Saturday, July 30, 2016

Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao

Masjid Tuo Kayu Jao ini merupakan salah satu masjid tertua di Indonesia terutama bagi Kabupaten Solok dan Propinsi Sumatera Barat umumnya. Masjid ini dipekirakan sudah berdiri sejak abad ke 16 tepatnya sekitar tahun 1599. Keberadaan masjid ini sekaligus menjadi bukti bahwa agama Islam di Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Barat ternyata telah berkembang sejak abad ke-16. Masjid beratap ijuk yang didirikan oleh beberapa ulama daerah tersebut tetap dijaga keasliannya hingga kini. Di sebelah masjid terdapat sebuah tabuh (bedug) yang diyakini seumur dengan masjid tersebut.

Lokasi Masjid Tuo Kayu Jao
Jorong Kayu Jao Nagari Batang Barus
Kecamatan Gunung Talang, kab Solok
Provinsi Sumatera Barat, Indonesia
Koordinat : -1.004386, 100.628652


Di samping keasliannya yang tetap terjaga hingga kini, arsitekturnya masjid ini juga memiliki kesamaan dengan Masjid Demak dan Banten terutama pada bentuk atapnya yang bersusun tiga. Sedangkan dari sisi filosofis bangunan masjid ini memiliki beragam perlambang. Atapnya yang terbuat dari ijuk melambangkan desain rumah adat Minangkabau yaitu Rumah Gadang. Di bagian mihrab juga diberi gonjong seperti Rumah Gadang. Jumlah tiangnya sebanyak 27 buah yang melambangkan enam suku yang masing-masing terdiri dari ampek jinih (empat unsur pemerintahan adat) sehingga jumlahnya 24 bagian.

Ditambah tiga unsur dari agama yaitu khatib, imam dan bilal, sehingga jumlahnya menjadi 27. Aroma kuatnya agama Islam di daerah tersebut juga tergambar dari jumlah jendelanya yang 13 buah. Ini untuk mengisyaratkan rukum Shalat yang 13 macam.

Interior Masjid Tuo Kayu Jao

Di awal pembangunan masjid tersebut hingga beberapa tahun lalu, pola bangunan yang tidak memakai paku masih dipertahankan. bangunan tersebut tetap kokoh meski tidak satu bagian pun yang dipaku. Tapi hanya menggunakan pasak di setiap sambungannya. Namun hal itu sedikit berubah setelah dilakukan pemugaran. Namun yang jelas ciri khas masjid yang memakai ijuk dengan desain aslinya tetap dijaga.

Sebagai sebuah kebanggaan dan situs cagar budaya, mesjid tersebut dijadikan sebuah bukti bahwa di Nagari Batang Barus dan Kabupaten Solok secara umum, Islam telah berkembang sejak 400 tahun lalu. Hal ini menurutnya menjadi cerminan masyarakat yang memegang teguh agama Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam perkembangannya sebagai tempat pariwisata yang ramai dikunjungi, wisata religi yang ditawarkan masjid tersebut sangat memukau pengunjung. Tidak hanya dari segi arsitektur bangunan yang unik, tapi juga dari kondisi alam yang memiliki topografi menawan, Masjid ini berada di lokasi yang berhawa sejuk dan dikelilingi oleh perkebunan teh. Di samping itu, kontur wilayahnya sangat memukau. Terdiri dari lurah dan bukit yang saling bertaut dan berkombinasi sempurna.***