Thursday, August 16, 2012

Masjid Uswatun Hasanah, Istiqlal Mini di Nagreg

Masjid Uswatun Hasanah, Istiqlal Mini di Nagreg

SIAPA sangka terdapat masjid yang berjuluk "Masjid Istiqlal mini" pinggir Jalan Raya Nagreg? Masjid bernama Uswatun Hasanah ini berada di kawasan turunan Nagreg, tepat di pinggir jalan yang selalu dilewati pengendara dari Bandung menuju Tasikmalaya dan Garut, atau sebaliknya.

Disebut sebagai Masjid Istiqlal mini karena bentuk ketiga kubahnya sama persis dengan bentuk kubah kecil di Masjid Istiqlal di Jakarta. Hanya saja, tiga kubah ini sekarang bercat warna keemasan. Selain itu, semen yang digunakan untuk membangun masjid ini pun sama persis dengan jenis semen yang digunakan pada Masjid Istiqlal, yakni Pazzolan Trass.

Masjid Uswatun Hasanah didirikan oleh Ili Sasmitaatmaja, warga sekitar tempat masjid tersebut berdiri, yakni di Kampung Paslon, Desa Ciherang, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, 17 Agustus 1958. Ili sempat menjadi panitia pembangunan Masjid Istiqlal di Jakarta dan memiliki hubungan sangat dekat dengan mantan presiden Soekarno.

Anggota DKM Uswatun Hasanah, Nurdin Setiawan (50), mengatakan, gaya bangunan masjid ini sangat dipengaruhi arsitektur Masjid Istiqlal, termasuk spesifikasi bangunannya. Semen jenis khusus dari Jerman yang digunakan untuk pembangunannya membuat masjid ini sangat kokoh.

"Walaupun sudah berusia puluhan tahun, dinding masjid ini tidak bisa dipaku menggunakan paku beton, kecuali menggunakan mesin bor. Mantan presiden Soekarno meminta Pak Ili supaya membuat masjid yang bisa kuat sampai seribu tahun. Dan Masjid Uswatun Hasanahlah masjid itu," kata Nurdin saat ditemui di masjid tersebut, Sabtu (11/8).

Walaupun sering bergetar akibat truk yang melintasi Jalan Raya Nagreg, dinding masjid ini tidak pernah retak. Begitu pun dengan bagian kubah dan menaranya.

Masjid Uswatun Hasanah memang terlihat mungil, hanya bisa menampung sekitar 84 warga pada saat salat berjemaah. Namun, selasar dan halamannya yang luas bisa menampung ratusan warga. Masjid ini dilengkapi sebuah menara, kolam ikan, dan taman, yang membuat masjid ini makin sedap dipandang.

Nurdin mengatakan, sejak berdiri, masjid ini selalu digunakan juga sebagai tempat persinggahan para musafir untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung atau Garut. Karena itu, masjid ini memiliki lapangan parkir luas, deretan toilet, dan rumah makan, yang disediakan untuk para musafir.

"Sebelum ada tempat pelayanan kesehatan dan pos lainnya di Nagreg, masjid ini selalu menjadi tempat pengobatan korban kecelakaan. Kalau masuk masa mudik Lebaran,  banyak yang tidur dan mandi di masjid ini," kata Nurdin, yang sudah menjadi anggota DKM sejak sekolah di SD.

Masjid Uswatun Hasanah, ujarnya, berperan penting pada saat dilakukan operasi pagar betis untuk mengepung para pemberontak DI/TII. Masyarakat sekitar menganggap masjid ini sebagai tempat paling aman dari serangan para pemberontak tersebut.

Menjelang masa mudik dan balik Lebaran, masjid ini terus berbenah untuk menyambut para pemudik yang membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak atau salat sambil menikmati keunikan "Masjid Istiqlal mini" di Nagreg ini. (*)