Wednesday, August 8, 2012

Masjid Kikisik Luput Dari Terjangan Lahar Gunung Galunggung

Masjid Kikisik
MASJID Kikisik, yang terletak di kaki Gunung Galunggung, tampak tak berbeda dengan masjid pada umumnya. Namun masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren (Pontren) Kikisik, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, ini pernah membuat heboh warga Tasikmalaya dan sekitarnya saat Galunggung meletus tahun 1982.

Ketika lahar mulai turun dan memorak-porandakan apa saja yang dilewatinya, Masjid Kikisik, yang hanya berjarak sekitar 5 km dari kawah dan masuk daerah bahaya I, luput dari terjangan kawah. Padahal, masjid beserta kobong serta puluhan rumah penduduk berada di lokasi cekungan.

"Memang, secara logika, lahar seharusnya masuk dan menimbun masjid beserta pesantren dan rumah penduduk karena berada di daerah cekungan. Namun hal itu tidak sampai terjadi. Lahar malah berbelok ke arah utara dan selatan sehingga masjid dan sekitarnya selamat dari terjangan lahar," kenang H Kusnadi, pengelola Pontren Kikisik, saat ditemui Selasa (24/7/2012).

Lolosnya masjid dari terjangan lahar akhirnya menjadi buah bibir warga Tasikmalaya. Saat situasi aman, warga berbondong-bondong ingin menyaksikan keajaiban itu. Seorang saksi mata peristiwa tersebut, Uu Suhartadi (68), warga Jalan Bantar, menyebut kejadian itu sebagai peristiwa tak terlupakan.

"Jika melihat lokasi daerahnya, masjid tersebut seharusnya tertimbun lahar. Tapi lahar malah hanya melintas dari sisi utara dan selatan masjid," tutur Uu, yang mengaku beberapa saat setelah kejadian, ia langsung menuju lokasi untuk memantau keadaan masjid, pesantren, dan rumah penduduk. Semuanya dalam keadaan selamat tak kurang suatu apa.

Menurut penuturan Kusnadi, bukan tanpa sebab masjid, pesantren, dan rumah penduduk luput dari terjangan lahar. Pendiri Pontren Kikisik, mendiang KH Ahmad Sadeli, ayah kandung Kusnadi, yang saat itu masih hidup, melakukan upaya-upaya yang tidak bisa dicerna akal sehat agar lahar tidak menerjang.

"Mama (panggilan KH Ahmad Sadeli, Red) awalnya memberi tahu kami dan warga bahwa akan ada lahar yang datang. Kami kemudian diajak serta menuju arah barat dan berdiri menghadap arah kawah. Sebelum lahar datang, Mama memasang sejumlah barangbang (daun kelapa, Red) dan batu di depan. Begitu lahar datang, lahar itu langsung berbelok ke arah utara dan selatan," ujar Kusnadi.

Meski luput dari terjangan lahar, masjid yang saat itu hanya berukuran 12x9 meter tersebut masih tetap terkena hujan abu hingga ketebalan mencapai sekitar 30 cm. Bahkan sejumlah genting bolong terkena jatuhan batu. "Sempat ada batu yang melayang sebesar meja. Tapi untung jatuh di tengah kolam," kata Kusnadi.

Setelah letusan Galunggung mereda pada tahun 1983, KH Ahmad Sadeli berinisiatif melakukan rehab terhadap masjid yang dibangun tahun 50-an itu. Pasalnya, kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Terutama abu tebal yang masih menempel di genting. Namun pelaksanaan rehab baru bisa terlaksana tahun 1984 karena terkendala biaya.

"Untuk menghemat biaya, kami memanfaatkan abu di atas genting untuk membuat batako. Cetakannya mendapat bantuan dari Dinas PU provinsi. Ukuran masjid diperluas menjadi 25x12 meter. Masjid selalu penuh oleh jemaah warga sekitar karena memang mereka merasa pertolongan Allah turun lewat masjid tersebut. Jika lahar menerjang dan menimbun Masjid Kikisik, maka sekitar 100 KK warga sekitar pun akan terkubur," kata Kusnadi.

Warga sekitar terus memakmurkan masjid hingga saat ini. Bahkan bangunannya pun terus dipercantik. Saat ini tampilannya sudah memperlihatkan sebuah masjid modern. Ditandai dengan pemasangan keramik-keramik sebagai hiasan serta berpagar besi antikarat (stainless steel).

Memasuki bulan suci Ramadan 1433 H, kemakmuran masjid bertambah dengan adanya program kuliah Ramadan bagi anak-anak sekolah. Kompleks Pontren Kikisik sendiri kini memiliki 60 santri, 200 siswa MTs, serta 40 murid TK. Selain warga setempat, ada juga santri yang datang dari Jakarta, Karawang, Bandung, dan Kuningan.
"Untuk menghindari tumpang tindih kegiatan, kuliah Ramadan dilaksanakan pagi setelah pengajian yang dilakukan setelah salat Subuh," kata Kusnadi.

Selain sebagai tempat menuntut ilmu agama, Pontren Kikisik juga sejak dulu dikenal sebagai tempat pengobatan alternatif, terutama patah tulang.