Friday, July 29, 2016

Masjid Asasi Nagari Gunung

Masjid Asasi Nagari Gunung

MASJID ASASI terletak di Kelurahan Sigando Padang Panjang, merupakan Masjid tertua di Kota Padang Panjang. Masjid ini diperkirakan berusia ± 400 tahun, dibangun pertama kali oleh penyebar agama Islam pertama di Padang Panjang yang berasal dari Air Bangis Pasaman. Ada juga yang menyebutnya didirikan oleh masyarakat dari 4 koto yaitu dari daerah Gunuang, Paninjauan, Jaho dan Tambangan.

Lokasi Masjid Asasi Sigando
Desa Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur
Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, Indonesia
Koordinat : -0.473155, 100.422458


Pembangunan masjid ini memakan waktu Lebih kurang sepuluh tahun. Tanah masjid ini adalah tanah wakaf Imam Basa dan Khatib Kayo. Keduanya menurut adat yang berlaku diangkat menjadi imam masjid dan khatib Masjid Nagari Gunung. pengurus masjid Asasi disebut Tuanku Ampek Jurai Nagari Gunung.

Masjid Asasi dibangun di atas tanah 25 x 22 m, berbentuk segi empat, melambangkan bahwa yang mencetuskan pembangunan masjid adalah Nagari Ampek Jurai. Di tengah ruangan masjid terpancang tiang resar, melambangkan bahwa Nagari Gunung mempunyai kesatuan pimpinan (komando) yang tercermin dalam pepatah: ada orang yang didahulukan selangkah, ditinggikan seranting.

Interior Masjid Asasi

Masjid ini merupakan masjid tertua di Kodya Padang Panjang, dibangun secara gotong royong oleh seluruh masyarakat Nagari Nan Ampek Jurai dan nagari sekitamya. Arsitektur masjid ini  menerapkan konsep arsitektur tradisional Minangkabau. Ini terlihat bentuk atap dan ukir-ukiran dinding masjid. Sedangkan, kubahnya sebagai ciri sebuah masjid, berbentuk atap limas bertingkat tiga, sebagai perlambang bahwa Nagari Gunung dikuasai oleh 3 unsur, yakni agama, unsur adat, dan unsur pemerintah.

Masjid ini memiliki ciri khas arsitektur bangunan Minangkabau berupa bangunan berpanggung dengan ukiran-ukiran khas Minangkabau. Saat ini Masjid Asasi berada dibawah lindungan Kantor Wilayah Suaka Alam dan Peninggalan Sejarah Propinsi Sumatera Barat. Masjid Asasi pernah dijadikan sebagai basis pengembangan Islam terutama mengembangkan Madrasah Thawalib Gunuang. Tokoh-tokoh seperti Buya HAMKA pernah menggelar pengajian disini. Masjid Asasi memiliki 3 motif ukiran dari aliran yang berbeda yaitu Hindu, China dan Minangkabau.***