Sunday, October 15, 2017

Masjid Damarjati Tertua di Salatiga

Sebagai masjid tertua di Salatiga, Masjid Damarjati ini tidak tampak lagi ketuaannya dan terlihat seperti masjid masjid baru pada umumnya, namun sejarah perkembangan Islam di Salatiga di mulai dari Masjid ini.

Masjid Damarjati terletak disebuah gang di Jalan Beringin, Krajan, Salatiga, tidak tampak kesan istimewa ketika melihat bangunan masjid Damarjati dari luar yang sudah seperti bangunan baru Namun masjid ini merupakan cikal bakal sejarah penyebaran ajaran agama Islam di kota Salatiga. Masjid Damarjati merupakan masjid pertama dan tertua yang dibangun di Kota Salatiga.

Masjid Damarjati merupakan masjid tertua di Salatiga yang didirikan pada tahun 1826 oleh Ki Ronosetiko Laskar Pangeran Diponegoro yang dibantu oleh Kyai Damarjati.  Dari sisi sejarah, Masjid Damarjati ini memiliki kesamaan dengan Masjid  Al- Atiiq yang terletak di Kauman atau Jalan KH Wahid Hasyim Nomor 2, yakni sama- sama didirikan oleh laskar Pangeran Diponegoro.

Masjid Damarjati
Jl. Damarjati No. 05 RT 02 RW 05 Krajan Kel. Salatiga
Jawa Tengah 50711



Masjid Damarjati telah mengalami renovasi beberapa kali dalam salah satu renovasi dibuat prasasti yang berisikan sekelumit sejarah dibangunnya Masjid Damarjati dan orang-orang yang berjasa membangun kembali Masjid Damarjati yang hampir runtuh. Bangunan suci yang sudah berusia 190 tahun tersebut, hingga sekarang tetap berfungsi kendati lokasinya berhimpitan dengan rumah warga.

Masjid Damarjati yang menempati lahan seluas 369 meter persegi ini, sudah mengalami dua kali renovasi. Sesuai prasasti yang menempel di dinding , pemugaran pertama di tahun 1978 dan renovasi kedua di tahun 2007.

Proses pemugaran secara besar-besaran dilakukan pada tanggal 29 Desember 1978 dengan peletakan batu pertama oleh DAM REM 073 Makutoromo dan Muspida Kodim Salatiga. Berikutnya, di tahun 2007 kembali dipugar.  Selain gentingnya diganti asbes, belakangan kubahnya juga dibuat dua buah. Sampai sekarang, Masjid yang kapasistasnya mencapai 200 orang tersebut tetap difungsikan kendati areal parkirnya sangat sempit.

Kondisi bagian dalam Masjid Damarjati seperti masjid-masjid yang baru saja dibangun namun tampak sederhana. Tidak ada ornamen-ornamen yang menghiasi di sekeliling masjid.  Ruangan dalam masjid cukup sempit dan terdapat dua ruangan yang terpisah.

Dengan dinding masjid yang telah dilapisi porselen dan karpet sebagai alas buat sholat yang biasa kita temukan di masjid-masjid yang lain. Namun dibalik kesan yang biasa tersebut banyak orang tidak mengira bahwa cikal bakal sejarah penyebaran Agama Islam kota Salatiga bermula dari Masjid Damarjati ini.

Masjid Damarjati, Salatiga

Sejarah masjid damarjati

Bila Masjid Al - Atiiq didirikan di tahun 1918 oleh Rono Sentiko, biasa disebut Kyai Rono Sentiko yang juga merupakan laskar Pangeran Diponegoro. Sebaliknya, Masjid Damarjati juga dibangun dirinya bersama Kyai Sirojudin tahun 1826 yang tak lain adalah sahabat Kyai Rono Sentiko. Belakangan Kyai Sirojudin yang diduga usianya lebih tua dibanding karibnya, akhirnya berganti nama menjadi Kyai Damarjati.

Kehadiran Kyai Damarjati dan Kyai Rono Sentiko, sebenarnya ditugaskan ke Salatiga untuk memata- matai pergerakan pasukan Belanda. Maklum, di tahun tersebut, Salatiga memang menjadi basis militer pemerintahan kolonial. Agar aktifitasnya tak dicurigai pihak penjajah, dua sahabat itu berpisah. Kyai Rono Sentiko menempati kampung Bancakan (sekitar 3 kilo meter dari kampung Krajan), sementara Kyai Damarjati tetap berada di kampung Krajan.

Untuk memuluskan perlawanannya dalam melawan pasukan kolonial,duet  Kyai Damarjati dan Kyai Rono Sentiko  mendirikan mushola di tempat Masjid Damarjati berdiri. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, mushola juga dimanfaatkan guna menyusun strategi perang gerilya. Sementara Kyai Rono Sentiko, belakangan membangun Masjid Al- Atiiq usai perang Diponegoro berakhir. Ditengarai, hengkang nya Kyai Rono sentiko dari kampung Krajan inilah yang membuat nama Kyai Damarjati lebih banyak dikenal sebagai pendiri Masjid.

Mushola yang dibangun oleh dua karib laskar Pangeran Diponegoro tersebut, seiring dengan perkembangan agama Islam di Salatiga akhirnya diubah menjadi Masjid. Untuk mengenang jasa  Kyai Damarjati , namanya diabadikan sebagai nama Jalan sekaligus nama Masjid. Saat beliau wafat, belakangan dimakamkan di depan Masjid yang hanya dipisahkan jalan. Ada satu pintu tersendiri bagi peziarah yang ingin berkirim doa sekaligus ziarah ke makam beliau.

------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
🌎 informasi dunia Islam.
------------------------------------------------------------------

Referensi


Baca Juga