Thursday, June 6, 2013

Potret Kerukunan Beragama di Indonesia (Bagian-2)

Komplek Puja Mandala, Nusa Dua, Bali disini lima rumah ibadah bagi lima pemeluk agama dibangun berdampingan satu sama lain dalam komplek yang sama. Menjadikannya objek wusata baru bagi wisatawan yang berkunjung kesana.
Provinsi Bali

Bali terkenal dengan pariwisatanya hingga ke pelosok penjuru dunia. Di pulau Bali ada satu tempat yang terkenal dengan nama Komplek Puja Mandala, lokasinya berada di di Jalan Siligita Nusa Dua, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali. Di dalam komplek seluas 2 hektar ini berdiri lima rumah ibadah sekaligus sejak 15 tahun silam, yakni Masjid Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, Gereja Kristen Protestan Bukit Doa, Pura Jagat Natha dan Vihara Budhina Guna.

Komplek Puja Mandala dibangun atas bantuan PT BTDC (Bali Tourism Development Centre) yang pada awalnya dibangun sebagai sarana beribadah wisatawan yang berlibur di kawasan Nusa Dua. Seiring perjalanan waktu, Puja Mandala kini menjadi simbol toleransi antar umat beragama di Bali. Setiap musim liburan tiba, komplek Puja Mandala menjadi tujuan wisata religi. Utamanya dari wisatawan domestik, namun tak sedikit juga wisatawan asing.

Lamongan – Provinsi Jawa Timur

Rukunnya kehidupan antar umat beragama di Desa Balun di Kabupaten Lamongan ini sampai sampai Desa ini disebut desa Pancasila.
Desa Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menyimpan bukti kuatnya pengamalan kerukunan umat beragama di Indonesia. Tiga agama hidup berdampingan dan bebas melaksanakan ibadah masing-masing, di rumah ibadah masing-masing. Gereja Kristen Jawi Wetan hanya berjarak 50 meter dari Masjid Miftahul Huda yang Pura Sweta Maha Suci.

Masjid dan pura hanya dipisahkan jalan kampung selebar empat meter. Tak heran, Desa Balun terkenal dengan sebutan Desa Pancasila. Keragaman keyakinan terjalin sejak lama, saat masing-masing tokoh agama menyebarkan agama di desa tersebut. Sedikitnya 1.500 kepala keluarga, 75 persen warga Desa Balun beragama Islam, 15 persen beragama Kristen dan sepuluh persen sisanya beragama Hindu.

Surakarta – Jawa Tengah

Saking rukunnya dua pemeluk agama di dua rumah ibadah ini, sampai sampai bila hari raya lebaran jatuh di hari minggu, pihak Gereja akan mengundurkan jadwal kebaktian rutin mereka sampai Sholat Hari Raya selesai, maklumlah, halaman hingga jalanan di depan gereja ini akan penuh sesak dipakai oleh jemaah Masjid untuk sholat hari raya.
Salib besar menggantung kokoh di muka gereja. Di sebelahnya, lambang bulan sabit dan bintang gagah menjulang di atas kubah. Dua bangunan ibadah ini berdiri bersisian. Berbagi tembok pembatas. Dinding tempat imam masjid memimpin salat, berbatasan langsung dengan rumah pendeta. Masjid Al Hikmah dan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodinigratan bahkan berbagi alamat di Jalan Gatot Soebroto Nomor 222, Surakarta.

Bangunan Gereja dibangun tahun 1929. Sebelumnya gereja berada di kawasan Danukusuman. Gereja dipindah ke Joyodiningratan karena tak lagi muat menampung jemaat, sedangkan Masjid Al-Hikmah dibangun tahun 1947 diatas lahan milik Haji Ahmad Zaini, berawal dari pembangunan sebuah mushola disebelah utara bangunan gereja sampai kemudian dipugar dan diperluas menjadi bangunan Masjid Al-Hikmah.

Provinsi Jawa Timur

pemandangan menarik ini ada di Surabaya. dua rumah ibadah ini dibangun bersamaan dan diresmikanpun dalam waktu yang bersamaan, asik kan.
Pernah singgah ke Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) ?. perhatikan dengan seksama lingkungannya berada. Masjid tersebut dibangun bertetangga dengan Gereja Paroki Sakramen Mahakudus yang sama-sama berdiri bersebelahan di Jalan Pagesangan Baru. Istimewanya, kedua tempat ibadah yang berdiri megah ini, sama-sama mendapat persetujuan dari mantan Wali Kota Surabaya, Jawa Timur, Almarhum Cak Narto (H Soenarto Soemoprawiro) dengan peletakkan batu pertama oleh Wakil Presiden RI H Tri Sutrisno pada bulan Agustus 1995. Sedangkan pembangunannya, dimulai sejak September 1996.

10 Nopember 2000, Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS) dan Paroki Sakramen Mahakudus diresmikan secara bersamaan oleh Almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang saat itu masih menjabat sebagai presiden ke empat RI. Kedua tempat ibadah ini disepakati berdiri dan diresmikan secara bersamaan, sebagai simbol kerukunan umat beragama di Jawa Timur, khususnya di Surabaya, agar bangunannya sama-sama tinggi, sama-sama rendah, karena inilah wujud kebersamaan sebagai negara yang saling menghormati antar pemeluk agama.

di Kota Malang, Masjid Agung Jami Kota Malang dibangun bersebelahan dengan Gereja GPIB Immanuel.
Masih di provinsi Jawa Timur tepatnya di kota Malang. Di Alun Alun kota Malang berdiri megah Masjid Agung Jami kota Malang atau biasa juga disebut masjid besar Malang atau Masjid Agung Malang. Masjid tua dan bersejarah ini berdiri hanya beberapa meter dari Gereja GPIB Imanuel yang dibangun tahun 1861, jauh lebih dulu dari bangunan masjidnya yang dibangun tahun 1890. Karena dua bangunan ini saling berdekatan, tak mengeherankan bila pada sholat dua hari raya, ummat Islam yang tak tertampung di masjid meluber hingga ke depan bangunan Gereja.


Tentunya apa yang sudah disebutkan di atas hanya sebagian teramat kecil dari kerukunan hidup beragama di Indonesia. Islam mengajarkan “lakum di nukum walyadin” dalam konteks beragama. Untukmu agama-mu dan untukku agamaku.**

Kembali ke Bagian-1