Sunday, December 25, 2016

Masjid Agung An Nur Pare, Kediri

Masjid An-Nur ini dibangun di kota kecamatan dengan kemegahan yang tak kalah dengan masjid agung kabupaten.

Pare adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebagai sebuah kecamatan, Pare tergolong maju. Berbagai infrastruktur seperti hotel, rumah sakit besar, pusat perbelanjaan, dan kantor-kantor perwakilan bank ada di sana. Salah satu yang mencirikan pesatnya kemajuan Pare adalah Masjid Agung An-Nur. Masjid megah ini merupakan pusat syiar Islam di Pare dan Kediri. Lokasinya di jalan utama kota menegaskan keberadaan masjid sebagai landmark wilayah Pare.

Pola arsitekturnya indah. Tak tanggung-tanggung, konsep arsitektur masjid ini telah mendapat penghargaan dari Kerajaan Saudi Arabia sebagai juara pertama sayembara internasional untuk kategori Perancangan Arsitektural Masjid, termasuk pemanfaatan teknologi modern dalam arsitektur masjid. Sayembara ini digelar dalam rangka memperingati 100 tahun lahirnya Kerajaan Arab Saudi pada akhir Januari 1999 lalu.




Masjid yang namanya diambil dari nama pejuang Islam tersohor di Pare, yakni Kiai Nurwahid, tersebut mengambil pola dasar arsitektur khas Jawa Klasik. Hal ini dapat dilihat pada atap masjid yang berbentuk tajug dengan model piramid di ujung atasnya. Menariknya, atap ini dibuat dengan sudut kemiringan yang cukup ekstrem sehingga terkesan menjulang tinggi ke langit.

Keindahan masjid diperkuat dengan keberadaan kolam tepat di area plaza masjid. Pada waktu-waktu tertentu, kolam tersebut merefleksikan bayangan masjid secara utuh hingga menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Pada malam hari pun kolam menjadi aksen keindahan tersendiri karena dilengkapi lampu di sepanjang bibir dan tengah kolam.

Meskipun mengambil gaya Jawa Klasik, pada Masjid An-Nur ini juga diberlakukan modifikasi. Tiang utama atau biasa disebut sebagai soko guru yang pada kebanyakan masjid Jawa Kuno berjumlah empat, pada masjid ini masing-masing tiang digandakan lagi menjadi empat soko guru yang disatukan oleh balok pengikat saling bersilangan.

Bagian dalam ruang utama masjid tampil bersahaja, tidak terlalu banyak menggunakan detail ornamen. Konsep ruang memang dibuat terbuka sehingga pencahayaan alami dari luar bebas menerobos ke dalam ruang. Tidak banyak detail ornamen yang tampak pada mihrab masjid ini. Mihrab hanya dibentuk dari tiga lapis garis lengkung sebagai pembeda dengan bagian lain. Mimbar yang diletakkan di mihrab pun terlihat sederhana.

Keunikan lainnya adalah beduk di ruang utama ibadah. Di kebanyakan masjid, biasanya beduk diletakkan di plaza atau luar ruang utama. Namun, keberadaan beduk ini terkesan sebagai aksen ruang yang menegaskan keutamaan ruang tersebut. Masjid yang rancangannya terilhami oleh arsitek asal Amerika Serikat, John Portman, tersebut berhasil memadukan berbagai keunikan menjadi satu bentuk yang megah namun tetap elegan. Hasilnya, kesan ramah pun terasa kental di sana.***