Saturday, March 25, 2017

Masjid Agung Kota Kediri, Jawa Timur

Masjid Agung Kediri dari arah Alun Alun Kota Kediri. 

Masjid Agung Kediri adalah masjid termegah dan terbesar di kota Kediri, Sesuai dengan statusnya sebagai Masjid Agung bagi Kota Kediri, Masjid ini berdiri kokoh di depan alun alun kota Kediri di sebelah timur sungai Brantas serta berada di persimpangan jalan jurusan Surabaya dan Tulung Agung. Dari kejauhan sudah nampak menara-nya yang menjulang tinggi dengan kubah hijaunya. Bangunan masjid ini selesai dibangun pada tahun 2006 dibangun tiga lantai dengan memadukan berbagai gaya masjid dunia tanpa meninggalkan identitas masjid Nusantara.

Masjid agung Kediri juga dilengkapi dengan lantai basemen yang berfungsi sebagai area pendukung operasional seperti tempat wudhu, kamar mandi dan tempat parkir kendaraan bermotor. Lantai dasar masjid merupakan ruang serbaguna yang kini biasa digunakan untuk acara acara kegiatan keagamaan hingga prosesi ijab qobul dan acara pernikahan serta kegiatan lainnya. Ruang sholat ditempatkan di lantai dua dan lantai tiga.

Masjid Agung Kota Kediri
Jl. Panglima Besar Sudirman No.160
Kp. Dalem, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri
Jawa Timur 64129, Indonesia




Masjid Agung Kota Kediri ini dilengkapi dengan satu bangunan menara yang menjulang tinggi berada di sisi tenggara bangunan masjid dan sisi selatannya juga terdapat gedung perpustakaan masjid. Sederetan anak tangga di tempatkan di sisi depan masjid yang menghadap ke jalan Raya Panglima Sudirman sebagai akses bagi jamaah ke ruang utama masjid.

Jejeran pilar pilar beton bundar berukuran besar dan tinggi mendominasi sisi tampilan luar bangunan masjid ini. Jejeran pilar seperti ini dikenali sebagai salah satu ciri bangunan bangunan bergaya Eropa. Ciri khas masjid Nusantara masih melekat di masjid ini yang pada dasarnya berupa struktur atap yang berupa atap Joglo bersusun tiga.

Masjid Agung Kota Kediri, Dulu dan Kini.

Tiga tumpukan atap masjid ini tidak dirancang sejajar satu dengan lainnya melainkan bersilangan satu dengan lainnya menghasilkan atap masjid yang berdenah seperti bintang delapan bila dilihat dari udara. Bentuk atap tumpang bersilangan seperti ini dapat dijumpai di Masjid Said Naum Jakarta Pusat. Segi delapan dikenali sebagai salah satu simbol dunia Islam, sekaligus juga sebagai simbul delapan arah mata angin mengisyaratkan bahwa Islam menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Dipuncak tertinggi atap Masjid dilengkapi dengan sebuah kubah bewarna hijau. Kubah merupakan salah satu ciri universal sebuah bangunan Masjid. Pilar pilar tinggi dan besar di masjid ini mengingatkan kita pada bentuk pilar di Masjid Agung Pati yang dirancang oleh Prof. Muhammad Nu’man. Pilar pilar dengan bentuk nyaris serupa juga digunakan di Masjid The Foundation of Islamic Center of Thailand, Kedua Masjid yang disebut belakangan ini dibangun jauh lebih dulu sebelum Masjid Agung Kota Kediri.

Interior Masjid Agung Kota Kediri

Sentuhan bangunan masjid bergaya Usmaniyah (Muslim Eropa / Turki) sangat terasa saat di dalam masjid dan memandang tembok masjid yang massif dan tinggi dengan jendela jendela kaca berukuran besar. Sebuah mimbar kayu berukir sangat indah ditempatkan di ruang mihrab yang juga dihias dengan seni kaligrafi dari ukiran kayu yang sangat khas. Akan sulit bagi anda untuk menemukan mimbar berukir seperti ini di masjid masjid di luar Indonesia.

Masjid Agung Kota Kediri yang kini berdiri bukanlah bangunan masjid pertama di tempat tersebut. Kota Kediri sudah memiliki Masjid Agung Sejak Abad ke 17, sebuah masjid berkubah besar tanpa menara memiliki kemiripan dengan masjid masjid di tanah melayu Sumatera. Menyimak foto masa lalu masjid ini anda dengan mudah menemukan kemiripannya dengan Masjid Azizi Langkat, Masjid Raya Sulaimaniyah Serdang ataupun Masjid Al Osmani yang semuanya berada di Sumatera Utara. Hanya saja bangunan Masjid dari abad ke 17 tersebut sudah tak berbekas, berganti dengan Masjid megah yang kini berdiri.***