Sunday, November 13, 2016

Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa

Bangunan utama masjid Agung Nurul Huda Sumbawa ini dibangun dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya masjid masjid kesultanan di tanah Jawa

Masjid Agung Nurul Huda merupakan masjid agung di kota Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini merupakan warisan dari masa kejayaan kesultanan Sumbawa. Pada masa-nya, selain sebagai masjid resmi kesultanan, Masjid Agung Nurul huda ini juga menjadi tempat penobatan para sultan yang berkuasa di kesultanan Sumbawa. Pada tanggal 5 April 2011, masjid Agung Nurul Huda kembali digunakan sebagai tempat penobatan Sultan Sumbawa setelah 70 tahun tertunda.

Sebagai masjd kesultanan, Masjid Agung Nurul Huda dibangun di dalam komplek istana (kraton) Dalam Loka Real Kesultanan Sumbawa. Lokasi masjid ini berada di sebelah barat bangunan istana, dan orientasi pembangunannya pun, pintu utama masjid ini yang berada di sisi timur lengkap dengan kanopi, menghadap ke arah Istana Dalam Loka Real, bukan menghadap ke jalan raya yang kini bernama Jalan Sudirman.

Bentuk bangunannya hampir sama dengan bentuk masjid masjid kesultanan di tanah air, berupa bangunan masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun tiga dengan lantai masjid ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya. Hanya saja Masjid Agung Nurul Huda dilengkapi dengan Menara Kembar yang mengapit bangunan utama di sisi barat. Bangunan Masjid Agung Nurul Huda ini di topang dengan sederet pilar pilar beton bundar yang membuatnya telihat sangat kokoh dan megah. Penggunaan bahan bahan kaca pada bangunan ini membuatnya terlihat lebih modern dibandingkan dengan kebanyakan bangunan masjid masjid kraton Nusantara lainnya. 

Masjid Agung Nurul Huda
Jl, Sudirman No. 28 Sumbawa Besar
Kab. Sumbawa. Prov. Nusa Tenggara Barat 84313
Telp : 0371 625199
Koordinat : 8°30'14.2"S 117°25'34.6"E / -8.503936, 117.426278


Penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin  IV.

Daeng Muhammad Abdurahman Kaharuddin sudah dikukuhkan sebagai Putra mahkota kesultanan Sumbawa pada tanggal 5 April 1941, namun baru dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa pada hari Selasa tanggal 5 April 2011 dengan gelar Sultan Muhammad Kaharuddin  IV.

Dinobatkannya Sultan Muhammad Kaharuddin IV sebagai Sultan, menandai bangkitnya kembali kesultanan Sumbawa meski jabatan Sultan saat ini tidak lagi memangku jabatan politik seperti di masa lalu dan merupakan jabatan budaya yang bertugas sebagai penjaga pusaka budaya dan adat istiadat Sumbawa yang religius, meliputi wilayah kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Prosesi penobatan tersebut dihadiri oleh Bupati Sumbawa, Drs. H. Jamaluddin Malik, Wakil Bupati Kabupaten Sumbawa Barat, Drs. H. Mala Rahman, Gubernur NTB, Dr.TGH. Zainul Majdi, MA, Staf Ahli Menteri  Kebudayaan dan Pariwisata, Utoro Drajat, para pemangku Kesultanan dan kerajaan di Nusantara salah satunya adalah Gusti Kanjeng ratu (GKR) Hemas, Permaisuri Sultan Hamengkubuwono X, tokoh sipil dan militer pusat dan daerah serta  masyarakat Sumbawa.

Referensi