Saturday, May 17, 2025

Masjid Kuno Gumantar Lombok Utara

Masjid Kuno Gumantar, bentuknya sangat mirip dengan Masjid Kuno Bayan Beleq.
 
Masjid Kuno Gumantar merupakan salah satu masjid kuno tertua di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan merupakan salah dari dua Masjid tertua di kabupaten Lombok utara selain Masjid Bayan Beleq. Keberadaan Masjid Kuno ini diperkirakan berkaitan dengan masa awal penyebaran Agama Islam di Pulau Lombok sekitar abad ke 17 Masehi.
 
Sesuai dengan namanya, masjid ini terletak di Dusun Gumantar yang merupakan salah satu dusun di Desa Gumantar, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Jarak dari ibu kota kabupaten menuju lokasi masjid ini kurang lebih 29 km, sedangkan dari ibu kota provinsi berjarak kurang lebih 63 km.
 
Masjid Kuno Gumantar
Gumantar, Kayangan, kab. Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat 83354
 
 
Masjid Kuno Gumantar ini merupakan bukti penyebaran awal Agama Islam di Pulau Lombok dan memiliki nilai sejarah, pendidikan dan kebudayaan yang tinggi ditengah peradaban yang semakin modern, sehingga perlu dipertahankan keberadaanya untuk menambah kekayaan budaya bangsa. Masjid Kuno Gumantar masuk dalam daftar inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali nomor : 2/15-05/BWG/58.
 
Arsitektur Masjid Kuno Gumantar
 
Arsitektur Masjid Kuno Gumentar memiliki kesamaan dengan arsitektural pada Masjid Bayan Beleq yang memiliki denah persegi, dengan atap yang bertumpang. Dari bahan juga memiliki kesamaan, dimana pada bagian lantai terbuat dari tanah dan campuran kotoran sapi, sedangkan pada temboknya dibuat dari anyaman bambu.
 
Masjid Kuno Gumantar.

Sedangkan pada bagian atapnya terbuat dari alang-alang, dan struktur penopang atap terbuat dari bambu sedangkan soko gurunya dan struktur atapnya terbuat dari kayu lokal yang memiliki dimensi yang cukup besar.
 
Struktur kayu kuno masjid ini justru menyelamatkannya dari gempa dahsyat yang sempat mengguncang Lombok dan sekitarnya menegaskan kuatnya konstruksi kayu Masjid Kuno Gumantar. Tidak ada kerusakan signifikan dibandingkan dengan masjid-masjid permanen di pulau tersebut.
 
Sejarah Masjid Kuno Gumantar
 
Penelusuran sejarah masjid ini dilakukan berdasarkan masa awal masuknya Islam ke Pulau Lombok dan gaya arsitektural yang mencirikan perkembangan pola pikir tentang bangunan disekitarnya dan memiliki referensi pada tahun yang berdekatan. Dengan merangkum berbagai data diperkirakan masjid Kuno Gumentar dibangun pada abad ke 17 masehi.
 
Ornamen unik dipuncaka tap Masjid Kuno Gumantar.

Berdasarkan catatan sejarah pada abad ke 17 tepatnya ditahun 1640 datang pula Sunan Pengging ke Pulau Lombok untuk menyiarkan agama Islam, Beliau adalah penganut Sunan Kalijaga dan mengembangkan ajaran sufi. Sunan Pengging terkenal pula dengan nama Pangeran Mangkubumi yang melarikan diri ke Bayan pada saat diserang oleh kerajaan Goa pada tahun 1640.
 
Di Bayan Beliau mengembangkan ajarannya sehingga kelak menjadi pusat kekuatan suatu aliran yang disebut waktu telu, yang menyebar sampai ke Desa Gumantar. Berdasarkan data tersebut, dan menganalisa kesamaan gaya arsitektural dari Masjid Kuno Gumantar dengan Masjid Bayan Beleq, maka kemungkinan besar pengaruh ajaran Islam dan hasil kebudayaannya memiliki kesamaan waktu dan konsep. Kedekatan wilayah juga memberikan pengaruh terhadap kesamaan konsep tersebut.
 
Masjid Kuno Gumantar saat ini tidak lagi digunakan sebagai sarana ibadah salat lima waktu. Hal ini guna untuk menjaga kelestarian dan sebagai peninggalan bersejarah. Penduduk Suku Sasak Desa Gumantar hanya menggunakan masjid kuno tersebut untuk acara tertentu.
 
Diantara pohon pohon Kamboja berusia tua.

Tradisi di Dusun Gumantar
 
Penduduk di Dusun Gumantar mayoritas bekerja di sektor agraris. Para petani di dusun tersebut memiliki berbagai tradisi pertanian yang digelar di Masjid Kuno Gumantar.
 
Berikut adalah beberapa aktivitas budaya pertanian yang dilakukan warga di Masjid Kuno Gumantar:
 
1. Maulid Adat, yaitu ritual adat yang dilakukan setiap tanggal 12 Rabiul Awal menurut sistem penanggalan kalender Islam setempat. Ritual ini dipercaya untuk memohon hujan.
 
2. Gawek Bumi, yakni tradisi untuk mengucapkan rasa syukur atas hasil bumi yang diperoleh dalam satu tahun.
 
3. Aji Lawat/Tilawat, merupakan tradisi yang dilakukan warga untuk memulai penanaman padi.
 
Ketiga tradisi tersebut dilaksanakan di Masjid Kuno Gumantar dengan melibatkan enam dusun di Desa Gumantar, yakni Dusun Gumantar, Dusun Dasan Treng, Dusun Poh Gading, Dusun Tenggorong, Dusun Desa Beleq, dan Dusun Tangga. Konon, warga dari keenam dusun tidak diperkenankan merabas kebun sebelum upacara Aji Lawat dilakukan.
 
Warga setempat baru diperbolehkan melakukan aktivitas bercocok tanam jika upacara Aji Lawat selesai dilakukan. Hal itu menegaskan bangunan Masjid Kuno Gumantar juga berperan mendukung nilai kebudayaan agraris yang dijalani oleh warga setempat.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------

Baca Juga
 
Masjid Jami’ Al Umari Kelayu Selong Lombok Tengah
 
Rujukan
 







Sunday, May 4, 2025

Masjid Subulussalam Nyatnyono Saksi Bisu Penyebaran Islam di Lereng Gunung Ungaran

Masjid Subulussalam Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang.
 
Masjid Subulussalam ini berada di desa Nyatnyono kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang provinsi Jawa Tengah. Disebut sebut merupakan masjid tua peninggalan Syekh Hasan Munadi. Tokoh penyebar Islam di Ungaran yang diyakini hidup sejaman dengan masa awal berdirinya Kesultanan Demak.
 
Bangunan masjid yang kini berdiri telah melewati beberapa kali renovasi dan pembangunan kembali. Bagian yang tersisa dari bangunan awal berupa empat sokoguru dari kayu yang ditempatkan ditengah tengah ruangan sholat utama, serta momolo yang kini ditempatkan dibagian atas sokoguru tersebut.
 
Lokasi Masjid Subulussalam Nyatnyono
Nyatnyono, Kec. Ungaran Bar., Kabupaten Semarang, Jawa Tengah 50551
 
 

Selain sokoguru dan momolo, ada dua benda lagi yang disebut sebut sebagai peninggalan asli dari Syekh Munadi yakni tongkat khatib untuk khutbah Jum’at dan mimbar asli yang disimpan oleh pengurus masjid.
 
Bangunan masjid ini berupa bangunan masjid dari beton tiga lantai memiliki sebuah menara di sayap kanannya. Atap bangunan utama dan atap menaranya berupa atap limas bersusun khas Masjid Indonesia.
 
Sejarah Masjid Subulussalam
 
Tidak ada catatan tertulis tentang sejarah masjid ini maupun sejarah perjalanan Syeikh Hasan Munadi yang diketahui juga memiliki nama lain sebagai Raden Bambang Kartonadi. Kisah sejarahnya dituturkan turun temurun secara lisan dari generasi ke generasi. Sehingga memang agak sulit untuk memvalidasinya.
 
Interior Masjid Subulussalam Nyatnyono, tampak Sokoguru asli bewarna gelap disebelah kiri dan mihrabnya disebelah kanan (muria.tribunnews)


Namun dari kisah tutur yang ada, dapat disimpulkan bahwa Syekh Munadi merupakan tokoh penyebar Islam di daerah tersebut. Beliau diyakini hidup sejaman dengan masa awal kesultanan Demak, semasa hidupnya beliau pernah mengabdi di kesultanan Demak sebagai salah seorang punggawa berpangkat Tumenggung yang bertugas menjaga kewibawaan kesultanan Demak dari rong-rongan kelompok yang hendak membuat onar. Kemudian beliau memutuskan untuk berdakwah dan menetap di lereng gunung Ungaran, membangun masjid dan pesantren.
 
Lebih Tua Dari Masjid Agung Demak ?
 
Kisah tutur menyebutkan bahwa masjid ini lebih tua dari Masjid Agung Demak, namun alur ceritanya sedikit rancu. “Dugaan usia” masjid ini disandarkan pada kisah kayu sokoguru masjid ini. Konon Syekh Hasan Munadi siap terlibat dalam pembangunan masjid Agung Demak namun beliau meminta syarat yakni
 
Salah satu soko yang hendak dibuat untuk Masjid Agung Demak, dikirim ke Ungaran. Sebab saat itu, Hasan Munadi tengah membangun sebuah masjid untuk tempat pembelajaran agama Islam bagi masyarakat di kaki Gunung Ungaran. Permintaan ini disanggupi Sunan Kalijaga dan langsung dikirim para prajurit Kesultanan Demak Bintoro kala itu." Dan tidak disebutkan apa keterlibatan Syekh Munadi dalam pembangunan Masjid Agung Demak.
 
Berdasarkan prasasti Bulus didalam mihrab Masjid Agung Demak diketahui bahwa Masjid Agung Demak dibangun pada tahun 1477 Masehi. Dibangun di lokasi yang sebelumnya sudah berdiri Masjid dan Pesantren Sunan Ampel yang sudah berdiri sejak tahun 1466 Masehi. Demak baru diproklamirkan sebagai Kesultanan merdeka dari Majapahit oleh Raden Fatah pada tahun 1478 Masehi.
 
Momolo asli Masjid Subulussalam ditempatkan diatas sokoguru asli ditengah rungah sholat Masjid Subulussalam Nyatnyono (regonal.kompas).

Bila Sokoguru dimaksud dikirim para prajurit Kesultanan Demak Bintoro ke Ungaran, maka berarti pengiriman dilakukan setelah Demak berdiri sebagai sebuah Kesultanan ditahun 1478, dan saat itu dipastikan Masjid Agung Demak sudah berdiri lebih dulu ditahun 1477.
 
Sejarah populer memang menyebutkan bahwa Sokotatal di Masjid Agung Demak dibuat oleh Sunan Kalijaga dari serpihah kayu dari tiga sokoguru lainnya, namun dari berbagai kisah tutur populer dapat disimpulkan hal tersebut dilakukan lebih karena memang kekurangan bahan kayu jati utuh ukuran yang setara dengan tiga sokoguru lainnya, bukan karena ‘sengaja’ salah satunya dikirimkan ke tempat lain atas persetujuan Sunan Kalijaga.
 
Kemungkinan Pernah dipugar di Jaman Penjajahan Belanda ?
 
Kisah tutur juga menyebutkan bahwa sokoguru masjid ini awalnya hanya satu lalu dibelah menjadi empat untuk menghindari dikultuskan atau disembah, pembelahan menjadi empat tersebut dilakukan dijaman Belanda. Pada saat proses pembelahan, pelangi muncul diatas masjid ini sehingga mengundang kecurigaan tentara Belanda.
 

Sesuai dengan namanya, sokoguru atau tiang utama merupakan struktur utama bagi sebuah masjid kayu yang menjadi penopang utama seluruh struktur atap bangunan. Bila awalnya sokogurunya hanya satu kemudian dibelah menjadi empat, maka kemungkinan terbesarnya adalah pada saat itu terjadi proses pemugaran atau renovasi besar terhadap bangunan masjid ini.
 
Sokoguru asli Masjid Subulussalam Nyatnyono kini ditempatkan ditengah ruangan sholat, dibungkus dengan kayu jati berukir. Kayu aslinya dapat dilihat dari bagian atas seperti pada foto sebelumnya (regional.kompas).

Atau bisa jadi sebenarnya masjid ini memang baru dibangun dimasa penjajahan Belanda, sehingga memang sangat masuk akal proses pembangunan-nya mengundang kecurigaan tentara Belanda, apalagi sosok Syekh Hasan Munadi memang dikenal sebagai tokoh penyebar Islam disana.
 
Keseluruhan kisah tutur tersebut menjadi lebih rancu mengingat sumber lain (Humas Pengurus Makam) mengatakan bahwa Syekh Hasan Munadi merupakan seorang pendakwah yang datang dari Kerajaan Mataram. Mungkin yang dimaksud adalah Kesultanan Mataram atau juga populer disebut Mataram Islam, untuk membedakannya dengan Kerajaan Mataram Hindu / Kerajaan Medang.
 
Garis waktu berdirinya Kesultanan Mataram teramat jauh setelah sejarah keberadaan Kesultanan Demak. Dan Belanda memang sudah hadir di tanah Jawa pada masa Kesultanan Mataram. Sejarah mencatat Mataram beberapa kali melakukan penyerbuan terhadap benteng Belanda (VOC) di Batavia. Wallahuwa’lam bisshowab.
 
Objek Wisata Rohani
 
Dalam menjalankan syiar Islam nya, Syeikh Hasan Munadi dibantu oleh anaknya yang bernama Syekh Hasan Dipuro. Kini, makam ayah dan putranya ini selalu ramai dikunjungi peziarah, dari Semarang hingga luar provinsi dan luar Jawa.
 
Pengelolaan masjid ini dilakukan oleh keturunan Syeikh Hasan Munadi termasuk pengurusan komplek makam Syekh Hasan Munadi. Dikomplek masjid ini masih berdiri madrasah diniyah atau tempat pembelajaran agama dan sendang (telaga) yang diberi nama sendang kalimah toyyibah.
 
Pengunjung ramai datang kesini setiap menjelang bulan Ramadhan, mereka mengunjungi masjid, sendang, ziarah kubur, dan haul yang yang diisi dengan mujahadah, sema'an quran dan pengajian akbar.***
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
Baca Juga
 
 
 
Rujukan
 


Saturday, May 3, 2025

Masjid Al 'Affan Beber Cirebon

Aerial view Masjid Al-Affan Beber Cirebon  berlatar belakang Gunung Ciremai (tangkapan layar IG asepmahdi)

Masjid Al Affan adalah masjid megah yang berada di Jalan Raya Cirebon - Kuningan, lokasinya berada di Desa Beber, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon. Masjid megah ini dibangun oleh Keluarga besar Komisaris Jenderal Polisi Drs Nana Sudjana. 

 Nana Sudjana pernah malang melintang di kepolisian, pernah menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya dan Wakapolda Jawa barat yang kemudian mengemban amanah menjadi Penjabat Gubernur Jawa Tengah, beliau merupakan putra daerah dari desa Beber tempat masjid ini berada. 

   Masjid Al 'Affan 
 📍 Jalan Raya Kuningan- Cirebon, Desa Beber
  Kec. Beber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat 

     
 Interior Masjid Al Affan  

Nana Sudjana lahir dan besar disana dan keluarga besarnya pun masih tinggal di kecamatan Beber dan menjadi tempat baginya untuk mudik. Lahan masjid ini juga merupakan lahan wakaf dari keluarga besar beliau, begitupun dengan biaya pembangunannya. Nama masjid ini diambil dari nama ayah dari Nana Sudjana yakni Affan. Nama Al Affan sendiri berarti pemaaf. 

Pembangunan masjid ini disebutkan menghabiskan dana RP. 8 milyar rupiah, proses pembangunannya turut melibatkan tenaga kerja dari warga sekitar. Mulai digunakan dan diresmikan pada bulan Maret 2023 bertepatan dengan bulan suci Romadhon. 

Fasad depan Masjid Al-Affan.

Lokasinya yang berada ditepian ruas jalan raya Cirebon – Kuningan tak pelak menjadikan masjid ini sebagai tempat singgah pavorit bagi para pengguna jalan yang sedang melintas disana untuk singgah sejenak saat waktu sholat tiba. 

Rancang bangun nya memadukan berbagai unsur seni arsitektur masjid. Cukup kental nuansa Turki-Usmani pada bangunan menaranya yang menjulang ramping berujung lancip dan dihias muqornas, sebuah kubah bawang gaya dinasti Mughal India bertengger diatap masjid, separuh bagian atas fasadnya dihias dengan kerawang (ukiran tembus) modern tidak saja memperindah tapi juga meredam kebisingan dari arah jalan raya. 

Interior Masjid Al Affan.

Citarasa Indonesia terasa saat masuk ke ruang sholat utama yang terang bederang cahaya alami dari dinding kacanya yang nyaris diseluruh sudut kecuali sisi mihrab. Kita dianugerahi negeri yang berlimpah cahaya matahari, tidak ada terpaan badai salju dan cuaca dingin serta suhu ektrim sehingga memungkinkan kita menikmati bangunan masjid pedesaan degan suasana lebih terbuka.**** 
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 

Saturday, April 26, 2025

Masjid Agung Al-Falah Mempawah

Masjid Agung AL-Falah Mempawah.
 
Masjid Agung Al-Falah adalah masjid agung di Kabupaten Mempawah provinsi Kalimantan Barat. Hadirnya Masjid Agung Al-Falah yang megah dan indah ini telah menjadi ikon baru kebanggaan masyarakat Kabupaten Mempawah. Lokasi masjid ini berada di Jalan Raden Kusno, Kelurahan Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah.
 
Letaknya berada pada jalan utama di tengah Kota Mempawah sehingga setiap masyarakat akan melewatinya baik dari arah Kota Singkawang menuju Kota Pontianak ataupun sebaliknya.
 
Masjid Agung Al-Falah Mempawah
Jl. Raden Kusno No.84, Terusan, Kec. Mempawah Hilir
Kab. Mempawah, Kalimantan Barat 78912
 
 
Pembangunan barunya dimulai pada 24 Maret 2017 oleh Bupati Mempawah ketika itu, Ria Norsan, yang kemudian menjadi Wakil Gubernur Kalimantan Barat. Dan diresmikan penggunaannya pada hari Kamis 25 November 2021 oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) sekaligus mantan wapres ke 8 dan ke 10, Dr. (H.C.) H. Muhammad Jusuf Kalla.
 
Peresmian masjid ini turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Kalimantan Barat dan juga ketua Dewan Masjid Indonesia Kalimantan Barat, Drs. Ria Norsan M.M., M.H (sebelumnya merupakan mantan Bupati Mempawah dua periode), dan Bupati Mempawah, H. Erlina S.H., M.H., Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono; dan Wakil Wali Kota Singkawang, H. Irwan mendampingi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI).
 
Interior Masjid Agung Al-Falah Mempawah.

Selain itu, acara peresmian juga dihadiri oleh da'i kondang asal Sulawesi Selatan, Ustaz Das'ad Latif, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Dakwah Dewan Masjid Indonesia;
 
Pembangunan Masjid Agung Al-Falah Mempawah
 
Masjid Agung Al-Falah yang kini berdiri dibangun dilokasi persis tempat dimana masjid agung sebelumnya berdiri, bangunan lama Masjid Agung Al-Falah telah dirobohkan karena kondisinya yang sudah tua. Pemkab Mempawah memutuskan untuk membangun baru masjid di atas tanah yang sama, dengan luas 48×48 meter persegi, sehingga bisa menampung 3.200 jemaah.
 
Masjid Agung Al-Falah Mempawah dulu & Kini.

Tinggi menara 41,6 meter, tinggi lantai pertama sekitar 4 meter, tinggi lantai kedua 8 meter, tinggi kubah utama 12 meter dan tinggi permukaan lantai dari lantai eksisting 1,2 meter. Selain itu, masjid juga dilengkapi dengan tempat wudhu yang refresentatif, halaman parkir yang luas, taman dan air mancur.
 
Konsep pembangunan Masjid Al-Falah, sejak awal sudah tampak memikat. Masjid ini juga difasilitasi dengan eskalator, dan juga sarana khusus untuk penyandang disabilitas.
 
Masjid Agung Al-Falah Mempawah dulu & kini.

Aktivitas Ramadhan
 
Aktivitas selama bulan suci Ramadhan di masjid ini cukup makmur dengan berbagai aktivitas dimulai dari ceramah Subuh dan kajian Dzuhur ini akan diisi oleh Ustadz-Ustadz yang ada di Kabupaten Mempawah.
 
Selain itu  di Masjid Agung Al-Falah akan turut dilaksanakan Itikaf 10 malam terakhir di bulan suci Ramadan. Selama bulan puasa, masjid juga menyelenggarakan buka puasa bersama bagi Jemaah yang hadir di masjid.***

Penandatanganan prasasti peresmian Masjid Agung Al-Falah Mempawah oleh Ketua Dewan Masjid Indonesia Muhammad Jusuf Kalla pada 25 November 2021.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga Artikel Masjid di Kalbar lainnya
 
 
Rujukan
 

Saturday, March 29, 2025

Masjid Agung Sidikalang

Masjid Agung Sidikalang dengan menara tingginya

Para pecinta kopi pastinya tidak asing dengan nama daerah yang satu ini. Sidikalang ibukota kabupaten Dairi di provinsi Sumatera Utara memang dikenal luas dengan “Kopi Sidikalang” baik didalam hingga keluar negeri. Kabupaten Dairi memiliki lebih dari 13 ribu hektar perkebunan kopi dan menghasilkan setidaknya 10 ribu ton kopi pertahun.
 
Kabupaten Dairi secara geografis berada di ketinggian jejeran bukit barisan di rata rata ketinggian 1500 meter dari permukaan laut dengan udara yang selalu sejuk dan pemandangan mempesona.
 
Masjid Agung Sidikalang 

Berdasarkan data tahun 2021 penduduk Dairi sebanyak 318.616 jiwa, Berdasarkan agama yang dianut adalah Kristen 84,09% (Protestan 72,80% dan Katolik 11,29%) sebagian lagi memeluk agama Islam 15,66%, kemudian Buddha 0,10%, Hindu 0,01% dan Lainnya 0,14%. Untuk rumah ibadah, terdapat 963 gereja Protestan, 147 gereja Katolik, 143 masjid, 1 vihara dan 1 pura.
 
Masjid Agung Sidikalang
Jl. Masjid Sidikalang Kecamatan Sidikalang
Kabupaten Dairi Provinsi Sumatera Utara 22218
https://maps.app.goo.gl/6VDe756wsfyiBhpZA



Masjid Agung Sidikalang adalah Masjid Agung bagi Kabupaten Dairi. Lokasinya berada di pusat kota Sidikalang bersebelahan dengan komplek kantor Bupati Dairi di jalan Sisingamangaraja XII. Masjid ini merupakan masjid terbesar di kabupaten Dairi.
 
Bangunan utama Masjid Agung Sidikalang merupakan salah satu masjid yang dibangun oleh Yayasan Amalbhakti Muslim Pancasila (YAMP) yang kemudian ditambahkan menara dan bangunan pendukung lainnya termasuk beranda di tiga sisi bangunan utama.
 
Bangunan asli Masjid Agung Sidikalang sebelum ditambahkan menara dan beranda.

Berdasarkan plakat yang dipasang didinding bagian dalam masjid, Masjid Agung Sidikalang diresmikan pada 12 Desember 1988. Pembangunan beranda masjid dilakukan pada tahun 2022.sedangkan bangunan menaranya sudah lebih dulu dibangun ditahun 2019.
 
Sebagai masjid agung kabupaten, Masjid Agung Sidikalang menjadi pusat bagi syiar Islam di kabupaten Dairi termasuk pusat pelaksanaan sholat dua hari raya, penyembelihan hewan qurban hingga pelaksanaan peringatan hari hari besar Islam ditingkat kabupaten.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
Masjid Raya Stabat, Langkat
Masjid Raya Al Aman - Aek Kanopan
Masjid Lama Kabanjahe
Masjid Agung Nur Alannur Mandailing Natal
 


Saturday, March 22, 2025

Masjid Jin Kutablang

Sebuah meriam tua ditempatkan dipekarangan depan masjid jami Kutablang. Masjid tua ini dikenal juga sebagai Masjid Jin.

Salah satu masjid tua di Samalanga, Bireuen, akhir-akhir ini diberi nama masjid Jin, meski nama sebenarnya dari masjid ini adalah Masjid Jami’ Kutablang atau Masjid Teungku Syik Kuta Blang, atau juga Masjid Batee Putih demikian warga setempat menyebutnya.
 
Adapun sebutan Masjid Jin disematkan justru kebanyakan oleh warga luar daerah Samalanga. Hal itu terkait dengan kisah masa lalu yang konon jema’ah di masjid ini yang ikut serta pengajian yang diselenggarakan pendiri masjid ini Teungku Haji Syekh Abdul, bukan saja dari kalangan manusia tapi juga dari golongan Jin..
 
Masjid Jami Kutablang
Gampong Lueng Angen Kuta Blang, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireun, Aceh,
https://maps.app.goo.gl/vpxH5npnvQwo93tp9


Masjid Tua di Samalanga
 
Menurut penuturan para tetua setempat, Masjid Jin atau Masjid Jami Kutablang dibangun pertama kali pada tahun 1901 (Thon Sa atau tahun satu) oleh Teungku Haji Syekh Abdul Jalil dan sudah beberapa kali direhab namun bangunan utama tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya.
 
Foto tertua masjid ini dipotret sekitar tahun 1930-an koleksi museum di negeri Belanda. Benar bahwa bentuk bangunan masjidnya sama sekali tidak berubah setidaknya sejak tahun 1930-an hingga masa kini.
 
masjid jami Kutablang kini dilengkapi dengan sebuah menara besar.

Pembangunan masjid ini dipimpin oleh tukang seiorang pria muallaf etnis Tionghoa bernama Ibrahim. Peletakan batu pertama dihadiri oleh Ampon Chiek Samalanga dan seorang Kapten Belanda.
 
Makam kuno
 
Di belakang masjid berjejer sejumlah makam para pendahulu yang kini telah diberikan atap peneduh. Di antara makam-makam itu yaitu pusara miliknya  Teungku Chik Muhammad Hasan bin Teungku Syeh Abdul Jalil yang lahir 1913 dan mangkat 1973 , kemudian pusara Teuku Chiek H. M. Ali Basyah bin Teuku Chiek Muda Bugeh, yang lahir di Samalanga pada 3 Januari 1929. Dan juga makam keluarga Tun Sri Lanang, dan makam keluarga Abu Syim Awe Geutah.
 
Masjid Jami Kutablang dipotret sekitar tahun 1930-an koleksi KITLV Leiden.

Bangunan masjid ini dikerjakan oleh seorang kepala tukang mualaf dari China bernama Ibrahim. Arsitekturnya mengikuti model Masjid Nabawi, di desain sedemikian oleh Teungku Syekh Abdul Jalil sendiri.
 
Masjid jami Kutablang masih menjalankan fungsinya hingga kini melayani masyarakat setempat melaksanakan sholat lima waktu, sholat jum’at berjamah dan dua sholat hari raya hingga peringatan hari heri besar Islam.

 

Wednesday, March 12, 2025

Masjid Agung Al-Imam Majalengka

Masjid Agung Al-Imam Majalengka

Masjid agung al-Imam adalah masjid agung yang berada di alun alun kabupaten Majalengka provinsi Jawa Barat. Bangunan megah yang kini berdiri diresmikan pada tanggal 20 Maret 2020 oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.
 
Masjid ini menjadi salah satu ikon baru di Kabupaten Majalengka dan memiliki desain arsitektur yang modern dan megah. Keindahan masjid ini seolah sempurna dengan diresmikannya alun alun Majalengka pada 21 April 2021.
 
Masjid Agung Al-Imam Majalengka
Jl. Alun Alun Barat, Majalengka Kulon, Kec. Majalengka, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat 45418


Sudah berdiri hampir satu setengah abad
 
Sejarah Masjid Agung Majalengka dimulai sekitar tahun 1884, sumber lain mengatakan kemungkinan pertama kali dibangun sekitar tahun 1860 an pada masa kepemimpinan Bupati Majalengka ke-2, Raden Aria Adipati Kertadiningrat.
 
Awalnya dibangun sebagai bangunan berpanggung disebelah barat alun alun di Desa Majalengka kulon diatas tanah wakaf dari keluarga KH.Imam Safari (Kakek dari pahlawan nasional KH. Abdul Halim). Nama beliau yang kemudian diabadikan sebagai nama masjid ini.
 
Masjid Agung Al-Imam dan Alun Alun Majalengka.

Mesjid ini telah mengalami beberapa kali renovasi sampai kebentuknya mesjid yang sekarang. Berkat prakarsa Kyai Imam Safari yang saat itu menjabat sebagai penghulu kabupaten, mesjid itu kemudian direnovasi. Pengganti Kyai Imam Safari yakni Kyai Hasan Basyari sekitar tahun 1888 juga melakukan renovasi namun tidak merubah bentuk.
 
Baru pada tahun 1900 dibawah pimpinan Bupati Majalengka ke-6, R.M.A.A Salmon Salam Sura Adi Ningrat dengan penghulu kabupaten Kyai Haji Muhammad Ilyas terjadi perubahan secara menyeluruh hingga mesjid yang tadinya berbentuk panggung dirubah menjadi lantai.
 
Tahun 1930-an dirombak lagi pada masa bupati R.M.A.A Suriatanudibrata. Tahun 1960 masa Bupati R Sutisna juga ada sedikit renovasi. Di tahun 1987 pada masa Bupati Zaelani SH juga ada renovasi lumayan besar, yakni kolam sebelah utara telah dihilangkan.
 
"Peralihan bentuk" dalam pembangunan ditahun 2019 menara lama masih berdiri diantara menara menra baru yang sedang dibangun.

Mesjid Al-Imam kemudian mengalami perombakan total terjadi pada tahun 1967 pada masa Bupati Kolonel Rd. Anwar Sutisna dan dilanjutkan oleh Bupati Rd.Saleh Sediana. Mesjid yang tadinya hanya satu lantai berubah bentuk menjadi dua lantai .
 
Perombakan total mesjid tersebut memakan waktu yang cukup lama, secara keseluruhan pembangunan Mesjid Al-Imam baru dapat dituntaskan pada tahun 1977.Pada masa kepemimpinan Bupati Haji Rd.E.Djaelani SH pada tahun 1984 mesjid ini dirobak sekaligus diperluas agar bisa menampung jamaah lebih banyak.
 
Masjid Agung Majalengka sebelum renovasi.

Pada tahun 1990 Mesjid Al-Imam terus dipercantik dengan merubah bentuk atapnya menjadi bentuk kubah. Dan pada tahun 2003 pada masa kepemimpinan Bupati Hj.Tutty Hayati Anwar.SH.M.Si.,dilakukan renovasi bagian dalam dan pembangunan empat buah kubah di masing masing sudut atap masjid.
 
Renovasi besar besaran ke bentuk nya saat ini dimulai tahun 2018 dan diresmikan tahun 2020 menyusul  kemudian diresmikan juga proyek pembangunan alun alun Majalengka yang diselaraskan dengan Masjid Agung ditahun 2021.
 
Luas lahan masjid ini 2.475 meter per segi dengan kapasitas 2.500 jamaah. Selama Bulan Ramadhan terdapat beberapa aktivitas rutin yang digelar pihak pengurus. Buka bersama, tarawih dan tadarus, adalah aktivitas rutin Ramadhan yang juga dilaksanakan di Masjid Agung. Ada takjil, pun makan. Tiap hari minimal 50 porsi makan berat. Lalu setiap zuhur ada kultum.
 
Follow & Like akun Instagram kami di @masjidinfo dan @masjidinfo.id
🌎 gudang informasi masjid di Nusantara dan mancanegara.
------------------------------------------------------------------
 
Baca Juga
 
 
Referensi