Saturday, July 8, 2023

Masjid Jami Doom, Masjid Pertama di Papua Barat Daya

Masjid Jami Doom kota Sorong tahun 2022 (foto: amranyusuf)

Doom adalah sebuah pulau di kota Sorong, provinsi Papua Barat Daya. Lokasinya berada di lepas pantai kota Sorong, dapat dicapai dengan perahu motor dari pelabuhan kota Sorong dalam waktu tempuh sekitar 10 menit. Pulau Doom dapat dihat dengan mata telanjang dari area pantai kota Sorong.
 
Di pulau ini, sejak tahun 1911 telah berdiri bangunan masjid Jami Doom yang merupakan masjid pertama yang berdiri di wilayah Papua Barat Daya menjadi saksi sejarah masuknya agama Islam di wilayah Kepulauan Sorong hingga Raja Ampat. Masjid tua ini sudah beberapa kali mengalami renovasi hingga ke bentuk bangunannya saat ini.
 
Masjid Jami Doom Sorong Kepulauan
Doom Barat, Distrik Sorong Kepulauan, Kota Sorong, Papua Barat Daya
 
 
Dimasa lalu, Pulau Doom merupakan pusat pemerintahan Hindia-Belanda untuk wilayah Sorong dan sekitarnya, sampai kini masih terdapat rumah warga bergaya khas arsitektur Belanda. Sedangkan wilayah daratan Sorong dimasa itu mayoritas masih berupa hutan belantara.
 
Pulau ini juga menjadi saksi sejarah perang dunia kedua di wilayah pasifik antara tentara sekutu dengan balatentara kekaisaran Jepang. Satu bungker peninggalan tentara Jepang masih dapat dijumpai hingga kini di pulau Doom.
 
Dimasa kini, Pulau Doom terdiri dari dua kelurahan, yakni Doom Barat dengan 3 RW serta 10 RT dan Doom Timur dengan 3 RW serta 18 RT. Becak yang didatangkan dari Surabaya menjadi transportasi darat utama di pulau Doom selain sepeda motor.
 
Tiang Alif (Sokoguru) Masjid Jami' Doom. (foto: Kompas)

Masjid pertama
 
Masjid jami di pulau Doom pertama kali dibangun tahun 1911 menandai sejarah masuknya Islam ke wilayah tersebut, dimasa itu wilayah Sorong hingga Raja Ampat masih merupakan wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Para da’i dari Kesultanan Tidore dikirim ke Pulau Doom untuk menyebarkan agama Islam dan mendapatkan sambutan baik dari warga setempat.
 
Bangunan Masjid Jami yang dibangun tahun 1911 berbentuk seperti rumah panggung, dindingnya dari kayu dan beratap pelepah pohon sagu. Bangunan tersebut hancur akibat serangan tentara sekutu terhadap tentara Jepang dimasa perang dunia kedua. Bangunan masjid yang rusak tersebut kemudian dipindahkan ke lokasinya saat ini. Sedangkan lahan tempat bangunan masjid pertama kini menjadi lapangan.
 
Pembangunan masjid di lokasi ini dapat terealisasi berkat kebaikan masyarakat setempat yang telah menghibahkan tanahnya. Mereka pun telah memeluk agama Islam. Dimasa kini jumlah umat Islam di Pulau Doom mencapai sekitar 5.000 jiwa.
 
Mihrab dan mimbar Masjid Jami' Doom (foto: kompas)

Beduk dan tongkat yang khatib merupakan peninggalan dari masjid pertama yang masih digunakan hingga kini. Khusus untuk beduk, pergantian dilakukan hanya pada kulit nya sedangkan beduknya masih asli.
 
Tradisi Beduk dan Azan
 
Seperti halnya kebanyakan masjid masjid di tanah air, Masjid Jami Doom di kota Sorong ini juga memiliki sebuah beduk yang sudah berusia cukup tua. Bedug digunakan sebagai penanda jelang masuknya waktu sholat fardhu.
 
Bukan hanya pukulan bedug yang masih dipertahankan secara turun temurun dari sejak dari Imam pertama. Lantunan suara azan untuk sholat lima waktu dimasjid inipun terbagi dua yakni; lantunan azan yang terdengar dengan jelas dan da azan yang dipelankan atau tidak terdengar. Pada saat sholat Subuh, Magrib dan Isya, azan akan dikumandangkan dengan pengeras suara, sehingga terdengar sampai ke seluruh Pulau. Namun begitu sholat Zuhur dan Ashar, azan dikumandangkan tanpa pegeras suara.
 
Setiap jelang sholat lima waktu, bedug masjid akan dipukul lima kali. dilanjutkan dengan azan dan sholat lima waktu berjamaah. Pada setiap hari kamis, bedug akan ditabuh pada pukul 18.00 WIT sebanyak 40 kali, dari suara keras lalu pelan hingga menghilang suaranya. Usai sholat subuh di hari Jumat, akan dibunyikan lagi. Untuk mengingatkan kembali kepada umat bahwa sebentar lagi masuk waktu sholat jumat.
 
Beduk tua di Masjid Jami' Doom.

Sedangkan caara menabuh bedug sebagai pertanda hari Jumat, bedug ditabuh tujuh kali tanpa irama, setelah itu, bedug akan dipukul secara berirama dengan pukulan yang cepat semampu si pemukul bedug. Lalu diulangi kembali memukul bedug seperti pukulan pertama sampai sebanyak tiga kali. Berbeda lagi untuk jelang Ramadhan atau jelang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, bedug dipukul dengan irama seperti hendak mau takbiran, atau acara silat, tidak ada batasan, si penabuh bedug akan memukul bedug sampai dirasa cukup lalu, berhenti.
 
Arsitektur Masjid Jami’ Doom
 
Masjid Jami’ Doom berkapasitas sekitar 1500 jemaah. Bangunan masjid ini ditopang enam tiang alif (sokoguru) di dalam masjid yang dicat berwarna hijau mantis. Dulunya tiang alif di masjid ini hanya ada empat.
 
Toleransi Beragama yang Jempolan
 
Hubungan antara umat Islam dan pemeluk agama lainnya di Pulau Doom terjalin begitu harmonis. Misalnya umat nasrani juga mengikuti pawai obor ketika malam takbiran untuk menyambut Idul Fitri dengan berjalan kaki mengelilingi Pulau Doom. Toleransi beragama sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Pulau Doom.
 
Tradisi Mengarak Hewan Kurban Sebelum Disembelih
 
Masjid Jami Doom memiliki tradisi unik dalam perayaan Idul Adha, yaitu dengan mengarak hewan yang akan dikurbankan. Tradisi tersebut secara turun temurun masih dipertahankan dalam memberikan hewan kurban. Semenjak pagi, warga telah berkumpul untuk memulai prosesi. sapi yang akan dikurbankan telah dikenakan kain putih. Sementara kambing yang akan disembelih, dipangku oleh seorang pria, dan diusung dengan tandu, yang oleh warga setempat disebut alifah. Hewan kurban tersebut kemudian diarak keliling kampung untuk menuju ke Masjid Jami Doom.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Rujukan
 
https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/04/19/jejak-sejarah-islam-di-papua-barat-daya-melalui-masjid-jami-doom
https://www.kompas.tv/nasional/12052/tradisi-pulau-doom-arak-hewan-kurban-sebelum-disembelih
https://papuabaratpos.com/tradisi-yang-dijaga-suara-bedug-di-masjid-jami-doom/

Baca Juga

 
Baca Juga 
 
Masjid Agung Al Falah Nabire
Masjid Al-Ishlah Arso IX, Keerom
Masjid Tembagapura, Mimika
Masjid Al Falah, Kepulauan Yapen
Masjid Agung Baiturrahman, Wamena
Masjid Agung Baiturrahman, Biak Numfor
Masjid An-Nur Agats, Asmat
Masjid Al-Mujahidin, Puncak Jaya
Masjid Agung Waisai, Raja Ampat
Masjid Raya Babussalam Timika, Mimika
Masjid Raya Al Aqsa, Merauke
Masjid “Baru” Baitul Muttaqin Tolikara

Monday, July 3, 2023

Masjid Agung An-Nur Bolsel, Sulawesi Utara

Masjid Agung An-Nur Bolaang Mongondow Selatan (foto: infobolsel)
 
Masjid Agung An-Nur adalah Masjid Agung di Kabupaten Bolsel (Bolaan Mongondow Selatan) provinsi Sulawesi Utara. Lokasinya berada di sisi tenggara Alun Alun Molibagu, kecamatan Bolaang Uki. Molibagu secara resmi merupakan ibukota kabupaten Bolsel sebelum dibangun komplek kantor Bupati yang baru di desa Tabilaa.
 
Nama resmi yang terpasang di pagar masjid menyebutnya sebagai masjid Agung An-Nur, namun di peta google map hanya disebut sebagai masjid An-Nur. Lokasi masjid ini juga terpaut cukup jauh lebih dari 10 km dari komplek kantor pemerintahan kabupaten Bolsel yang baru.
 
Masjid An Nur
Popodu, Kec. Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara
https://goo.gl/maps/cFG97aUGrL1fpUu67
 

 
Di komplek kantor Pemkab Bolsel juga sudah berdiri masjid baru yang cukup besar dan megah disebut dengan Masjid Bolsel bersama dengan bangunan gereja perkantoran Bolsek dan pura Amertha Segara Bolsel.
 
Merujuk kepada situs kemenag masjid (agung) An-Nur Bolsel ini sudah berumur cukup tua, dibangun pertama kali pada tahun 1912 diatas tanah wakaf seluas 3000 meter persegi dengan luas bangunan 1600 meter persegi dan daya tampung 750 jemaah.
 
Rehabilitasi terhadap masjid agung An Nur Bolsel dilaksanakan pada tahun 2018 yang lalu bersamaan dengan persiapan penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an tingkat provinsi Sulawesi Utara yang digelar pada 2 – 8 Mei 2018. Renovasi tersebut dianggarkan dana 1 Milyar Rupiah dari APBD Bolsel Tahun 2018 dan dari APBD Bolsel tahun 2017. 
 
Fasilitas yang dimiliki terdiri dari area Parkir, Gudang, Tempat Penitipan Sepatu/Sandal, Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Sound System dan Multimedia, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu dan Sarana Ibadah.
 
Masjid Agung An-Nur Bolaang Mongondow Selatan (foto: infobolsel)

Dengan beragam kegiatan meliputi Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam, Menyelenggarakan Sholat Jumat, Menyelenggarakan Ibadah Sholat Fardhu.
 
Sapi Kurban dari Presiden
 
Pada hari raya Idul Adha 2020 Bupati Iskandar Kamaru, beserta jajaran Pemkab Bolsel melaksanakan Salat Idul Adha bersama masyarakat di Masjid Agung An-Nur, sementara, Wabup (Wakil Bupati) Deddy Abdul Hamid, bersama masyarakat melaksanakan Salat di Masjid AT-TAQWA Pinolosian.
 
Di momen itu, Kabupaten Bolsel mendapatkan bantuan sapi kurban dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, yang diterima langsung oleh Bupati Iskandar Kamaru. Adapun bantuan sapi dari Presiden RI, langsung diserahkan kepada panitia untuk disembelih. Penyerahan hewan kurban tersebut berlangsung di halaman Masjid Agung An-Nur Molibagu.
 
Rujukan
 
http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/2076/
https://www.manadotoday.co.id/pemerintahan/tutup-rangkaian-mtq-tingkat-provinsi-sulut-kandouw-momentum-ini-agar-mempertebal-iman-dan-taqwa/
https://www.pilarsulut.com/2018/05/wagub-kandouw-tutup-seluruh-rangkaian-mtq-xxvii-tingkat-provinsi-se-sulut/
https://bolmora.com/07/2020/44731/bupati-dan-wabup-bolsel-laksanakan-salat-idul-adha-bersama-masyarakat-di-dua-tempat-berbeda/

Saturday, July 1, 2023

Masjid Awaluddin Al Jannah, Hagia Sophia-nya Kabupaten Muna

Masjid Awaluddin Al Jannah Kabupaten Muna [foto: zonasultra.id]
 
Kabupaten Muna adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Tenggara, di kabupaten ini sejak tahun 2020 yang lalu berdiri sebuah bangunan masjid yang sempat menyedot perhatian netizen karena rancangannya yang disebut sebut mirip dengan rancangan masjid Hadia Sophia di Istanbul.
 
Masjid dimaksud adalah Masjid Awaluddin Al Jannah desa Lahontoghe kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara merupakan masjid terindah dan terbesar di Pulau Muna. Meski dibangun tahun 2020, masjid ini sejatinya merupakan salah satu masjid tertua di kabupaten Muna yang kemudian dibangun ke bentuknya saat ini dengan dana Rp. 1,5 Milyar dari pemda Kabupaten Muna.
 
Masjid Awaluddin Al Jannah
RGX9+8P7, Laghontoghe, Kec. Tongkuno, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara 93662
 
 
Pencetus pembangunan masjid ini, Ir. Harmain mendapatkan ide untuk membangun masjid tersebut dari brosur asesoris masjid yang dia dapat saat berkunjung ke Masjid istiqlal Jakarta, kemudian tertarik untuk merancang masjid dengan asesoris tersebut.
 
Pada perhitungan awal pembangunan-nya membutuhkan dana sekitar Rp. 3 Milyar rupiah, namun karena keterbatasan dana yang ada maka rancangan masjid tersebut disesuaikan dengan dana yang tersedia yakni Rp. 1, 5 Milyar Rupiah.
 
Hasilnya adalah sebuah masjid dengan rancangan cukup menarik dengan, dibangun menyerupai kubah masjid Hagia Sophia di Istanbul Turki dengan enam buah kubah berukuran berbeda. Selain kubah, masjid ini memiliki empat menara dengan Menara tertinggi mencapai sekitar 30 meter.
 
Masjid Tertua di Kabupaten Muna
 
Seperti disebutkan tadi, sejatinya Masjid Awaluddin Al Jannah merupakan salah satu dari empat masjid tertua di Muna yang sudah berdiri antara tahun 1600-1625. Pada mulanya masjid ini terletak di kampung lama Tongkuno dengan nama Masjid Laghontoghe.
 
Masjid Awaluddin Al Jannah dulu dan kini [Kiri foto tahun 2016 dari google map, Kanan: tahun 2021 dari zonasultra.id]

Namun kemudian sekitar tahun 1970 masjid Laghontoghe dipindahkan dari lokasi awalnya dengan memindahkan batu fondasi masjid dari kampung lama ke tempatnya saat ini oleh La Ode Rafid saudara dari Ridwan Bae. Tiga masjid tertua lainnya adalah masjid Muna yang terletak di kota Wuna. Lalu masjid Quba Loghia yang ada di kecamatan Lohia dan masjid Oelongko di Kecamatan Bone.
 
Setelah tahun 2012 masjid ini secara bertahap mulai dibangun permanen, dengan pencetusnya Ir Hamalin bersama panitia pembangunan masjid Jainudin Mariudin sebagai sekretaris dan Wakil Ketua La Ode Giu, nama masjid pun kemudian menjadi Masjid Awaluddin Al Jannah, terinspirasi dari sejarah masjid yang juga merupakan penanda awal mula masuknya islam di Muna.
 
Dibangun dari Dana Hibah Pemprov Sultra Sebesar Rp1,5 Miliar
 
Awalnya, pembangunan masjid ini hanya mengandalkan swadaya warga saja. Seiring berjalan waktu, upaya Pemerintah Daerah Kabupaten Muna melalui ketua dan para pengurus pembangunan masjid membuahkan hasil dengan mendapatkan gelontoran dana hibah dari Pemprov Sultra sebesar Rp1,5 miliar.
 
Perpaduan Hagia Sophia dan Masjid Nabawi
 
Rancangan masjid Awaluddin Al Jannah ini memadukan rancangan Masjid Hagia Sophia di Istanbul, Turki dan Masjid Nabawi di Madinah. Kubah masjid dirancang bertingkat dan berukuran besar seperti Hahia Sophia sedangkan rancangan lainnya terinspirasi dari masjid Nabawi.
 
Masjid Awaluddin Al Jannah [foto: zonasultra.id]

Dilengkapi enam kubah dengan ukuran berbeda dan empat menara dengan tinggi variatif, Menara tertinggi mencapai sekitar 30 meter. Bangunan masjid ini menempati lahan seluas 28×47 meter sedangkan ukutan bangunan masjid-nya sekitar 22×27 meter.
 
Desain bangunan luar bergaya interior masjid Nabawi dengan ukiran kubah masjid yang mendominasi. Warna yang dipilih pun warna cream dan campuran putih dengan interior lukisan langit yang terletak di bagian plafon kubah.
 
Di dalam masjid fasilitasnya pun cukup lengkap. menyuguhkan susana bersih dan sejuk dengan pendingin ruangan. Tak hanya itu shafnya luas dengan daya tampung ratusan orang, sehingga jamaah betah berlama-lama dalam masjid.
 
Sejak pembangunan masjid Awaluddin Aljannah rampung, jamaah pun membludak. Peningkatan jumlah jamaah mencapai hingga lebih dari 100 persen. Sebelumnya dalam shalat berjamaah hanya dipenuhi dua shaf. Namun sejak pembangunannya tuntas jumlahnya meningkat menjadi delapan shaf shalat.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Rujukan
 
https://sultra.genpi.co/wisata/566/kisah-keindahan-masjid-awaluddin-al-jannah-hagia-sophia-nya-muna?page=2
https://zonasultra.id/megahnya-masjid-awaluddin-al-jannah-tongkuno-mirip-hagia-sophia-di-istanbul.html

 
Baca Juga
 

Sunday, June 25, 2023

Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa

Masjid Agung Nurul Yaqin kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat [foto: Rahma Tiyah]

Masjid Agung Nurul Yaqin adalah masjid agung kabupaten Mamasa di kabupaten Sulawesi Barat. Lokasinya berada di Jalan Pembangunan Kelurahan Mamasa, Kecamatan Mamasa, Kabupaten Mamasa provinsi Sulawesi Barat.
 
Berdiri diatas tanah seluas 1500 meter persegi, masjid Agung Nurul Yaqin memiliki sumber ekonomi produktif yakni berupa rumah kos yang terletak di belakang masjid dengan kapasitas kamar kurang lebih 15 kamar. Sumber ekonomi lainnya adalah berupa tenda terowongan yang dipersewakan dan mendatangkan pendapatan bagi keuangan masjid.
 
Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa
Jalan Pembangunan, kelurahan Mamasa, Kecamatan Mamasa
Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat 91365
🌏https://goo.gl/maps/XzBqgKeEXP7KC9GL6
 

 
Masjid Agung Nurul Yaqin pertama kali dibangunt ahun 1934 diatas sebidang tanah wakaf, dengan laus 600 meter persegi dan mampu menampung sekitar 1500 jemaah. Dilengkapi dengan Ruang Belajar (TPA/Madrasah), Perlengkapan Pengurusan Jenazah, Koperasi, Perpustakaan, Kantor Sekretariat, Sound System dan Multimedia, Pembangkit Listrik/Genset, Kamar Mandi/WC, Tempat Wudhu, Sarana Ibadah
 
Aktivitas Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa
 
Berbagai aktivitas dilakukan dimasjid ini selain penyelenggaraan sholat wajib lima waktu, sholat jum’at berjamaah, dua sholat hari raya, Pemberdayaan Zakat, Infaq, Shodaqoh dan Wakaf, Menyelenggarakan kegiatan pendidikan (TPA, Madrasah, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), Menyelenggarakan Pengajian Rutin, Menyelenggarakan Dakwah Islam/Tabliq Akbar, Menyelenggarakan Kegiatan Hari Besar Islam
 
Sebagai masjid agung bagi kabupaten Mamasa, Masjid Agung Nurul Yaqin menjadi pusat Ke-islaman disana, termasuk penyelenggaraan sholat Idul Fitri dan Idul Adha juga pelaksanaan pemotongan hewan qurban di hari raya Idul Adha serta pembagian daging qurban kepada warga sekitar termasuk kepada warga non muslim. Selama bulan suci Ramadhan (bulan puasa) didepan masjid Agung Nurul Yaqin ini ramai dengan tenda tenda kuliner dari para pedagang yang menyediakan aneka rupa takjil dan menu buka puasa.

Interior Masjid Agung Nurul Yaqin Kabupaten Mamasa [foto: Slamet Cahyadi]
 
Sejarah Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa
    
Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa berawal dari masjid kecil di ibokota Kab.mamasa.Masjid ini adalah masjid bersejarah yang dibangun oleh generasi awal penyebar Islam di Kota Mamasa. Diawal abad 19 masyarakat dari luar wilayah mamasa seperti dari bugis dan Duri (Enrekang) menetap diwilayah mamasa untuk berdagang.
 
Tahun 1934 masjid pertama dibangun dengan ukuran yang sangat kecil dan seiring umat Islam di Mamasa semakin bertambah tahun 1980-an direnovasi oleh seorang pengusaha asal Mamasa yang sukses di Bali yaitu H.Zainal Tayyeb dan setelah Mamasa menjadi Kabupaten tahun 2002 maka renovasi masjid kedua dilakukan tahun 2012 dengan bangunan tiga lantai.
 
Kemeriahan Tahun Baru Islam
 
Dalam rangka menyambut tahun baru Islam, masyarakat Mamas memiliki tradisi melakukan pawai obor di malam 1 Muharam, pawai obor tesebut ditahun 2018 diganti dengan pawai lampion berbagai bentuk dan warna menyemarakkan malam tahun baru di Mamasa. Pergantian obor dengan lampion tersebut karena pertimbangan keamanan, mengingat lampion lebih aman dibandingkan dengan penggunaan obor terlebih dalam jumlah massal.

Masjid Agung Mamasa Tempo Dulu [foto: kemenag]
 
Lampion cantik warna-warni hasil kreasi peserta pawai menerangi lorong-lorong dan jalan-jalan protokol kota tersebut. Tradisi tahunan ini berlangsung meriah dan khidmat. Sepanjang jalan, para peserta pawai melantunkan shalawat dan lagu-lagu religius.
 
Tradisi tahunan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram ini dimulai dari depan Masjid Agung Nurul Yaqin Mamasa kemudian menyusuri rute-rute jalan yang ditetapkan panitia hingga mengitari jalan-jalan protokol di tengah Kota Mamasa.  Kegiatan ini menjadi tontonan menarik warga di sepanjang rute yang dilalui peserta pawai. Ratusan polisi terlibat mengamankan jalannya pawai keliling Kota Mamasa tersebut.
 
Rujukan
 
http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/280681/
https://www.timurterkini.com/berita/berburu-takjil-di-depan-masjid-agung-nurul-yaqin-mamasa/2/
https://sulbar.tribunnews.com/2021/07/21/masjid-agung-nurul-yaqin-mamasa-kurban-18-sapi-50-kg-untuk-warga-non-muslim
https://regional.kompas.com/read/2018/09/11/10392631/pawai-lampion-cantik-sambut-tahun-baru-hijriyah-di-mamasa

Saturday, June 24, 2023

Masjid Candikuning Bedugul Bali

Masjid Besar Al-Hidayah atau lebih dikenal sebagai Masjid Candikuning Bedugul. [foto: Fathonikudo]
 
Nama resminya adalah Masjid Besar Al-Hidayah namun lebih dikenal sebagai Masjid Candikuning merujuk kepada desa tempatnya berada, di desa yang sama juga terkenal dengan kawasan wisata Bedugul dengan danau Bratan dan Pura Ulun Danu nya. Pura bersejarah yang pernah menghias uang kertas Rp. 50.000 rupiah.
 
Bila Pura Ulun Danu berada di danau Bratan, sehingga bila dilihat dari kejauhan tampak pesonanya yang seolah terapung dipermukaan air danau yang jernih, maka Masjid Candikuning atau masjid besar Al Hidayah justru berada dilereng bukit diseberang jalan dari Danau Bratan.
 
Masjid Besar Al Hidayah
Jalan Denpasar – Singaraja, Desa Candikuning
Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali 82191
https://goo.gl/maps/jwFrgoPucC6JVzKN6
 

Masjid Besar Al Hidayah dibangun dilereng bukit, sehingga untuk mencapai masjid ini dari jalan raya, harus melewati jejeran anak tangga dimulai dari gerbang hingga ke pelataran masjid. Sesampai dipelataran masjid, pengunjung akan langsung disuguhi dengan pemandangan bentang alam Bedugul yang menawan.
 
Sepanjang jalan dari tempat parkir Ulun Danu hingga ke Masjid Besar Al Hidayah, terdapat jejeran kios kios yang menawarkan berbagai souvenir menarik khas Bali yang bernuansa Islami, seperti mukena, sarung khas Bali, sejadah khas Bali, buku-buku dan berbagai souvenir lain-nya yang tak ditemukan di objek wisata lainnya.
 
Masjid Besar Al Hidayah Bedugul selain mengelola pondok pesantren, sekolah madrasah hingga ke jenjang Aliyah, juga mengelola agrowisata Strawberry dan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) yang cukup populer sebagai lokasi edukasi pertanian bagi siswa siswa berbagai sekolah di Bali.

Masjid Besar Al-Hidayah Candikuning.
 
Sejarah Singkat Masjid Al-Hidayah Bedugul & Persaudaraan antara Ummat Hindu dan Muslim di Bali
 
Masjid Al-Hidayah Bedugul dibangun sejak 1927, berdiri di atas tanah wakaf dari Kumpi Awal dan Kumpi Nurdinah, ikrar wakaf dilakukan dihadapan Guru Alimun, seorang pemuka Muslim setempat kala itu. Semula, bangunan masjid-nya sangat sederhana. Ukurannya sekitar 5x5 meter persegi. Karena itu, kebanyakan orang menyebutnya Langgar Candikuning. Sejak dibangun, tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat berjamaah, tetapi juga sarana pendidikan Islam, khususnya bagi anak-anak dan pemuda.
 
Langgar Candikuning pertama kali direnovasi ditahun 1948, renovasi selanjutnya dilakukan ditahun 1978, menyusul kemudian tiga kali perbaikan skala kecil dilakukan agar mampu menampung jamaah yang semakin bertambah. Adapun bangunan masjid Besar Al-Hidayah yang tampak saat ini merupakan hasil renovasi pada tahun 2009.
 
Muslim di Candikuning berada di tengah mayoritas Hindu, namun komunitas Muslim selalu hidup damai dan rukun bersama ummat Hindu. Masing-masing umat memang menjunjung tinggi semangat toleransi dan kebersamaan. Di Bali, terdapat istilah nyama beraya yang merujuk pada ikhtiar menjaga keharmonisan masyarakat. Secara harfiah, terminologi itu berarti ‘saudara semua'.
 
Masjid Besar Al-Hidayah Candikuning dari masa ke masa. 

Sejarah pembangunan masjid Candikuning ini tak lepas dari ikatan persaudaraan yang begitu kuat dalam kerukunan. Pembangunan masjid ini sejak awal sejarahnya dibangun secara bergotongroyong yang tidak saja dilakukan oleh kaum muslimin saja namun juga Bersama sama dengan ummat Hindu setempat. Ukiran ukiran yang ada dibangunan masjid saat ini dikerjakan oleh warga yang beragama Hindu dengan khat hurup arab nya diberikan takmir masjid untuk diukir.
 
Contoh sederhana lainnya dari kerukunan warga disana, pada tiap perayaan Maulid Nabi pihak takmir Masjid Besar al-Hidayah selalu mengundang ummat Hindu untuk makan bersama dan sebagainya. Diketahui bahwa di kampung tersebut juga dikenal luas terdapat dua makam kuno yang dipercaya masyarakat setempat sebagai makam tokoh Islam di masa lalu.
 
Di puncak pegunungan, terdapat makam Syekh Hasan dan di bagian lereng terdapat makam kuno Syekh Husein.  Kedua makam tokoh Muslim tersebut, tidak hanya dirawat dan dihormati umat Islam saja. Tapi juga oleh umat Hindu di wilayah itu. Di desa tersebut, juga terdapat makam ulama besar, Habib Umar bin Yusuf al-Magribi. Tokoh tersebut dikenal luas sebagai salah satu wali pitu, perintis dakwah Islam di Pulau Dewata.***
 
Rujukan
 
https://bali.jpnn.com/destinasi/18761/masjid-al-hidayah-candikuning-rujukan-wisatawan-saat-berlibur-ke-bedugul?page=2
https://www.republika.id/posts/34294/masjid-besar-al-hidayah-cermin-toleransi-di-pulau-dewata
http://www.balimuslim.com/tabanan-area/masjid-besar-al-hidayah-bedugul
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/15/06/02/npb77o-indahnya-masjid-candi-kuning-bedugul-habis
http://bundakheiza.com/blog/masjid-al-hidayah-bedugul

Sunday, June 18, 2023

Masjid Agung Al-A'la Gianyar

Masjid Agung Al-A’la Gianyar Provinsi Bali [foto: Agus Suryadi]
 
Masjid Agung Al-A'la adalah masjid agung kabupaten Gianyar di provinsi Bali, lokasinya berada di jalan Kesatrian no.16 desa Gianyar, kecamatan Gianyar, kabupaten Gianyar, provinsi Bali. Lokasi masjid agung ini berseberangan dengan Bataliyon Zeni Tempur (Yonzipur) 18/YKR Komando Daerah Militer (Kodam) IX Udayana.
 
Masjid Agung Al-A’la Gianyar pertama kali berdiri pada tahun 1967 sebagai Masjid Jami’ Al A’la Gianyar. Sejarah berdirinya masjid ini tak  lepas dari peran Bupati Gianyar saat itu, Bapak Made Kembar Krepun yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan masjid bagi warga muslim Gianyar.
 
Masjid Agung Al-A'la Gianyar
Jl. Kesatrian No. 16 Lingkungan Candi Baru Kelurahan Gianyar Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar Provinsi Bali
https://goo.gl/maps/BDAus74NGoZbWjDVA
Instagram @ masjidagunggianyar
Situs: http://masjidagunggianyar.blogspot.com/
 

Masjid Agung Al - A'la Kabupaten Gianyar meraih Juara 1 Lomba Kemakmuran Masjid Tahun 2022 Tingkat Provinsi Bali. Appresiasi juga patut diberikan kepada pengurus masjid ini yang menghimpun beragam arsip sejarah masjid mereka, menyimpan dan menyusun nya dalam rangkaian tulisan di blog internet yang mereka kelola.
 
Bangunan Masjid Agung Al A’la Gianyar terdiri dari dua lantai dimana bagian dasar digunakan sebagai kantor dan lantai dua digunakan sebagai tempat beribadah. Masjid ini menggunakan arsitektur modern dengan kubah besar berwarna hijau pada bagian atapnya. Arsitektur khas Bali hanya tampak pada bagian gapura dan pagar yang mengelilingi kawasan masjid ini.
 
Status Masjid
 
Sejak dibangun tahun 1967 hingga tahun 1992 masjid ini bersatus sebagai Masjid Jami’. Barulah ditahun 1992 atas araham dari Kepala Departemen Agama Gianyar saat itu status masjid Jami’ Al-A’la menjadi Masjid Agung Al-A’la Gianyar sekaligus dibentuk Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Gianyar sebagai penyelenggara kegiatan hari besar Islam yang mencangkup seluruh wilayah Kabupaten Gianyar. Yang sebelumnya masih menjadi satu dengan masjid.
 
Masjid Agung Al-A’la Gianyar dari masa ke masa. Kiri: Masjid Agung Al-A'la Gianyar pada saat proses renovasi tahun 1996. Kanan; Masjid Agung Al-A'la ditahun 2017.

Sejarah Masjid Agung Al-A’la Gianyar
 
Berdirinya Masjid Agung Al-A’la Gianyar berawal dari Bupati Gianyar Made Kembar Krepun yang mewakafkan sebidang tanah miliknya di desa Serongga, Gianyar untuk digunakan sebagai lahan pembangunan masjid bagi muslim Gianyar yang saat itu di kota Gianyar sendiri baru terdiri dari 6 kepala keluarga muslim yakni keluarga H. Madrawi, H.M. Poliman, H. Saifudin Kamarudin Lukmanji, Bapak Nizan, Bapak Awi dan Bapak Niman.
 
Menimbang jauhnya lokasi tersebut dari pusat kota khususnya pemukiman warga Muslim. Panitia Pendirian Masjid meminta agar tanah yang diwakafkan oleh bapak Bupati tersebut, ditukar guling dengan tanah yang berlokasi di depan Markas Armada Pertahanan Udara Republik Indonesia (ARHANUDRI) Gianyar (sekarang Yonzipur 18/YKR Gianyar) dengan pertimbangan bahwa banyak anggota ARHANUD RI Gianyar yang juga beragama Islam.
 
Bangunan masjid mulai berdiri ditahun 1967 diatas lahan seluas ± 8are dan diberi nama Masjid Jami’ Al-A’la Gianyar. Pembangunan awal masjid yang diarsiteki oleh Raden Su’ud ini rampung dalam waktu dua tahun. Bangunan masjid jami’ tersebut tidaklah sebesar sekarang, hanya sepertiga dari luas bangunan sekarang, mengingat warga muslim saat itu juga belum sebanyak saat ini.

Interior Masjid Agung Al-A’la Gianyar [foto: Tri Wahyu Supriyanto]
 
Dengan para pendirinya terdiri dari warga muslim awal di Gianyar yakni H.M. Poliman (Ketua Partai NU Cabang Gianyar saat itu), H. Saifudin Kamarudin (aktifis Muhammadiyah Gianyar saat itu), Letnan Oka Sukarja dan Darwanto dari Arhanud RI Gianyar,  Saheran (Guru PNS), Jahrudin (Kepala Kejaksaan Negeri Gianyar asal Makassar, sekaligus Ketua Takmir pertama). Sumito (Komandan Polisi Resort Gianyar saat itu, sebagai Sekretaris Takmir Pertama) dan Sumarno (Kepala BRI Gianyar saat itu, sebagai Bendahara Takmir Pertama).
 
Seiring dengan telah berdirinya bangunan masjid, kemudian dibentuk Madrasah Ibtidaiyah di tahun 1969 namun menumpang tempat di Gedung TK Bayangkari. Barulah ditahun 1971 dibangun Gedung madrasah yang berlokasi dibelakang masjid. Remaja Masjid Al-A’la mulai dibentuk tahun 1984 oleh Sukandi (putera H.M. Poliman), Sumariyanto (kini menetap di Madura), H. Sadiran dan Alm. Mustamar (terakhir menjabat Seksi Kebersihan hingga wafat pada 13 Agustus 2018).
 
Renovasi Masjid Agung Al-A’la Gianyar
 
Renovasi pertama masjid ini dilakukan pertama kali ditahun 1992 sebatas pada perluasan serambi masjid. Rencana renovasi perluasan masjid dicetuskan ditahun 1995 dilanjutkan dengan pembentukkan Panitia Renovasi Pembangunan Masjid yang diketuai oleh Sapto Widodo dan Sekretaris Drs. H. Sholehuddin Abdul Choliq.

Fitur menarik di Masjid Agung Al-A’la Gianyar.
 
Sempat terjadi pergantian ketua panitia hingga tiga kali awalnya diketuai oleh Sapto Widodo karena pindah tugas digantikan oleh Drs. Hasanuddin Said, setelah dua tahun diganti oleh R. Suprayitno dan terakhir jabatan Ketua Panitia dipegang oleh Drs. H. Teguh Mahargono sedangkan arsiteknya adalah Ir. Bambang Hermanto.
 
Pada tanggal 6 Juli 1996 dilaksanakan Renovasi Masjid secara total hingga ke bentuknya saat ini, walau dengan modal sebesar Rp.  25.000.000,00. Upacara Peletakan Batu Pertama dilaksanakan pada Hari Jum’at oleh Bupati Gianyar Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH turut disaksikan oleh Muspida Kabupaten Gianyar dan Ketua MUI Provinsi Bali (yang diwakili oleh Drs.Oentung Oetomo). Renovasi tersebut diperluas hingga lahan Madrasah di bagian belakang masjid, sedangkan Madrasah dipindah ke lokasi lain.
 
Renovasi selesai diawal tahun 2003, bangunan masjid berlantai dua memiliki dua kubah bulat di bagian depan, bentuk asli atap yang bertingkat dua tetao dipertahankan. Kemudian bangunan baru diresmikan oleh bupati Gianyar Tjokorda Gde Budi Suryawan, SH pada tanggal 9 Februari 2003.
 
Rujukan
 
https://masjidagunggianyar.blogspot.com/2016/11/sejarah-masjid-agung-al-ala-gianyar.html?sc=1686473787877#c5627317712815606630
https://bali.kemenag.go.id/gianyar/berita/44122/masjid-agung-al-ala-kabupaten-gianyar-raih-juara-1-lomba-kemakmuran-masjid-tahun-2022-tingkat-provinsi
https://kua-bali.id/detail-rumah-ibadah/kua_gianyar/509
https://rumahibadah.kemenagbali.com/index.php/id/detail/138

Saturday, June 17, 2023

Masjid Danau Prokos Bosnia: Niat Tulus Mendiang Suami, Diwujudkan Oleh Istri Tercinta

Prokos Mosque / Prokoški Mosque / Prokoško Mosque / Džamija Prokoško Jezero / Masjid Danau Prokosko di Bosnia & Herzegovina. Masjid di lokasi tertinggi di Eropa.
 
Ini kisah kecil dari sebuah masjid mungil ditepian danau Prokos, Bosnia & Herzegovina. Dari letak geografisnya, masjid ini merupakan masjid yang berada di lokasi tertinggi di benua Eropa. Masjid danau Prokos dibangun tahun 2005 oleh pasangan suami istri dari Visoko, mereka adalah Hadžija (Hajji) Salih Cabaravdic dan istrinya Hadžinica (Hajah) Ferida Cabaravdic.
 
Haji Salih dan Istrinya Ferida sudah sejak lama memiliki sebuah pondok peristirahatan kecil di tepi danau Prokos. Tiap kali mereka sedang disana, Haji Salih mengajak muslim setempat untuk sholat berjamaah di pondok mungil mereka. Berawal dari situ, Haji Salih meminta izin kepada istrinya untuk merobohkan pondok kecil mereka dan membangunnya lebih besar sebagai masjid untuk warga muslim setempat beribadah.
 
Musim gugur 2004 Haji Salih sudah mulai membeli bahan bahan material untuk membangun masjid impiannya. Pada Januari 2005 Haji Salih menjual seluruh saham miliknya ditempat ia bekerja yang akan ia gunakan untuk membangun masjid, namun beliau wafat sebelum sempat mewujudkan masjid impiannya. Hajah Ferida yang kemudian melanjutkan niat suaminya.
 
Bermodal uang tunai 30.000 Mark peninggalan mendiang suaminya, beliau mulai membangun masjid kecil di tepian danau Prokos setelah mendapatkan izin dari pemerintah dan komunitas muslim setempat. Apa yang ia lakukan kemudian mendapat perhatian dari para sahabatnya yang turut membantu.
 
Beberapa diantara mereka ada yang membantu pembuatan mihrab, teman temannya dari Iran menyumbang karpet, dan sepupunya Hazim Zečević membantu pembuatan menara masjid tersebut. Masjid Danau Prokos selesai dibangun dan mulai digunakan pada 24 Juni 2005. Selain meneruskan niat suaminya untuk membangun masjid, Hajah Ferida juga menunaikan ibadah haji badal untuk mendiang suaminya
 
Kini danau prokos menjadi salah satu destinasi wisata pavorit di Bosnia karena letaknya yang unik berada di dataran tinggi sehingga terdapat flora dan fauna endemik di danau dan sekitarnya. Masjid mungil inipun turut populer dikalangan wisatawan terutama bagi wisawatan dari negara negara arab dan negara negara Islam lainnya, karena memang merupakan masjid satu satunya di kampung kecil di danau Prokos.***