Thursday, August 16, 2012

Masjid An-Nuur Bio Farma, Bangunan Heritage dengan Nuansa Masjidil Haram

Masjid An-Nuur Bio Farma di Jalan Pasteur, Bandung

SETIAP bangunan masjid memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Begitu juga dengan Masjid An-Nuur Bio Farma di Jalan Pasteur, Bandung. Arsitektur di bagian luar memiliki ciri khas, yakni tetap menampilkan gaya heritage dengan banyaknya bentuk bangunan melengkung. Namun di bagian dalam masjid, jemaah akan merasakan nuansa Mekah atau Madinah karena ada semacam replika pohon kurma yang daunnya bisa menyala pada malam hari.

Masjid seluas 2.200 meter persegi ini mengambil nama dari masjid sebelumnya yang memang berada di Bio Farma. Dirancang oleh seorang arsitek ITB, masjid yang pembangunannya dimulai September 2011 ini cukup unik. Atapnya tidak seperti kebanyakan masjid yang memiliki kubah. Meski begitu, nuansa religius akan sangat terasa begitu kita menginjakkan kaki di masjid yang diresmikan oleh Komisaris Utama Prof Dr H Sam Soeharto Sp MK dan Direktur Utama PT Biofarma Drs Iskandar Apt MM pada 27 April 2012 ini.

Saat melangkah masuk, jemaah akan melihat sisi-sisi masjid yang didominasi bentuk bangunan melengkung. Menurut Ketua DKM Masjid An-Nuur, Drs Hasanurdin MSi, gaya melengkung mengikuti bangunan heritage yang mendominasi gaya-gaya gedung di sepanjang Jalan Pasteur, termasuk Gedung Kantor PT Bio Farma (Persero).

"Ini (gaya melengkung) memang mengikuti peninggalan heritage. Di sini disampaikan pesan juga bahwa Bio Farma ingin menjaga kelestarian sejarah. Selain itu, bentuk bangunan masjid ini ingin menyampaikan juga misi-misi perusahaan yang berglobalisasi dan berwawasan bioteknologi," katanya saat ditemui seusai kegiatan kuliah Zuhur di Masjid An-Nuur, Senin (23/7).

Melangkah lebih dalam lagi, para jemaah sebelum masuk masjid sudah dimanjakan dengan nuansa hijau karena banyaknya tanaman. Begitu juga saat akan mengambil air wudu, sebuah atap kaca akan membimbing jemaah ke ruangan wudu yang juga dilengkapi toilet. Ruangan wudu berada di lantai bawah masjid. Di ruangan ini juga terdapat loker penitipan serta dilengkapi dengan perangkat atau kotak perlengkapan P3K.

Tempat wudu sangat nyaman karena, selain luas, cukup banyak kran air yang bisa digunakan. Meski di lantai bawah, jemaah tidak perlu khawatir udara pengap atau gelap. Adanya atap kaca sebelum masuk ruang wudu serta taman kecil membuat sirkulasi udara di tempat ini bagus dan sejuk.

Saat akan masuk ke ruang utama masjid, jemaah akan melewati pintu kaca. Di sinilah jemaah akan merasakan keunikan dari masjid berlantai empat ini. Di bagian kanan dan kiri ruangan yang bisa menampung antara 1.000-1.500 orang jemaah ini terdapat replika pohon kurma lengkap dengan daunnya yang besar-besar. Uniknya lagi, daun-daun ini akan menyala pada malam hari yang juga bisa berfungsi sebagai penerangan atau lampu.

"Adanya replika pohon kurma ini ingin menciptakan nuansa Masjidil Haram di Masjid  An-Nuur. Dan pohon ini juga sebagai simbol kesuburan dan kemuliaan," kata Hasan.

Dan yang membedakan lagi dengan masjid lain, dilihat dari luar posisi bangunan Masjid An-Nuur lurus atau tidak miring, tapi saat masuk ke masjid, posisi bangunan seperti terlihat miring. Hal ini terjadi karena mengikuti arah kiblat. Untuk menyiasati agar jemaah tidak "pusing", terdapat tiang-tiang unik setinggi kurang lebih dua meter untuk memberi kesan kamuflase. Tiang-tiang dari tembaga ini juga bisa menyala semerah tembaga pada malam hari.

Bila melihat ke arah dinding dalam masjid, bisa dilihat nilai seni masjid ini, yakni dinding yang dibentuk atau seperti dipahat kaligrafi dengan warna-warni didominasi hijau tua dan hijau muda serta biru toska. Dinding kaligrafi ini hampir menutupi dinding bagian depan dalam masjid atau dinding tempat imam berdiri. Uniknya pula, pada malam hari, dinding kaligrafi ini akan memancarkan cahaya (glow in the dark). Dan untuk memperindah masjid ini, sebuah lampu gantung besar dan panjang dipasang di bagian atas masjid.

Di sisi masjid, sebuah menara menjulang setinggi 39 meter menambah megah Masjid An-Nuur. Bulan sabit di ujung menara ini pada malam hari akan memancarkan cahaya hijau dan bisa terlihat jelas dari berbagai arah, terlebih dari atas Jembatan Pasupati.

"Masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah wajib bagi jamaah, tapi juga dimanfaatkan karyawan Bio Farma sebagai tempat pembinaan. Ada jadwal-jadwal tertentu, para jamaah mendapat pembekalan yang sifatnya religius untuk menambah kejujuran dan amanah," katanya.

Ia juga mengatakan, pada saat Ramadan banyak kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini, yakni kuliah Zuhur, tarawih, iktikaf, pengumpulan zakat, dan salat Idulfitri. Pada hari raya, Masjid An-Nuur tercatat sebagai salah satu dari lima masjid di Bandung yang bisa menampung jemaah hingga 10.000 orang. Dan di luar Ramadan, Masjid An-Nuur juga menggelar kegiatan kajian-kajian Islam untuk karyawan dengan materi tafsir kajian hadit/akhlak/fikih dengan narasumber dari luar dan dari intern Bio Farma. (*)