Wednesday, August 8, 2012

Masjid Besar Rancaekek Saksi Bisu Syahidnya Pejuang

PERNAH DIBOM - Masjid Besar Rancaekek pernah menjadi saksi sebelas pejuang yang meninggal akibat bom yang diluncurkan Belanda. Masjid yang berada di Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung diyakini merupakan masjid tertua di Rancaekek.

MASJID Besar Rancaekek yang berada di Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung atau tepatnya di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya No 45 itu mungkin merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Rancaekek.

Sebab, tak satupun warga yang tinggal di daerah tersebut mengetahui sejarah berdirinya masjid itu. Bahkan, pengurus dewan keluarga masjid (DKM) pun sama sekali tidak memahami awal mula dibangunnya masjid tersebut.

Namun demikian ada seorang warga yang memahami seluk beluk dibangunnya Masjid Besar Rancaekek. Dia adalah Unang (75), mantan pengurus Masjid Besar Rancaekek tahun 1960-an. Dia pun sempat menjadi Lebe (penghulu) di Kantor Urusan Agama (KUA) yang berdiri tepat di sebelah utara Masjid Besar Rancaekek.

"Sekarang tugas saya hanya menjadi pengurus makam yang ada di seberang masjid," ujarnya ketika ditemui Tribun di kediamannya, Rabu (1/8/2012) sore.

Pria kelahiran 12 Desember 1937 ini menceritakan masjid itu berdiri di atas tanah wakaf dari seorang pria keturunan demang (sebutan polisi semasa penjajahan) sebelum Indonesia merdeka. Unang mengatakan, pria yang memiliki nama Ir Hasan itu mewakafkan tanah itu dengan luas sekitar satu hektar.

"Separuh untuk bikin masjid dan sebagian lagi untuk makam," ujarnya.

Ia pun mengaku, makam yang berada di sebelah barat masjid itu kerap disambangi orang dari luar daerah untuk meminta petunjuk pada waktu tertentu. Itu sebabnya banyak warga beranggapan jika masjid besar Rancaekek merupakan masjid tertua di wilayah Bandung Timur.
"Sebagian makam di Makam Kaum ini memang dikeramatkan," ujarnya yang tak mau menyebut nama makam yang dikeramatkan itu.

Selain itu, pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri) Kecamatan Rancaekek itu mengatakan, makam itu juga pernah menjadi tempat peristirahatan terakhir para pejuang yang meninggal ketika perang di tahun 1946.

"Ada sebelas pejuang dikubur di sini," ujarnya. Mereka, kata Unang, meninggal akibat bom yang meledak lantaran Belanda ingin menghancurkan tempat pemancar radio yang ada di Rancaekek. "Mereka berkumpulnya di masjid," katanya.

Tak hanya menewaskan para pejuang saja, Unang bercerita beberapa bagian bangunan masjid juga hancur. Renovasi pun pun dilakukan untuk memperbaiki kerusakan akibat bom. Sejak saat itu, sudah tiga kali masjid besar ini dirombak.

Meski begitu, konon katanya masjid itu sudah ada di tahun 1815. Karena itu masjid itu menjadi masjid di kecamatan Rancaekek dan bernama Masjid Besar Rancaekek. Menurut Unang, nama itu juga menceritakan sejarah dibentuknya masjid itu.

"Katanya masjid ini awalnya dibangun dengan bambu. Tapi kata ayah saya awalnya masjid ini dibangun pada tahun 1910," ujarnya.

Saat itu, kata Unang, masjid berdiri megah diantara balong-balong (kolam ikan) "Waktu saya kecil ada tiga balong. Dan tepat di bawah masjid juga ada balong," ujarnya.

Menurut Unang, untuk pertama kalinya masjid itu dirombak pada 1949 dampak dari bom yang meledak. Waktu itu, kata Unang, atap masjid berbentuk segitiga dan tepat di bawahnya terdapat tempat bedug yang diyakini jika dipukul, suaranya menggema hingga terdengar ke Gedebage. "Dulu kan belum ada pengeras suara seperti sekarang," ujarnya.

Untuk yang kedua kalinya, masjid itu dirombak pada tahun 1986. Menurutnya, ukuran masjid diperlebar dan ditinggikan sekitar 60 cm lantaran makin banyak yang beribadah. "Waktu itu untuk pertama kalinya masjid itu menggunakan anak tangga. Mungkin dulu sudah diperkirakan untuk mengantisipasi banjir," katanya.

Terakhir kalinya, kata Unang, masjid itu dirombak pada tahun 2006 hingga pada akhirnya diresmikan Bupati Bandung yang pada waktu masih dijabat Obar Sobarna. "Sekarang masjid sudah pakai menara dan sudah pakai kubah," ujarnya.

Bagi warga letak masjid yang bercat hijau ini memang sangat statregis. Sebab, berada di jalan yang menghubungkan tiga kecamatan, yakni Rancaekek, Solokanjeruk, dan Majalaya. Karena itu masjid ini selalu ramai di setiap waktu meski belum masuk waktu solat. "Masjid ini sejuk, dingin dan nyaman untuk singgah meski hanya untuk istirahat," ujar Iqbal Muhammad kemarin.
Meski tak diketahui asal usul masjid tersebut, warga sekitar tetap menggunakan Masjid Besar Rancaekek untuk beribadah terutama di bulan Ramadan ini.