Masjid di Gulmarg dalam selimut salju yang begitu tebal di
musim dingin yang beku. Suhu rendah bahkan turut membekukan sungai yang beradatak jauh dari masjid
Bagi kita yang
tinggal di daerah tropis seperti di Indonesia, memang mustahil untuk menemukan
pemandangan seperti foto di atas di tanah air tercinta ini. Ketika musim dingin
tiba, suhu yang begitu rendah bahkan membekukan aliran sungai yang tak jauh
dari masjid.
Masjid tersebut
berada di kota kecil bernama Gulmarg di wilayah Jammu Kashmir, India. Kota ini
berada di koordinat 34.05°N 74.38°E di ketinggian 2690 meter dari permukaan
laut. Kira kira sejauh 52 Km dari Srinagar, ibukota Propinsi Jammu Kashmir,
India.
Tangmarg jamia mosque
Drung Rd
Tangmarg, 193402
Masjid ini menjadi
salah satu masjid di lokasi tertinggi di bumi. Selain itu masjid ini juga
berada di lokasi dengan suhu rendah yang sangat extrim sepanjang musim dingin
hingga mencapai belasan derajat di bawah nol.
Karena keindahan
alamnya dengan bukit bukit dan gunung salju serta ketatnya pengamanan dari
tentara nasional India di kawasan ini menjadikan kawasan ini sebagai tempat
pavorit bagi para pemain ski. Ribuan wisatawan dan petualang datang ke kawasan
ini sepanjang tahun untuk bermain ski.
Keberadaan pasukan
militer di kawasan ini tak lepas dari konflik antara India dan Pakistan.
Wilayah Jammu dan Kashmir memang sudah sejak lama tercabik cabik ke dalam
kekuasaan tiga Negara. Sebagian besar masuk ke dalam wilayah India dan Pakistan
dan sebagian kecil dari wilayah itu masuk dalam wilayah China.
Pertarungan
memperebutkan wilayah tersebut terus berlanjut sejak India lepas dari jajahan
Inggris lalu pemisahan Pakistan dari India, menyisakan perseteruan yang tak
pernah usai antara dua Negara serumpun tersebut.
Masjid Agung Al-Muhtadin Komplek Islamic Center Muaradua, Kabupaten OKU Selatan.
Masjid Agung Al-Muhtadin adalah masjid agung di Kabupaten Ogan Komering
Ulu Selatan atau disingkat OKU Selatan, provinsi Sumatera Selatan. Masjid Agung
atau lebih terkenal disebut dengan Masjid Islamic Center Muara Dua ini
merupakan masjid kebanggaan masyarakat kabupten OKU Selatan. Masjid Agung
dengan luas setengah lapangan sepakbola ini memang berada didalam kompleks
Islamic center kabupaten OKU Selatan.
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKU
Selatan) adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Selatan. Merupakan
hasil pemekaran Kabupaten Ogan Komering Ulu yang diresmikan dengan UU No.37
Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003. Kabupaten ini diresmikan pada 16 Januari 2004
di Muara Dua, ibu kota kabupaten OKU Selatan.
Islamic
Center Muaradua
Jl. Muara Dua - Liwa, Kelurahan
Batu Belang Jaya
Kecamatan Muaradua,
Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan
Sumatera Selatan 32211
Masjid Agung Al-Muhtadin ini diresmikan oleh Bupati OKU Selatan Popo Ali Martopo, B. Commerce pada hari Kamis tanggal 28 Maret 2019 yang lalu. Bangunan masjid yang
masih gress, selain baru diresmikan masjid ini juga masih dilanjutkan
pembangunannya termasuk pembangunan fasilitas fasiltas pendukungnya sebagai
masjid agung dan Islamic center.
Upacara peresmian masjid Agung ini ditandai dengan penandatanganan
prasasti oleh Bupati OKU Selatan dan dilanjutkan dengan Tabligh
Akbar yang di isi tausiyah oleh Kyai H. Zulfan Baron, S.Pd.I, M.Si,pengasuh Ponpes Al Fakriya Baturaja.
Interior Masjid Agung Al-Muhtadin.
Al-Muhtadin yang menjadi nama masjid ini secara harfiah bermakna sebagai
tempat mendapatkan hidayah atau petunjuk. Namun demikian penggunaan nama
Al-Muhtadin ini sempat menuai penolakan dari masyarakat karena nama tersebut
juga merupakan nama dari Bupati OKU Selatan sebelumnya yang juga merupakan
bupati pertama di kabupaten tersebut sekaligus inisiator pembangunannya.
Sebelum diresmikan pada tanggal 28 Maret 2019, masjid ini telah
digunakan untuk pelaksanaan Jum’at berjamaah sejak tangga 1 Maret 2019.
Peresmian masjid kebanggaan warga OKU Selatan ini dihadiri oleh para pejabat Kabupaten,
tokoh masyarakat dan ribuan warga muslim setempat.
Upacara peresmian masjid tersebut juga dihadiri oleh tokoh masyarakat
OKU Selatan yang juga Bupati Pertama OKU Selatan, H
Muhtadin Sera’i. Dalam kesempatan tersebut beliau juga memberikan penjelasan
bahwa pemberian nama Al-Muhtadin untuk masjid tersebut bukanlah keinginan
beliau dan keluarga namun merupakan keputusan musyawarah pemkab dan para tokoh
masyarakat setempat. Hal senada juga
disampaikan oleh Bupati Popo Ali Martopo, B. Commerce.
Pembangunan Masjid Agung Al-Muhtadin ini memang sudah digagas
pembangunannya sejak masa pemerintahan Bupati H. Muhtadin Sera’I (2005-2015) beliau juga
yang menggagas pembangunannya dan baru dapat diselesaikan pada masa Bupati Popo Ali Martopo, B. Commerce.
Sedikit berbeda dengan daerah lain, Masjid Agung Kabupaten OKU Selatan ini dibangun cukup jauh dari komplek perkantoran Bupati yang terpaut sekitar 6 KM dari masjid ini.
Masjid Agung Al-Muhtadin dibangun tiga lantai, lantai
satu digunakan untuk sholat berjamaah, lantai atas atau balkon digunakan untuk
tempat Sholat dan mengaji serta lantai basement sebagai tempat whudu. Lokasinya berada di dalam komplek Islamic
Center yang mempunyai luas secara keseluruhan mencapai tiga hektar. Selanjutnya
akan dilanjutkan pembangunannya untuk dilengkapi dengan aula
serbaguna, asrama haji dengan 50
kamar, lokasi parkir dan Rumah untuk pengurus masjid.
Sumber dana
Pembangunan Masjid Agung Al-Muhtadin ini dimulai sejak tahun 2013.
Pendanaannya bersumber dari APBD kabupaten secara multi year. Dari beberapa
media disebutkan; pada tahun anggaran 2014 dikucurkan dana sebesar Rp. 14
Milyar rupiah, dilanjutkan tahun anggaran 2015 kembali dikucurkan anggaran
sebesar Rp. 20 Milyar rupiah, secara umum terdiri dari anggaran finishing masjid Rp 12 miliar, pembangunan aula dan perumahan masjid sebesar Rp
8 miliar.
Masjid Agung Al-Muhtadin pada saat proses pembangunan.
Sempat ditargetkan penyelesaian pembangunan masjid ini yang diharapkan
selesai di ahir tahun 2015.
Target penyelesaian di tahun 2015 tak berjalan sesuai rencana, pihak pemkab
menghentikan kerjasama dengan rekanan pembangunan masjid ini yang ternyata di
blacklist. Setelah dikonfirmasi ke LPP ternyata perusahaan
rekanan tersebut bermasalah di Dinas PU Cipta Karya Kabupaten Musi Banyuasin
Etalase Sumbangan
Sejak dilaksanakan sholat Jum’at pertama di masjid ini, ada etalase unik
di masjid ini. Etalase yang disiapkan oleh pengurus masjid bagi Jemaah berupa
makanan dan minuman, masyarakat bebas untuk mengambil isi etalase dan bebas
untuk meletakkan sumbangannya di etalase tersebut.
Pada Sholat Jum’at
pertama di Masjid Agung tersebut sebanyak 250 nasi bungkus dan 5 dus air
mineral habis dibagi kan secara percuma kepada jamaah masjid. Nasi bungkus dan
air mineral tersebut berasal dari sedekah yang dimasukkan ke dalam etalase
sumbangan.
Berdiri megah di sisi barat alun alun Palabuhanratu, Masjid Agung Palabuhanratu berada di pusat kota Palabuhanratu.
Palabuhanratu adalah salah satu
kecamatan di kabupaten Sukabumi provinsi Jawa Barat yang terkenal sejak lama
dengan keindahan panorama pantainya. Letak geografisnya yang menghadap langsung
ke Samudera Indonesia menjadikan tempat ini salah satu pavorit wisatawan untuk
berkunjung.
Proklamator kita, Bung Karno
bahkan begitu jatuh cinta pada Palabuhanratu, beliau yang kemudian merencanakan
pembangunan Pesanggrahan Palabuhanratu yang dibangun di lahan yang dulunya
merupakan tempat peristirahatan Mayor Mantiri bernama Vaya con Dios. Ia pun
meminta Mayor Mantiri merelakan tempat seluas 2,8 hektare itu untuk ditukar
dengan lahan yang berada di sebelahnya, yang kini dibangun Bayu Amrta.
Masjid Agung
Palabuhanratu
Kelurahan Pelabuhanratu, Kecamatan
Pelabuhan Ratu
Sukabumi, Jawa Barat 43364
Palabuhanratu juga dikenang
sebagai tempat persembunyian Bung Karno dari kejaran Belanda ditahun 1938, sangat
wajar bila kemudian beliau begitu mengingat daerah itu dan juga memiliki begitu
banyak rencana untuk Palabuhanratu, Salah satunya adalah menjadikan tempat ini
sebagai tempat dibangunnya hotel pertama di Jawa Barat, yakni Hotel Samudra
Beach. Beliau sendiri yang memilih lokasi dan meninjaunya bersama Ibu Suhartini
di tahun 1954, dan meletakkan batu pertama pembangunannanya di tahun 1962[i].
Palabuhanratu, kota kecil yang
indah itu kini menjadi ibukota kabupaten Sukabumi, seiring dengan terbentuknya
Kota Otonom Sukabumi. Pusat pemerintahan kabupaten Sukabumi berada di sekitar
alun alun Palabuhanratu. Kantor pemerintahan kabupaten berada di sisi utara
alun alun, rumah dinas bupati berada disisi selatan dan Masjid Agung
Palabuhanratu di sisi barat alun alun.
Masjid Agung
Palabuhanratu
Masjid Agung Palabuhanratu terletak
di Kelurahan Palabuhanratu, Kecamatan Palabuhanratu-Kota, tepatnya berada di
Jalan Siliwangi Palabuhanratu, di sebelah barat Alun-alun Palabuhanratu. Tanah
tempatnya berdiri merupakan hibah dari warga kampung Pakauman (Kampung Kaum)[ii].
Situs kementrian agama[iii]
menjelaskan lebih rinci sejarah masjid ini. Dijelaskan disana bahwa Masjid
Agung Sukabumi dibangun tahun 1945 diatas tanah wakaf dari Almarhum H. Utom
Bustomi, yang kemudian dikelola bersama oleh Almarhum KH ahmad Syatibi,
pembangunan dilakukan dalam 3 tahap sampai saat ini.
Di tahun 1980an, yang bangunan
yang semula dari dinding bilik bambu dibangun menjadi permanen, kemudian
dibangun kembali secara megah dengan perluasan lahan yang difasilitasi oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi pada tahun 1996 dan hingga sekarang belum
ada pembangunan kembali.
Ketua DKM Masjid Agung masa
Khidmat 2016-2021 dipimpin oleh KH. Asep Saprudin S.Kom,M.Si, yang didukung
oleh Bidang Imaroh, Riayah, Idaroh dan Pemberdayaan Ekonomi Umat.
Banyaknya jendela kaca di masjid ini menjadi ciri khas arsitektur tropis.
Arsitektur Masjid
Agung Palabuhanratu
Masjid Agung Palabuhanratu kini
berdiri megah dan cukup besar. Bangunan utamanya berukuran 26m x 26m, berlantai
tiga dan mampu menampung hingga 1300 jemaah sekaligus. Dilengkapi dengan dua menara
di sisi depan masjid, salah satunya dibangun setinggi 30 meter, menara lainnya
dibangun lebih rendah dari kubah masjid. Untuk menuju ke lantai dua disediakan
tangga lebar menghadap ke alun alun dengan 20 anak tangga.
Rancangan masjid ini cukup
menarik karena dibangun dengan nuansa banguna tropis, sebagaian besar bangunan
masjid dikelilingi dinding kaca terutama bagian belakang dan sisi kiri dan
kanan dengan langit-langit masjid yang tinggi membuat masjd terasa sejuk dan
suasana terang. Menariknya lagi adalah, dari lantai atas masjid dapat melihat
pemandangan ke arah laut Samudra Indonesia.
Masjid Agung yang terletak di jantung
Kota Palabuhanratu, yang juga berdekatan dengan rumah dinas Bupati yang berdiri
di sisi selatan alun alun, bukan hanya di ramaikan jamaah untuk sholat lima
waktu berjamaah saja. Tapi, masjid itu juga selalu di isi oleh
kegiatan-kegiatan rohani untuk membentuk karakter masyarakat yang agamis.***
Meski dibangun cukup jauh dari pantai, masjid Raya Sanana memberikan pemandangan indah tersendiri bagi landscape Sanana tempatnya berdiri dari arah lautan.
Masjid Raya Al-Istiqomah
Sanana atau lebih dikenal dengan nama Masjid Raya Sanana adalah masjid raya
kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, masjid ini dibangun di Sanana
Ibukota Kabupaten Kepulauan Sula, itu sebabnya masjid ini disebut dengan Masjid
Raya Sanana.
Sebelumnya kabupaten
Kepulauan Sula merupakan bagian dari kabupaten Halmahera Barat bersama sama
dengan Kabupaten Halmahera utara dan Halmahera selatan. Kepulauan Sula dibentuk
sebagai Kabupaten baru melalui Undang undang RI Nomor 1 tahun 2003 tanggal 25
Februari 2003.
Masjid Raya Sanana
Fatce, Sanana, Kabupaten Kepulauan
Sula
Provinsi Maluku Utara
Sanana dipilih sebagai
ibukota kabupaten, Sanana sendiri terpisah cukup jauh dari kota Ternate sebagai
ibukota provinsi dengan jarak sekitar 284 km dan dapat ditempuh dengan
perjalanan laut dan udara.
Pembangunan
Masjid Raya Sanana
Masjid Raya Sanana
dibangun sejak tahun 2006 dimasa kepemimpinan Bupati Ahmad Hidayat Mus (AHM)
dengan dana dari APBD Kepulauan Sula secara multi years, dan selesai di tahun
2016 pada masa Bupati Hendarta Thes (Ko Heng)[i],[ii]
Masjid Raya Sanana ini
sebenarnya sudah diresmikan pada tahun 2015[iii] namun pada saat
diresmikan pembangunan masjid ini belum rampung 100% masih dalam proses
pengerjaan pembangunan menara dan lainnya yang merupakan tahap pembangunan ke
12.
Masjid Raya Sanana tampak begitu indah.
Pembangunan masjid ini
sempat terhenti akibat beberapa masalah yang mencuat ke permukaan, termasuk
terjadinya kesalahan pembangunan menara[iv] hingga berhembusnya kabar
tak sedap terkait kasus korupsi dalam pembangunan-nya yang juga menyeret nama
pejabat Bupati Kepulauan Sula, Ahmad Hidayat Mus.[v].
Pengadilan Tipikor
Maluku Utara di tahun 2014 telah menjatuhkan vonis bersalah kepada tiga orang
dalam kasus tindak pidana korupsi pembangunan Masjid Raya Sanana, dua
diantaranya adalah pejabat kabupaten kepulauan Sula, mereka adalahMamud Sarifudin (Kepala dinas pekerjaan umum)
kepulauan Sula, Sarifudin Buamonabot (Pejabat Pembuat Komitmen) kabupaten
Kepulauan Sula dan Mange Munawar Tiarso (kontraktor) [vi].
Mudah sekali menemukan nuansa arabia yang kental di masjid ini.
Sedangkan dalam waktu
terpisah, ditahun 2017 pengadilan Tipikor Maluku Utara menjatuhkan vonis bebas
kepada Mantan Bupati Kabupaten Kepulauan Sula, Ahmad Hidayat Mus, karena tidak
terbukti secara sah atas tuduhan melakukan tindakan korupsi dalam proyek
pembangunan Masjid Raya Sanana[vii].
Arsitektur
Masjid Raya Sanana
Masjid Raya Sanana
dibangun cukup megah dan modern lengkap dengan kubah besar di atap bangunan
utama masjid dan empat menara dibangun di ke empat sudut bangunan masjid.
Pembangunan empat menara ini dilakukan tahun 2015.
Elok ditengah kota Sanana.
Bangunan utama masjid
berdenah bujursangkar simetris. Masing masing empat siisi dihias dengan ornamen
empat menara berjejer dalam ukuran kecil dengan kubah kubah mungilnya bewarna
ke emasan. Baik sisi beranda maupun sisi mihrabnya dibangun menjorok keluar.
Sentuhan Arabia
terutama gaya Masjid Nabawi sangat terasa pada kubah utamanya yang juga dicat
warna hijau senada dengan warna keseluruhan atapnya. Bentuk kubah utama masjid
ini dibangun mirip dengan kubah hijau Masjid Nabi di Madinah, begitupun dengan
bentuk empat menaranya yang mirip dengan menara dua masjid suci di Saudi
Arabia.
Interior masjid cukup
sederhana tak terlalu ramai dengan sentuhan seni interior, namun demikian ukuran
masjid ini memang cukup besar sehingga ruang utama masjid ini pun cukup lega
meskipun ada empat sokoguru di tengah masjid ini.***