Saturday, August 4, 2012

Melihat Panepen, Masjid Pribadi Keluarga Keraton

di dalam masjid Panepen

Sekilas bangunan Masjid Panepen lebih mirip surau. Terletak di dalam kompleks Keraton Kilen, tempat keluarga Sultan Hamengku Buwono X tinggal. Dari bangunan inilah, laku spiritual yang ada di keraton bersumber.

SUASANA sunyi sangat terasa begitu memasuki kompleks Keraton Kilen dimana Masjid Panepen berada. Halamannya tidak begitu luas. Dari luar, tampak bangunan putih dengan kombinasi hijau. Masjid ini sangat khas dengan unsur budaya Jawa.

Memasuki ruangan masjid, di dalamnya hanya ada beberapa abdi dalem keraton. Salah seorang dari mereka dengan khidmat melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Kegiatan tadarus seperti ini rutin dilakukan tiap Ramadan.

Masjid berukuran 7x12 meter ini memiliki dua ruangan, bangunan inti dan serambi. Di bagian dalam terdapat enam jendela bercat hijau tua, dan di bagian tengah ada empat soko guru atau tiang yang menopang atap bangunan berbentuk joglo. Jarak tiap tiang bulat tanpa ukiran tersebut sekitar dua meter, bercat hijau tua, dipadu dengan dinding putih. Kayu jati yang menjadi bagian dari bangunan ini masih utuh.

Pengirit Abdi Dalem Punokawan Kaji Raden Riyo Haji Abdul Ridwan menjelaskan, Panepen adalah masjid pribadi keluarga keraton. Tidak semua orang bisa menggunakannya.

”Selama Ramadan ini, Ngarso Dalem tidak salat di sini. Masjid ini juga tidak digunakan untuk tarawih,” terang Ridwan ketika ditemui di Masjid Panepen,  Kamis (2/8).

Sebagai masjid pribadi, dalam waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menyendiri raja. Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, Sultan berkholwat kepada Sang Pencipta.

Kapan waktu-waktu Sultan menyendiri untuk berkholwat? Ridwan mengungkapkan, biasanya pada malam hari di waktu yang tidak dapat dipastikan. ”Biasanya jika ada firasat buruk terhadap situasi di Jogjakarta, barulah Sultan menyendiri di Masjid Panepen,” jelas Ridwan.

Sebagai bukti bahwa bangunan ini memang digunakan Sultan untuk kegiatan meditasi seperti itu, terdapat sisi bangunan di bagian depan yang lantainya 15 cm lebih tinggi dari yang lain. Di tempat yang bernama palenggehan dalem itulah biasanya Sultan menyendiri.

Menurut Ridwan, dari pengalaman sebelumnya, saat Merapi dalam kondisi akan erupsi dan gempa 2006, ritual gelar doa dilakukan di Masjid Panepen. Cara-cara ini, menurut dia, merupakan langkah yang dilakukan oleh seorang raja, guna mengharapkan keselamatan dari Sang Pencipta.

Setiap Sultan mendapat firasat buruk, Ridwan mengatakan para Abdi Dalem didhawuhi ritual. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari khataman Alquran hingga tawasulan. Bahkan ada ritual tiga jam tidak boleh bersandar, tidak boleh ngantuk, tidak boleh berhenti bertadarus, dan selalu mengucap asma Allah.

”Makanya kalau dhawuh itu sendiri, kadang sama teman yang lain, pasti pakai ganjil. Pernah 59 abdi dalem,” terangnya.

Ritual yang dilakukan, menurut Ridwan, bukan kegiatan yang melenceng. Karena inti kegiatan menyampaikan permohonan kepada Sang Pencipta dengan mengagungkan asma-Nya. ”Di samping mengirim doa kepada yang telah mendahului,” terangnya.

Sedangkan pada hari-hari bisa, Masjid Panepen yang sudah ada sejak pemerintahan HB I ini menjadi tempat kegiatan abdi dalem Punokawan Kaji yang jumlahnya 12 orang. Selain itu, pengurusan Masjid Panepen juga dibantu abdi dalem Suronoto yang dulunya berada di masjid Surowinatan atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kagungan Rotowijayan.

”Sehari-harinya masjid ini dijaga dan dirawat tiga orang, seorang dari Konco Kaji, serta dua dari Konco Suranata,” terangnya.

Di bulan Ramadan seperti sekarang ini, kegiatan yang dilakukan hanyalah tadarus Alquran yang dilakukan abdi dalem. Biasanya secara bergantian dalam sehari. ”Masjid Panepen ini juga masjid yang digunakan untuk menikahkan putri Sultan selama ini,” terangnya. (*/tya)