Sunday, August 28, 2016

Masjid Raya Al-Amin Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan

Humbang Hasundutan (Humbahas) adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera, dibentuk pada tanggal 28 Juli 2003 sebagai daerah otonomi baru pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Utara. Kabupaten Humbahas Beribukota di Dolok Sanggul, memiliki luas 2.335.33 km2 dengan penduduk di tahun 2010 sejumlah 171.650 jiwa. Kabupaten ini berada di ketinggian 330-2.075 meter dari permukaan laut dengan suhu udara yang sejuk. Lembah Bakara, salah satu lembah terkenal di Sumatera Utara dan merupakan kampung halaman dari Pahlawan nasional Sisingamangaraja XII berada di kabupaten Huhambas ini.


Bila anda pecinta kopi, Kabupaten Humbahas adalah salah satu penghasil kopi yang merupakan komuditas utama dari perkebunan daerah ini. Kabupaten Humbahas juga merupakan penghasil kemenyan yang aroma-nya semerbak itu. Kemenyan merupakan komuditas terbesar kedua dari kabupaten Humbahas. Mayoritas penduduk Humbahas merupakan petani, dari sektor ini, cabe merupakan hasil pertanian terbesar Humbahas.

Muslim merupakan minoritas di Kabupaten ini, namun demikian di kota Dolok Sanggul yang merupakan ibukota Kabupaten Humbahas berdiri sebuah masjid raya yang dikenal dengan nama Masjid Raya Dolok Sanggul. Dolok Sanggul merupakan salah satu kota yang berhawa sejuk karena ketinggian lokasinya yang berada di Bukit Barisan. Kota ini hanya berjarak sekitar 45 menit dari bandara Sibolangit di Siborong-Borong, Kabupaten Tapanuli Utara, yang melayani jalur udara bagi para wisatawan yang hendak pelesir ke Danau Toba.

Alamat Masjid Raya Al-Amin
Jl. Siliwangi, Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan
Provinsi Sumatera Utara, Indonesia



Masjid Raya Dolok Sanggul berada di tengah Kota Dolok Sanggul, tepatnya di tepi Jalan Raya Siliwangi. Letaknya sekitar 10 meter dari Hotel & Resto Bukittinggi. Keberadaan-nya cukup mencolok dengan warnanya yang hijau terang, terutama dari bentuknya yang amat berbeda dengan sejumlah bangunan lain di kota itu. Ditambah lagi dengan posisinya berada di tepi jalan raya yang kerap dilintasi para pedagang dan pelintas dari kabupaten lain termasuk dari Medan. Keberadaan masjid ini bukan hanya dibutuhkan bagi sekitar 6.000 jiwa muslim Dolok Sanggul, namun juga bagi para pedagang dan pelintas dari berbagai daerah, terlebih wisatawan yang tengah berwisata di Humbahas.

Arsitektur Masjid Raya Dolok Sanggul

Arsitektur masjid ini tak begitu khas, hampir seperti kebanyakan masjid modern lainnya. Bagian atapnya ada 3 kubah berwarna putih besi. Kubah paling besar berada di atap bangunan utama, di tengah-tengah. Dua lagi di bagian kiri dan di atas sebuah menara yang sebagian bangunannya menempel dengan bangunan utama masjid. Sebelum memasuki halaman masjid ini, ada gerbang berbentuk gapura kotak polos tanpa tulisan nama masjid. Gapura itu berwarna hijau senada dengan warna dominan masjid dengan garis tepi (list) kuning dan hitam pada bagian bawah.

Halaman masjid ini berlantai semen ada plang putih dengan tulisan hitam yang cukup menarik perhatian “Pastikan Anda Telah Mengkonsumsi yang Halal”.  Di halaman masjid juga, ada plang hijau bertuliskan putih “Dilarang Meletakkan Sandal, Slop, Sepatu, Terompa di Tangga. Kenaziran Masjid Raya Dolok Sanggul”. Tempat wudhu dan toilet berada di belakang masjid.

Ruang lantai dasar

Ruang lantai dasar masjid berpondasi 4 pilar berwarna senada dengan dinding masjid, hijau terang dan tua dengan list warna kuning. Karpet sajadahnya hanya terbentang dua baris dan kondisi sajadahnya pun terlihat sudah usang. Di bagian depan ruang itu ada ruang khusus imam dan penceramah, lengkap dengan podium mimbar kayu berwarna coklat. Di belakang mimbar ada setumpuk gulungan karpet sajadah dan sound system.

Ruang utama shalat di masjid itu ada di lantai satu, bukan di lantai dasar. Untuk sampai ruang utama masjid ini, melewati undakan tangga dengan pagar dari besi berwarna putih. Pintu ruang utamanya terbuat dari kayu berwarna coklat bagian atapnya melengkung setengah lingkaran. Begitupun dengan bentuk dan list jendela kacanya.  Di bagian atas jendela ada 4 jendela kecil dari kaca patri dengan tulisan Allah dan Muhammad.

Ekterior dan interior Masjid Raya Al-Amin Dolok Sanggul

Ruang Utama

Suasana interiornya tertata dan bersih. Karpet sajadah berwarna merah terhampar di seluruh lantainya. Ruangan ini terbagi dua, di bagian depan khusus untuk jamaah laki-laki, sedangkan di belakang dengan pembatas gorden kain untuk jamaah perempuan. Di ruang  perempuan terbagi dua lagi, bawah dan bagian atas yang dibatasi pagar besi putih. Di tengah ruangan utama beratap putih ini, ada kubah bagian dalam yang berlukis langit berwana biru dengan awan putih yang berarak-arak. Di bagian bawahnya ada kaligrafi bertuliskan deretan asma'ul husna. Di tengah kubah, menggantung lampu hias kristal berwarna putih gading. Di ruangan ini juga terdapat ruang khusus imam dan penceramah dengan podium mimbar dari kayu berukir berwarna coklat tua. Di samping kiri mimbar ada sajadah khusus imam berlapis dua yang terhampar di atas karpet juga berwarna merah.

Dari 4 jendela kaca dalam ruangan utama ini, dapat terlihat dengan jelas Jalan Raya Siliwangi dan deretan bangunan ruko, rumah makan, losmen, dan lainnya di kiri-kanannya. Dekat pintu keluar ruangan dalam ini, ada kotak infaq terbuat dari besi dengan 4 penyangga yang cukup tinggi berwarna hijau. Di dinding luar masjid bagian atas yang menghadap ke jalan raya, tertera Surat Al-Baqarah. Sedangkan di bawahnya ada Surat Iqra, Al-Fatihah, dan Surat Annas dengan tulisan berwarna hitam masing-masing di beri kotak dengan warna dasar hijau terang dan list warna kuning. Di seberang masjid ini terdapat Rumah Makan Islam Suka Raya yang menjual Mie Ayam Halal.

Halal Bihalal muslim 4 Kabupaten

Masjid Raya Dolok Sanggul ini menjadi tempat Halal Bihalal bagi muslim di empat kabupaten bertetangga yakni, kabupaten Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Toba Samosir dan Samosir. Acara tersebut dihadiri oleh para pengurus MUI dari empat Kabupaten, tokoh Muslim Humbahas dan 900-an kaum muslimat dan muslimin. Pada halalbihalal ini, panitia juga menghadirkan Ustad Samsyul Arifin dari Jakarta sebagai penceramah. Kegiatan Halal bihalal ini dirangkai dengan pengukuhan pengurus Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Raya Doloksanggul.

kegiatan tersebut sebuah tradisi saling memaafkan selepas ramadhan dan idul fitri yang rutin diselenggarakan umat muslim, sebagaimana disampaikan oleh Ketua panitia, Jonris Simanullang dalam laporannya. Sekaligus menjadi wadah silaturahmi dan penghapus kerinduan sesama muslim di empat kabupaten bertetangga tersebut. Adapun Badan Pengurus PKM Masjid Raya Doloksanggul yang dikukuhkan adalah H. Ir Zainal Abidin Sihite sebagai ketua, Anggiat Simanullang ST, MT sebagai Sekretaris dan Alhaijun Munthe S.Pdi sebagai bendahara serta seksi seksi dan puluhan kepala bidang.***


Saturday, August 27, 2016

Masjid Agung At-Taqwa Kota Bengkulu

Masjid Agung At-Taqwa Kota Bengkulu

Masjid Agung At-Taqwa merupakan masjid Agung Kota Bengkulu, provinsi Bengkulu, berada di Jalan Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas, kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Masjid megah berbalut warna putih ini menjadi salah satu ikon kota Bengkulu.

Lokasi Masjid Agung At-Taqwa
Jl. Soekarno-Hatta, Kelurahan Anggut Atas
Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.
Provinsi Bengkulu – Indonesia



Masjid ini dibangun tahun 1988, pada masa pemerintahan gubernur Soeprapto dan diresmikan oleh presiden Soeharto 1 Juli 1989. Luas ruang utama masjid ialah 879,2 m2, dan luas keseluruhannya mencapai 1.104,5 m2, mampu menampung 2.900 jamaah. Bangunan masjid ini dilengkapi dengan halaman yang luas dengan hamparan rumput yang menghijau.

Arsitektur masjid merupakan perpaduan antara corak tradisional Indonesia dengan langgam Turki dan Yunani menghasilkan bentuk bangunan masjid megah dengan keunikannya tersendiri, terutama bagian atapnya yang tampak seperti pesawat dalam kisah kisah UFO sebagai paduan dari bentuk kubah besar khas Turki dipadu dengan atap berundak undak khas Indonesia namun dalam denah melingkar bukan persegi empat, dan diantara tingkatan atap dilengkapi dengan jendela jendela kecil.

Masjid Agung AT-Taqwa di malam hari

Jejeran pilar pilar beton bundar di teras masjid ini merupakan langgam bangunan Kuil kuno Yunani, yang kemudian menjadi ciri khas bangunan Eropa dan Amerika. Masjid dengan Nuansa Gedung putih cukup tepat untuk menyebut masjid ini dengan warnanya yang serba putih. Ciri khas Ke-Indonesia-annya sangat terasa pada bagian interior. Citarasa Turki lainnya ada pada menaranya yang dibangun lebih dari satu dan terpisah dari bangunan utama.

Empat menara masjid Agung At-Taqwa ini berhasil menghadirkan langgam Turki dengan citarasa Indonesia. Denah menaranya bersegi empat seperti denah menara menara masjid tua di Sumatera lainnya, tidak seperti masjid khas Turki yang bundar. Bangunan masjid ini mirip seperti sebuah bangunan tugu dengan beberapa undakan yang semakin ke ujung semakin mengecil.***


Sunday, August 21, 2016

Masjid Istiqomah Bengkalis

Masjid Istiqomah di Pulau Bengkalis provinsi Riau

Bengkalis adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau. Sebagian wilayah kabupaten ini berada di pantai timur Pulau Sumatera, sebagian lagi berada di pulau Bengkalis yang berada di lepas pantai Pulau Sumatera di Selat Malaka terpisah dari Pulau Sumatra. Ibu kota kabupaten berada di Pulau Bengkalis.

Di kota ini terdapat masjid indah yang menjadi kebanggaan masyarakat Bengkalis, yakni Masjid lstiqomah. Masjid Istiqomah merupakan rumah ibadah megah yang menjadi ikon Kabupaten Bengkalis, Pembangunan masjid ini merupakan terobosan mengingat tingginya tingkat kesulitan untuk membangun sebuah masjid megah dengan tiang-tiang menara tinggi di atas tanah Bengkalis yang gembur atau tanah gambut.

Masjid Istiqomah Bengkalis terdaftar di Kementrian Agama RI dengan nomor ID : 01.2.04.03.01.000001. Masjid ini berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi berstatus tanah wakaf, dengan luas bangunan mencapai 5000 meter persegi dan mampu menampung hingga 4000 jemaah sekaligus.

Bangunan Masjid Istiqomah Bengkalis ini begitu megah, mengingatkan kita pada bangunan bangunan istana dalam dongeng 1001 malam. Bangunan megah bewarna putih dengan kubah warna warni ditambah dengan empat menaranya yang menjulang. Namun siapa sangka dibalik kemegahan masjid ini tersimpan sebuah kisah inspiratif dari sebuah kegigihan dalam artian sebenarnya dari muslim Bengkalis demi memuwudkan impian memiliki sebuah masjid.

Sejarah Pembangunan Masjid Istiqomah Bengkalis
 
Masjid Istiqomah Bengkalis berdiri pada tahun 1960 di atas tanah yang merupakan wakaf dari H. Abdurrahman. Pada awalnya, luas masjid ini hanya seperempat luas sekarang (2500 m2) dan luas halamannya pun hanya setengah dari luas sekarang. Peletakan batu pertama Masjid Istiqomah Bengkalis dilakukan oleh Bapak Raja Rusli yang menjabat sebagai ketua MUI Provinsi Riau.

Berdirinya Masjid Istiqomah ini merupakan hasil dari usulan para ulama dan pemuka masyarakat ketika itu, serta gotong royong secara bergiliran oleh masyarakat dengan tidak mengambil bayaran. Mayoritas yang terlibat dalam gotong royong ini adalah warga Bengkalis Kota, Desa Wonosari, dan Desa Pedekik.   



Pembangunan Masjid Istiqomah terkendala pada tahun 1962 karena kehabisan dana dan bahan baku bangunan. Pondasi dan tiang-tiang pancang dari besi yang belum dicor sempat terbengkalai. Bebeberapa waktu kemudian, hadirlah pihak yang bersedia memberikan bantuan untuk menyelesaikan pembangunan Masjid Istiqomah. Mereka adalah seorang pejabat tinggi kepolisian yang bernama Zakawi Ros dan seorang pedagang besar cina yang bernama Pulut.

Namun bantuan ini tidaklah cuma-cuma. Mereka menuntut sebuah kesepakatan dengan masyarakat Bengkalis berupa izin menjadikan Pulau Bengkalis sebagai jalur perdagangan karet mereka keluar negeri. Permintaan keduanya diizinkan oleh masyarakat Bengkalis hingga 80% pembangunan Masjid Istiqomah rampung pada tahun 1967.   

Pembangunan kembali dilanjutkan dengan bantuan dari pemerintah daerah hingga Masjid Istiqomah benar-benar selesai secara sempurna pada tahun 1968. Pada tahun yang sama pula masjid ini kemudian diresmikan bertepatan dengan acara MTQ tingkat provinsi. Dalam perjalanannya, Masjid Istiqomah pernah beberapa kali dipugar.

Oleh Bupati Bengkalis tahun 1975, Imron Suheman, Masjid Istiqomah mendapat beberapa perbaikan bangunan dan perluasan halaman sehingga luas halamannya menjadi dua kali lipat dari sebelumnya. Pada tahun 1977 ditambahkan 4 tiang utama di bagian dalam masjid sekaligus perombakan bagian atas masjid. Pembangunan di tahun 1977 ini dilaksanakan oleh CV Riau Putera di bawah pimpinan direkturnya H. Abu Bakar.

Pada tahun 1986. Ketika Bengkalis dipimpin oleh Bupati Johan Syarifudin, langit-langit Masjid istiqomah kembali mendapat pemugaran. Berbeda dengan sebelumnya, pemugaran kali ini tidak dilakukan oleh kontraktor, melainkan melalui program AMD (ABRI masuk desa).  

Ketika Bengkalis dipimpin oleh bupati Fadlah Sulaiman pada tahun 1998, terjadi pemugaran besar-besaran hampir di semua bagian masjid. Ini dilakukan karena jamaah Masjid Istiqomah sudah terlalu ramai. Namun pemugaran ini baru selesai di zaman Bupati Bengkalis selanjutnya, Syamsurizal. Pemugaran ini termasuk perbaikan rumah imam, pendirian sekretariat dan penambahan tempat wudhu.

Arsitektur Masjid Istiqomah Bengkalis

Masjid lstiqomah dibangun dengan arsitektur bangunan masjid moderen, dalam artian dibangun dalam bentuk bangunan masjid universal sebagaimana bangunan masjid yang dikenal oleh dunia internasional, yakni berupa bangunan besar ber-aula luas dengan kubah dan menara. Atap bangunan utamanya bertingkat dua dengan kubah bawang berukuran besar di atasnya di hias dengan panel panel ornamen bewarna biru dan kuning dengan garis garis diagonal. 

Empat menara tinggi dan ramping khas Turki mengapit empat sudut bangunan utama masjid ini. Bagian ujung menara yang meruncing seperti ujung pensil yang diraut diperindah dengan padanan warna kuning dan biru terang berpola geometris, membuatnya tampak kontras dengan birunya langit Bengkalis.

Tiga sisi bangunan utama kemudian ditambahkan teras dan beranda yang cukup luas untuk menambah luasan lantai masjid ini. Jejeran pilar dengan arkade mengelilingi bagian teras dan beranda masjid dengan sentuhan arabia. Masing masing beranda dilengkapi dengan kubah berukuran lebih kecil dengan warna biru terang, sisi kiri dan kanannya di apit dengan bentuk menara kecil. Bagian atas teras juga di lengkapi dengan beberapa kubah mini. Padu padan beranda dan teras masjid ini mengingatkan kita pada seni bina bangunan bangunan masjid dan istana dari dinasti Islam Mughal di India.

Elemen hias di dalam masjid dipengaruhi oleh gaya Arab dan Melayu. Perpaduan ini dapat dilihat dari banyaknya kaligrafi dengan motif dan warna-warna cerah yang merupakan ciri khas ornamen Melayu. Kaligrafinya ditulis dengan warna emas sedangkan elemen lainnya menggunakan fola floral dengan warna warna yang senada. Tiang tiang masjid ini juga di hias dengan kaligrafi dengan ragam hias khas melayu berupa ornamen pucuk rebung di sisi atas dan bawahnya.

Menjelang senja, suasana sekitar masjid terasa begitu hidup dengan aktivitas masyarakat Pulau Bengkalis. Mereka tampak berlalu-lalang di pertigaan jalan depan gerbang masjid atau duduk-duduk di teras, menunggu waktu shalat Maghrib tiba. Lingkungan sekitar masjid dipenuhi oleh toko yang bagian atasnya dijadikan tempat penangkaran walet. Suara ciutan riuh rendah burung-burung walet menjadi suara khas keseharian di sekitar masjid megah ini.***

Saturday, August 20, 2016

Masjid Al-Ikhlas Bagansiapiapi

Masjid Al-Ikhlas Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau (panoramio)

Dimanakah Bagansiapiapi

Bagansiapiapi adalah ibukota Kabupaten Rokan Hilir, provinsi Riau. Kabupaten Rokan Hilir sebelumnya merupakan bagian dari Kabupaten Bengkalis, kemudian dibentuk menjadi Kabupaten baru di provinsi Riau pada tanggal 4 Oktober 1999 sesuai dengan UU RI Nomor 53 tahun 1999 dengan ibukota Ujung Tanjung

Mulanya Bagansiapiapi hanya ditetapkan sebagai ibu kota sementara, Sedangkan Undang Undang menyebutkan bahwa ibukota kabupaten Rokan Hilir berada di Ujung Tanjung, Namun karena kondisi infrastruktur di Ujung Tanjung yang masih merupakan sebuah desa di Kecamatan Tanah Putih belum memungkinkan untuk dijadikan sebagai sebuah ibu kota kabupaten, maka akhirnya Bagansiapiapi, ditetapkan sebagai ibukota kabupaten Rokan Hilir melalui perubahan UU Nomor 53 Tahun 1999 pada tanggal 24 Juni 2008.

Bagansiapiapi dikenal sebagai Hongkong Van Andalas, pernah meraih predikat sebagai kota terbersih ked-2 di provinsi Riau setelah kota Bengkalis di tahun 2011. Kota ini merupakan salah satu kota pantai paling ramai di selat Malaka semasa penjajahan Belanda Hingga ahir perang dunia pertama. Disana sudah sejak lama berdiri tiga masjid besar yakni Masjid Raya Al-Ikhlas, Masjid Raya Al-Ihsan, Masjid Al-Kautsar.

Lokasi Masjid Al-Ikhlas Bagansiapiapi

Bagan Barat, Bangko,
Kabupaten Rokan Hilir, Riau
koordinat : 2.161610, 100.802870

Mesjid ini terletak di Jalan Utama kota Bagansiapiapi persis di sebelah Makam Pahlawan. Mesjid ini juga berfungsi sebagai Islamic Centre Kabupaten Rokan Hilir. Kemegahannya telah menjadikan masjid ini sebagai ikon kabupaten Rokan Hilir.


Masjid Dengan Warna yang Unik

Masjid Al Ikhlas merupakan masjid kebanggaan masyarakat kota Bagansiapiapi, bentuk bangunannya diperngaruhi oleh gaya arsitektur Turki Usmani dengan kubah besar pada bangunan utamanya serta 4 menara yang menjulang  tinggi. Fokus utama pada bangunan masjid Al-Ikhlas ini tentu saja pada kubah dan empat menaranya.

Pembauran berbagai gaya arsitektur di aplikasikan di masjid ini. Kubahnya terdiri dari satu kubah utama dibagian tengah, kemudian ditopang oleh empat bangun semi kubah di empat sisinya seperti pada beberapa bangunan masjid di Istambul Turki. Tidak hanya bangun semi kubah, Kubah utamanya juga di apit oleh empat bentuk menara kecil yang dilengkapi dengan kubah bawang berukuran kecil di puncaknya.

Menariknya, kubah masjid ini menggunakan warna yang tak biasa, terlalu coklat untuk disebut kubah emas. Lebih tepat untuk disebut bewarna tembaga. Memberikan kesan tersendiri karena warna ini terbilang sangat jarang digunakan sebagai warna kubah. Sehingga cukup mudah untuk mengenali bangunan masjid ini dari bentuk dan warna kubahnya. Warna yang sama juga digunakan pada kubah di ujung empat menaranya.

Bangunan masjid Al-Ikhlas ini dilengkapi dengan pekarangan yang cukup luas, disalah satu sisi nya diperindah dengan air mancur. Keberadaanya menyiratkan bahwa Bagansiapiapi sebagai sebuah kota yang memiliki sejarah panjang di Muara Sungai Rokan di pesisir timur pulau Sumatera.

Pemkab Rohil Sholat Gerhana Matahari di Masjid Al-Ikhlas

Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir gelar sha‎lat Gerhana matahari di Masjid Al-Ikhlas ( Masjid Agung), Jalan Utama, Rabu 09 Maret 2016, Pukul. 07.00 Wib. Sholat langsung diikuti Bupati Suyatno, Sekda Surya Arfan,Kepala SKPD dan Para ulama serta masyarakat umum.  Diwawancara usai sholat, Bupati Suyatno menyampaikan bahwa Sholat Gerhana Matahari ini merupakan sebagai penyampaian rasa syukur kepada Allah Swt bahwa seluruh wilayah Indonesia ada 12 kota yang menjadi lintasan Gerhana Matahari.***


Wednesday, August 17, 2016

Masjid Raya Kisaran

Masjid Raya Kisaran, Kabupaten Asahan. Sebelumnya bernama Masjid Agung Kisaran.

Masjid Raya Kisaran sebelumnya bernama Masjid Agung Kisaran sampai kemudian diresmikannya Masjid Agung H. Ahmad Bakrie sebagai masjid Agung Kabupaten Asahan. Masjid Raya Kisaran berada di pusat kota kisaran di wilayah kecamatan Kisaran Barat

Lokasi Masjid Raya Kisaran
Jl. Imam Bonjol Kisaran, Tebing Kisaran
Kisaran Barat, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara
Koordinat : 2° 58' 41.85" N  99° 37' 48.39" E


Di tahun 2009 lalu Kelompok Bloger Asahan di kota Kisaran melakukan kegiatan unik dengan melakukan penanaman pohon langka Gaharu di pekarangan masjid Raya Kisaran ini bekerjasama dengan pengurus Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Raya Kisaran.

Lokasinya yang berada di kawasan inti kita Kisaran, masjid ini menjadi salah satu pavorit muslim setempat untuk melaksanakan sholat lima waktu dan sholat dua hari raya. Faktor sejarah dan memori masa kecil juga menjadi salah satu alasan warga setempat yang tinggal di perantauan untuk menyempatkan waktu sholat hari raya di masjid ini dalam momen mudik tahunan.

Di areal sekitar masjid ini terdapat toko-toko buku hasil tulisan ilmuan Asahan dijual, pernak-pernik sovenir khas Asahan seperti rajutan sajadah dari kapas, rangkaian tasbih dari bahan cangkang lokan, dan anyaman peci dari rotan, serta jajanan-janana khas Asahan dijual dengan kemasan yang rapi dan menawan setiap pengunjung untuk membelinya sebagai oleh-oleh khas Asahan.

Lokasi strategisnya itu juga menjadikan areal di depan masjid ini ramai sebagai pusat jajanan musiman selama bulan Ramadan. Berbagai penjual aneka makanan dan minuman berbuka puasa bermunculan di beberapa jalan inti kota Kisaran terutama di depan masjid ini. Es kelapa muda, dan mie kuning serta serabi menjadi salah satu menu makanan yang paling digemari pembeli.***


Sunday, August 14, 2016

Masjid Raya Al-Muttaqin Pangkalan Kerinci

Masjid Al-Muttaqin Pangkalan Kerinci

Masjid Al-Muttaqin berada di Jalan Raya Lintas Timur Sumatra, di Kecamatan Pangkalan Kerinci, ibukota Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau. Pembangunan masjid ini di danai oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), salah satu pabrik kertas terbesar di Indonesia, berlokasi di daerah ini. Pembangunan masjid ini sebagai peran RAPP dalam kehidupan masyarakat Pangkalan Kerinci dan Kabupaten Pelalawan pada umumnya.

Oleh karena letaknya yang strategis di sisi jalur lintas Sumatra, Masjid Al- Muttaqin sering kali menjadi tempat persinggahan pelancong, baik untuk menunaikan shalat fardhu maupun untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Lokasi Masjid Al-Muttaqin
Jl. Lintas Timur Pangkalan Kerinci - Kerinci
Kabupaten Pelalawan, Provinsi Riau
Indonesia


Masjid Al-Muttaqin berada di pusat keramian Pangkalan Kerinci, berdiri megah di sebelah Gedung Bank Riau Kepri Cabang Pangkalan Kerinci. Kini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Pelalawan. Masjid Al-Muttaqin diresmikan tahun 2000 dengan luas bangunan 2000 meter persegi diatas lahan seluas 10.000 meter persegi dengan daya tampung hingga 2.500 jemaah sekaligus.

Masjid Besar Al-Muttaqin Pangkalan Kerinci ini setidaknya menggabungkan tiga gaya arsitektur sekaligus. Menara nya dibangun mirip dengan menara masjid Nabawi di Madinah dengan ukuran yang lebih kecil, Atap nya mengadaptasi atap bersusun khas Nusantara, dan di ujung tertinggi atapnya menggunakan Kubah bawang khas dinasti Mughal India.

Interior Masjid Al-Muttaqin

Kubah bawang juga ditempatkan di tiga bangunan beranda di tiga sisi bangunan masjid ini, dengan ukuran yang lebih kecil dari kubah utama. Warna hijau mendominasi kubah kubah masjid ini beserta atapnya dengan pola geometris bewarna hijau muda. Empat menara masjid ini ditempatkan di empat penjuru masjid namun bukan berupa bangunan terpisah dari bangunan utama.

Kaligrafi Masjid Raya Pangkalan Kerinci Riau

Kaligrafi interior masjid timbul dengan bahan sponhard ketebalan 3 dan 5 mm Kaligrafi yang digunakan adalah jenis khat kufi dan sulus. Bidang-bidang hiasan kaligrafi interior masjid ini meliputi kaligrafi mihrab, kaligrafi mirip gerbang dibagian depan sebelah kiri dan kanan dan hiasan kaligrafi di sekeliling interior masjid bagian atas dengan khat sulus dan kufi dikombinasikan dengan kaligrafi asmaul husna dibagian bawah kaligrafi tersebut. Ornamen di dalam masjid ini juga menggunakan GRC dengan pola geometris menggunakan warna lembut di kombinasi dengan warna emas.*** 


Saturday, August 13, 2016

Masjid Agung Ulul Azmi dan Islamic Centre Pelalawan

Masjid Ulul Azmi

Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten di provinsi Riau. Kabupaten yang belum lama terbentuk namun menunjukkan perkembangan pembangunan yang cukup impresif. Termasuk pembangunan dibidang ke agamaan. Kabupaten Pelalawan beribukota di Pangkalan Kerinci, Kawasan yang dikembangkan menjadi pusat pemerintahan kabupaten termasuk pusat kegiatan aktivitas Islam di kabupaten tersebut dengan proyek pembangunan islamic Center di Pangkalan Kerinci.

Islamic center Kabupaten Palalawan sudah mulai dibangun sejak tahun 2007-2008 dengan anggaran proyek senilai Rp. 6,1 miliar pada tahun 2007-2008. Dalam perjalanannya, pembangunannya tak kunjung selesai. Bahkan pada tahun 2009, anggarannya kembali ditambah sekitar Rp3,6 miliar. Pembangunan proyek pembangunan Islamic Center ini sudah dimulai sejak masa pemerintahan Bupati Asmun namun belum juga usai hingga masa pemerintahan bupati berikutnya, HM. Haris.


Terbengkalai akibat Skandal Korupsi

Proyek pembangunan Islamic Center Kabupaten Pelalawan ini sempat mangkrak cukup lama akibat kasus korupsi yang mendera-nya. Skandal korupsi tersebut telah menyeret bebeberapa tokoh setempat ke hadapan penegak hukum hingga ke meja hijau dan balik jeruji di tahun 2013, dengan indikasi kerugian negara mencapai Rp. 7,7 Milyar Rupiah, dana parahnya lagi, selama dipersidangan terungkap bahwa bangunan yang sudah dibangun tidak layak untuk dipergunakan karena telah terjadi penyimpangan proyek.

Sangat disayangkan, Islamic center yang seyogyanya dibangun dengan salah satu fungsinya adalah sebagai pusat pembinaan umat namun justru proses pembangunannya diwarnai oleh praktek prakterk yang tidak menunjukkan akhlak yang mulia oleh beberapa oknum yang terlibat dalam proses pembangunannya. Kawasan Proyek pembangunan yang tak kunjung usai ini cukup lama terbengkalai dan menjadi tempat perbuatan yang tak pantas. Menyikapi hal tersebut FPI Pelalawan sempat melayangkan permintaan pemagaran kawasan komplek tersebut kepada Bupati HM. Haris, untuk menghindari digunakannya areal tersebut sebagai tempat maksiat.

ditepian Jalan Lintas Timur Sumatera 

Masjid Agung Ulil Azmi dan Islamic Center Pelalawan Kini

Meski sempat cukup lama tebengkalai, salah satu bangunan dari Komplek Islamic Center ini kini terlihat berdiri megah di tepian ruas jalan lintas timur Sumatera, sementara bangunan pendukung lainnya termasuk gedung Islamic centernya masih belum jelas kelanjutannya. Di awal tahun 2016, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pelalawan, H Iswadi M Yazid LC kembali angkat bicara soal-soal kondisi dan rencana kelanjutan pembangunan Masjid Agung Ulul Azmi dan Islamic Centre sebagai Ikon Religi dan urat nadi keagamaan di Pelalawan. Pemkab Pelalawan diminta fokus untuk menjadikan Masjid Agung Ulul Azmi dan Islamic Centre sebagai ikon religi dan urat nadi keagamaan di Pelalawan.

Karena berbicara Masjid Agung kita berbicara lambang dan simbol. Tentunya kita berharap permasalahan pengeras suara yang lebih besar di luar dari yang di dalam, masuknya orang ke masjid menuju toilet hingga penyalahgunaan Islamic Centre oleh sejumlah pihak tidak terjadi lagi. Ditambahkan H Iswadi, ke depannya Masjid Agung Ulul Azmi dan Islamic Centre diharapkan dapat dibangun dengan sesegera mungkin.

Secara tekhnis memang urusan administratif Masjid Ulul Azmi masih dipegang Pemkab Pelalawan namun tetap memberi kesempatan pihak-pihak terkait untuk ikut mengembangkan Masjid terutama soal mengimarah dan memakmurkan Masjid. Namun pihak MUI berharap Pemkab fokus ke fisik bangunan dan tetap memberi kesempatan kepada pihak-pihak lain dalam pengembangan Masjid Agung Ulul Azmi.

Masih di awal tahun 2016, Masjid Ulul Azmi disemarakkan dengan perhelatan yang diselenggarakan oleh TNI, Polri bersama Pemprov Riau, Pemkab Pemko Pekanbaru, Pemkab Kampar dan Pemkot Pelalawan dengan sebuah acara Tabligh Akbar bertajuk “Menangkal ISIS dan Radikalisme di Ranah Melayu”, dengan pemateri Ust. Abdurrahman Ayyub dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Ust. Maududi abdullah. Selain di Masjid Ulil Azmi, acara yang sama juga di gelar di Masjid An-Nur Pekanbaru dan Masjid Islamic Center Kabupaten Kampar.***

-------------------------------

Referensi