Saturday, December 10, 2016

Masjid Tuo Pulo Kambing, Aceh Selatan

Masjid Tuo Pulo Kambing

Masjid Pulo Kambing merupakan salah satu masjid tua di Aceh serta menjadi masjid tertua di Kabupaten Aceh Selatan. Disebut sebagai masjid Tuo Pulo Kambing karena memang berada di Gampong (Desa) Pulo Kambing, kecamatan Kluet Utara, Kabupaten Aceh Selatan. Dengan usianya (paling tidak) lebih dari 600 tahun, Masjid Tuo Pulo Kambing telah masuk ke dalam daftar Cagar Budaya di Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan dengan nomor penetapan PM.90/PW.007/MKP/2011 tanggal 17 Oct 2011.

Masjid tua milik muslim Pulo Kambing ini berada di tengah tengah Desa Pulo Kambing, berbatasan dengan Rumah penduduk di sisi utara dan barat, SDN Kluet Utara di sebelah selatan dan berada di tepian jalan desa yang membentang di sisi sebelah timurnya. Arsitekturnya memang unik, perhatikan mastaka di ujung atapnya yang sangat khas.

Pada dasarnya arsitektur Masjid Tua Pulo Kambing ini sama dengan masjid masjid tradisional asli Indonesia, berupa bangunan masjid dengan atap limas bersusun tiga, namun susunan atap paling atas nya dibangun berbeda dengan dua susun atap dibawahnya. Meski berusia sudah teramat tua masjid ini terdiri dari 3 lantaiPondasinya begitu kokoh, dinding kayu, dan besinya pun masih sama seperti pertama kali masjid ini dibangun.
  
Masjid Tuo Pulo Kambing
Jl. Klueet Utara, Pulo Kambing
Kec. Kluet Utara, Kab. Aceh Selatan
Propinsi Nangroe Aceh Darussalam


Keluarkan Air dari Sokoguru

Masjid Tuo Pulo Kambing di topang oleh empat sokoguru (tiang) yang berdiri di tengah tengah ruang utama masjid. Masing masing ke empat sokoguru ini berdiameter sekitar satu meter dengan ketinggian masing masing sekitar 15 meter dengan ukiran kaligrafi yang mengisahkan riwayat kebesaran kerajaan-kerajaan Islam di Aceh.

Salah satu dari empat sokoguru masjid ini dikenal luas masyarakat karena sejak masjid ini selesai dibangun, salah satu sokoguru masjid ini mengeluarkan tetesan air bening dan dingin hingga membasahi lantai masjid ini yang kala itu masih berlantai tanah.

Tetesan air tersebut kemudian dikumpulkan dan di ambil warga untuk dijadikan obat, dan Alhamdulillah khasiatnya bisa mengobati berbagai penyakit yang di derita masyarakat. Saat ini tetesan air dari tiang tersebut tidak sederas di masa lalu sejak lantai masjid di keramik dan pangkal sokoguru dicor semen. Sejenis tempat penampungan dibuat di sekitar satu sokoguru ini untuk menampung air yang menetes dari tiang tersebut.

Dua Versi Sejarah Masjid Tuo Pulo Kambing

Ada dua versi tentang sejarah Masjid Tuo Pulo Kambing ini. Versi pertama menyebutkan bahwa masjid Tuo Pulo Kambing Didirikan oleh Tgk Ali Basyah (Teungku Aceh) semasa kepemimpinan Keujruen Kluet (setingkat Ulee Balang) ke 11 yakni Teuku Meurah Adam, sekitar sembilan abad (900 tahun) yang lalu, jauh sebelum penjajah Belanda masuk ke Aceh. Kala itu wilayah kekuasaan Keujruen Kluet meliputi Kasik Putih, Samadua hingga Trumon, sebelum dibentuk Kewedanaan.

Penampungan tetesan air di salah satu sokoguru Masjid Tuo Pulo Kambing

Versi kedua, menyebutkan bahwa keberadaan masjid tertua ini tidak terlepas dari usaha dan kegigihan Syehk Syamsuddin, atau Syeh Muhammad Husen Al Fanjuri bin Muhammad Al Fajri Kautsar, seorang ulama murid seorang ulama sufi asal Persia (kini Iran dan sekitarnya), pada tanggal 8 Agustus tahun 1351 Masehi, lebih dari 6 abad (600 tahun). Ada perbedaan tarikh yang teramat jauh antara versi pertama dan versi kedua sejarah pembangunan masjid ini.

Pada masa masa masa awal, masjid ini merupakan masjid utama muslim Kluet Raya. Pada masa itu tidak semua gampong memiliki masjid dan rumah rumah penduduk pun masih jarang, sehingga masjid Pulo Kambing menjadi pusat ibadah masyarakat Kluet Raya, baik shalat lima waktu maupun sembahyang jamaah Jumat dan hari raya. Seiring perjalanan waktu, islam telah berkembang pesar dan gampong gampung sudah memiliki masjid, kini masjid Pulo Kambing Menjadi Masjid Desa Pulo Kambing (saja). Masjid ini pun telah beberapa kali di renovasi meskipun secara fisik dan ciri khasnya tetap dipertahankan.

Masjid Tuo Pulo Kambing ini sempat menjadi tempat perlindungan saat musibah gempa dan tsunami melanda kawasan Aceh pada tahun 2004 lalu. Masjid Tua Pulo Kambing bukanlah satu satunya bangunan tua yang ada di Pulo Kambing, disekitar masjid ini, bangunan yang berusia lebih tua pun masih kokoh berdiri. Salah satunya adalah rumah keluarga kerajaan di era Kerajaan Aceh Darussalam. hingga kini masjid ini tidak sepi dari pengunjung, baik penduduk Aceh Selatan maupun luar daerah. ***