Sunday, May 28, 2023

Masjid Terapung Amahami Kota Bima

Masjid Terapung Amahami Kota Bima [@ardiaziz03]

Masjid terapung kota Bima atau Masjid Terapung Amahami adalah masjid yang berada di tepian pantai Amahami kota Bima, tepatnya berada di Jl.
Sultan Muhamad Salahuddin, Belo, kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Keberadaan masjid ini kini menjadi landmark kota Bima terutama dari arah laut.
 
Desainnya merupakan hasil karya dari tim Universitas Petra Surabaya yang mendapat mandat langsung dari Pemerintah Kota Bima. Pemkot Bima sebelumnya punya cita-cita untuk mengangkat pariwisata kota setempat dengan membangun objek menarik yang bisa menarik perhatian wisatawan. Setelah melalui proses diskusi, disepakatilah keputusan mendirikan masjid terapung.
 
Masjid Terapung Amahami Kota Bima
Jl. Sultan Muhamad Salahuddin, Belo, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat 84111
 

Pembangunan masjid ini dilaksanakan oleh pemerintah kota Bima dibawah kendali Walikota setempat HM. Qurais H. Abidin. meskipun sejak awal rencana pembangunan masjid ini mendapat penolakan bahkan kecaman keras dari beberapa pihak, namun masjid ini ahirnya dibangun dan kini menjadi salah satu Ikon kota Bima.
 
Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 10 April 2017 bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Bima yang ke 15, dan sudah  mulai dapat digunakan pada ahir tahun 2017 dan diresmikan pada 10 April 2018 oleh walikota Bima HM. Qurais H. Abidin
 
Kontroversi
 
Pembangunan Masjid Amahami sempat memicu kontroversi di masyarakat Bima. Biaya pembuatannya dikabarkan menelan biaya hingga 15 miliar rupiah, namun hasil jadinya dinilai berbeda dengan bentuk maket dan gambar desain yang selama ini beredar.
 
Masjid Terapung Amahami Kota Bima [@riyantoariss]

Hal ini mengundang kecurigaaan bahwa ada ‘permainan’ dalam proyek pembangunan masjid terapung. Namun hal tersebut dibantah oleh perwakilan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bima. Disebutkan bahwa dari perencanaan awal hingga bentuk akhir, yang berbeda hanyalah warna catnya.
 
Ikon Pariwisata Bima
 
Masjid Terapung Amahami salah satu yang menjadi icon di Kota Bima. Masyarakat Kota Bima maupun yang dari luar Kota kerap datang pada saat menjelang sore hari sembari menanti adzan Maghrib. Mereka menikmati suasana senja yang indah, tenang dan sejuknya angin Pantai Amahami.
 
Tidak sedikit masyakarat mengabadikannya dengan latar belakang Masjid Terapung dan sunset. Foto-foto yang dihasilkan pun cantik nan estetik. Sedangkan pada sisi depan masjid, menyuguhkan pemandangan gugusan perbukitan, Taman Amahami dan jalan utama Kota yang ramai di lewati kendaraan.
 
Masjid Terapung Amahami Kota Bima [@riyantoariss]

Konsep Pembangunan
 
Masjid ini dibangun dengan konsep “Nggusu Waru” dan dan “Uma Lengge” yang bermakna delapan karakteristik/kriteria yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dua unsur tersebut lantas diwujudkan rancangan dasar masjid terapung dan dikombinasikan dengan desain bintang Al-Quds, simbol terkenal dalam ajaran Islam.
 
Selain itu, di bagian kisi-kisi masjid juga diberi detail ornamen khas Bima, bunga satako. Satako sendiri artinya adalah bunga setangkai. Filosofinya, seseorang harus bisa menebar kebaikan di keluarga maupun masyarakat sekitar, layaknya bunga yang menyebarkan aroma harum di sekitarnya.***
 
Referensi
 
https://www.bimakini.com/2023/02/masjid-terapung-kota-bima/
https://pariwisata.bimakota.go.id/web/detail-berita/196/mesjid-terapung-
https://direktoripariwisata.id/unit/8584

Saturday, May 27, 2023

Masjid Agung Ad Durrun Nafis Sukamara

Masjid Agung Ad Durrun Nafis Sukamara [google user Slamet Riyadi]. 

Masjid Agung Ad Durrun Nafis adalah masjid agung kabupaten Sukamara provinsi Kalimantan Tengah. Kabupaten ini juga dikenal dengan julukannya “Bumi Gawi Berinjam”. Masjid Agung Ad Durrun Nafis dibangun dilapangan mini Sukamara, berdiri diatas lahan milik pemda seluas lebih kurang 60.000 M2. Masjid dibangun bertingkat dengan satu lantai dasar dan dua lantai utama berarsitektur modern seluas 5.000 meter persegi dengan daya tampung sekitar 7000 jemaah.
 
Saat ini, Masjid Agung Ad Durrun Nafis juga dijadikan sebagai pusat kegiatan pondok pesantren modern Nurul Hijrah Sukamara. Bangunan didominasi warna kuning emas ini sering dikunjungi warga dari luar daerah. Wajar jika pemerintah daerah menjadikannya sebagai salah satu ikon Sukamara.

 
Lokasi masjid Agung Ad Durrun Nafis terletak satu lokasi dengan sejumlah lapangan olahraga, seperti sepak bola, basket, tenis, lintasan lari, dan sarana olahraga. Lokasi itu pun  dijadikan sebagai pusat berolahraga masyarakat. Pagi maupun sore hari nampak ramai dikunjungi. Setiap pagi dan sore banyak warga datang lari dan berolahraga di sini. Lokasinya cocok dan sarana sangat mendukung.
 
Pembangunan Masjid Agung Ad Durrun Nafis
 
Masjid Agung Ad Durrun Nafis dimulai pada tahun 2013 pada masa pemerintahan bupati H. Ahmad Dirman dan wakil bupati Windu Subagio. Pembangunan masjid tersebut direncanakan akan selesai pada tahun 2017.
 
Namun sampai ahir tahun 2017 pembangunan nya belum selesai dan ditarget ulang akan mulai dapat dgunakan pada tahun 2018 meskipun belum rampung seluruhnya. Aktualnya, masjid Agung Ad Durrun Nafis baru mulai digunakan untuk kegiatan peribadatan pada tahun 2019 dan proses penyelesaian masih dilanjutkan.

Masjid Agung Ad Durrun Nafis Sukamara pada saat dalam tahap pembangunan.
 
Biaya Pembangunan
 
Anggaran pembangunan masjid sejak tahun 2013 hingga tahun 2015 sebesar Rp. 34 milyar. Anggaran tahun 2016 Rp. 10milyar. Anggaran Tahun 2017 Rp. 10 Milyar, Anggaran Tahun 2018 Rp. 7 milyar. 2019 2,6 milyar. Anggaran Tahun Tahun 2020 Rp. 4 milyar, Sedangkan biaya yang dibutuhkan seluruhnya mencapai Rp. 90 milyar lebih.
 
Tuan Rumah STQ 2015
 
Ditahun 2015 Masjid Agung Sukamara menjadi salah satu venue penyelenggaraan STQ Seleksi Tilawatil Qur’an tingkat provinsi Kalimantan Tengah yang dimulai pada minggu pertama bulan April 2015. STQ tersebut diikuti oleh para kafilah dari 14 kabupaten & kota Se Kalimantan Tengah.
 
Interior Masjid Agung Ad Durrun Nafis Sukamara [google user Muhammad Arrasy]

Menjelang perhelatan tingkat provinsi tersebut, pembangunan masjid agung inipun dikebut penyelesaiannya. Pemkab Sukamara sendiri telah menyediakan dana sebesar Rp. 15 Milyar unruk acara tersebut termasuk untuk penyelesaian pembangunan Masjid Agung dan penataan lokasi arena panggung di alun alun masjid agung.
 
Masjid Agung Sukamara Salurkan Zakat
 
Pada April 2023 Panitia zakat fitrah Masjid Agung Sukamara untuk pertama kalinya menerima zakat H Abdul Rasyid AS dan Hj Nuriyah dan menyalurkannya kepada masyarakat sebanyak 700 sak beras dan 1.400 liter minyak goreng pada Kamis, 20 April 2023. Pembagian zakat tersebut dilakukan menggunakan kupon, masing masing kupon menerima sebanyak 1 sak beras dengan berat 10 kilogram dan 2 liter minyak goreng.
 
Diketahui, H Abdul Rasyid AS selaku pemilik PT CBI Group tersebut menyalurkan zakat fitrah sebanyak 50.000 sak beras dan 100.000 liter minyak goreng. Untuk Kabupaten Sukamara menerima 6.248 sak beras dan 12.496 liter minyak.
 
Masjid Agung Ad Durrun Nafis Sukamara [borneonews.co.id]

Penetapan Nama Masjid Agung Sukamara
  
Pada 10 Mei 2023 pemerintah Kabupaten Sukamara menetapkan nama resmi bagi Masjid Agung Sukamara dengan nama Masjid Agung Ad-Durrun Nafis, sejak dibangun tahun 2013 masjid tersebut hanya disebut sebagai ‘masjid agung’ saja. Penetapan nama masjid agung tersebut dengan melibatkan para tokoh agama dan tokoh masyarakat.
 
Wakil Bupati Sukamara, Ahmadi, menjelaskan bawha Dalam pertemuan yang digelar, ada lima nama masjid yang diusulkan, dan dari lima mana tersebut para peserta rapat menyetujui salah satu nama masjid yang diusulkan. Dari 5 nama masjid ada satu nama yang terpilihlah yaitu Ad-Durrun Nafis, yang berarti Masjid Agung Permata Hijau atau Permata Syurga.***
 
Referensi
 
http://www.borneonews.co.id/berita/28331-pembangunan-masjid-agung-habiskan-rp60-miliar
http://www.sukamarakab.go.id/artikel-147-sukamara--siap-menyambut-kafilah-stq-2015.html
https://www.borneonews.co.id/berita/300958-pemkab-sukamara-tetapkan-nama-masjid-agung-sukamara-ad-durrun-nafis
https://radarsampit.jawapos.com/radar-utama/13/05/2023/akhirnya-nama-masjid-agung-sukamara-ditetapkan/
https://www.borneonews.co.id/berita/77688-tahun-2018-masjid-agung-sukamara-bisa-untuk-beribadah
https://www.borneonews.co.id/berita/298968-masjid-agung-sukamara-salurkan-700-sak-beras-dan-1-400-liter-minyak-goreng-zakat-h-abdul-rasyid-as
https://www.radarsampit.com/berita/sekilas-di-balik-pembangunan-mega-proyek-masjid-agung-sukamara.html
https://radarsampit.jawapos.com/radar-utama/20/05/2023/warga-bisa-berekreasi-di-sekitar-masjid-agung-sukamara/

Friday, May 26, 2023

Masjid Agung Riyadlush Shalihin Pangkalan Bun

Masjid Agung Riyadlush Shalihin Kotawaringin Barat [google user Andi_AM 80] 

Masjid Agung Riyadlush Shalihin adalah masjid agung kabupaten Kotawaringin Barat yang berada di Pangkalan Bun. Merupakan masjid utama dan terbesar di kabupaten Kotawaringin Barat. Bangunan masjid ini pertama kali dibangun tahun 1977 menjelang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), dan dari tahun ke tahun terus mengalami pembenahan serta perawatan hingga tahun 2015.
 
Posisi masjid ini berada di lokasi strategis di tengah Kota Pangkalan Bun. Konstruksi bangunan dari beton bertingkat dua dan diprediksi mampu menampung hingga 5 ribu jemaah.
 
Masjid Agung Riyadlush Shalihin
Jl. Sutan Syahrir, Sidorejo, Kec. Arut Sel., Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah 74112
 

 
Bangunan masjid yang kini berdiri merupakan hasil dan renovasi dan pembangunan tahun 2015. Peresmian bangunan masjid baru tersebut dilakukan oleh Bupati Kotawaringin Barat Ujang Iskandar, pada Jum’at 16 Januari 2015 pukul 20.00 WIB.  Upacara peresmian tersebut juga dirangkai dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
 
Upacara peresmian masjid Agung tersebut ditandai dengan penandatanganan prasasti dan disaksikan oleh sejumlah anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD), serta ratusan masyarakat muslim yang hadir. Selain itu juga dilakukan tradisi potong tumpeng oleh Bupati dan pertama kali diserahkan kepada Ketua Masjid Agung Dahlan Mail.
 
Arah Kiblat
 
Penentuan arah kiblat di Masjid Riyadlus Solihin sudah sesuai panduan yang ditetapkan Kementerian Agama RI. Posisi arah kiblat di masjid tersebut berada di Azimuth 293 derajat antara barat dan utara.*** 
 
Referensi
 
http://pde.kotawaringinbaratkab.go.id/?p=2358 (broken link)
http://www.borneonews.co.id/berita/33874-tidak-ada-pengukuran-ulang-arah-kiblat-di-masjid-agung-pangkalan-bun

Saturday, April 22, 2023

Masjid Agung Al Falah Sigli Kabupaten Pidie

Masjid Agung Al Falah saat ini dilatar depan warna atap merah, dan proyek pembangunan masjid Agung Al Falah yang sedang berjalan dengan ukuran berkali lipat dari bangunan masjid saat ini.

Masjid Agung Al Falah Sigli adalah masjid agung di kabupaten Pidie provinsi Aceh yang berada di kota kecamatan Sigli. Merujuk kepada data BPS kabupaten Pidie merupakan kabupaten di provinsi Aceh dengan jumlah penduduk terbanyak kedua di provinsi Aceh. Jumlah penduduk kabupaten Pidie pada tahun 2021 sebanyak 435.492 jiwa, dengan kepadatan 141 jiwa/km2[i].
 
Kabupaten Pidie memiliki ke unikannya sendiri karena wilayah ini tidak disebut sebagai Aceh Pidie melainkan sebagai Kabupaten Pidie saja, hal tersebut terkait dengan faktor sejarahnya. Kabupaten Pidie dahulunya merupakan kerajaan Pedir yang bukan bagian dari Kesultanan Aceh.
 
Masjid Agung Al Falah Sigli
Jl. Profesor Abdul Majid Ibrahim, Blk. Sawah, Kec. Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh 24114



Kerajaan Pedir kemudian bergagung dengan kesultanan Aceh pada saat konfrontasi melawan Portugis. Catatan sejarah menyebutkan Sultan Iskandar Muda pernah dating berkunjung ke kerajaan Pedir tepatnya ke Negeri Meureudu sebelum menyerang Pahang di Semenanjung Malaya. Meureudu memiliki sebuah masjid tua yang kini dikenal sebagai Masjid Poteu Meureuhom, dan setelah pemekaran dan terbentuknya kabupaten Pidie Jaya, Meureudu menjadi ibukota kabupaten Pidie Jaya.

Masjid Agung Al Falah Sigli

Sejauh ini kami belum menemukan catan terkait sejarah pembangunan masjid Agung Al Falah Sigli. Namun demikian sehubungan dengan kebutuhan akan masjid dengan daya tampung yang lebih besar sudah sangat mendesak, sejak tahun 2015 yang lalu pemerintah kabupaten Pidie sudah memulai pembangunan Masjid Agung Al Falah yang baru dengan ukuran yang jauh lebih besar dengan lokasi bersebelahan dengan bangunan masjid Agung saat ini.
 
Masjid Agung Al Falag Sigli 

Bangunan baru masjid agung Al Falah kini sudah menampakkan bentuknya yang sangat besar dibandingkan dengan bangunan masjidnya saat ini meskipun masih dalam proses pengerjaan. Pembangunan masjid baru tersebut sempat menjadi sorotan masyarakat setempat karena lambannya proses pembangunan dan bahkan sempat mangkrak.
 
Peletakan batu pertama pembangunan masjid agung Al Falah yang baru ini telah dilakukan oleh Bupati Pidie Sarjani Abdullah pada hari kamis 30 Juli 2015 di tanah seluas tiga hektar di Gampong Blok Sawah Kecamatan Kota Sigli. Acara ini juga dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Aceh dan ulama kharismatik Abu Usman Kuta Krueng.
 
Sampai dengan tahun 2022 proyek pembangunan masjid tersebut telah menelan dana hingga 142 milyar rupiah namun belum kunjung selesai. Semoga pembangunan masjid impian warga muslim Pidie segera selesai dan menjadi salah satu kebanggan warga setempat.***
 
------------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Masjid Tengku Di Pucok Krueng Pidie Jaya
Masjid Beras Segenggam Pidie

Tuesday, October 11, 2022

Masjid Agung Sukabumi tahun 1947

Masjid Agung Sukabumi pada tahun 1947. diwarnai oleh IG @rajakelir 

Begini bentuk masjid agung sukabumi ditahun 1947, dipotret oleh tentara Belanda semasa agresi militer pertama Belanda ke Indonesia (The first police action), sekitar tanggal 28 atau 29 Juli 1947.
.
Berbagai sumber menyebutkan bahwa masjid ini dimasa revolusi kemerdekaan, menjadi tempat berkumpulnya para pejuang kemerdekaan untuk merumuskan strategi perang. diperkirakan masjid ini sudah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi satu-satunya masjid yang berdiri di tengah kota Sukabumi hingga akhir abad ke-19.
 
Awalnya, Masjid Agung Sukabumi didirikan di atas tanah wakaf milik warga bernama Ahmad Juwaeni. Pada masa awal, bangunan Masjid Agung Sukabumi masih sederhana dengan atap tumpang dan memiliki satu menara. Di bagian depan masjid terdapat alun-alun dengan hamparan padang rumput yang menjadi tempat penggembalaan sapi.
 
Selama berdirinya, Masjid Agung Sukabumi telah mengalami 6 kali renovasi yaitu pada 1900, 1936, 1945, 1975, 2004, dan renovasi besar-besaran pada 2012 yang rampung setahun kemudian. Perubahan arsitektur yang sangat dominan menjadikan masjid Agung Sukabumi terlihat megah dan modern. Namun bangunan telah kehilangan bentuk aslinya.
 
Baca Juga
 
Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)
Masjid Jami’ Fatahillah Blok B Pasar Tanah Abang
Masjid Al Arqom, Blok A Pasar Tanah Abang
Masjid Raya Al 'Arief Jagal Senen Jakarta Pusat
Masjid Jami’ Kampung Baru Pekojan Jakarta
Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Jakarta Utara


Sunday, October 9, 2022

Masjid Al-Anshor Pekojan, salah satu masjid tertua di Jakarta

 

Masjid Al Anshor Pekojan antara tahun 1910-1921 pada saat lingkungan disekitarnya belum sepadat saat ini (foto dari tropenmuseum diwarnai oleh IG @rajakelir)

Masjid Al-Anshor dibangun pada tahun 1684M, kurang dari 30 tahun setelah Belanda Membungihanguskan Jayakarta dan mendirikan Batavia, menjadikannya sebagai masjid tertua di kawasan Pekojan, lebih tua dari Masjid Jami’ Annawier (1760), Masjid Langgar Tinggi (1829), Masjid Azzawiyah (1812) dan Masjid Raudah (1905) yang semuanya merupakan masjid masjid tua Jakarta di Kawasan Pekojan.
 
Setelah melewati rentang waktu lebih dari 3 abad, masjid Al-Anshor kini sulit untuk dapat dikenali fisik bangunannya karena sudah terhimpit diantara bangunan bangunan hunian yang semakin rapat disekitarnya. Jalan akses menuju ke masjid ini hanya berupa gang kecil untuk pejalan kaki. (artikel lengkapnya baca disini)
.
Baca Juga
 
Masjid Jakarta Islamic Center (JIC)
Masjid Jami’ Fatahillah Blok B Pasar Tanah Abang
Masjid Al Arqom, Blok A Pasar Tanah Abang
Masjid Raya Al 'Arief Jagal Senen Jakarta Pusat
Masjid Jami’ Kampung Baru Pekojan Jakarta
Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Jakarta Utara
 


Friday, February 11, 2022

Sejarah Sigi Lamo, Masjid Sultan Ternate

Masjid Sultan Ternate sekitar tahun 1880 dan Masa Kini (dari IG @Rajakelir)

 
Kesultanan Ternate mulai menganut Islam sejak raja ke-18, yaitu Kolano Marhum yang bertahta sekitar 1465-1486M. Pengganti Kolano Marhum adalah puteranya, Zainal Abidin (1486-1500), yang makin memantapkan Ternate sebagai Kesultanan Islam dengan mengganti gelar Kolano menjadi Sultan, menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan, memberlakukan syariat Islam, serta membentuk lembaga kerajaan sesuai hukum Islam dengan melibatkan para ulama.
 
Lokasi Masjid Sultan Ternate
 
Masjid Sultan Ternate atau Sigi Lamo berada di kawasan Jalan Sultan Khairun, Kelurahan Soa Sio, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Di bagian belakang masjid, terdapat benteng Oranye yang dibangun Belanda antara 1606-1607M.
 
Sejarah Masjid Sultan Ternate
 
Belum ada angka valid tentang kapan Masjid Sultan Ternate ini pertama kali dibangun. Sejauh ini ada dua pendapat tentang tarikh pendirian masjid ini. Diperkirakan pendirian masjid ini telah dirintis sejak masa Sultan Zainal Abidin, raja Ternate kedua yang sudah beragama Islam dan mengukuhkan Islam sebagai agama resmi kerajaan serta mengganti gelar kolano (raja) menjadi Sultan.
 
Namun direktori masjid bersejarah Departemen Agama RI menyatakan bahwa pendirian Masjid Sultan Ternate baru dilakukan awal abad ke-17, yaitu sekitar tahun 1606 saat berkuasanya Sultan Saidi Barakati. Pembangunan masjid dilanjutkan oleh Sultan Mudafar dan diselesaikan oleh Sultan Hamzah pada tahun 1648 Masehi
 
Pada tahun 1679 Masehi, dilakukan renovasi oleh Sultan Sibori Amsterdam, Putra Sultan Mandarsyah, dengan bentuk atap tumpang tiga dan berbahan kayu. Tahun 1705 masehi masjid ini mengalami kebakaran, dan dibangun kembali oleh Sultan Said Fathullah atau Kaicil Toluki atau Pangeran Rotterdam.
 
Renovasi kembali dilakukan pada tahun 1818 Masehi oleh Sultan Muhammad Zain. Pemugaran terahir dilakukan pada tahun 1983 dengan melakukan perombakan total tanpa merubah bentuk asli-nya.

Masjid Sultan Ternate tahun 1910 & Masa Kini (dari akun IG @Rajakelir)


Masjid Sultan Ternate, atau oleh masyarakat setempat biasa disebut sebagai Sigi Lamo, dalam bahasa Ternate, Sigi berarti masjid dan Lamo bermakna besar, Masjid Sultan Ternate memang masjid pertama di Ternate dan terbesar di jaman nya. Masjid ini menjadi bukti keberadaan Kesultanan Islam pertama di kawasan timur Nusantara.

Akan tetapi, melihat kenyataan sejarah, sekitar setengah abad sebelum Sultan Saidi Barakati naik tahta, Kesultanan Ternate telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, baik di bidang keagamaan, ekonomi, maupun angkatan perang. 
 
Bila kita berpegang kepada pendapat kedua bahwa Sigi Lamo baru didirikan di masa pemerintahan Sultan Saidi Barakati, maka akan timbul pertanyaan besar, mengapa begitu lama kesultanan Ternate belum mendirikan masjid sejak Islam masuk ke Ternate?.
 
Bila di hitung dari Kolano Marhum (1465-1486 M) yang merupakan raja Ternate pertama yang memeluk Islam hingga ke era kekuasaan Sultan Saidi Barakati (1606) terpaut waktu hampir satu setengah abad lamanya kesultanan Ternate belum memiliki Masjid, lalu dalam kurun waktu itu dimanakah para Sultan dan keluarga serta kaum muslimin Ternate melaksanakan sholat berjamaah ?. sebuah pertanyaan yang tentunya tak mudah untuk dijawab.
 
Arsitektur Masjid Sultan Ternate
 
Sebagaimana Kesultanan Islam lainnya di Nusantara, Masjid Sultan Ternate dibangun tak jauh dari istana Sultan Ternate, tetapi bukan menjadi bagian kompleks istana. Jarak antara keduanya sekitar 100 meter sebelah tenggara istana sultan yang dibangun tahun 1234M. Posisi masjid ini tentu saja berkaitan dengan peran penting masjid dalam kehidupan beragama di Kesultanan Ternate.
 
Tradisi atau ritual-ritual keagamaan yang diselenggarakan kesultanan selalu berpusat di masjid ini. Masjid Sultan Ternate dibangun dengan komposisi bahan yang terbuat dari susunan batu dengan bahan perekat dari campuran kulit kayu pohon kalumpang. (diringkas dari bujangmasjid.blogspot.com)

Perjuangan Sultan Khairun (1534-1570) dilanjutkan oleh penerusnya, Sultan Baabullah (1570-1583) untuk mengusir pasukan Portugis, menjadi salah satu fase kegemilangan Kesultanan Ternate.

-----------------------------------------------------------------
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Menilik Keindahan Sepuluh Masjid Terapung di Indonesia (Bagian 1)
Masjid Raya Sigi Lamo Jailolo
Masjid Raya Al-Munawaroh, Kota Ternate – Maluku Utara
Masjid Gammalamo Jailolo
Masjid Agung Nurul Haq Kepulauan Aru
Masjid Agung Al-Buruj Pulau Buru, Maluku
Masjid Agung Iqro Halmahera Timur