Saturday, August 4, 2012

320.000 Muslim datang ke Masjid Al-Aqsa untuk sholat jum'at berjamaah

Jemaah Jum'at di Hari Jum'at ke tiga di Masjidil Aqso, Palestina

Sekitar 320.000 jamaah Muslim menuju Masjid Al-Aqsa untuk melakukan sholat jum'at berjamaah pada sholat jum'at ketiga di bulan Ramadhan ini, kemarin (3/8/2012), menurut laporan Yayasan Al-Aqsa untuk Wakaf dan Warisan (AFEH), dilansir Ma'an.

Ratusan ribu warga Muslim Palestina melakukan perjalanan dari Tepi Barat dan dari wilayah-wilayah lain yang dikuasai Israel ke Masjid Al-Awsa untuk melaksanakan sholat jum'at berjamaah.

Militer zionis Israel telah mengumumkan bahwa pihaknya akan mengurangi pembatasan warga Palestina yang datang ke Al-Aqsa selama bulan suci Ramadhan, namun jamaah Muslim yang datang harus mengantri di garis pemeriksaan. Setiap hari, polisi Israel disebarkan di setiap sudut pos  pemeriksaan di Yerusalem untuk 'keamanan'.

Jemaah Jum'at di Hari Jum'at ke tiga di Masjidil Aqso, Palestina
AFEH dan ormas Islam lainnya melakukan kampanye, di bawah izin Departemen Agama, untuk melindungi Masjid Al-Aqsa lebih ketat lagi selama bulan Ramadhan ini.

Kampanye ini meliputi menyediakan makanan dua kali sehari untuk orang-orang yang berpuasa dan juga ratusan bus untuk membawa orang-orang ke Masjid Al-Aqsa dan program edukasi keagamaan (pendidikan ilmu Syar'i).

Sementara itu, umat Yahudi dan pasukan zionis Israel semakin sewenang-wenang mendatangi situs suci umat Islam ini, terutama ketika umat Yahudi hendak merayakan apa yang mereka sebut sebagai hari "penghancuran bait Allah" di mana mereka datang ke halaman Masjid Al-Aqsa dan berjalan-jalan di sekitarnya sambil melakukan ritual agama mereka sehingga keberadaan mereka telah mengganggu ibadah umat Islam di Al-Aqsa dan tak jarang memicu bentrokan.


Melihat Panepen, Masjid Pribadi Keluarga Keraton

di dalam masjid Panepen

Sekilas bangunan Masjid Panepen lebih mirip surau. Terletak di dalam kompleks Keraton Kilen, tempat keluarga Sultan Hamengku Buwono X tinggal. Dari bangunan inilah, laku spiritual yang ada di keraton bersumber.

SUASANA sunyi sangat terasa begitu memasuki kompleks Keraton Kilen dimana Masjid Panepen berada. Halamannya tidak begitu luas. Dari luar, tampak bangunan putih dengan kombinasi hijau. Masjid ini sangat khas dengan unsur budaya Jawa.

Memasuki ruangan masjid, di dalamnya hanya ada beberapa abdi dalem keraton. Salah seorang dari mereka dengan khidmat melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Kegiatan tadarus seperti ini rutin dilakukan tiap Ramadan.

Masjid berukuran 7x12 meter ini memiliki dua ruangan, bangunan inti dan serambi. Di bagian dalam terdapat enam jendela bercat hijau tua, dan di bagian tengah ada empat soko guru atau tiang yang menopang atap bangunan berbentuk joglo. Jarak tiap tiang bulat tanpa ukiran tersebut sekitar dua meter, bercat hijau tua, dipadu dengan dinding putih. Kayu jati yang menjadi bagian dari bangunan ini masih utuh.

Pengirit Abdi Dalem Punokawan Kaji Raden Riyo Haji Abdul Ridwan menjelaskan, Panepen adalah masjid pribadi keluarga keraton. Tidak semua orang bisa menggunakannya.

”Selama Ramadan ini, Ngarso Dalem tidak salat di sini. Masjid ini juga tidak digunakan untuk tarawih,” terang Ridwan ketika ditemui di Masjid Panepen,  Kamis (2/8).

Sebagai masjid pribadi, dalam waktu-waktu tertentu digunakan sebagai tempat menyendiri raja. Dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu, Sultan berkholwat kepada Sang Pencipta.

Kapan waktu-waktu Sultan menyendiri untuk berkholwat? Ridwan mengungkapkan, biasanya pada malam hari di waktu yang tidak dapat dipastikan. ”Biasanya jika ada firasat buruk terhadap situasi di Jogjakarta, barulah Sultan menyendiri di Masjid Panepen,” jelas Ridwan.

Sebagai bukti bahwa bangunan ini memang digunakan Sultan untuk kegiatan meditasi seperti itu, terdapat sisi bangunan di bagian depan yang lantainya 15 cm lebih tinggi dari yang lain. Di tempat yang bernama palenggehan dalem itulah biasanya Sultan menyendiri.

Menurut Ridwan, dari pengalaman sebelumnya, saat Merapi dalam kondisi akan erupsi dan gempa 2006, ritual gelar doa dilakukan di Masjid Panepen. Cara-cara ini, menurut dia, merupakan langkah yang dilakukan oleh seorang raja, guna mengharapkan keselamatan dari Sang Pencipta.

Setiap Sultan mendapat firasat buruk, Ridwan mengatakan para Abdi Dalem didhawuhi ritual. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari khataman Alquran hingga tawasulan. Bahkan ada ritual tiga jam tidak boleh bersandar, tidak boleh ngantuk, tidak boleh berhenti bertadarus, dan selalu mengucap asma Allah.

”Makanya kalau dhawuh itu sendiri, kadang sama teman yang lain, pasti pakai ganjil. Pernah 59 abdi dalem,” terangnya.

Ritual yang dilakukan, menurut Ridwan, bukan kegiatan yang melenceng. Karena inti kegiatan menyampaikan permohonan kepada Sang Pencipta dengan mengagungkan asma-Nya. ”Di samping mengirim doa kepada yang telah mendahului,” terangnya.

Sedangkan pada hari-hari bisa, Masjid Panepen yang sudah ada sejak pemerintahan HB I ini menjadi tempat kegiatan abdi dalem Punokawan Kaji yang jumlahnya 12 orang. Selain itu, pengurusan Masjid Panepen juga dibantu abdi dalem Suronoto yang dulunya berada di masjid Surowinatan atau lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kagungan Rotowijayan.

”Sehari-harinya masjid ini dijaga dan dirawat tiga orang, seorang dari Konco Kaji, serta dua dari Konco Suranata,” terangnya.

Di bulan Ramadan seperti sekarang ini, kegiatan yang dilakukan hanyalah tadarus Alquran yang dilakukan abdi dalem. Biasanya secara bergantian dalam sehari. ”Masjid Panepen ini juga masjid yang digunakan untuk menikahkan putri Sultan selama ini,” terangnya. (*/tya)


Selama Ramadhan Masjid Keramat Luar Batang Buka 24 Jam

Masjid Luar Batang dengan menara tunggalnya yang menjulang diantara pemukiman warga penjarngan berlatar belakang gedung gedung jangkung Jakarta.

Aktivitas ibadah di bulan Ramadhan terasa lebih khusyuk jika dilakukan di masjid. Salah satu masjid yang bisa dijadikan referensi adalah Masjid Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara.

Di masjid tersebut, selain bisa melakukan serangkaian aktivitas ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah, pengunjung juga bisa berziarah di makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus untuk menghormati jasanya menyebarkan Islam di tanah Betawi.

Ya, di area masjid tersebut memang terdapat makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus yang berumur sekitar dua setengah abad. Meski tidak seramai bulan-bulan biasanya, namun banyak juga orang yang datang tidak hanya dari Jakarta, tapi juga dari luar Jakarta untuk berziarah ke makam tersebut.

Ada etika yang harus dipatuhi jika ingin berziarah ke makam tersebut. Selain pengunjung harus berperilaku santun dan tidak bertutur kata sembarangan, peziarah juga harus berwudhu untuk menjaga kesucian masjid tersebut.

Di bulan Ramadhan ini, Masjid Luar Batang juga tidak pernah sepi dari aktivitas dakwah. Selain rutin menggelar buka puasa bersama, dan salat tarawih berjamaah, masjid tersebut juga ramai dengan warga yang beritikaf dan tadarus Alquran menunggu malam Lailatul Qadar.

“Saat malam Lailatul Qadar umat Islam banyak yang berdatangan ke sini seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujar Yudo Sukmono, Humas Masjid Keramat Luar Batang, Jumat (3/8).

Menurutnya, selama Ramadhan masjid buka selama 24 jam untuk memberi kesempatan kepada orang yang beribadah. Sebab, banyak juga yang datang karena punya niat dan hajat agar permohonannya dikabulkan Allah.

Ditambahkannya, jika hari biasa di bulan Ramadahan hanya terdapat 100 peziarah. Namun, jika malam Jumat bisa mencapai 500 peziarah. Bahkan, pada malam Jumat Kliwon atau bulan Rajab bisa mencapai 1.000 peziarah.

source : Harianterbit.com

Artikel Terkait


Tuesday, July 31, 2012

Masjid Cheng Ho Akan jadi ikon Baru Kota Jambi

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Laksamana Cheng Hoo Jambi oleh Gubernur Jambi Hasan Basri Agus, Minggu 22 Juli 2012.

Masjid Laksanama Cheng Hoo yang kini mulai dibangun akan menjadi salah satu ikon Kota Jambi, kata Gubernur Jambi Hasan Basri Agus.

"Masjid Laksamana Cheng Hoo ini bentuknya unik dan menarik, karena memadukan budaya Cina, Arab, dan Melayu Jambi. Saya harap masjid ini akan menjadi salah satu ikon Kota Jambi," katanya saat meletakkan batu pertama pembangunan masjid itu di Jambi, Minggu 22 Juli 2012.

Masjid Laksamana Ceng Hoo berlokasi di RT 17 Kelurahan Kenali Asam Bawah, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi dan dibangun oleh Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jambi diharapkan akan menjadi salah satu objek wisata.

Gubernur juga berharap dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat sekitar untuk mewujudkan pembangunan masjid itu.

"Ini merupakan perbuatan yang sangat mulia guna mengembangkan agama, jangan ragu-ragu untuk membantu pembangunan rumah ibadah," katanya.

Pemerintah Provinsi Jambi juga membantu dana sebesar Rp100 juta, dan Gubenur secara pribadi juga akan membantu mewujudkan pembangunan masjid tersebut.

Diharapkan tempat ibadah itu juga akan menjadi tempat pendidikan agama bagi anak-anak yang ada di sekitar masjid, demikian juga bagi putra-putri anggota PITI.

Ketua Umum DPP PITI HM Ramdhan Effendi/Tan Kok Liong (Anton Medan) mengajak warga PITI untuk terus berjuang bahu membahu membangun Indonesia umumnya dan daerah Jambi khususnya, termasuk bersama warga masyarakat Tionghoa yang beragama non Muslim.

Ke depan DPP PITI berencana akan mengeluarkan kartu dan anggota kehormatan yang dapat dimiliki oleh masyarakat Tionghoa non Muslim, tujuannya tidak lain untuk sama-sama saling bahu membahu membantu pemerintah melaksanakan pembangunan.

PITI dideklarasikan pada 14 April 1961 di Jakarta oleh H Abdulkarim Oey Tjeng Hien, H Abdussomad Yap A Sing, Kho Goan Tjin. PITI tergolong cukup tua dan sejajar dengan NU dan Muhammadiyah. Saat ini PITI ada di 24 provinsi di Indonesia.

Sebelumnya Ketua DPW PITI Jambi HM Rusli Manaf SE/Huang Kang Tong dalam laporannya menyampaikan, dibangunnya Masjid Laksamana Cheng Hoo dalam upaya meningkatkan keimanan anggota PITI, disamping juga untuk pusat kegitan belajar (pengajian) anggota PITI yang ada di Jambi.

PITI Jambi berdiri sejak 2005, namun selama itu pula PITI Jambi belum memiliki tempat yang tetap untuk melaksanakan pengajian. Pengajian dilaksanakan dari rumah ke rumah, dan bila ada yang mencari PITI Jambi sulit ditemukan, karena belum memiliki sekretariat tetap.

"Selama ini pengajian kita laksanakan dari rumah ke rumah, dan bila ada yang mencari alamat PITI Jambi. Dengan dibangunnya masjid ini nantinya akan mudah," ujarnya.

Ia menyatakan, memilih nama Cheng Hoo karena sesuai sejarah Laksamana Cheng Hoo mempunyai andil besar bagi masuknya agama Islam di Indonesia, dan ini merupakan wujud penghormatan warga PITI terhadap perjuangan dan dakwahnya.

Masjid ini dibangun dua lantai dengan ukuran 20x20 meter diluar rencana pembangunan madrasah, asrama, dan sekretariat yang dibangun di lahan seluas 2.380 meter persegi.

Bangunannya sengaja memadukan budaya Tiongkok kuno pada bagian kap atas, sedangkan bagian tengah dimasukkan budaya Timur Tengah dan untuk bagian depan masjid merupakan budaya Melayu Jambi.

Sementara ini dana untuk membeli lahan dan rencana pembangunan masjid masih sepenuhnya berasal dari anggota PITI, ke depan warga PITI mengharapkan dukungan dan bantuan untuk mewujudkan sarana ibadah dan pendidikan ini, ujarnya.

Sebagaimana disarankan Gubernur Jambi, di lokasi masjid ini akan dibangun madrasah yang dapat menampung anak-anak belajar agama, tidak saja untuk anak-anak anggota PITI tapi juga untuk masyarakat sekitarnya.

Lokasi ini juga nantinya akan dilengkapai asrama guna menampung mualaf (pemeluk baru Islam) yang belum memiliki tempat tinggal, sekaligus tempat mereka memperdalam ilmu agama.

Saat ini PITI Jambi memiliki anggota seribu orang yang tersebar di kabupaten/kota di Provinsi Jambi, sedangkan yang di Kota Jambi ada 300 orang lebih.

Pada kesempatan ini juga dilakukan pengumpulan dana spontanitas dari undangan yang hadir, dan terkumpul uang sebesar Rp14 juta lebih.



Monday, July 30, 2012

Masjid Pesantren Cijawura Pernah Jadi Markas Tentara Sabilillah


Masjid Pesantren Cijawura 

GAYA bangunan ala Timur Tengah dengan kubah besar di tengah dan empat kubah kecil di empat sudut bangunannya mampu memperlihatkan kemegahan masjid itu. Kemegahan pun semakin indah terlihat dengan adanya sebuah menara dengan puncak berbentuk kubah kecil dengan ukuran sama seperti kubah di empat sudut, serta banyaknya jendela bergaya lengkung tapal kuda yang menghiasi di sepanjang dindingnya hingga tiga lantai.

Pemandangan kemegahan itu bisa terlihat ketika kita melewati Jalan Ciwastra atau Jalan Rancabolang karena masjid yang bernama Masjid Raya Pondok Pesantren Cijawura Margasari itu berada tepat di belokan antara Jalan Ciwastra dan Jalan Rancabolang, Kota Bandung.

Sekilas suasana siang di halaman masjid terlihat sepi. Namun setelah memasuki masjidnya, tampak beberapa kelompok santri berkumpul ada yang melingkar ada pula yang berjajar yang dipimpin oleh seorang ustaz. Saat itu terlihat ada beberapa kelompok santri yang sedang mengaji kitab dengan gaya pengajaran yang santai, tapi serius. Suasana di dalam masjid pun terasa mengasyikkan. Para santrinya beragam, mulai dari kalangan anak yang masih duduk di sekolah dasar, SMP dan SMA hingga kalangan dewasa atau mahasiswa.

"Kami melakukan kegiatan sejak setelah sahur hingga setelah tarawih," kata Ustaz Umar Rosadi, salah seorang pengurus Masjid Pontren Cijawura Margasari, Minggu (22/7/2012).

Setelah menjalankan sahur para santri bersama jamaah warga sekitar banyak yang melakukan itikaf. Dilanjutkan dengan salat subuh berjamaah. Seusai salat sbuh dilanjutkan dengan kuliah sbuh mulai pukul 05.00 hingga 06.00. Pengajian dimulai kembali pada siang hari menjelang salat lohor dan setelah salat asar hingga buka puasa dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah dan isya serta salat tarawih.

Kegiatan mengaji di masjid ini dibagi dalam tiga kelompok, yakni kelompok Ibtida yakni kelompok anak-anak yang mengaji kitab yang mengisahkan Isro Miraj, kedua kelompok Wusto yakni kelompok remaja yang mengaji kitab ilmu nahu dan hadis, dan ketiga adalah kelompok Ali yakni kelompok dewasa yang mengaji soal fikih tafsir munir. Selain itu masing-masing kelompok juga mengaji Alquran.

Masjid dan pontren yang didirikan oleh almarhum KH Muhammad Burhan pada tahun 1930-an ini setiap tahunnya selalu diminati santri. Seperti tahun-tahun sebelumnya santri yang meramaikan masjid tersebut terdiri dari sekitar 40 santri yang tinggal di pondok dan 70 santri yang "ngalong" atau tidak tinggal di pondok.

Masjid yang mampu membaurkan para santri dengan warga sekitar ini, kata Umar, anak Pimpinan Pontren Cijawura Margasari, KH Amin Fakih, penerus dari almarhum KH Muhammad Burhan, tergolong masjid yang memiliki sejarah dalam perjuangan kemerdekaan. Pada tahun 1946 masjid dan pontren ini sempat dihancurkan Belanda karena sempat menjadi markas tentara Sabilillah.

"Kata orang tua dulu, masjid pesantren ini sempat menjadi markas tentara Sabilillah," kata Umar.

Namun bangunan masjid yang sekarang ini merupakan banguan baru renovasi. Bahkan bangunan masjid itu sudah mengalami renovasi sejak tahun 1948 karena sudah dihancurkan Belanda. Hanya ruang tempat salat di mihrabnya yang masih bisa dipertahankan hingga sekarang.

Wednesday, July 25, 2012

Sayembara Design Masjid terbesar di Turki di Mulai


begini perkiraan bentuk masjid terbesar yang akan dibangun di atas bukin Camlica, Istanbul, Turki.

Menyambung berita masjid sebelumnya berjudul Menara Masjid Raksasa Turki akan Salip Masjid Madinah, kini pemerintah Turki mengumumkan dimulainya sebuah kompetisi internasional perancangan masjid yang digadang gadang sebagai masjid terbesar di Turki.

Unit Layanan Pendidikan dan Kebudayaan, Asosiasi Renovasi dan Kemakmuran Masjid Istanbul,mengumumkan kompetisi desain pembangunan masjid raksasa di Camlica, Istanbul. Asosiasi menjanjikan hadiah  300 ribu Lira Turki bagi desain yang terpilih.

Seperti dikutip todayszaman.com, Selasa (24/7), batas waktu pengajuan desain 3 September dan hasil kompetisi akan diumumkan pada 10 September.

pemandangan dari Camlica Hill, Indah bukan...
Pemerintah Turki akhirnya memastikan pembangunan masjid raksasa di Istanbul. Setelah sebelumnya, sejumlah pihak hanya melihat rencana itu sebatas wacana saja.  Masjid seluas 15 ribu meter persegi itu dibangun di Camlica Hill, sehingga bangunannya dapat dilihat dari seluruh penjuru kota yang ditaklukkan oleh Sultan Mehmet II pada 27 Mei 1453 itu.

Di kompleks masjid raksasa itu nantinya akan disediakan fasilitas untuk pengembangan kerajinan tradisional, seperti kaligrafi Turki dan penyepuhan. Masjid itu akan difungsikan sebagaimana masjid di era kejayaan Islam. Contohnya, di sekitar masjid akan dibangun madrasah tempat pelajar dan mahasiswa menimba ilmu.

Monday, July 23, 2012

Masjid Simbol Wisata Religi Gowa


Masjid Sheikh Yusuf, Gowa
BULAN Ramadan telah tiba, khusus bagi yang beragama Islam, anda masih bisa melakukan berbagai aktivitas seperti biasanya meski sedang menjalankan ibadah puasa, salah satunya dengan berwisata.

Bertepatan dengan bulan ramadan ini, tidak ada salahnya mencoba wisata religi. Wisata religi ini tidak harus ke Timur Tengah.

Sulsel juga menyajikan objek wisata religi yang menarik anda kunjungi saat bulan ramadan. Salah satunya Masjid Tua Katangka dan Masjid Syekh Yusuf di Kabupaten Gowa.

Di masa lalu, Gowa diketahui sebagai pusat penyebaran Islam di jazirah Sulawesi. Menurut catatan sejarah, Islam pertama kali dijadikan sebagai agama resmi kerajaan pada tahun 1603 lalu. Itu berarti, 409 tahun yang lalu. Dengan rentang waktu yang sangat panjang, tentu sangat banyak khazanah Islam masa lalu yang menarik untuk diketahui.

Masjid Al Hilal, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Tua Katangka. Masjid ini terletak di Sungguminasa, tepatnya di Kelurahan Katangka, Kecamatan Somba Opu, Gowa. Masjid ini merupakan salah satu bukti sejarah penyebaran Islam di masa lalu. Orang-orang percaya, Masjid Al Hilal dibangun pada tahun yang sama Islam dijadikan agama resmi Kerajaan Gowa. Saat itu, I Mangngarangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna, atau yang lebih dikenal sebagai Sultan Alauddin menjadi Raja Gowa. Sultan Alauddin merupakan kakek dari pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin.

Meski usianya sudah empat abad, namun masih terdapat sejumlah peninggalan masa lalu yang bisa ditemukan di dalam atau pun luar masjid. Di bagian dalam masjid, terdapat beberapa prasasti yang terbuat dari kayu. Prasasti tersebut berisikan kaligragfi dengan warna emas pada huruf-hurufnya, dan merah menyala pada latarnya. Meski huruf-hurufnya adalah huruf Arab, tetapi bahasanya bukan Bahasa Arab. Melainkan Bahasa Makassar.

Setiap kaligrafi menceritakan secara singkat tentang pembangunan atau renovasi masjid lengkap dengan tanggalnya. Pada pintu utara, prasastinya menceritakan tentang renovasi masjid atas perintah Raja Gowa XXXII, Sultan Abdul Kadir Muhammad Aididdin yang dilaksanakan pada hari Senin 8 Rajab tahun Dal, bertepatan dengan tanggal 12 April 1886. Tertulis pula di prasasti, Sultan Abdul Kadir memerintahkan Karaeng Katangka untuk mengurus masjid bersama Tumailalang Lolo, Gallarang Mangasa, Gallarang Tombolo dan Gallarang Saumata.

Nama-nama yang disebut dalam prasasti tersebut adalah pejabat penting kerajaan. Tumailalang Lolo merupakan orang yang menjembatani Sultan dengan para dewan kerajaan yang dikenal dengan Bate Salapang. Sementara Gallarang adalah kepala wilayah yang berwenang menunjuk wakilnya menduduki Bate Salapang.

Prasasti di pintu tengah lain lagi. Di situ menerangkan Sultan pertama melaksanakan Salat Jumat bersama rakyatnya. Setelah Salat Jumat, Sultan membagi-bagikan sedakah kepada rakyat yang ikut Salat serta para pekerja yang terlibat dalam bangunan masjid. Sayangnya, prasasti yang satu ini tidak jelas waktunya. Hanya melafalkan bahwa masjid dibangun pada bulan Rajab di tahun Dal dan digunakan untuk pertama kalinya pada hari Jumat di tahun Ba. Apa itu tahun Dal dan tahun Ba, hingga kini belum ada yang tahu.

Bagian prasasti lain diartikan bahwa masjid itu direnovasi lagi di masa Raja Gowa XXXIII, Sultan Idris Adzimuddin. Tertulis pula bahwa masjid itu melibatkan sangat banyak pekerja. Tetapi tidak tertera tahun pembuatan kaligrafi tersebut. Yang jelas, Sultan Idris memerintah dalam kurun 1893 -  1895.

Sementara prasasti yang terletak di puncak mimbar, tempat khatib Jumat, menceritakan pembuatan mimbar itu sendiri. Artinya kurang lebih, "Mimbar ini pertama kali dibuat pada Hari Jumat tanggal 2 Muharram 1303 (Hijriyah). Karaeng Katangka dan Karaeng Loloa menuliskan, sudah ditentukan (oleh Nabi Muhammad saw) barang siapa berbicara padahal khatib sudah berada di atas mimbar, maka dia tidak akan memperoleh pahala Jumat." Di atas kaligrafi itu, masih ada lagi kaligrafi bertuliskan "Muhammad" dan "Ahmad". Muhammad, tidak lain nama Rasulullah saw. Sementara Ahmad merupakan nama lain Rasulullah dalam perspektif sufi.

Puas dengan prasasti kaligrafi kuno, kini giliran kaligrafi moderen yang bisa ditemukan di masjid lainnya. Masjid Agung Syekh Yusuf mungkin bisa menjadi persinggahan selanjutnya. Masjid ini terletak di Jl Masjid Raya, depan Kantor DPRD Gowa. Nama masjid tersebut mengabadikan seorang ulama, sufi sekaligus pejuang yang sangat terkenal, Syekh Yusuf Tuanta Salamaka.

Meski tidak memiliki nilai historis seperti Masjid Tua Katangka, Masjid Agung Syekh Yusuf memiliki keunggulan dalam seni kaligrafi. Di dalam masjid, terdapat banyak kaligrafi-kaligrafi dengan berbagai jenis gaya (khat) dan paduan warna yang indah. Kaligrafi terdapat di bagian mihrab, bagian atap puncak serta sekeliling tembok bagian atas masjid.

Masjid yang mampu menampung sekitar 4000 jamaah ini didesain seperti Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar. Tentu saja bentuknya lebih kecil.

Pada bulan Ramadan ini, Masjid Tua Katangka dan Masjid Agung Syekh Yusuf ramai pada malam hari. Imam Masjid Agung, Abdul Jabbar Hijaz Daeng Sanre mengatakan pada masjid tersebut bisa ditemukan berbagai keragaman umat Islam.

"Masjid ini milik semua aliran. Mau tarwih 8 ada, tarwih 20 juga bisa," kata Abdul Jabbar Hijaz.

Tak seperti masjid lainnya yang hanya mengagendakan ceramah tarwih dan subuh, di Masjid Agung Syekh Yusuf juga digiatkan diskusi usai Salat Duhur. (Akbar Hamdan/kas)