdiri.

Para leluhur kita sudah memberikan teladan yang begitu baik bagaimana hidup penuh toleransi dalam menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing masing sejak masa kerajaan kerajaan Nusantara masih berjaya. Meski letupan letupan yang menodai kerukunan itu senantisa terjadi, namun secara keseluruhan negeri ini patut berbangga dengan Bhineka Tunggal Ika. Dengan keberagaman dan warna warni budaya dan agama di tanah air kita. Kekayaan teramat khusus dan tak dimiliki negara manapun dimuka bumi ini.

Jakarta

Sekali kali lihatlah Jakarta dari sudut ini. Indah bukan.
Masjid Istiqlal di Jakarta dibangun sejak masa Bung Karno dan diresmikan oleh (mantan) Presiden Soeharto. Masjid Nasional ini berdiri di atas Taman Wihelmina, taman yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pembangunannya merupakan bentuk rasa syukur kepada Alloh S.W.T atas anugerah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Istiqlal diambil dari bahasa Arab yang berarti Kemerdekaan. Pemerintah dan Rakyat Indonesia membangun masjid dengan nama yang sama sebagai hadiah kemerdekaan bagi Muslim Bosnia & Herzegovina di Ibukota negara tersebut, Sarajevo. Dengan nama Masjid Istiklal Indonesia atau biasa juga disebut Masjid Suharto atau Masjid Indonesia.

Masjid Istiqlal Jakarta berdiri berhadap hadapan dengan Gereja Katedral Jakarta yang mulai dibangun di era yang sama. Dua bangunan tempat ibadah bagi dua pemeluk agama yang berbeda ini menjadi simbol kerukunan hidup beragama di Indonesia dimulai dari pusat pemerintahan negara. Sebuah pemandangan yang hanya dapat kita temui di sangat sedikit pusat pemerintahan negara negara di dunia lain nya.

Masjid Al-Muqorrobin dan Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim di Jalan Enggano, Tanjung Periuk - Jakarta Utara, DKI Jakarta.
Masih di Jakarta. Di kawasan Tanjung Periok, tepatnya di jalan Enggano ada lagi Masjid Al-Muqorrobin yang bersebelahan dengan Gereja Gereja Masehi Injil Sangihe Talaud Mahanaim di jalan Enggano. Dua bangunan tempat ibadah yang berbeda ini telah berdiri berdampingan selama puluhan tahun. Layaknya hidup bertetangga hanya dipisahkan oleh tembok bangunan, dua jemaah tempat ibadah inipun hidup rukun.

Sampai kemudian pemerintah DKI Jakarta berencana merelokasi bangunan Gereja tersebut, para pengurus dan Jemaah masjid ini turut me-lobi para birokrat di Balai Kota. Namun sepertinya rencana pemerintah tersebut tetap dijalankan. Sayang sekali memang, namun pihak gerejapun ihlas dengan rencana tersebut demi kepentingan pembangunan dan kemaslahatan bersama.

Bandar Lampung – Provinsi Lampung

Yang ini di Tanjung Karang, Bang. hanya beberapa meter dari stasiun Kereta Api Tanjung Karang, Kota Bandar Lampung - Provinsi Lampung. pas di tusuk sate jalan Raden Inten.
Di Tanjung Karang, kota Bandar Lampung, Ibukota Propinsi Lampung. Bila anda sedang berkunjung ke sumatera lewat jalur darat anda bisa singgah ke masjid Taqwa Tanjung Karang, lokasinya hanya sepelemparan batu dari Stasiun Kereta Api Tanjung Karang. Masjid ini berdiri megah ‘nyaris’ berseberangan dengan gereja katedral Tanjung Karang. Kedua bangunan tempat ibadah ini sama sama berada di ruas jalan yang sama.

Muntok, Pulau Bangka – Provinsi Bangka Belitung

Dan ini adalah pemandangan khas kota Muntok di pulau Bangka Provinsi Bangka Belitung. Masjid Jami' Muntok bertetangga dengan Klenteng.
Jauh lebih tua lagi ada di Kota Mentok atau Muntok, Pulau Bangka, propinsi Bangka Belitung (Babel), Masjid Jami kota Muntok  dibangun tahun 1879 bersebelahan dengan sebuah kelenteng yang sudah berdiri 60 tahun lebih dulu dari bangunan masjid tersebut. Di Bangka dan Belitung memang sejak zaman kerajaan hingga kesultanan Palembang sudah menjadi kampungnya warga Thionghoa. Tak mengherankan bila banyak di jumpai bangunan klenteng di propinsi ini. Ulasan tentang masjid jami Muntok bisa dibaca disini

Provinsi Sulawesi Utara

Di kawasan wilayah transmigrasi Desa Mopuya, kabupaten Bolaan Mongondow, masyarakat setempat benar benar rukun meski berbeda agama. Mereka membangun tempat ibadah di komplek yang sama. tampak dalam foto di atas adalah Masjid Al-Muhajirin bersebelahan dengan Gereja Injil Mopuya. di komplek ini juga ada bangunan Pura.
Saya petikkan dua ikon kerukunan hidup beragama di provinsi Sulawesi Utara. Yakni Desa Mopuya di Kabupaten Bolaan Mangondow dan Bukit Kasih di kaki gunung Soputan, Minahasa. Di kabupaten Bolaan Mangondow tepatnya di Desa Mopuya, Kecamatan Dumoga, Kabupaten Bolaang Mongondow menjadi cermin betapa indahnya hidup damai. Masjid, gereja, pura telah puluhan tahun berdiri berdekatan tanpa saling mengusik satu sama lain. Malah tahun 1970 an, satu bangunan gantian dijadikan tempat beribadah.

Baru pada tahun 1973, mulailah dibangun tempat-tempat ibadah masing-masing pemeluk agama mendapat 2.500 meter persegi. Untuk umat Islam ditambah 2.500 meter persegi lagi untuk membangun madrasah. Jadilah enam rumah ibadah: Masjid Jami’ Al-Muhajirin, Gereja Masehi Injil Mopuya (GMIM) anggota PGI Jemaat Immanuel Mopuya, Pura Puseh Umat Hindu, Gereja KGPM Sidang Kalvari Mopuya, Gereja Katolik Santo Yusuf Mopuya untuk etnis tionghoa, dan Gereja Pantekosta berada dalam satu kawasan yang sama.

BUKIT KASIH. Begitu nama objek wisata religi di Minahasa ini. di puncak bukit ini sengaja dibangun tempat ibadah bagi masing masing lima agama. Tempat yang sangat menyenangkan tentunya untuk beribadah sekaligus berinteraksi langsung dengan pemeluk agama lain dalam kedamaian.
Bukit Kasih, adalah nama yang diberikan bagi sebuah bukit di kaki gunung Soputan dalam wilayah Desa Kanonang, kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Di bukit itu dibangun tempat ibadah bagi lima agama yang ada di Indonesia. Lokasinya berada sekitar 55 km dari kota Madano, Ibukota Sulawesi Utara dengan waktu tempuh sekitar 2 jam melewati jalanan di perbukitan dengan pemandangan menawan.

Untuk menuju kelima tempat ibadah itu, turis harus melewati ratusan anak tangga, Bukit Kasih ditandai dengan adanya monumen setinggi 22 meter. Monumen ini melambangkan simbol 5 agama di Indonesia di setiap sisinya, yaitu Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha. Monumen ini juga menjadi simbol kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Bukit Kasih. Komplek ini dibangun tahun 2002 yang lalu sebagai pusat keagamaan dimana semua pemeluk agama dapat berkumpul bersama di satu lokasi.

Bersambung ke Bagian-2