Saturday, May 26, 2012

Masjid Cologne: Menanti Masjid Terbesar di Eropa


Masyarakat Muslim Cologne yang didominasi keturunan Turki patut bersyukur karena keinginan yang telah diimpikan sejak 2001 itu akhirnya bisa diterima hampir tujuh tahun kemudian. Banyak penolakan dan rintangan yang mesti dilalui. Namun semua itu berakhir dengan indah. Dan itu kini menjadi bagian dari sejarah pendirian Masjid Cologne.

Sejak dua tahun lalu, masjid dengan arsitektur modern itu mulai dibangun. Dirancang untuk menampung sampai 2.000 jamaah, Masjid Cologne bakal menjadi masjid terbesar di Jerman. Bahkan, masjid terbesar di Eropa. Penduduk Muslim Cologne yang berjumlah sekitar 120.000 jiwa adalah yang terbanyak dari seluruh kota di Jerman.

Berbeda dengan kebanyakan bangunan masjid yang mengadopsi gaya tradisional, bangunan masjid yang berada di distrik Ehrenfeld ini justru menerobos pakem-pakem yang selama ini digunakan. Hal ini terlihat pada bagian kubah masjid yang tidak berbentuk separuh bola atau pun berbentuk kerucut (makhrut), setengah oval (al-ihliji), silinder (ustuwani) dan berbentuk bawang lancip ke atas.

Kubah pada bangunan Masjid Cologne lebih mengedepankan gaya arsitektur di era modern, yakni bentuk kubah geodesi. Kubah ini berbentuk hemister dan menggunakan kekisi sebagai rangka, menjadikannya lebih ringan. Perkembangan teknologi juga memungkinkan penggunaan cermin dan plastik sebagai padatan pada desain kubah.

Kubah dengan tinggi mencapai 35 meter ini dibuat seperti bola dunia yang transparan, sehingga bagian dalam masjid bisa terlihat dari luar. Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan dua buah menara setinggi 55 meter. Sementara eksterior bangunan utama, bangunan pendukung dan menara masjid didominasi warna putih.

Kendati Masjid Cologne memiliki dua buah menara yang mengapit bangunan utama, namun berdasarkan hasil kesepakatan antara pihak Turkish-Islamic Union for Religius Affairs dan warga non-Muslim setempat, suara adzan tidak akan diperdengarkan melalui menara masjid.

Ketinggian menara masjid juga merupakan hasil kesepakatan bersama seluruh warga kota Cologne yang menghendaki agar ketinggiannya sama seperti bangunan di lingkungan sekitarnya. Tahun ini, bila tak ada halangan, Masjid Cologne akan selesai dibangun. Kelak, masjid ini akan mendampingi Kathedral Gothik yang sejak lama menjadi penanda kota itu.


Jusuf Kalla Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia


Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) secara aklamasi terpilih sebagai ketua umum Dewan Masjid Indonesia atau DMI. JK akan menjabat salah satu organisasi tertua di Indonesia itu untuk periode lima tahun ke depan, 2012-2017.

"Muktamirin kemarin sore memilih jalan aklamasi untuk menetapkan JK menjadi ketua umum DMI," kata Ketua Umum Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI), Ali Mochtar Ngabalin, ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Ahad (29/4/2012).

JK menggantikan Ketum DMI sebelumnya, yakni Tarmizi Taher.

Ali Mochtar mengatakan saat diputuskan mengangkat JK, yang bersangkutan masih berada di luar negeri. "Pak JK sudah mengkonfirmasi atas kepercayaan yang diberikan," kata Ali Mochtar.

Sebagai organisasi berbasis Islam tertua di Indonesia, DMI berdiri dan memiliki Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) di 33 provinsi di Indonesia.


Friday, May 25, 2012

Alhamdulillah, Cina dan Aljazair Bangun Masjid Agung


reka bentuk masjid terbesar ketiga di dunia

Sejak Ahad (20/5/2012) lalu, pembangunan Agung Aljazair telah dimulai. Menteri Dalam Negeri Aljazair, Baoabdallah Ghlamallah dan Duta Besar Cina untuk Aljazair Liu Yuha hadir dalam peletakan batu pertama.

Dalam sambutannya, Bouabdallah mengatakan pembangunan masjid agung ini sekaligus menandakan hubungan baru antara Cina dan Aljazair. 

Pembangunan yang menghabiskan dana satu miliar euro ini akan mencakup pembangunan menara masjid tertinggi di Afrika yakni 270 meter (886 kaki). Menara tersebut memiliki 25 tingkat dengan delapan lift yang memudahkan para pengunjung untuk naik ke setiap tingkat menaraaca.

Pada bangunan utama terdiri dari ruangan besar untuk shalat yang mampu menampung 120 ribu jamaah, perpustakaan, museum seni dan pusat penelitian. Dengan kapasitas demikian besar, masjid ini akan menjadi masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Madinah.

China State Construction Engineering Corporation (CSCEC), demikian nama perusahaan Cina yang membangun proyek tersebut di lahan seluas 20 hektare (49 are) di kawasan Mohammadia, akan menyelesaikan proyek itu pada  tahun 2015

CSCEC China mengalahkan perusahaan Lebanon-Italia ''Arabian Construction Company ASTALDI'' dan perusahaan Aljazair-Spanyol ''Etrhb-Haddad-Cosider-FCC'' untuk kontrak pembangunan masjid tersebut.

Saat ini Aljazair memiliki tiga masjid besar, yaitu Masjid el-Kebir Djamaa dibangun pada abad 11; Masjid Djamaa el-Djedid yang dibangun pada 1660, serta Masjid Ketchaoua yang juga dibangun selama pemerintahan Ottoman di abad ke-17.


Thursday, February 16, 2012

:::Dibalik Menara Kuning Hijau Nagasari Dan Aku pun Katrok:::


:::Sore, waktu ashar di Medalkrisna, riap riap terlihat menara kuning hijau menjulang diantara pucuk pucuk pohon dikejauhan ujung horison hamparan sawah yang menghijau, Kesana aku menuju ::: di Nagasari menara itu berada, sepeminuman teh dari tempat pertama kali aku melihatnya dari kejauhan::: di ponpes Darul Muallamah, aku ketinggalan sholat berjamaah, di masjid masih tersisa santri santri cilik yg baru selesai sholat ashar:::


:::berkeliling sekitar masjid aku tak menemukan satupun kran air untuk wudhu::: santri cilik itu yang memberitahuku ::: “disana om tempat wudhu nya, dibawah tangga” ::: “saya barusan dari sana de’ tapi gak nemu keran wudhu-nya ?? ::: “nggak ada keran-nya om, wudhu’ nya di kolam itu”::: whoaaaaaa, aku benar benar katrok, kali ini benar benar ngalami harus wudhu di kolam::: gak ada gayung, yang ada tangga masuk ke kolam::: apa boleh buat, meski hati masih bertanya tanya ‘beneran disini kah wudhunya?”…yah sudahlah nikmati saja pengalaman pertama berwudhu di kolam yang . . . .::: hi hi hi :::

Alamat Masjid Darul Muallamah

Jalan Pasir Kupang, Komplek Pondok Pesantren Darul Muallamah
Desa Nagasari, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, 
Propinsi Jawa Barat - Indonesia.

Wednesday, January 11, 2012

Masjid Shirothal Mustaqim, Masjid Tertua di Samarinda – Kaltim


Dalam bahasa Arab, “Shirothal Mustaqim” bermakna “jalan yang lurus”. Nama yang terasa begitu pas untuk masjid tertua di kota Samarinda – ibukota propinsi Kalimantan Timur ini. Karena dalam sejarah pembangunannya lokasi tempat masjid ini berdiri dulunya merupakan tempat maksiat termasuk didalamnya tempat judi sabung ayam dan penyembahan berhala. Masjid ini dibangun di lokasi sekarang ini salah satu tujuannya adalah untuk melenyapkan kemaksiatan di daerah tersebut.

Masjid Shirothal Mustaqim dibangun oleh Said Abdurachman bin Assegaf, seorang ulama dan pedagang muslim dari PontianakKalimantan Barat yang datang ke Samarinda pada tahun 1880. Beliau mendapatkan gelar kehormatan dari Sultan Kutai saat itu sebagai Pangeran Bendahara. Menyadari kondisi masyarakat Samarinda seberang tempatnya bermukim masih ada yang suka berjudi dan melakukan maksiat lainnya beliau tergerak hati untuk membangun sebuah masjid yang lokasinya di pusat kegiatan tersebut. Dan pada tahun 1881 dimulailah pembangunan masjid dimaksud.



Lihat Masjid Shirathal Mustaqim - Samarinda di peta yang lebih besar

Pembangunan masjid ini memang membutuhkan waktu yang cukup lama sampai 10 tahun. Baru pada tahun 1891 masjid Shirothal Mustaqim diresmikan oleh Sultan Kutai Aji Muhammad Sulaiman yang sekaligus menjadi imam sholat pertama di masjid bersejarah ini. Kawasan tempat masjid ini berada pun kemudian berubah total menjadi kawasan yang relijius bahkan kampung letak masjid ini pun kemudian bernama Kampung Mesjid.

Semaraknya syiar Islam di Masjid Shirothal Mustaqim ini telah menarik perhatian seorang Saudagar kaya Belanda yang bernama Henry Dasen untuk memeluk Islam pada tahun 1901. Setelah ber-Islam beliau turut menyumbangkan hartanya untuk masjid dengan mendanai pembangunan sebuah menara tempat muazin mengumandangkan azan di masjid ini. Menara ini juga masih berdiri kokoh hingga kini.

Secara umum arsitektural Masjid Shirothal Mustaqim hampir sama dengan masjid masjid tua lainnya di tanah air. Yang menjadi pembedanya adalah susunan atapnya yang terdiri dari 4 susun atap limas, sementara kebanyakan masjid tua Indonesia hanya bersusun tiga. Dan satu hal yang menjadi pembeda utama nya adalah bahan yang dipakai. Masjid Shirotal Mustaqim seluruhnya menggunakan kayu Ulin sebagai bahan bangunan nya. Kayu Ulin yang biasa juga disebut sebagai kayu besi ini memang sangat terkenal karena kekutannya. Selain tahan rayap karena sangat keras juga tahan terhadap segala kondisi cuaca. Wajar bila kini masjid ini masih berdiri kokoh meski telah melewati rentang waktu lebih dari 120 tahun sejak dibangun tanpa membutuhkan perbaikan berarti.

Presiden SBY pernah singgah ke masjid ini untuk melaksanakan sholat subuh bersama masyarakat Samarinda seberang dalam salah satu lawatannya ke kota Samarinda. Masjid ini juga pernah meraih penghargaan sebagai peserta terbaik ke-dua dalam Festival Masjid Masjid Bersejarah Se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Masjid Indonesia di tahun 2003 lalu. So, Bila sedang berkunjung ke Samarinda jangan lupa untuk menyinggahi Masjid penuh sejarah ini.

-----------------------------------------ooOOOoo-----------------------------------------

Baca artikel masjid masjid di Kalimantan lainnya


Monday, January 2, 2012

Masjid (bernama) Indonesia di Maroko, Sejarah yang “Terlupakan”

"Masjid Indonesia" di Kota Kenitra, Maroko (Foto dari Blog Burhan Ali)

Bila di Jakarta ada ruas jalan bernama Jalan Casablanca sebaliknya di Casablanca – Maroko juga ada ruas jalan bernama Jalan Jakarta. Tidak hanya Jalan Jakarta disana juga ada ruas jalan bernama Jalan Bandung. Masih belum cukup cukup sampai disitu, di kota Rabat – Ibukota Maroko juga ada ruas jalan bernama Rue Sukarno (Jalan Sukarno). Semua itu adalah bentuk penghargaan pemerintah Maroko (kala itu) dibawah pemerintahan raja Muhammad V atas jasa Indonesia dan Bung Karno dalam mendukung kemerdekaan Maroko dari Prancis.

Bung Karno menjadi pemimpin negara pertama yang mengadakan lawatan ke Maroko paska kemerdekaan-nya. Kunjungan Bung Karno ke Maroko pada tanggal 2 Mei 1960 disambut meriah oleh rakyat Maroko, Bung Karno bahkan dibawa berpawai keliling kota Rabat dalam mobil kap terbuka bersama Raja Muhammad V. dikesempatan tersebut Raja Muhammad V menghadiahi Bung Karno untuk meresmikan sendiri ruas jalan di Kota Rabat yang dinamai sesuai namanya “Rue Sukarno” atau Jalan Sukarno, sekaligus memberi hadiah bebas visa bagi seluruh rakyat Indonesia yang akan berkunjung ke Maroko. Sebuah hadiah yang masih bisa dinikmati oleh rakyat Indonesia hingga kini.

Indonesia Mosque
Mosquée Moulay Lhassan
Avenue Er-Riyade, Kénitra, Maroko



Tapi selain dari semua itu, di Maroko juga ada sebuah Masjid megah yang juga dinamai “Masjid Indonesia”. Lokasinya berada di kota Kenitra. Meski selama ini sama sekali tak ada pemberitaan di tanah air tentang keberadaan masjid ini. Burhan Ali, seorang Mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di negeri Maghribi tersebut mengangkat keberadaan masjid ini dalam tulisannya.

Masjid (bernama) Indonesia tersebut masih berdiri megah dan masih berfungsi dengan baik hingga kini. Di papan nama masjid yang dipasang di atas pintu utama  bangunan masjid tertulis dengan jelas nama “Masjid Indonesia” dalam huruf Arab.  Jangankan orang Indonesia di tanah air, orang Indonesia yang tingal di Maroko pun sangat sedikit yang tahu tentang keberadaan masjid bersejarah ini.

Masjid Indonesia (Maolay Hassan) Foto dari panoramio

Penamaan masjid ini pun tidak terlepas dengan penamaan nama-nama jalan sebagaimana disebut di atas serta pembebasan visa bagi warga Indonesia sebagai hadiah dari Raja Mohammed V. Masjid yang terletak di samping Souk Houriya, kawasan Biranzaran Kota Kenitra ini hingga saat ini masih menjadi salah satu pusat pengajaran dan  pemberantasan buta huruf dan pengajian singkat setelah shalat maghrib.

Dari segi arsitektural, Masjid Indonesia” ini sedikit berbeda dengan masjid-masjid di Maroko umumnya. Pernah ada dari orang Maroko bercerita bahwa beberapa arsitek yang ikut membangun didatangkan dari Indonesia.  Perbedaan mencolok terlihat pada bangunan menara masjid. Bila menara masjid Maroko umumnya berbentuk balok yang tinggi menjulang, menara Masjid Indonesia berbentuk segi empat tirus ke atas. (sisi atas lebih kecil di banding bagian bawah menara).

Menara Masjid Indonesia di Maroko

Atap Masjid ini juga jauh berbeda dengan atap kebanyakan masjid di Maroko, atap “Masjid Indonesia” ini berbentuk rangkaian atap limas yang dipadu jadi satu.  Sebuah perbedaan yang sangat menarik diantara Masjid masjid di kota Kenitra yang semuanya berarsitektur khas Maroko. Warga Kenitra asli pun tak banyak yang tahu tentang masjid ini kecuali kaum tua. Orang muda Kenitra lebih mengenal masjid ini sebagai Masjid Maolay seperti tertulis pada situs panoramio yang menampilkan masjid ini dengan nama Masjid Maolay Hasan (Maolay Hasan adalah nama putra Mahkota Maroko).

So, bila anda sedang berada di kota Kenitra – Maroko, jangan lupa untuk singgah ke “Masjid Indonesia”. Jangan lupa juga untuk menuliskan pengalaman anda berkunjung ke “Masjid Indonesia” yang sangat jauuuuh dari Indonesia ini ya. Sejauh ini tulisan BURHAN ALI yang pernah di muat di Republika, Kompasiana dan Blog pribadi beliau menjadi satu satunya sumber tentang keberadaan Masjid ini.

----------------------------------------ooOOOoo------------------------------------------

Baca juga


Sunday, January 1, 2012

Kembaran Masjid Baiturrahman Banda Aceh di Yogyakarta

Masjid Baiturrahman D.I. Yogyakarta (foto dari kaskus)
Paska bencana gempa dan tunami tahun 2004 lalu begitu banyak bantuan dan solidaritas mengalir ke provinsi Aceh, termasuk pembangunan kembali masjid masjid yang hancur di Aceh baik oleh pemerintah RI, bantuan asing dan bantuan masyarakat dari dalam dan luar negeri, salah satunya adalah Masjid Palembang Darussalam di Lhoknga pada posting sebelumnya.

Dua tahun paska gempa dan tsunami di Aceh, tahun 2006 gempa dasyat melanda wilayah Yogyakarta menghancurkan infrastruktur di wilayah tersebut termasuk bangunan bangunan masjid yang ada. Sebagai bentuk solidaritas, pemerintah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) membangun masjid di wilayah kabupaten Bantul. Sebuah bangunan masjid yang sangat elok dan begitu menarik karena sengaja dibangun sebagai kembaran Masjid Baiturrahman di Banda Aceh dengan ukuran yang lebih kecil.

Nama resmi masjid inipun menggunakan nama yang sama dengan
masjid aslinya di Aceh (foto dari kaskus)
Lokasi Masjid Baiturrahman di Jogja


Masjid sumbangan masyarakat Aceh kepada masyarakat Yogyakarta ini berada di sisi utara simpang empat ring road madukismo. Plurugan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta,Indonesia. Di google map ataupun google earth lokasi masjid ini masih belum eksis. 

Klik untuk melihat lokasinya di wikimapia
Koordinat geografi : 7°49'34"S 110°20'41"E




Lihat Replika Masjid Baiturrahman di Yogyakarta di peta yang lebih besar



Sejarah Pembanguan

Kembaran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh di Kabupaten BantulYogyakarta, merupakan sumbangan masyarakat dan Pemerintah Aceh, sebagai bentuk solidaritas dan simpati atas peristiwa gempa bumi yang melanda Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2006 silam.

Kemeriahan peresmian masjid Baiturrahman D.I. Yogyakarta
foto dari serambinews.net
Peletekan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan sendiri oleh Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar pada tahun 2006 silam. Pembangunan masjid ini merupakan reflkesi dari sikap kebersamaan masyarakat Aceh atas derita warga Bantul yang digempur gempa.

Rencananya Masjid tersebut juga akan diresmikan oleh Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar. Namun beliau batal datang ke Yogyakarta untuk acara peresmian yang bertepatan di hari Jum’at tersebut karena ditutupnya bandara Adi Sucipto Yogyakarta untuk semua aktivitas penerbangan akibat tertutup debu vulkanik dari letusan gunung Merapi.

foto dari panoramio
Peresmian masjid ahirnya dilakukan pada hari Jum’at tanggal 5 November 2010 oleh Kepala Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan (Isra) Drs Bukhari yang lebih dulu tiba di Yogyakarta mewakili Wagub Aceh yang gagal terbang ke Yogya. Sementara dari Bantul hadir Wakil Bupati Bantul Mardi Ahmad. Tokoh Aceh di Yogya hadir HM Djamil Mahmudi SH, Jufri dan beberapa tokoh Aceh lainnya.

Pembangunan masjid tersebut menghabiskan dana Rp 3,3 miliar, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) 2007 -2009. Masjid tersebut mampu menampung 1000 jamaah. Pemprov Yogyakarta melalui Wagubnya KGPAA Sri Paduka Paku Alam IX jauh-jauh hari telah mempersiapkan rangkaian upacara peresmian masjid tersebut dengan mengundang Wagub Aceh, Muhammad Nazar. Di antaranya, tarian adat dan spanduk penyambutan yang dibentangkan di sejumlah tempat strategis di Bantul.

Wagub Muhammad Nazar, seyogyanya usai prosesi peresmian tersebut juga dijadwalkan menjadi khatib Shalat Jumat (5/11), di masjid yang kembaran Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh itu. Namun semua rencana tersebut tidak terwujud karena Bandara Adi Soetjipto Yogyakarta ditutup akibat debu vulkanik letusan Gunung Merapi seperti disebutkan tadi.

foto dari panoramio
Wagub Muhammad Nazar mengaku kecewa karena tidak bisa hadir ke Bantul, Yogyakarta. “Atas nama masyarakat dan Pemerintah Aceh, saya menyampaikan permohonan maaf karena tak bisa menjejakkan kaki di Yogya. Semata-mata ini karena kendala di luar kemampuan manusia”.

Upacara peresmian masjid diselenggarakan dalam suasana duka cita akibat meletusnya gunung merapi. Upacara peresmian berlangsung dalam suasana khidmat, meski diwarnai situasi tidak menentu akibat bencana Merapi, Kepala Biro Keistimewaan Aceh dan Kesejahteraan (Isra) Drs. Bukhari dan rombongan disambut secara adat Jawa, manifestasi dari rasa terima kasih pemerintah dan masyarakat Yogyakarta atas sumbangan Aceh itu.

senja di masjid Baiturrahman D.I. Yogyakarta (foto dari panoramio)
Dalam kesempatan itu, secara simbolik, Bukhari juga menyerahkan bantuan Rp 100 juta untuk bencana Merapi. Sebagai ungkapan dukacita dan belasungkawa, Wagub Muhammad Nazar menyempatkan diri melakukan pembicaraan per telepon dengan Wagub Yogyakarta. “Wagub Yogyakarta menyampaikan undangan kepada Wagub Aceh untuk berkunjung ke Yogyakarta”.

Referensi


------------------------------ooOOOoo-------------------------------

Baca Juga