Thursday, August 16, 2012

Masjid Besar Lembang, Tempat Mengungsi Korban Gerombolan DI/TII

Masjid Besar Lembang

EMPAT menara berdiri tegak di setiap sudut bangunan masjid. Satu menara lagi berdiri di sudut kanan halaman masjid. Kelima menara dengan bentuk serupa ini menambah kesan anggun dan cantiknya Masjid Besar Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Didominasi cat warna hijau muda, masjid yang terletak di depan Alun-alun Lembang atau tepatnya di Kampung Kaum, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, ini selama puluhan tahun menjadi tempat peribadatan warga sekitar.

Tidak diketahui pasti kapan masjid ini berdiri. Tidak ada literatur dan saksi mata yang bisa menjelaskan sejarah pendirian masjid tersebut. Namun satu hal yang pasti, masjid ini pernah menjadi tempat pengungsian warga korban dari gerombolan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).

"Saya masih ingat, dulu masjid ini pernah jadi tempat pengungsian korban gerombolan (DI/TII)," kata Asep Suherman (70), pria yang lahir dan besar di Kampung Kaum, tak jauh dari Masjid Besar Lembang, Rabu (8/8).

Menurut Asep, saat itu para pengungsi dari kawasan Jayagiri yang rumahnya dibakar memilih berlindung di masjid ini. Meski kondisi masjidnya saat itu masih sederhana, ukurannya kecil dan bangunannya perpaduan dari tembok dan kayu, para pengungsi tetap betah karena merasa aman berada di dalam masjid tersebut.

Seiring dengan perkembangan zaman, Masjid Besar Lembang pun beberapa kali direnovasi. Tercatat pada 1979 dimulai renovasi besar-besaran atas prakarsa Camat Lembang (saat itu) Nonon Sonthani. Belakangan Nonon menjadi Wali Kota Bekasi.

Selain merenovasi bangunan, luas lahannya pun ditambah. Kini luas lahan Masjid Besar Lembang mencapai 4.000 meter persegi. Adapun luas bangunannya mencapai 2.000 meter persegi. Saat ini bangunan masih satu lantai. Rencananya dipersiapkan untuk dua lantai.

"Renovasi ini sampai sekarang belum selesai. Jadi kami terus membangun dan mempercantik masjid ini," kata Eutik M Zaelani, Ketua Bidang Imaroh (Kemakmuran) DKM Masjid Besar Lembang.

Selain pembangunan secara fisik, kata Eutik, di masjid ini juga digelar sejumlah aktivitas keagamaan. Mulai dari salat berjemaah hingga pendidikan keagamaan untuk anak-anak.

"Kami memiliki pendidikan setingkat taman kanak-kanak. Ada TK Alquran, ada TK Taman Pendidikan Alquran, ada Madrasah Diniyah. Kami juga menggelar pengajian anak-anak setiap magrib. Juga ada pengajian rutin ibu-ibu," kata Eutik.

Di bulan Ramadan ini, aktivitas keagamaan pun semakin meningkat. Selain menggelar salat tarawih berjemaah, kuliah subuh, dan pertemuan remaja masjid, DKM Masjid Besar Lembang juga menyediakan takjil setiap hari untuk mereka yang hendak berbuka puasa.

"Kami juga kerap menggelar tablig akbar. Beberapa dai kondang pernah ceramah di sini. Di antaranya Pak EZ Mutaqin, Miftah Faridl, Aa Gym, Zainuddin MZ, Kiai Ghazali.  Bahkan pernah juga ulama besar Kiai Anwar Musaddad," ujar Eutik. (*)


Masjid An-Nuur Bio Farma, Bangunan Heritage dengan Nuansa Masjidil Haram

Masjid An-Nuur Bio Farma di Jalan Pasteur, Bandung

SETIAP bangunan masjid memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Begitu juga dengan Masjid An-Nuur Bio Farma di Jalan Pasteur, Bandung. Arsitektur di bagian luar memiliki ciri khas, yakni tetap menampilkan gaya heritage dengan banyaknya bentuk bangunan melengkung. Namun di bagian dalam masjid, jemaah akan merasakan nuansa Mekah atau Madinah karena ada semacam replika pohon kurma yang daunnya bisa menyala pada malam hari.

Masjid seluas 2.200 meter persegi ini mengambil nama dari masjid sebelumnya yang memang berada di Bio Farma. Dirancang oleh seorang arsitek ITB, masjid yang pembangunannya dimulai September 2011 ini cukup unik. Atapnya tidak seperti kebanyakan masjid yang memiliki kubah. Meski begitu, nuansa religius akan sangat terasa begitu kita menginjakkan kaki di masjid yang diresmikan oleh Komisaris Utama Prof Dr H Sam Soeharto Sp MK dan Direktur Utama PT Biofarma Drs Iskandar Apt MM pada 27 April 2012 ini.

Saat melangkah masuk, jemaah akan melihat sisi-sisi masjid yang didominasi bentuk bangunan melengkung. Menurut Ketua DKM Masjid An-Nuur, Drs Hasanurdin MSi, gaya melengkung mengikuti bangunan heritage yang mendominasi gaya-gaya gedung di sepanjang Jalan Pasteur, termasuk Gedung Kantor PT Bio Farma (Persero).

"Ini (gaya melengkung) memang mengikuti peninggalan heritage. Di sini disampaikan pesan juga bahwa Bio Farma ingin menjaga kelestarian sejarah. Selain itu, bentuk bangunan masjid ini ingin menyampaikan juga misi-misi perusahaan yang berglobalisasi dan berwawasan bioteknologi," katanya saat ditemui seusai kegiatan kuliah Zuhur di Masjid An-Nuur, Senin (23/7).

Melangkah lebih dalam lagi, para jemaah sebelum masuk masjid sudah dimanjakan dengan nuansa hijau karena banyaknya tanaman. Begitu juga saat akan mengambil air wudu, sebuah atap kaca akan membimbing jemaah ke ruangan wudu yang juga dilengkapi toilet. Ruangan wudu berada di lantai bawah masjid. Di ruangan ini juga terdapat loker penitipan serta dilengkapi dengan perangkat atau kotak perlengkapan P3K.

Tempat wudu sangat nyaman karena, selain luas, cukup banyak kran air yang bisa digunakan. Meski di lantai bawah, jemaah tidak perlu khawatir udara pengap atau gelap. Adanya atap kaca sebelum masuk ruang wudu serta taman kecil membuat sirkulasi udara di tempat ini bagus dan sejuk.

Saat akan masuk ke ruang utama masjid, jemaah akan melewati pintu kaca. Di sinilah jemaah akan merasakan keunikan dari masjid berlantai empat ini. Di bagian kanan dan kiri ruangan yang bisa menampung antara 1.000-1.500 orang jemaah ini terdapat replika pohon kurma lengkap dengan daunnya yang besar-besar. Uniknya lagi, daun-daun ini akan menyala pada malam hari yang juga bisa berfungsi sebagai penerangan atau lampu.

"Adanya replika pohon kurma ini ingin menciptakan nuansa Masjidil Haram di Masjid  An-Nuur. Dan pohon ini juga sebagai simbol kesuburan dan kemuliaan," kata Hasan.

Dan yang membedakan lagi dengan masjid lain, dilihat dari luar posisi bangunan Masjid An-Nuur lurus atau tidak miring, tapi saat masuk ke masjid, posisi bangunan seperti terlihat miring. Hal ini terjadi karena mengikuti arah kiblat. Untuk menyiasati agar jemaah tidak "pusing", terdapat tiang-tiang unik setinggi kurang lebih dua meter untuk memberi kesan kamuflase. Tiang-tiang dari tembaga ini juga bisa menyala semerah tembaga pada malam hari.

Bila melihat ke arah dinding dalam masjid, bisa dilihat nilai seni masjid ini, yakni dinding yang dibentuk atau seperti dipahat kaligrafi dengan warna-warni didominasi hijau tua dan hijau muda serta biru toska. Dinding kaligrafi ini hampir menutupi dinding bagian depan dalam masjid atau dinding tempat imam berdiri. Uniknya pula, pada malam hari, dinding kaligrafi ini akan memancarkan cahaya (glow in the dark). Dan untuk memperindah masjid ini, sebuah lampu gantung besar dan panjang dipasang di bagian atas masjid.

Di sisi masjid, sebuah menara menjulang setinggi 39 meter menambah megah Masjid An-Nuur. Bulan sabit di ujung menara ini pada malam hari akan memancarkan cahaya hijau dan bisa terlihat jelas dari berbagai arah, terlebih dari atas Jembatan Pasupati.

"Masjid ini tidak hanya sebagai tempat ibadah wajib bagi jamaah, tapi juga dimanfaatkan karyawan Bio Farma sebagai tempat pembinaan. Ada jadwal-jadwal tertentu, para jamaah mendapat pembekalan yang sifatnya religius untuk menambah kejujuran dan amanah," katanya.

Ia juga mengatakan, pada saat Ramadan banyak kegiatan yang dilaksanakan di masjid ini, yakni kuliah Zuhur, tarawih, iktikaf, pengumpulan zakat, dan salat Idulfitri. Pada hari raya, Masjid An-Nuur tercatat sebagai salah satu dari lima masjid di Bandung yang bisa menampung jemaah hingga 10.000 orang. Dan di luar Ramadan, Masjid An-Nuur juga menggelar kegiatan kajian-kajian Islam untuk karyawan dengan materi tafsir kajian hadit/akhlak/fikih dengan narasumber dari luar dan dari intern Bio Farma. (*)

Wednesday, August 8, 2012

Masjid Kikisik Luput Dari Terjangan Lahar Gunung Galunggung

Masjid Kikisik
MASJID Kikisik, yang terletak di kaki Gunung Galunggung, tampak tak berbeda dengan masjid pada umumnya. Namun masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren (Pontren) Kikisik, Desa Gunungsari, Kecamatan Sukaratu, Kabupaten Tasikmalaya, ini pernah membuat heboh warga Tasikmalaya dan sekitarnya saat Galunggung meletus tahun 1982.

Ketika lahar mulai turun dan memorak-porandakan apa saja yang dilewatinya, Masjid Kikisik, yang hanya berjarak sekitar 5 km dari kawah dan masuk daerah bahaya I, luput dari terjangan kawah. Padahal, masjid beserta kobong serta puluhan rumah penduduk berada di lokasi cekungan.

"Memang, secara logika, lahar seharusnya masuk dan menimbun masjid beserta pesantren dan rumah penduduk karena berada di daerah cekungan. Namun hal itu tidak sampai terjadi. Lahar malah berbelok ke arah utara dan selatan sehingga masjid dan sekitarnya selamat dari terjangan lahar," kenang H Kusnadi, pengelola Pontren Kikisik, saat ditemui Selasa (24/7/2012).

Lolosnya masjid dari terjangan lahar akhirnya menjadi buah bibir warga Tasikmalaya. Saat situasi aman, warga berbondong-bondong ingin menyaksikan keajaiban itu. Seorang saksi mata peristiwa tersebut, Uu Suhartadi (68), warga Jalan Bantar, menyebut kejadian itu sebagai peristiwa tak terlupakan.

"Jika melihat lokasi daerahnya, masjid tersebut seharusnya tertimbun lahar. Tapi lahar malah hanya melintas dari sisi utara dan selatan masjid," tutur Uu, yang mengaku beberapa saat setelah kejadian, ia langsung menuju lokasi untuk memantau keadaan masjid, pesantren, dan rumah penduduk. Semuanya dalam keadaan selamat tak kurang suatu apa.

Menurut penuturan Kusnadi, bukan tanpa sebab masjid, pesantren, dan rumah penduduk luput dari terjangan lahar. Pendiri Pontren Kikisik, mendiang KH Ahmad Sadeli, ayah kandung Kusnadi, yang saat itu masih hidup, melakukan upaya-upaya yang tidak bisa dicerna akal sehat agar lahar tidak menerjang.

"Mama (panggilan KH Ahmad Sadeli, Red) awalnya memberi tahu kami dan warga bahwa akan ada lahar yang datang. Kami kemudian diajak serta menuju arah barat dan berdiri menghadap arah kawah. Sebelum lahar datang, Mama memasang sejumlah barangbang (daun kelapa, Red) dan batu di depan. Begitu lahar datang, lahar itu langsung berbelok ke arah utara dan selatan," ujar Kusnadi.

Meski luput dari terjangan lahar, masjid yang saat itu hanya berukuran 12x9 meter tersebut masih tetap terkena hujan abu hingga ketebalan mencapai sekitar 30 cm. Bahkan sejumlah genting bolong terkena jatuhan batu. "Sempat ada batu yang melayang sebesar meja. Tapi untung jatuh di tengah kolam," kata Kusnadi.

Setelah letusan Galunggung mereda pada tahun 1983, KH Ahmad Sadeli berinisiatif melakukan rehab terhadap masjid yang dibangun tahun 50-an itu. Pasalnya, kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan. Terutama abu tebal yang masih menempel di genting. Namun pelaksanaan rehab baru bisa terlaksana tahun 1984 karena terkendala biaya.

"Untuk menghemat biaya, kami memanfaatkan abu di atas genting untuk membuat batako. Cetakannya mendapat bantuan dari Dinas PU provinsi. Ukuran masjid diperluas menjadi 25x12 meter. Masjid selalu penuh oleh jemaah warga sekitar karena memang mereka merasa pertolongan Allah turun lewat masjid tersebut. Jika lahar menerjang dan menimbun Masjid Kikisik, maka sekitar 100 KK warga sekitar pun akan terkubur," kata Kusnadi.

Warga sekitar terus memakmurkan masjid hingga saat ini. Bahkan bangunannya pun terus dipercantik. Saat ini tampilannya sudah memperlihatkan sebuah masjid modern. Ditandai dengan pemasangan keramik-keramik sebagai hiasan serta berpagar besi antikarat (stainless steel).

Memasuki bulan suci Ramadan 1433 H, kemakmuran masjid bertambah dengan adanya program kuliah Ramadan bagi anak-anak sekolah. Kompleks Pontren Kikisik sendiri kini memiliki 60 santri, 200 siswa MTs, serta 40 murid TK. Selain warga setempat, ada juga santri yang datang dari Jakarta, Karawang, Bandung, dan Kuningan.
"Untuk menghindari tumpang tindih kegiatan, kuliah Ramadan dilaksanakan pagi setelah pengajian yang dilakukan setelah salat Subuh," kata Kusnadi.

Selain sebagai tempat menuntut ilmu agama, Pontren Kikisik juga sejak dulu dikenal sebagai tempat pengobatan alternatif, terutama patah tulang. 


Masjid Besar Rancaekek Saksi Bisu Syahidnya Pejuang

PERNAH DIBOM - Masjid Besar Rancaekek pernah menjadi saksi sebelas pejuang yang meninggal akibat bom yang diluncurkan Belanda. Masjid yang berada di Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung diyakini merupakan masjid tertua di Rancaekek.

MASJID Besar Rancaekek yang berada di Desa Bojongloa, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung atau tepatnya di Jalan Raya Rancaekek-Majalaya No 45 itu mungkin merupakan salah satu masjid tertua yang ada di Rancaekek.

Sebab, tak satupun warga yang tinggal di daerah tersebut mengetahui sejarah berdirinya masjid itu. Bahkan, pengurus dewan keluarga masjid (DKM) pun sama sekali tidak memahami awal mula dibangunnya masjid tersebut.

Namun demikian ada seorang warga yang memahami seluk beluk dibangunnya Masjid Besar Rancaekek. Dia adalah Unang (75), mantan pengurus Masjid Besar Rancaekek tahun 1960-an. Dia pun sempat menjadi Lebe (penghulu) di Kantor Urusan Agama (KUA) yang berdiri tepat di sebelah utara Masjid Besar Rancaekek.

"Sekarang tugas saya hanya menjadi pengurus makam yang ada di seberang masjid," ujarnya ketika ditemui Tribun di kediamannya, Rabu (1/8/2012) sore.

Pria kelahiran 12 Desember 1937 ini menceritakan masjid itu berdiri di atas tanah wakaf dari seorang pria keturunan demang (sebutan polisi semasa penjajahan) sebelum Indonesia merdeka. Unang mengatakan, pria yang memiliki nama Ir Hasan itu mewakafkan tanah itu dengan luas sekitar satu hektar.

"Separuh untuk bikin masjid dan sebagian lagi untuk makam," ujarnya.

Ia pun mengaku, makam yang berada di sebelah barat masjid itu kerap disambangi orang dari luar daerah untuk meminta petunjuk pada waktu tertentu. Itu sebabnya banyak warga beranggapan jika masjid besar Rancaekek merupakan masjid tertua di wilayah Bandung Timur.
"Sebagian makam di Makam Kaum ini memang dikeramatkan," ujarnya yang tak mau menyebut nama makam yang dikeramatkan itu.

Selain itu, pria yang juga menjadi Ketua Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dan Polri (Pepabri) Kecamatan Rancaekek itu mengatakan, makam itu juga pernah menjadi tempat peristirahatan terakhir para pejuang yang meninggal ketika perang di tahun 1946.

"Ada sebelas pejuang dikubur di sini," ujarnya. Mereka, kata Unang, meninggal akibat bom yang meledak lantaran Belanda ingin menghancurkan tempat pemancar radio yang ada di Rancaekek. "Mereka berkumpulnya di masjid," katanya.

Tak hanya menewaskan para pejuang saja, Unang bercerita beberapa bagian bangunan masjid juga hancur. Renovasi pun pun dilakukan untuk memperbaiki kerusakan akibat bom. Sejak saat itu, sudah tiga kali masjid besar ini dirombak.

Meski begitu, konon katanya masjid itu sudah ada di tahun 1815. Karena itu masjid itu menjadi masjid di kecamatan Rancaekek dan bernama Masjid Besar Rancaekek. Menurut Unang, nama itu juga menceritakan sejarah dibentuknya masjid itu.

"Katanya masjid ini awalnya dibangun dengan bambu. Tapi kata ayah saya awalnya masjid ini dibangun pada tahun 1910," ujarnya.

Saat itu, kata Unang, masjid berdiri megah diantara balong-balong (kolam ikan) "Waktu saya kecil ada tiga balong. Dan tepat di bawah masjid juga ada balong," ujarnya.

Menurut Unang, untuk pertama kalinya masjid itu dirombak pada 1949 dampak dari bom yang meledak. Waktu itu, kata Unang, atap masjid berbentuk segitiga dan tepat di bawahnya terdapat tempat bedug yang diyakini jika dipukul, suaranya menggema hingga terdengar ke Gedebage. "Dulu kan belum ada pengeras suara seperti sekarang," ujarnya.

Untuk yang kedua kalinya, masjid itu dirombak pada tahun 1986. Menurutnya, ukuran masjid diperlebar dan ditinggikan sekitar 60 cm lantaran makin banyak yang beribadah. "Waktu itu untuk pertama kalinya masjid itu menggunakan anak tangga. Mungkin dulu sudah diperkirakan untuk mengantisipasi banjir," katanya.

Terakhir kalinya, kata Unang, masjid itu dirombak pada tahun 2006 hingga pada akhirnya diresmikan Bupati Bandung yang pada waktu masih dijabat Obar Sobarna. "Sekarang masjid sudah pakai menara dan sudah pakai kubah," ujarnya.

Bagi warga letak masjid yang bercat hijau ini memang sangat statregis. Sebab, berada di jalan yang menghubungkan tiga kecamatan, yakni Rancaekek, Solokanjeruk, dan Majalaya. Karena itu masjid ini selalu ramai di setiap waktu meski belum masuk waktu solat. "Masjid ini sejuk, dingin dan nyaman untuk singgah meski hanya untuk istirahat," ujar Iqbal Muhammad kemarin.
Meski tak diketahui asal usul masjid tersebut, warga sekitar tetap menggunakan Masjid Besar Rancaekek untuk beribadah terutama di bulan Ramadan ini.


Saturday, August 4, 2012

320.000 Muslim datang ke Masjid Al-Aqsa untuk sholat jum'at berjamaah

Jemaah Jum'at di Hari Jum'at ke tiga di Masjidil Aqso, Palestina

Sekitar 320.000 jamaah Muslim menuju Masjid Al-Aqsa untuk melakukan sholat jum'at berjamaah pada sholat jum'at ketiga di bulan Ramadhan ini, kemarin (3/8/2012), menurut laporan Yayasan Al-Aqsa untuk Wakaf dan Warisan (AFEH), dilansir Ma'an.

Ratusan ribu warga Muslim Palestina melakukan perjalanan dari Tepi Barat dan dari wilayah-wilayah lain yang dikuasai Israel ke Masjid Al-Awsa untuk melaksanakan sholat jum'at berjamaah.

Militer zionis Israel telah mengumumkan bahwa pihaknya akan mengurangi pembatasan warga Palestina yang datang ke Al-Aqsa selama bulan suci Ramadhan, namun jamaah Muslim yang datang harus mengantri di garis pemeriksaan. Setiap hari, polisi Israel disebarkan di setiap sudut pos  pemeriksaan di Yerusalem untuk 'keamanan'.

Jemaah Jum'at di Hari Jum'at ke tiga di Masjidil Aqso, Palestina
AFEH dan ormas Islam lainnya melakukan kampanye, di bawah izin Departemen Agama, untuk melindungi Masjid Al-Aqsa lebih ketat lagi selama bulan Ramadhan ini.

Kampanye ini meliputi menyediakan makanan dua kali sehari untuk orang-orang yang berpuasa dan juga ratusan bus untuk membawa orang-orang ke Masjid Al-Aqsa dan program edukasi keagamaan (pendidikan ilmu Syar'i).

Sementara itu, umat Yahudi dan pasukan zionis Israel semakin sewenang-wenang mendatangi situs suci umat Islam ini, terutama ketika umat Yahudi hendak merayakan apa yang mereka sebut sebagai hari "penghancuran bait Allah" di mana mereka datang ke halaman Masjid Al-Aqsa dan berjalan-jalan di sekitarnya sambil melakukan ritual agama mereka sehingga keberadaan mereka telah mengganggu ibadah umat Islam di Al-Aqsa dan tak jarang memicu bentrokan.


Melihat Panepen, Masjid Pribadi Keluarga Keraton

di dalam masjid Panepen

Sekilas bangunan Masjid Panepen lebih mirip surau. Terletak di dalam kompleks Keraton Kilen, tempat keluarga Sultan Hamengku Buwono X tinggal. Dari bangunan inilah, laku spiritual yang ada di keraton bersumber.

SUASANA sunyi sangat terasa begitu memasuki kompleks Keraton Kilen dimana Masjid Panepen berada. Halamannya tidak begitu luas. Dari luar, tampak bangunan putih dengan kombinasi hijau. Masjid ini sangat khas dengan unsur budaya Jawa.

Memasuki ruangan masjid, di dalamnya hanya ada beberapa abdi dalem keraton. Salah seorang dari mereka dengan khidmat melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Kegiatan tadarus seperti ini rutin dilakukan tiap Ramadan.

Masjid berukuran 7x12 meter ini memiliki dua ruangan, bangunan inti dan serambi. Di bagian dalam terdapat enam jendela bercat hijau tua, dan di bagian tengah ada empat soko guru atau tiang yang menopang atap bangunan berbentuk joglo. Jarak tiap tiang bulat tanpa ukiran tersebut sekitar dua meter, bercat hijau tua, dipadu dengan dinding putih. Kayu jati yang menjadi bagian dari bangunan ini masih utuh.

Pengirit Abdi Dalem Punokawan Kaji Raden Riyo Haji Abdul Ridwan menjelaskan, Panepen adalah masjid pribadi keluarga keraton. Tidak semua orang bisa menggunakannya.

”Selama Ramadan ini, Ngarso Dalem tidak salat di sini. Masjid ini juga tidak digunakan untuk tarawih,” terang Ridwan ketika ditemui di Masjid Panepen,  Kamis (2/8).

Sebagai masjid pribadi, dalam waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menyendiri raja. Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, Sultan berkholwat kepada Sang Pencipta.

Kapan waktu-waktu Sultan menyendiri untuk berkholwat? Ridwan mengungkapkan, biasanya pada malam hari di waktu yang tidak dapat dipastikan. ”Biasanya jika ada firasat buruk terhadap situasi di Jogjakarta, barulah Sultan menyendiri di Masjid Panepen,” jelas Ridwan.

Sebagai bukti bahwa bangunan ini memang digunakan Sultan untuk kegiatan meditasi seperti itu, terdapat sisi bangunan di bagian depan yang lantainya 15 cm lebih tinggi dari yang lain. Di tempat yang bernama palenggehan dalem itulah biasanya Sultan menyendiri.

Menurut Ridwan, dari pengalaman sebelumnya, saat Merapi dalam kondisi akan erupsi dan gempa 2006, ritual gelar doa dilakukan di Masjid Panepen. Cara-cara ini, menurut dia, merupakan langkah yang dilakukan oleh seorang raja, guna mengharapkan keselamatan dari Sang Pencipta.

Setiap Sultan mendapat firasat buruk, Ridwan mengatakan para Abdi Dalem didhawuhi ritual. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari khataman Alquran hingga tawasulan. Bahkan ada ritual tiga jam tidak boleh bersandar, tidak boleh ngantuk, tidak boleh berhenti bertadarus, dan selalu mengucap asma Allah.

”Makanya kalau dhawuh itu sendiri, kadang sama teman yang lain, pasti pakai ganjil. Pernah 59 abdi dalem,” terangnya.

Ritual yang dilakukan, menurut Ridwan, bukan kegiatan yang melenceng. Karena inti kegiatan menyampaikan permohonan kepada Sang Pencipta dengan mengagungkan asma-Nya. ”Di samping mengirim doa kepada yang telah mendahului,” terangnya.

Sedangkan pada hari-hari bisa, Masjid Panepen yang sudah ada sejak pemerintahan HB I ini menjadi tempat kegiatan abdi dalem Punokawan Kaji yang jumlahnya 12 orang. Selain itu, pengurusan Masjid Panepen juga dibantu abdi dalem Suronoto yang dulunya berada di masjid Surowinatan atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kagungan Rotowijayan.

”Sehari-harinya masjid ini dijaga dan dirawat tiga orang, seorang dari Konco Kaji, serta dua dari Konco Suranata,” terangnya.

Di bulan Ramadan seperti sekarang ini, kegiatan yang dilakukan hanyalah tadarus Alquran yang dilakukan abdi dalem. Biasanya secara bergantian dalam sehari. ”Masjid Panepen ini juga masjid yang digunakan untuk menikahkan putri Sultan selama ini,” terangnya. (*/tya)


Selama Ramadhan Masjid Keramat Luar Batang Buka 24 Jam

Masjid Luar Batang dengan menara tunggalnya yang menjulang diantara pemukiman warga penjarngan berlatar belakang gedung gedung jangkung Jakarta.

Aktivitas ibadah di bulan Ramadhan terasa lebih khusyuk jika dilakukan di masjid. Salah satu masjid yang bisa dijadikan referensi adalah Masjid Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Di masjid tersebut, selain bisa melakukan serangkaian aktivitas ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, pengunjung juga bisa berziarah di makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus untuk menghormati jasanya menyebarkan Islam di tanah Betawi.

Ya, di area masjid tersebut memang terdapat makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang berumur sekitar dua setengah abad. Meski tidak seramai bulan-bulan biasanya, namun banyak juga orang yang datang tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta untuk berziarah ke makam tersebut.

Ada etika yang harus dipatuhi jika ingin berziarah ke makam tersebut. Selain pengunjung harus berperilaku santun dan tidak bertutur kata sembarangan, peziarah juga harus berwudhu untuk menjaga kesucian masjid tersebut.

Di bulan Ramadhan ini, Masjid Luar Batang juga tidak pernah sepi dari aktivitas dakwah. Selain rutin menggelar buka puasa bersama, dan salat tarawih berjamaah, masjid tersebut juga ramai dengan warga yang beritikaf dan tadarus Alquran menunggu malam Lailatul Qadar.

“Saat malam Lailatul Qadar umat Islam banyak yang berdatangan ke sini seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Yudo Sukmono, Humas Masjid Keramat Luar Batang, Jumat (3/8).

Menurutnya, selama Ramadhan masjid buka selama 24 jam untuk memberi kesempatan kepada orang yang beribadah. Sebab, banyak juga yang datang karena punya niat dan hajat agar permohonannya dikabulkan Allah.

Ditambahkannya, jika hari biasa di bulan Ramadahan hanya terdapat 100 peziarah. Namun, jika malam Jumat bisa mencapai 500 peziarah. Bahkan, pada malam Jumat Kliwon atau bulan Rajab bisa mencapai 1.000 peziarah.

source : Harianterbit.com

Artikel Terkait