Saturday, February 18, 2017

Masjid Agung An-Nur Ogan Ilir

Masjid Agung An-Nur di bulan Juli 2016

Masjid Agung An-Nur adalah Masjid Agung yang berada di dalam Komplek Perkantoran Terpadu Kabupaten Ogan Ilir di Desa Tanjung Senai, Kecamatan Indralaya. Masjid ini juga lazim disebut sebagai Masjid Agung Tanjung Senai karena lokasinya yang berada di desa Tanjung Senai.

Masjid Agung An-Nur / Masjid Agung Tanjung Senai
Komplek Perkantoran Terpadu Kabupaten Ogan Ilir
Desa Tanjung Senai, Kec. Indralaya, Kab, Ogan Ilir
Sumatera Selatan. Indonesia



Ogan Ilir merupakan salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Selatan hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ilir. Pembentukan kabupaten Ogan Ilir berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten OKU Timur, Kabupaten OKU Selatan dan Kabupaten Ogan Ilir di Provinsi Sumatera Selatan yang disahkan pada 18 Desember 2003. Pada 2013.

Ibukota Kabupaten Ogan Ilir berada dibangun di atas lahan reklamasi rawa rawa di kecamatan. Sebuah komplek pemerintahan terpadu, yang di proyeksi sebagai pusat perkantoran seluruh instansi di kabupaten Ogan Ilir. Di komplek ini sudah berdiri Kantor Bupati OI, dan beberapa instansi lainnya termasuk Rumah Sakit Daerah dan Masjid Agung An-Nur.

Masjid Agung An-Nur dari ruas jalan hubung ke  jalan lintas Sumatera

Jumlah penduduk Kabupaten Ogan Ilir mencapai 450.933 jiwa atau 117.783 kepala keluarga dengan pertumbuhan penduduk mencapai 2 persen.[2] Populasi penduduk di Kabupaten Ogan Ilir berasal dari Suku Ogan dengan 3 (tiga) sub-suku, yakni: Suku Pegagan Ulu, Suku Penesak dan Suku Pegagan Ilir. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Disebut sebagai Kabupaten Ogan Ilir karena memang secara geografis, kabupaten ini berada di sebelah hilir sungai Ogan.

Masjid Agung An-Nur berdiri di atas lahan seluas 2.025 M2, tinggi bangunan mencapai 26,39 meter. Pekerjaan awal dilaksanakan tahun 2012 dan proses pembangunannya melibatkan beberapa kontraktor. Pembiayaan pembangunan masjid ini didanai sepenuhnya dari dana APBD kabupaten OI secara multi Year. Pembangunan masjid ini selesai dan mulai digunakan pada Januari 2017, menghabiskan dana lebih dari Rp. 18 Milyar Rupiah.***

Referensi

Sunday, February 12, 2017

Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Jakarta Utara

Masjid Al-Mukarromah Kampung Bandan, awalnya merupakan sebuah mushola di dekat dua makam tokoh Islam, kemudian berkembang menjadi masjid. Makam yang ada disana pun bertambah menjadi tiga dengan dimakamkannya, pendiri masjid ini disamping kedua makam sebelumnya.

Masjid Al-Mukarromah adalah salah satu masjid tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke 18. Lokasinya kini berada di Jalan Lodan, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara. Dalam bahasa Arab, nama masjid ini memiliki arti mulia atau yang dimuliakan. Masjid ini pertama kali dibangun sebagai sebuah Mushola di dekat dua makam Ulama Besar Batavia oleh Sayid Abdul Rachman bin Alwi As Syatiri pada tahun 1879. Beliau wafat tahun 1908 dan putra beliau Sayid Alwi bin Abdul Rachman bin Alwi As-Syatiri yang kemudian membangun mushola tersebut sebagai sebuah masjid.

Sejarah pembangunan masjid ini terbilang cukup unik. Habib Abdurrahman bin Alwi Asy-Syahtiri adalah seorang saudagar yang pada suatu kesempatan sekitar tahun 1874 berkunjung ke kediaman Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas di Empang, Bogor. Awalnya Habib Abdurrahman hanya berniat mengadu masalah usaha dagangnya. Tapi, lalu Habib Abdullah menyuruh beliau menelusuri 2 makam ulama besar di Batavia. Jika ditemukan, Habib Abdullah berpesan agar Habib Abdurrahman memelihara dan mendirikan tempat ibadah di dekat makam tersebut.

Masjid Keramat Al-Mukarromah
Jl Lodan Raya 99, Kampung Bandan, Kelurahan Ancol
Kec. Pademangan, Jakarta Utara



Dijelaskannya, kedua makam itu adalah para wali Allah. Semasa hidupnya, mereka berdakwah dan menyebarkan syiar Islam di tengah-tengah perkampungan para budak dari Banda yang terzalimi ulah jahat penjajah. "Keduanya terlibat dalam pemberontakan kepada VOC di tahun 1682. Setelah melakukan penelusuran ditemukan dua makam berdampingan yang terletak di Kampung Bandan. Habib Abdullah pun membenarkan bahwa kedua makam itu merupakan dua ulama yang dicarinya. Habib Abdurrahman mengikuti amanat Habib Abdullah dengan membeli tanah tempat keberadaan makam tersebut, mendirikan tempat singgah dan salat untuk peziarah di tahun 1879, dan meneruskan ajaran agama Islam di sana.

Habib Abdurrahman wafat pada 1908, kepengurusan tempat ibadah yang awalnya hanya berbentuk mushola ini, diteruskan oleh putranya, Habib Alwi bin Abdurrahman Asy-Syahthiri. Mushola baru berkembang jadi masjid sejak tahun 1913 dan selesai tahun 1917. Masjid Al-Mukarromah terletak di atas tanah seluas 95 x 50 m, dibatasi pagar beton dengan jeruji besi dilengkapi dengan pintu gerbang yang terletak di sisi selatan. Bangunan utamanya berukuran 15 x 13 m, dengan dua buah pintu masuk. Di dalamnya terdapat tiang, makam, mihrab, dan mimbar. Bagian selatan, timur, dan barat terdapat serambi.

Interior Masjid Kampung Bandan

Seiring waktu, perbaikan Masjid Keramat Kampung Bandan dilakukan karena semakin banyaknya pengunjung yang ingin berziarah. Perluasan dilakukan di ruang utama, lalu ke bagian depan, sisi kiri-kanan, dan belakang masjid mengalami perbaikan. Peziarah ramai datang di bulan-bulan tertentu, misalnya bulan Maulid dan Sya'ban, menjelang puasa. Dari mana saja, mulai hanya Jabodetabek, hingga Kalimantan.

Sampai kini, di sisi utara gedung Masjid Keramat Kampung Bandan, masih ada 3 makam; 2 makam berturut adalah Habib Mohammad bin Umar Al-Qudsi (wafat 23 Muharram 1118 H/1705M) dan Habib Ali bin Abdurrahman Ba’ Alwi (wafat 15 Ramadhan 1122 H/1710M). Satu makam terakhir adalah makam Habib Abdurahman bin Alwi Asy-Syathri (wafat 18 Muharam 1326H/1908), pendiri masjid itu.

Beberapa kali mengalami pemugaran, tahun 1956 dengan penambahan ruangan di bagian belakang dan samping kanan, tahun 1972 dipugar lagi oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta. Tahun 1978 dilakukan pemugaran secara total dengan mengganti semua komponen bangunan dan dibangun dengan bentuk sama seperti aslinya. Struktur aslinya tinggal sedikit.

Pada masa sesudah Perang Dunia II dan pada tahun 1960 ketenangan masjid ini terganggu oleh tentara dan oleh orang komunis. Pemprov DKI Jakarta sudah memasukkan masjid ini sebagai salah satu cagar budaya yang harus dilindungi sejak tahun 1972. Di areal masjid ini, terdapat pohon kurma yang berbuah saat Ramadhan di halaman masjid, dan satu sumur tua dengan air tawar jernih, rasa airnya seperti zamzam, walaupun dekat dengan kali kotor dan laut. pengelolaan komplek masjid dan makam ini dilakukan oleh Yayasan Maqam Kramat Kampung Bandan yang saat ini juga mengelola TK Islam Al-Mukarromah dan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al-Hasanah.***

Saturday, February 11, 2017

Masjid Jami Maulana Hasanudin Cikoko

Megah dengan menara nya yang menjulang, namun kini kalah jangkung dengan gedung gedung disekitarnya

Masjid Jami Maulana Hasanuddin ini terbilang cukup unik dari sisi strukturnya yang sudah menerapkan konsep masa kini meski dibangun pada awal abad ke 20 yang lalu. Bila masjid masjid yang dibangun di zamannya masih menggunakan tiang tengah atau sokoguru untuk menopang struktur atapnya, masjid ini justru sama sekali tidak menggunakan tiang tiang dimaksud.

Bangunan utama masjid Jami Maulana Hasanuddin ini pada dasarnya berupa masjid dengan atap joglo seperti masjid masjid lainnya dan di puncak atapnya ditempatkan satu kubah bawang dari bahan metal. Konsep yang memang banyak diterapkan pada masjid masjid modern yang dibangun di abad ke 21 sekarang ini.

Masjid Jami Maulana Hasanudin
Jl. MT Haryono, RT.1/RW.5, Cikoko, Pancoran
Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12770



Merujuk kepada penjelasan pengurus-nya, Masjid Jami Maulana Hasanudin didirikan oleh H Mursan bin Thaifin atau Kiai Kucang pada tahun 1928 dan baru dinyatakan selesai pada tahun 1933. Pada awalnya, pembangunan masjid ini mendapat tentangan dari sekelompok ulama lain, karena pembangunannya dianggap belum perlu mengingat di sekitar lokasi sudah ada masjid Al Atiq Kampung Melayu.

Namun Kiai Kucang dengan dibantu rekan-rekannya, tetap bersikeras mendirika masjid baru, mengingat jarak kampung cikoko dengan Masjid Al Atiq Kampung Melayu terbilang cukup jauh. Pada masa itu mushala-mushala di Jakarta belum sebanyak saat ini, masyarakat Cikoko, kala itu harus jalan kaki menuju masjid Al-Atiq dengan waktu tempuh yang cukup lama untuk menunaikan sholat berjamaah.

Ruangan masjid tanpa tiang tengah, meski dibangun di tahun 1928.

Pada saat didirikan, oleh penduduk diberi nama "At Taghwan." Baru pada tahun 1967, atas permintaan pemerintah daerah dilakukan perubahan nama menjadi Masjid Jami Maulana Hasanudin, mengambil nama sultan pertama Banten. Warga setuju karena memang Kiai Kucang masih murid dari Sultan Maulana Hasanudin.

Masjid Maulana Hasanudin pada zamannya merupakan salah satu masjid yang penting. Konon, banyak jemaah haji di zaman Hindia Belanda selalu menyempatkan diri untuk singgah ke masjid ini seusai pulang dari tanah suci dengan kapal laut. ***

Sunday, February 5, 2017

Masjid Raya Al 'Arief Jagal Senen Jakarta Pusat

Berdiri sejak abad ke 17, masjid Raya Al-Arif bertahan melewati zaman ditengah salah satu kawasan paling sibuk di Jakarta Pusat.

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen merupakan salah satu masjid tertua di Jakarta yang berada di kawasan Pasar Senen Jakarta Pusat. Pekarangan masjid ini menjadi salah satu tempat parkir paforit bagi para pengguna kendaraan roda dua. Masjid ini diperkirakan dibangun pada abad ke 17 oleh seorang bangsawan kesultanan Gowa (Sulawesi Selatan) Upu Daeng Arifuddin, dan nama beliau kemudian di abadikan sebagai nama masjid ini.

Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen
Jl. Stasiun Senen, RW.3, Senen, Kota Jakarta Pusat
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10410



Sejarah Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Pada mulanya masjid ini disebut Masjid Jami Jagal Senen, Karena memang dibangun ditengah tengah perkampungan para tukang jagal hewan ternak di pasar Senen, baru kemudian di tahun 1969 namanya diganti dengan nama Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen.

Masjid ini didirikan oleh seorang pedagang dari Bugis, Upu Daeng H Arifuddin bersama dengan masyarakat setempat sekitar tahun 1695. Selain untuk syiar Islam, juga sebagai tempat beribadah para pedagang, masyarakat dan perantau. Dengan dana seadanya ditambah sumbangan para jamaah, masjid itu akhirnya berdiri dengan nama Masjid Jami' Kampung Jagal.

Upu Daeng Arifuddin, dikenal sebagai keturunan Raja Goa dan juga pejuang yang disegani saat melawan kolonial Belanda. Arifuddin wafat pada tahun 1745. Makamnya terletak di bagian barat masjid. Ada pula makam empat sahabat Arifuddin. Masjid ini pernah direnovasi atas sumbangan pengusaha garmen asal Pondokkopi, Jakarta Timur, sebesar Rp 400 juta. Masjid Al-Arif sempat terancam dibongkar pada tahun 1969 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, yang berniat melebarkan area Pasar Senen.

Pemerintah Jepang saat menjajah Indonesiajuga berencana membongkar masjid, namun gagal. Dia mengungkapkan, saat pejabat pemerintah Jepang mengabadikan masjid itu, sebelum dibongkar, pada foto hasil cetakannya muncul sosok lelaki berjubah putih yang tak lain adalah sosok Arifuddin.

Interior Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Arsitektur Masjid Raya Al-Arif Jagal Senen

Masjid Raya Al Arif Jagal Senen berdenah segi empat dengan ukuran cukup luas sekitar 550m2 dengan atap limas bersusun. Berdiri di atas lahan wakaf dari Daeng Arfiuddin seluas sekitar 2,850 m2 telah memiliki sertifikat hak milik yang dialamatkan kepada ahli waris. Lantai  Masjid Raya Al Arif Jagal Senen di tutup dengan keramik dan biasanya dibagian depan dilapis lagi dengan karpet sajadah. Dibagian tengah terdapat 4 pilar menopang struktur atap bangunan.

Ruangan dibatasi dengan dinding di bagian belakang yang memisahkan dengan jamaah wanita dan pilar-pilar dibagian sampingnya. Ruangan Utama dan ruangan untuk Jamaah wanita ini dijadikan menjadi satu dengan dinding terluar masjid dibagian pinggirnya, dan menjadi kesatuan bangunan masjid. Bagian terluar bagian depan dibatasi dengan pagar dengan teralis dengan gerbang sebagai akses masuk.

Untuk tempat wudhu berada disebelah selatan masjid. Tempat wudhu wanita terpisah dengan tempat wudhu laki-laki. Tempat buang air kecil untuk laki-laki terletak menjadi satu area dengan tempat wudhu laki-laki. Terdapat juga kamar mandi umum di tengah-tengah/antara tempat wudhu wanita dengan laki-laki. Untuk menghubungkan antara tempat wudhu dengan ruang sholat, supaya tidak kotor dipakai alas dari karpet yang terbuat dari karet. Terdapat teras di bagian depan dan sebelah selatan.

Pengelolaan dan Aktivitas

Masjid Raya Al-Arif dikelola oleh Yayasan Al Arief. Karena letak masjid yang berada di tempat umum, tidak mengherankan jika masjid ini selalu ramai dikunjungi baik dari warga sekitar, orang yang beraktifitas di daerah itu dan orang yang sedang bepergian.  Setiap harinya, pintu gerbang masjid ini hanya buka pada jam-jam ketika waktu sholat tiba. Jika di luar jam sholat, maka pintu gerbang ini ditutup. Alasan Aliudin untuk menjaga keamanan dan martabat masjid. 

Berdasarkan pengalaman, kebanyakan orang-orang datang ke masjid bukan ibadah tapi tiduran. Namun imbuh Aliudin, bagi mereka yang memang berniat mau zikir dan sholat sunnah di Masjid Al Arif Jagal Senen dapat melewati pintu belakang. Setiap harinya, pintu belakang masjid yang kecil terbuka bagi siapa saja.***

Saturday, February 4, 2017

Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara

Masjid Agung di Kota Lhok Sukon

Megah dalam gaya masjid modern gaya Timur Tengah dengan balutan warna putih pada hampir keseluruhan bangunan dan warna biru di bagian kubah dengan sedikit sentuhan warna kuning emas, masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon berdiri megah di pusat kota Lhoksukon kabupaten Aceh Utara. Wacana pembangunan masjid ini sudah mencuat di tahun 1968, dimulai dengan pencarian lahan yang tepat untuk lokasi pembangunan. Lokasi yang dipilih adalah lahan Sekolah Rakyat (Kini SDN 3 Lhoksukon) yang dikemudian dilakukan tukar guling di tahun 1972.

Di tahun yang sama, pembangunan masjid dimulai oleh masyarakat yang dipimpin oleh Tgk H. Ibrahim Bin H Ya’qub dan para tokoh masyarakat lain, di antaranya Abu Sulaiman (Abu di Dayah ), Tgk Abu Basyah, Tgk Ismail Aziz, Tgk Kasem Usman, Tgk Thaeb Usman, Tgk Ismail bin Dayah selaku panitia serta Bupati Aceh Utara periode 1973-1978, Abdullah Yakob.


Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Baiturrahim dilakukan oleh Bupati Aceh Utara kala itu dan disaksikan oleh Ulama Kharismatik Lhoksukon, Abu Sulaiman (Abu di Dayah) dan panitia pembangunan masjid lainnya, dan seluruh proses pembangunan baru diselesaikan tahun 1980.

Masjid mulai direnovasi total pada tahun 2004, setelah ditetapkannya Lhoksukon sebagai ibukota Aceh Utara dan pemekaran Kota Lhokseumawe tahun 2001. Kala itu tampuk pimpinan Bupati Aceh Utara dijabat oleh Ir H Tarmizi A Karim, M.Sc. Renovasi dilakukan bulan Agustus, bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan. Proses pembagunannya didanai oleh APBD dan swadaya masyarakat.

Bentuk bangunan masjid dirancang ber-arsitektur Timur Tengah dengan 6 tiang pondasi dasar untuk menopang kubah induk yang dikelilingi 4 kubah kecil dan 4 menara yang mengelilingi kubah induk. Memiliki gerbang utama dengan rancangan yang sesuai dengan bentuk masjid. Di bagian dalam masjid memakai campuran warna dengan dominasi relief tembaga.

Status masjid pun berubah, dari nama awal Masjid Baiturrahim Lhoksukon menjadi Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon-Aceh Utara. Pemberian nama masjid agung pada tahun 2007 tersebut disesuaikan dengan status Lhoksukon yang sudah menjadi ibukota kabupaten. Tahapan pembangunan berikutnya dari masjid ini adala proses perluasan halamannya yang saat ini masih berlangsung proses pembebasan lahan di sekitar masjid secara bertahap.***


Sunday, January 29, 2017

Masjid Agung Nurul Ma’mur Aceh Singkil

Masjid Agung Aceh Singkil 

Kompetensi menjadi dasar profesionalisme, apalagi kompetensi bagi seorang calon pemimpin daerah sudah barang tentu sangat menentukan kemajuan daerah yang dipimpinnya. Hal yang sangat menarik di Provinsi Daerah Istimewa Nangroe Aceh Darussalam, salah satu Kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh calon kepala daerah di propinsi paling utara pulau Sumatera ini adalah kemampuan membaca Kitab Suci Al-Qur’an.

Masjid Agung Nurul Ma’mur di Kabupaten Aceh Singkil ini menjadi saksi pelaksanaan tes kompetensi Baca Al-Qur’an bagi empat pasangan calon Bupati dan calon Wakil Bupati Kabupaten Aceh Singkil yang diselengggarakan pada tangga; 27 September 2016 diselenggarakan oleh Komiisi Independen Pemilihan (KIP) Kabupaten Aceh Singkil.

Layaknya Lomba MTQ, dalam acara tes kemampuan membaca Al-Qur’an ini juga dihadirkan tim penguji dari MPU, Kementrian Agama dan LPTQ Kabupaten Aceh Singkil, sedangkan Imam Masjid Agung Nurul Ma’mur bertindak sebagai Panitera. Acara tersebut dihadiri oleh Unsur Forkopimda, KIP Aceh Singkil, Panwaslih Aceh Singkil, Kadis Syariat Islam, Pengurus Partai pengusung dan tim sukses masing-masing calon, serta ratusan pengunjung dari kalangan simpatisan dan masyarakat setempat.


Hajatan seperti ini hanya terjadi di Aceh sebagai salah satu Keistimewaan dari provinsi Serambi Mekah tersebut. Kemampuan membaca kitab suci Al-Qur’an merupakan kompetensi mendasar yang harus dimiliki oleh para calon pimpinan daerah di provinsi N.A.D. Hasil tes tersebut yang menentukan mereka layak untuk mengikuti Pilkada atau tidak, apabila dinyatakan tidak mampu uji baca Alquran, maka di­nyatakan gugur. Parpol pendukung dapat mengganti dengan calon yang lain dalam periode penggantian dan perbaikan yang disediakan.

Masjid Agung Nurul Ma’mur adalah Masjid Agung Kabupaten Aceh Singkil provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Lokasinya berada di Jalan Bahari, Desa Pulo Sarok kecamatan Singkil, kabupaten Aceh Singkil, Nagroe Aceh Darussalam. Dibangun tahun 2000 di atas lahan wakaf seluas 10 ribu meter persegi dengan luas bangunan 100 meter persegi dan mampu menampung hingga 1500 jemaah sekaligus.

Sebagai masjid Agung kabupaten, masjid Agung Nurul Ma’mur ini menjadi pusat aktivitas ke-islaman tingkat kabupaten Aceh Singkil termasuk pelaksanaan peringatan hari hari besar Islam, pelepasan dan penyambutan Jemaah haji hingga pelaksanaan zikir bersama peringatan bencana Tsunami Aceh yang dihadiri pejabat kabupaten dan jajarannya serta masyarakat muslim setempat.***

Saturday, January 28, 2017

Masjid Azzawiyah Pekojan, Jakarta Barat

Masjid Az-Zawiyah di kawasan Pekojan Kecamatan Tambora, Jakarta Barat ini merupakan salah satu bangunan masjid bersejarah di Jakarta dan merupakan salah satu bangunan masjid tertua di Jakarta.

Masjid Az-Zawiyah merupakan salah satu masjid tua Jakarta yang berada di kawasan Pekojan. Masjid ini pertama kali dibangun oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas pada tahun 1812M, Beliau adalah seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman. Dan juga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan kitab "Fathul Mu'in" atau kitab kuning yang hingga saat ini masih dijadikan sebagai rujukan di kalangan pesantren tradisional.

Habib Ahmad bin Hamzah Alatas juga merupakan guru dari Habib Abdullah bin Muhsin Alatas, seorang ulama besar yang kemudian berdakwah di daerah Bogor. Ketika dibangun, masjid ini tidak saja merupakan sebuah bangunan untuk ibadah semata namun juga merupakan tempat penyelenggaraan pendidikan islam.  Kini bangunan masjid ini dikelola oleh Yayasan Wakaf Al-Habib Ahmad Bin Hamzah Alatas.




Masjid Azzawiyah berada tidak jauh dari jalan Pekojan Kecil, awalnya hanya berupa mushola kecil, Mushola ini kemudian diwakafkan hingga sekarang dan kemudian menjadi sebuah masjid. Kawasan Pekojan juga dikenal sebagai Kampung arab meskipun pada awalnya dihuni oleh Muslim dari India. Saat ini di Pekojan terdapat 4 Masjid Jami’ dan 26 mushola beberapa diantaranya sudah eksis sejak era kolonial,

Masjid kecil ini begitu ramai dikunjungi oleh muslim keturunan arab terutama di hari Lebaran hingga hari ketiga. Tepat di depan Mushola ini berdiri rumah tua bergaya Moor, rumah tersebut sekarang ditempati keluarga Saleh Aljufri. Keluarga Saleh Al-Jufri ini adalah salah satu keturunan Arab yang masih tinggal di kawasan Pekojan.***