Sunday, December 4, 2016

Masjid Agung Nurul Haq Kepulauan Aru

Ada kemiripan Masjid Nurul Haq Kepulauan Aru ini dengan masjid raya Baiturrahman di Banda Aceh, perhatikan fasad depan berandanya serta kubah nya yang bewarna hitam.

Kepulauan Aru tercatat dalam sejarah nasional Indonesia dalam peran pentingnya selama operasi Trikora Pembebasan Irian Barat dari penjajahan Belanda yang dikobarkan Bung Karno di tahun 1963. Di salah satu pulau di gugus kepulauan Aru ini menjadi rendezvous point kapal kapal perang armada angkatan laut RI yang bersiap menyerang Belanda di Irian Barat.

Sejak tahun 2003, Kepulauan Aru telah berstatus sebagai Daerah Otonomi Baru dengan nama Kabupaten Kepulauan Aru berdasarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 2003, dimekarkan dari kabupaten Maluku Tenggara. Saat ini wilayahnya daratannya terdiri dari 187 pulau dan hanya 89 saja yang berpenghuni. secara geografis kabupaten Aru berbatasan langsung dengan Australia di laut Arafura. Pusat pemerintahan Kabupaten Aru berada di kota Dobo yang terletak di Pulau Dobo.

Masjid Agung Nurul Haq
Galay Dubu, Pulau-Pulau Aru
Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Indonesia
Koordinat : 5° 45' 34" S 134° 14' 7" E


Kota Dobo telah memiliki Masjid Agung megah yang arsitekturnya memiliki kemiripan dengan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Masjid Agung Dobo diberi nama Masjid Agung Nurul Haq berada di tengah-tengah Kota Dobo ini menjadi salah satu pusat perhatian di Dobo karena kemegahan-nya. Dalam perjalanannya Masjid Agung Nurul Haq telah direnovasi dan diresmikan oleh Gubernur Maluku K.A.Ralahalu.

Sebagai Masjid Agung Kabupaten, Masjid Agung Nurul Haq menjadi pusat aktivitas ke-Islaman di Kabupaten Kepulauan Aru termasuk penyelenggaraan Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Kabupaten Aru. Di tahun 2011 yang lalu Masjid Agung Nurul Haq Kepulauan Aru juga menjadi pusat penyelenggaraan MTQ XXIV provinsi Maluku 21-28 Mei 2011. Menariknya ajang tersebut tidak saja dinanti nanti oleh kaum muslimin disana, namun dalam kesempatan tersebut, para pendeta dan umat Kristen Protestan dan Katholik menyanyikan mars dan hymne MTQ sehingga membuat suasana haru.

Pawai Ta'aruf jelang Ramadhan di Dobo di mulai dari depan Masjid Agung Nurul Haq Dobo.

Kerukunan antar ummat beragama di Kabupaten Kepulauan Aru memang telah terjalin dengan baik. menjelang bulan suci Romadhan diselenggarakan pawai ta’aruf yang diikuti berbagai lapisan masyarakat yang dimulai dari Masjid Agung Nurul Haq dan berahir di lapangan Yos Sudarso.

Selain itu para tokoh lintas agama disana setiap menjelang bulan suci romadhon sepakat meminta apparat pemerintah sipil dan militer untuk menutup sementara semua tempat hiburan selama bulan suci Romadhan untuk menghormati dan memberikan suasana khusu’ kepada ummat Islam yang menjalankan ibadah puasa Romadhon.***

Saturday, December 3, 2016

Masjid Agung Al-Buruj Pulau Buru

Gugusan Bintang. Al-Buruj yang menjadi nama masjid agung di kabupaten Buru ini bermakna gugusan bintang dan merupakan nama surah ke 85 di dalam Kitab Suci Al-Qur'an.

Pulau Buru di Provinsi Maluku dikenal dalam sejarah nasional kita sebagai salah satu pulau tempat pembuangan para narapidana politik yang terlibat dengan G 30 S/PKI. Pulau yang dulu terkesan begitu terpencil dari peradaban, terkonotasi dengan daerah yang menyeramkan, kini dengan pasti mengubah wajah dan kesan seramnya. Di Pulau ini kini berdiri sebuah masjid Agung begitu megah dengan nama Masjid Agung Al-Buruj. Emas, kini menjadi bahan tambang primadona di pulau ini dengan segala kelebihan dan kekurangan dari proses pertambangannya yang kini mulai masiv.

Masjid Al-Buruj merupakan masjid agung sekaligus merupakan Islamic Center bagi Kabupaten Buru, merupakan bangunan masjid yang begitu megah. Dan bagian paling menarik dari masjid ini adalah dana pembangunannya yang berasal dari urunan masyarakat muslim disana, fakta yang cukup mencengangkan tentunya. Dana yang mengalir masuk ke masjid ini setiap hari Jum’at juga lumayan besar, belum termasuk dana zakat/infaq/shadaqah dan lainnya, dana tersebut digunakan untuk membiayai operasional masjid megah ini.

Masjid Agung Al Buruj
Namlea, Buru, Kabupaten Buru
Provinsi Maluku, Indonesia


Hal kedua yang tak kalah menarik dari masjid ini adalah penamaannya dengan nama “Al-Buruj” yang merupakan nama surah ke-85 Kitab Suci Al-Qur’an, yang penyebutannya hampir sama dengan nama pulau Buru. Al-Buruj berarti gugusan bintang, sama dengan Pulau Buru yang kini mulai berkilau menghapus kelamnya masa lalu sejarah pulau itu.

Bangunan masjid ini terdiri dari dua bagian utama yakni bangunan masjid ditambah dengan area pelataran tengah yang dikelilingi oleh selasar. Bangunan utama masjid berdenah segi empat dengan satu kubah utama di atap masjid diapit dengan empat kubah lebih kecil dipuncak bentuk Menara yang tak terlalu tinggi masing masing empat penjuru atapnya.

Masjid Al-Buruj dilihat dari pelataran tengah

Pelataran tengah berada di sisi timur masjid, seluruh permukaan lantai dibagian ini ditutup dengan keramik lantai yang warnanya mirip dengan keramik lantai area pelataran masjid Istiqlal di Jakarta. Dari area ini pengunjung dapat melihat kemegahan masjid ini dengan kubah utamanya yang begitu menonjol di atap masjid.


Masjid Agung Al-Buruj diresmikan pada tanggal 2 Februari 2009, berdiri di atas lahan seluas 25 Hektar dengan luas bangunan mencapai 2867 meter persegi dan dapat menampung hingga 8500 jemaah sekaligus. Di komplek masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas sekretariat, baik untuk yayasan internal masjid maupun organisasi keagamaan kabupaten Buru.***

Interior Masjid Agung Al-Buruj.

Sunday, November 27, 2016

Masjid Agung Iqro Halmahera Timur

Matahari senja seolah bersembunyi di balik Masjid Agung Iqro Kota Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara.

Halmahera Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara, terbentuk pada Tanggal 23 Februari tahun 2003, sebelumnya Halmahera Timur merupakan bagian dari wilayah Kota Tidore Kepulauan. Ibu Kota Kabupaten Halmahera Timur adalah Kota Maba, namun lebih sering disebut Maba.

Di kota Maba sudah berdiri Masjid Agung Kabupaten yang diberi nama Masjid Agung Iqro. Masjid Agung Iqro diresmikan pada tanggal 6 Maret 2015 oleh oleh Bupati Halmahera Timur, H Rudy Erawan SE MSi bersama dengan Wakil Bupati Ir Muh Din, Ketua DPRD Jhon Ngoraici dan para Muspida Kabupaten Haltim, ditandai dengan pemukulan beduk dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti pembangunan masjid.


Masjid Agung Iqro berdaya tampung 3000 jemaah, dibangun diatas tanah wakaf dari masyarakat Soa Gimalah dan Maba Sangaji. proses pembangunannya memakan waktu selama tiga tahun, jauh lebih cepat dari rencana semula yang direncanakan selama lima hingga tujuh tahun.

Masjid Agung Iqro ini nantinya juga akan dilengkapi dengan Komplek Islamic Center yang akan dibangun disebelah kiri Masjid. Selain sebagai tempat ibadah lima waktu, masjid ini juga dijadikan sebagai pusat aktivitas ke-Islaman tingkat kabupaten Halmahera Timur termasuk pelaksanaan manasik haji, pelepasan dan penyambutan Jemaah haji, hingga pengajian ibu ibu. 

Pinky Mosque. Ekterior maupun interior masjid Agung Iqro di kabupaten Halmahera Timur ini, di dominasi oleh warna merah muda.

Berdiri di tengah lahan yang cukup luas membuat bangunan masjid Agung ini terlihat begitu menonjol dengan warnanya yang tak biasa. baik exterior hingga interiornya Masjid Agung Iqro di dominasi oleh warna merah muda, merah hati. Bangunan utamanya berdenah segi empat, berlantai dua. di tambah dengan beranda yang cukup besar di depan masjid dan dua banguinan sayap di bagian kiri dan kanan.

Satu kubah utama ditempatkan di bagian tengah atap di apit dengan empat kubah yang lebih kecil di empat penjuru atap masjid. Baik kubah utama maupun kubah nya yang lebih kecil memiliki padanan corak dan warna yang sama. Masjid Agung Iqro ini tidak dilengkapi dengan Menara.***


Saturday, November 26, 2016

Masjid Terapung Oesman Al Khair Kayong Utara

Terapung. Masjid AGung Osman Al-Khair atau Masjid Kebaikan Oesman terlihat seakan akan mengapung di atas air laut di lepas pantai Sukadana kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Tak salah bila masjid satu ini telah menjadi objek wisata baru di kabupaten Kayong Utara sejak diresmikan. Tidak sekedar bangunannya yang memang menawan dipandang mata namun juga pemilihan lokasi tempatnya dibangun membuatnya memang menghadirkan keindahan yang tak ditemukan disemua bangunan masjid. Sebagian besar bangunan masjid berwarna putih itu dibangun di atas air laut, sehingga bangunan tampak melayang di atas air jika dilihat dari kejauhan. Tak pelak keindahan tersebut menjadikan masjid ini sebagai ikon baru Kayong Utara dan merupakan salah satu masjid termegah di Provinsi Kalimantan Barat.

Masjid Agung Oesman Al-Khoir nama masid ini, dibangun oleh di atas lahan wakaf dari Bpk Oesman Sapta Odang (Wakil Ketua MPR RI). Pembangunanya menghabiskan dana senilai Rp. 38 Miliar yang berasal dari dana patungan dari Oesman Sapta Odang sebesar Rp. 11 Milyar, dana corporate social responsibility (CSR) delapan BUMN sebesar Rp. 12 Milyar dan anggaran Pemerintah Kabupaten Kayong Utara dan swadaya masayarakat kayong Utara.

Masjid Agung Oesman Al-Khoir
Pulau Datok, Desa Sutera, Kecamatan Sukadana
Kabupaten Kayong Utara, Provinsi Kalimantan Barat
Indonesia.


Pembangunan masjid ini dimulai dengan peletakan batu pertama pada Idhul Adha, Bulan Oktober 2012 yang juga turut dihadiri oleh Oesman Sapta Odang. Proses pembangunannya memakan waktu selama 3 tahun 7 bulan dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 Oktober 2016, ditandai dengan penandatangan prasasti. “Ini merupakan masjid terapung yang indah dan megah dengan latar belakang laut," demikian puji Presiden Jokowi saat peresmian.

Masjid Oesman Al-Khoir berukuran 50 x 50 meter dan mampu menampung hingga 3000 jemaah sholat sekaligus, sedangkan untuk acara tabligh akbar dapat menampung hingga 5000 jemaah sekaligus. Dibangun dengan gaya arsitektur yang unik, mengikuti desain arsitektur masjid di Arab Saudi. Namun, lebih spesifik interior dan eksteriornya, mengikuti masjid-masjid di Maroko. Sedangkan kaligrafi yang menghiasai interior masjid didesain oleh imam Masjid Agung Yogyakarta. Untuk membuatnya “mengapung” di atas air laut, tiang tiang pancang masjid ini ditancapkan hingga sedalam 23 meter.

Senja jatuh di Masjid Oesman

Tentang nama masjid ini, sebagaimana dijelaskan oleh Bupati Kayong Utara Hildi Hamid pemilihan nama “Masjid Oesman Al-Khoir” untuk masjid ini memang merujuk kepada nama dari Oesman Sapta Odang yang telah “berbaik” hati menghibahkan lahan untuk pembangunan masjid ini serta memberi bantuan dana pembangunan.

Keindahan Berbalut Makna

Makna Islami dan adaptasi budaya lokal, terakulturasi dalam arsitektur masjid ini. Masjid ini memiliki sembilan kubah. Ada satu kubah besar. Kubah ini menandakan Kubah Rasullulah. Ada kubah berjumlah empat. Maknanya, menandakan keempat Sahabat Rasul. Yaitu, Abubakar, Umar, Usman dan Ali. Empat kubah itu dikelilingi empat kubah lagi. Empat kubah ini menandakan empat mahzab. Yakni, Mahzab Hambali, Hanafi, Maliki dan Syafii. Total kubah berjumlah sembilan tersebut, melambangkan Wali Songo, penyebar agama Islam di Indonesia.


Presiden Joko Widodo saat peresmian Masjid Oesman Al-Khair di dampingi oleh Oesman Sapta Odang (sebelah kanan foto)

Filosofi lain, masjid ini terapung di laut. Hal itu menyiratkan makna, asal usul masyarakat Kayong Utara merupakan masyarakat pelaut. Masyarakat nelayan. Masyarakat bahari yang menjunjung tinggi filosofi kebahariannya. Artinya, suka dengan tantangan dan mendambakan kemajuan. 

Dan faktanya Peresmian Masjid Agung Kayong Utara oleh Presiden Joko Widodo juga merupakan bagian dari kunjungan beliau meresmikan Festival Bahari bertajuk “Festival Sail Selat Karimata” yang dipusatikan di Pantai Laut Datok, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Kayong Utara. Festival Sail ini adalah acara tahunan yang menjadi primadona bagi para anak muda pecinta traveling, dunia bahari, dan kegiatan sosial. ***

Sunday, November 20, 2016

Masjid Agung Istiqamah Tapaktuan

Terang dengan warna Kuning dan merah bara. Masjid Agung Istiqomah Tapakuan tampil menawan sebagai landmark kota Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Tapak Tuan adalah ibukota kabupaten Aceh Selatan di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam. Sebuah kota yang mendapatkan gelar sebagai kota Naga dari legenda masa lalu yang kemudian di abadikan menjadi nama kota tersebut. Sesuai dengan namanya, di tepian pantai di kota ini memang terdapat sebuah jejak tapak kaki berukuran sangat besar yang disebut sebut sebagai bekas tapak kaki dari Teuku Tuan sang penakluk naga. darisanalah kemudian tempat tersebut dikenal dengan nama Tapak Tuan.

Tapak Tuan memiliki bangunan masjid dengan arsitektur manawan dengan nama Masjid Agung Istiqomah. Dibangun dalam arsitektur Arabia yang sangat kental dengan sentuhan tradisi setempat. Tak hanya bentuk bangunannya yang megah dan begitu menonjol, pilihan warna masjid ini pun terang menyala dengan padanan warna merah bata dan kuning terang. Lokasinya yang hanya terpaut sekitar lima puluh meter dari bibir pantai menjadikan masjid ini tidak hanya terlihat dari daratan tapi juga dari arah laut.

Masjid Agung Istiqomah Tapaktuan
Jl, Jendral Sudirman, Tapaktuan
Kab. Aceh Selatan, Prov. Nangroe Aceh Darussalam
Indonesia


Berdasarkan data dari departemen agama, Masjid Agung Istiqomah pertama kali dibangun tahun 1930 diatas tanah wakaf. Bangunan tersebut kemudian direhab sehingga ke bentuknya saat ini. Bangunan utama Masjid Agung Istiqomah Tapaktuan ini berdenah segi empat, dengan satu kubah utama berukuran cukup besar di atap masjid di apit dengan empat menar di ke empat sudut atapnya, ditambah dengan satu Menara utama setinggi sekitar 30 meter berada di pekarangan depan masjid, terpisah dari bangunan utama.

Selain bangunan nya yang megah, masjid ini juga dilengkapi dengan taman yang cukup luas dengan tanaman pavoritnya adalah 8 pohon kurma yang sudah berbuah dengan rasa manis dan tanpa biji. Taman yang asri yang ditumbuhi pohon palem dan rumput hijau membuat para jamaah sejuk dan nyaman saat memasuki area masjid.

Selain digunakan sebagai sarana keagamaan seperti salat berjamaah masjid ini juga sering digunakan untuk acara-acara hari besar islam, dalam lingkup kabupaten termasuk pelepasan dan penyambutan Jemaah Haji kabupaten Aceh Selatan. Di pelataran Masjid ini juga merupakan tempat dilaksanakannya hukuman cambuk bagi mereka yang terbukti melanggar hokum Islam yang berlaku di Nangroe Aceh Darussalam.***

Saturday, November 19, 2016

Masjid Raja Haji Abdul Gani, Masjid Tertua di Karimun

Pulau Buru di Kabupaten Karimun Provinsi Kepulauan Riau memiliki masjid warisan sejarah kesultanan Melayu yang masih terawat hingga kini dan merupakan masjid tertua kedua di provinsi Kepri dan sekaligus masjid tertua di kabupaten Karimun. Masjid Raja Haji Abdul Ghani.

Masjid Raja Haji Abdul Ghani berada di Pulau Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, merupakan masjid tertua di kabupaten Karimun dan tertua kedua di provinsi Kepulauan Riau setelah Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang. Masjid ini dinamai sesuai dengan nama pembangun-nya, Raja Abdul Ghani bin Raja Idris bin Raja Haji Fisabilillah. Masjid ini telah menjadi Ikon Wisata Pulau Buru dan merupakan salah satu situs cagar budaya nasional.

Masjid Raja Haji Abdul Gani
Desa Buru, Kecamatan Buru, Kabupaten Karimun
Provinsi Kepulauan Riau 29664


Masjid Raja Haji Abdul Ghani dibangun pada masa kerajaan Riau-Lingga, dimasa kekuasaan Sultan Abdul Rahman sekitar tahun 1883-1911. Luas masjid ini berukuran 8 meter x 15 meter dan dapat menampung sekitar seratus Jemaah dan masih berfungsi dengan baik hingga saat ini. Seperti masjid masjid peninggalan kesultanan melayu lainnya, Masjid Raja Haji Abdul Gani ini juga di dominasi warga kuning sebagai warna kebesaran kesultanan melayu dengan corak tambahan warna hijau.

Bangunan utama masjidnya berdenah segi empat dengan atap limas bersusun dua, struktur atapnya ditopang dengan empat soko guru masing masing setinggi lima meter. Pintu masuk utama masjid berbentuk lengkungan setinggi 2,3 meter dengan lebar 1,3 meter. Pintu-pintu lainnya dibuat lebih pendek. Masjid ini dilengkapi dengan satu menara setinggi 21 meter dan berdiameter 4 meter, dengan bentuk yang tak lazim, ujung Menara masjid ini  berbentuk kerucut yang sepintas mirip dengan ruang pembakaran hio yang ada di kelenteng, ditambah dengan ornamen lubang lubang ventilasi dari batu giok berukir. Konon, kemiripan dengan bangunan Klenteng tersebut dikarenakan masjid ini dirancang oleh orang Tionghoa.

Menara masjid yang berbentuk unik ini sempat mengalami kerusakan pada bagian ujung tertingginya akibat tersambar petir pada pagi hari 15 November 2015. kejadiran tersebut sempat merusak bagian ujung Menara hingga serpihannya berserakan disekitar masjid dan turut merusak bangunan SMPN 1 Buru.

Masjid Raja Haji Abdul Ghani lengkap dengan Menaranya yang unik dan sumur tua yang airnya tak pernah kering.

Menara masjid ini sudah telihat dari kejauhan sebelum kapal merapat ke pelabuhan karena memang lokasinya berdiri menghadap ke lautan dan dekat dengan bibir pantai. Di dekat lokasi masjid ini juga masih menyimpan peninggalan zaman dahulu seperti meriam tua dan lonceng yang berasal dari Spanyol.

Di depan masjid ini terdapat sumur yang dibuat sebagai sumber air untuk berwudhu dan menjadi berkah tersendiri bagi warga setempat, karena sumber air dari sumur ini tidak pernah kering di musim kemarau panjang sekalipun, meski masyarakat sekitar mengambilnya setiap hari.

Masjid Haji Abdul Gani di kecamatan Buru ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara pada saat peringatan hari-hari Islam, selain bertujuan ziarah ke masjid, wisatawan juga biasanya ke tempat-tempat wisata lain yang ada di Pulau Buru ini seperti makam Badang, Perigi Batu dan pemandian air panas di Tanjungutan.

Referensi


Sunday, November 13, 2016

Masjid Agung Nurul Huda Sumbawa

Bangunan utama masjid Agung Nurul Huda Sumbawa ini dibangun dengan atap limas bersusun tiga seperti halnya masjid masjid kesultanan di tanah Jawa

Masjid Agung Nurul Huda merupakan masjid agung di kota Sumbawa Besar, ibukota Kabupaten Sumbawa, provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Masjid ini merupakan warisan dari masa kejayaan kesultanan Sumbawa. Pada masa-nya, selain sebagai masjid resmi kesultanan, Masjid Agung Nurul huda ini juga menjadi tempat penobatan para sultan yang berkuasa di kesultanan Sumbawa. Pada tanggal 5 April 2011, masjid Agung Nurul Huda kembali digunakan sebagai tempat penobatan Sultan Sumbawa setelah 70 tahun tertunda.

Sebagai masjd kesultanan, Masjid Agung Nurul Huda dibangun di dalam komplek istana (kraton) Dalam Loka Real Kesultanan Sumbawa. Lokasi masjid ini berada di sebelah barat bangunan istana, dan orientasi pembangunannya pun, pintu utama masjid ini yang berada di sisi timur lengkap dengan kanopi, menghadap ke arah Istana Dalam Loka Real, bukan menghadap ke jalan raya yang kini bernama Jalan Sudirman.

Bentuk bangunannya hampir sama dengan bentuk masjid masjid kesultanan di tanah air, berupa bangunan masjid tradisional Nusantara dengan atap limas bersusun tiga dengan lantai masjid ditinggikan dari permukaan tanah disekitarnya. Hanya saja Masjid Agung Nurul Huda dilengkapi dengan Menara Kembar yang mengapit bangunan utama di sisi barat. Bangunan Masjid Agung Nurul Huda ini di topang dengan sederet pilar pilar beton bundar yang membuatnya telihat sangat kokoh dan megah. Penggunaan bahan bahan kaca pada bangunan ini membuatnya terlihat lebih modern dibandingkan dengan kebanyakan bangunan masjid masjid kraton Nusantara lainnya. 

Masjid Agung Nurul Huda
Jl, Sudirman No. 28 Sumbawa Besar
Kab. Sumbawa. Prov. Nusa Tenggara Barat 84313
Telp : 0371 625199
Koordinat : 8°30'14.2"S 117°25'34.6"E / -8.503936, 117.426278


Penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin  IV.

Daeng Muhammad Abdurahman Kaharuddin sudah dikukuhkan sebagai Putra mahkota kesultanan Sumbawa pada tanggal 5 April 1941, namun baru dinobatkan sebagai Sultan Sumbawa pada hari Selasa tanggal 5 April 2011 dengan gelar Sultan Muhammad Kaharuddin  IV.

Dinobatkannya Sultan Muhammad Kaharuddin IV sebagai Sultan, menandai bangkitnya kembali kesultanan Sumbawa meski jabatan Sultan saat ini tidak lagi memangku jabatan politik seperti di masa lalu dan merupakan jabatan budaya yang bertugas sebagai penjaga pusaka budaya dan adat istiadat Sumbawa yang religius, meliputi wilayah kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Sumbawa Barat.

Prosesi penobatan tersebut dihadiri oleh Bupati Sumbawa, Drs. H. Jamaluddin Malik, Wakil Bupati Kabupaten Sumbawa Barat, Drs. H. Mala Rahman, Gubernur NTB, Dr.TGH. Zainul Majdi, MA, Staf Ahli Menteri  Kebudayaan dan Pariwisata, Utoro Drajat, para pemangku Kesultanan dan kerajaan di Nusantara salah satunya adalah Gusti Kanjeng ratu (GKR) Hemas, Permaisuri Sultan Hamengkubuwono X, tokoh sipil dan militer pusat dan daerah serta  masyarakat Sumbawa.

Referensi