Sunday, June 11, 2017

As-Safinatun Najah, Masjid Kapal Nabi Nuh di Semarang

Masjid Safinatun Najah secara harfiah bermakna kapal penyelamat

Ada kapal laut ditengah tengah hamparan sawah, sepertunya memang hal yang muskil, namun hal itu benar benar terjadi di kampung Padaan, Desa Podorejo, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Hanya saja kapal laut yang satu ini sebenarnya adalah sebuah bangunan masjid yang sengaja dibangun menyerupai sebuah kapal.

Bangunan masjid ini masih gress alias anyar, baru sekali. Pada saat tulisan ini di unggah Google street view bahkan masih menampilkan citra lokasi tempat masjid ini berdiri masih berupa lahan kosong yang baru dibersihkan, tidak ada bangunan apapun. Masjid berbentuk kapal laut ini bernama Masjid As-Safinatun Najah (kapal penyelamat). dan Masjid ini bukanlah masjid pertama yang dibangun berbentuk kapal, sebelumnya sudah ada Masjid Al-Baakhirah di kota Cimahi, Jawa Barat.

Masjid As-Safinatun Najah
Jalan Kyai Padak, RT 05 RW 05, Kelurahan Podorejo
Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang
Jawa Tengah, Indonesia



Pembangunan masjid ini di danai oleh satu keluarga muslim di Uni Emirat Arab yang menginginkan agar dibangunkan sebuah masjid dengan arsitektur bahtera Nabi Nuh di Indonesia. Melalui hubungan yang baik dengan pemimpin salah satu yayasan di kota Semarang kemudian mulailah dibangun masjid dimaksud di lokasi sekarang ini sejak awal tahun 2015.

Rancangan Masjid Bahtera Nabi Nuh ini terinspirasi dari sebuah masjid di kota Islamabad, Pakistan namun dengan gaya lokal. Meski bergaya Pakistan, pembangunan masjid kapal itu mempekerjakan sekitar 40 warga lokal. Bentuk dek kapal besar yang menyerupai kayu pun seluruhnya beton yang digarap apik oleh warga, sehingga mirip sebuah dek kapal berukuran raksasa.

Ada falsafah khusus kenapa bangunan masjid berbentuk bahtera Nabi Nuh. Sesuai nama Safinatul Najah (kapal penyelamat), mengingatkan umat Islam tentang kisah Nabi Nuh saat diperintahkan Allah untuk menyelamatkan kaumnya dari bencana banjir.

Objek wisata baru di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Pembangunan masjid ini menghabiskan dana lebih dari 5 Milyar Rupiah, dibangun di atas lahan seluas 7.5 hektar dan bangunan masjidnya sendiri seluas 2500 meter persegi, lengkap dengan sejumlah fasilitas pendukungnya, tak hanya untuk salat, tetapi juga dibangun klinik kesehatan serta lembaga pendidikan Islam atau pesantren.

Sedangkan untuk pemilihan lokasi masjid itu, karena kebetulan mendapatkan lahan yang relatif murah di kampung Padaan, Desa Podorejo, Kecamatan Ngaliyan. Kebetulan lokasinya juga di areal perkebunan durian serta diapit sawah-sawah warga setempat. Untuk sampai ke lokasi, pengunjung harus melewati beberapa perkebunan karet dan persawahan.

kehadiran masjid unik ini kini menambah khazanah objek wisata religi di kota Semarang setelah sebelumnya kota ini telah memiliki Masjid Agung Jawa Tengah. Setiap hari masjid ini menjadi tujuan kunjungan warga dari berbagai daerah.

Referensi



Saturday, June 10, 2017

Al-Baakhirah, Masjid Kapal di Kota Cimahi

Masjid Al-Baakhirah merupakan masjid unik berbentuk kapal laut yang berada di kelurahan Baros, kota Cimahi, Jawa Barat.

Seperti sebuah kapal yang sedang bersandar di tengah tengah kampung, Masjid Al-Baakhirah di Baros, Kota Cimahi ini memang menarik perhatian, ditambah lagi dengan posisinya yang dibangun di pertigaan jalan membuatnya tampak seperti sebuah monumen kapal laut yang disandarkan di daratan.

Namun sejatinya bangunan “kapal” ini adalah sebuah masjid dan memang dibangun sejak awal ditempat tersebut sebagai sebuah masjid bukan kapal laut sungguhan yang kemudian dibawa kesana. Masjid Kapal ini juga dilengkapi dengan sebuah menara yang bentuknya menyerupai sebuah mercusuar.

Masjid Al-Baakhirah
Jl. Bapak Ampi No. 1E RT. 02 / RW. 06 Kelurahan Baros
Kec. Cimahi Tengah, Kota Cimahi, Jawa Barat 40521
0813-2039-4182



Masjid Kapal ini dibangun oleh keluarga mantan nakhoda kapal, H, Budianto. Sebelum wafat mendiang Pak Budiyanto ingin membangun masjid sebagai kenang kenangan dan bisa dipakai untuk kepentingan warga sekitar. Cita cita tersebut dilaksanakan oleh istri dan anak anak beliau yang mewakafkan tanah juga mengeluarkan dana untuk membangun masjid tersebut.

Pembangunan masjid selesai dan diresmikan tanggal 26 April 2016 yang lalu. sebuah acara tasyakuran diselenggarakan sekaligus peresmian dan ijab qobul wakaf masjid Al-Baakhirah ini. Pembangunan masjid ini dilaksanakan selama 8 bulan dengan luas bangunan 90 meter persegi di atas lahan seluas 200 meter persegi dengan daya tampung sekitar 100 Jemaah. Sebagai sebuah masjid, Masjid Al-Baakirah ini pun terbuka untuk umum termasuk menerima kunjungan khalayak umum.

Pembangunan masjid menyerupai sebuah kapal yang bersandar ini terinspirasi dari kisah Nabi Nuh dan tentu saja karena memang dibangun oleh keluarga pelaut. Sehingga pembangunannya begitu detil sebagai sebuah kapal sungguhan. Dibagian luar ada cerobong dan jangkar berwarna putih yang diikat dengan tali besar.

Dari udara masjid ini tampak seperti sebuah kapal laut yang terdampar di daratan diantara rumah rumah penduduk

Ada juga bangunan mirip geladak, serta kabin untuk nakhkoda dan awak kapal. Kesan "kapal laut" semakin terasa saat masuk karena desain interior masjid ini dibuat layaknya interior kapal laut yang megah. Lantai masjidnya cantik dengan keramik cokelat yang menyerupai kayu.

Di tengah mimbar untuk khotbah, terdapat lafaz Allah dengan ornamen kayu mirip jangkar. Naik ke lantai dua, ada dua ruangan yang berfungsi sebagai ruang kontrol lampu masjid. Namun, ruang kontrol ini dibuat seperti ruang kemudi, lengkap dengan tombol-tombol layaknya kapal sungguhan.

Bahkan pelampung yang ada di kapal inipun adalah pelampung sungguhan seperti yang ada di kapal laut sebenarnya. Selain dari aksesoris, semua bagian dari kapal difungsikan dan dimanfaatkan sedemikian rupa. Anjungan pun difungsikan sama seperti kapal, bila di kapal laut anjungan untuk tempat navigasi anak buah kapal mengemudi serta mengatur listrik interior dan eksterior kapal, disini pun disamakan, anjungan berfungsi untuk pengaturan listrik.

Prasasti peresmian dan wakaf.

Seperti kapal sungguhan, masjid ini juga dilengkapi dengan radio komunikasi, Klakson kapal, lampu-lampu navigasi, juga sirine berfungsi dan akan bunyi saat waktu buka puasa dan imsak tiba. Selain keunikan dari bangunannya, para pengurus masjid ini pun mengenakan seragam ala anak buak kapal (ABK).

(Alm) Budianto merupakan mantan nahkota kapal laut yang merupakan warga asli kota Cimahi. Sebelum meninggal beliau memiliki cita-cita ingin memiliki kenangan dan mengabadikannya untuk keperluan warga sekitar. Alm. Budianto jg merupakan orang pertama yang menahkodai kapal Kerinci dari Jerman ke Indonesia, beliau juga pernah berjasa pada bangsa ini karena ikut dalam peperangan melawan penjajah dalam operasi Trikora.***

Referensi


Sunday, June 4, 2017

Masjid Kraton Soko Tunggal, Tamansari, Yogyakarta

Masjid Kraton Soko Tunggal, Tamansari, Yogyakarta, terdiri dari dua bangunan yakni bangunan utama ditambah dengan sebuah pendopo.

Sesuai dengan namanya, masjid ini memang berada di lingkungan Kraton Yogyakarta dan memang hanya memiliki satu soko atau tiang penyanggah. Soko Tunggal yang dimaksud adalah tiang penyanggah struktur atap masjid yang dalam pakem masjid Jawa biasanya menggunakan empat sokoguru, namun di masjid ini hanya menggunakan satu sokoguru, berdiri di tengah tengah ruangan masjid menyanggah langsung ke puncak struktur atap.

Lokasi masjid Soko Tunggal berada komplek Kampung Wisata Tamansari, langsung terlihat disebelah kiri jalan ketika melewati gerbang kampung wisata tersebut. Selain Soko gurunya yang hanya satu saja, soko guru tunggal tersebut juga berdiri diatas umpak (landasan batu) yang berasal dari era kekuasaan Sultan Agung Hanyokro Kusumo (raja terbesar kesultanan Mataram Islam). Keunikan lainnya adalah bahwa pembangunan masjid ini sama sekali tidak menggunakan paku besi untuk menyambung masing masing struktur kayu-nya.

Masjid Soko Tunggal
Jl. Taman 1 No.318, Patehan, Kraton, Kota Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta 55133. Indonesia



Arsitektur Masjid Kraton Soko Tunggal

Masjid Sokotunggal dirancang oleh (almarhum) R. Ngabehi Mintobudoyo, arsitek Keraton Yogyakarta yang terakhir. Desainnya berbentuk joglo, dengan satu menara dari besi dan satu tiang (soko) berukuran 50 cm x 50 cm. Masjid yang sangat kental corak jawa. Atap masjid berbentuk Joglo, dengan 4 soko Brunjung, 4 soko bentung dan 1 Soko Guru. Ompak raksasa sebagai landasan bangunan berjumlah 2 dan berasal dari kraton Sultan Agung di desa Kerta, Kraton Plered.

Berdiri diatas lahan seluas 900 m2, yang merupakan tanah wakaf dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Bangunan masjid berukuran 10 x 16 m2. dan ditambah dengan bangunan serambi berukuran 8 x 16 m2.Luas keseluruhan-nya mencapao 288 m2 dan mampu menampung 600 jamaah.

Arsitektur bangunan masjid ini sarat dengan makna. 4 buah Saka Bentung dan 1 buah Saka Guru, semuanya berjumlah 5 buah, melambangkan Pancasila. Sedangkan sokoguru tunggalnya merupakan lambang sila yang pertama, “Ketuhanan yang maha esa”. Usuk sorot (memusat seperti jari-jari payung), disebut juga peniung merupakan lambang Kewibawaan negara yang melindungi rakyatnya.

Pendopo Masjid Kraton Soko Tunggal.

Beragam ukiran dimasjid ini juga mengandung makna dan maksud tertentu. Ukiran Probo, berarti bumi, tanah, kewibawaan. Ukiran Saton, berarti menyendiri, sawiji. Sorot berarti sinar cahaya matahari. Tlacapan berarti panggah, tabah dan tangguh. Ceplok-ceplok berarti pemberantas angkara murka. Ukiran mirong berarti maejan. Bahwa semuanya kelak pasti dipanggil oleh Allah. Ukiran tetesan embun diantara daun dan bunga yang terdapat di balok uleng. Maksudnya, siapa yang salat di masjid ini semoga mendapat anugerah Allah.

Dari aspek konstruksi, bangunan masjid Sokotunggal ini juga sarat makna. Dalam konstruksi masjid itu ada bagian yang berbentuk bahu dayung. Ini melambangkan, orang-orang yang salat di masjid ini menjadi orang yang kuat menghadapi godaan iblis angkara murka yang datangnya dari empat penjuru dan lima pancer. Sunduk, artinya menjalar untuk mencapai tujuan. Santen, artinya bersih suci (kejujuran). Uleng, artinya wibawa. Singup, artinya keramat, Bandoga, artinya hiasan pepohonan, tempat harta karun. Dan tawonan, yang berarti gana, manis, penuh.

Rangka-rangka masjid yang dibentuk sedemikian rupa juga memiliki makna. Soko brunjung melambangkan upaya mencapai keluhuran wibawa melalui lambang tawonan. Dudur adalah lambang ke arah cita-cita kesempurnaan hidup melalui lambang gonjo. Sirah godo, melambangkan kesempurnaan senjata yang ampuh, sempurna baik jasmani dan rokhani. Dan mustoko yang melambangkan keluhuran dan kewibawaan.

Soko atau tiang tunggal berdiri ditengah tengah ruang masjid, bukan empat soko (tiang) seperti kebanyakan masjid masjid bergaya Jawa pada umumnya.

Sejarah Masjid Soko Tunggal

Berdarsarkan prasasti yang ada di masjid ini, Masjid Kraton Soko Tunggal selesai dibangun pada hari Jum’at Pon, tanggal 21 Rajab tahun 1392 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 1 September 1972. Peresmiannya dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 1973 Oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pembangunan masjid ini merupakan inisiatif dari masyarakat muslim setempat, yang memang membutuhkan masjid sebagai tempat peribadatan mereka. sebelum masjid ini berdiri masyarakat muslim disana melaksanakan sholat Jum’at di salah satu gedung di komplek Tamansari yakni gedung Kedung Penganten.***

Referensi



Saturday, June 3, 2017

Mesjid Agung Garut

Masjid Agung Garut, menilik dari tahun pembangunannya, masjid Agung ini merupakan masjid tertua diantara masjid masjid agung lainnya di kabupaten tetangganya.

Garut adalah salah satu kabupaten di provinsi Jawa Barat yang memiliki wilayah pantai di laut selatan Jawa. Kabupaten Garut berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung disebelah barat, Kabupaten Sumedang disebelah utara dan Kabupaten Tasikmalaya disebelah timur, sedangkan sisi selatannya menghadap ke Laut Selatan Jawa. Sejak tahun 1809 Kabupaten Garut telah memiliki sebuah Masjid Agung, meskipun kini Masjid Agung yang dibangun pada tahun tersebut sudah berubah total menjadi sebuah masjid agung ber-arsitektur modern.

Dari sisi usia sejak pertama kali dibangun di tahun 1809, Masjid Agung Garut ini terbilang cukup tua dibandingkan dengan masjid masjid agung di wilayah tetangganya. Seperti Masjid Agung Kota Tasikmalaya (tahun 1888), Masjid Agung Manonjaya juga di kota Tasikmalaya (tahun 1837), Masjid Agung Bandung (kini menjadi Masjid Raya Bandung) dibangun tahun 1812 dan Masjid Agung Cianjur (tahun 1810), Dari wilayah tetangganya hanya Masjid Agung Sumedang yang dibangun lebih dulu yakni tahun 1721.

Masjid Agung Garut
Jl. Ahmad Yani, Paminggir, Garut Kota
Kabupaten Garut, Jawa Barat 44118


  
Masjid agung Garut terletak di sebelah utara Alun-alun Garut. Menempati lahan wakaf seluas 4.480 m2. Mesjid ini menjadi mesjid utama di kabupaten Garut serta menjadi pusat semua kegiatan ke-Islaman di kabupaten Garut. Dahulunya antara mesjid dan alun-alun dipisahkan oleh jalan Alun-alun Barat. Saat ini jalannya dihilangkan sehingga mesjid menjadi satu dengan alun-alun.

Sejarah Masjid Agung Garut

Pembangunan mesjid agung Garut tidak bisa dipisahkan dengan pembangunan kabupaten Garut. Berdasarkan catatan sejarah, pada tanggal 15 September 1813 pertama kali dibangun sarana dan prasarana ibukota pemerintahan dengan pembangunan pendopo, kantor asistén residen, mesjid, penjara, dan alun-alun.

Tidak ada informasi pasti tentang tahun pembangunan masjid ini namun diperkirakan Masjid Agung Garut ini telah berdiri sejak tahun 1809 atau bahkan mungkin jauh sebelum itu. Angka tahun tersebut di dasarkan kepada penemuan tarikh tahun tertua yang terdapat di salah satu nisan kuburan di komplek pemakaman di samping Masjid ini. 

Metamorfosis Masjid Agung Garut

Seperti telah diketahui bersama tentang sebuah tradisi Islam yang menempatkan pemakaman berdekatan atau bersebelahan dengan masjid, bukan sebaliknya. Dalam artian bahwa masjid telah dibangun terlebih dahulu sebagai tempat peribadatan dan tempat penyelenggaraan jenazah hingga ke proses pemakaman. Sehingga besar kemungkinan Masjid Agung Garut ini telah berdiri sebelum tahun 1809.

Berdasarkan dokumen foto foto tua masa penjajahan Belanda, Masjid Agung Garut ini pada awanya berbentuk seperti kebanyakan masjid masjid tradisional asli Indonesia, berupa masjid dengan atap limas bersusun tiga, sama halnya dengan masjid Agung Banten ataupun masjid Agung Sangciptarasa Cirebon.

Hanya saja pada Masjid Agung Garut ini bangunannya tampak ditambahkan bangunan tambahan di sisi timur memanjang dari bangunan utama serta terdapat sebuah beranda di sisi depannya dengan sentuhan gaya eropa dengan beberapa pilar pilar bundar menopang fasad bangunan yang terbuat dari beton.

Interior Masjid Agung Garut

Lantai bangunan ditinggikan lebih tinggi dari paras tanah disekitarnya, sehingga ditempatkan sejejeran anak anak tangga berukuran lebar sebagai akses ke masjid dari halaman depan. Sampai tahun 1920-an bangunan masjid ini bertahan dengan bentuk demikian meskipun ada tambahan bangunan di sayap kiri dan kanannya.

Perubahan bentuk terjadi di tahun 1940-an dengan mengubah atap bangunan utama. Struktur atap bangunan utamanya masih berbentuk limasan bersusun tiga, namun dibuat lebih lancip dan menjulang, atau dalam bahasa sunda disebut atap nyungcung. Sedangkan bangunan di sayap kiri dan kanannya dibangun dengan bentuk atap limas bersusun namun di puncaknya ditempatkan sebuah kubah setengah bundar, mengesankan sebuah bangunan masjid yang diapit oleh dua bangunan sayap kembar disisi dan kanannya.

Perubahan signifikan atas mesjid ini terjadi pada tahun 1979 yang mengubah bentuk atap, dari berbentuk lancip diganti memakai kubah dan plat beton. Bentuk kubah ini diubah kembali secara menyeluruh pada tanggal 10 November 1994 dan diselesaikan pada tanggal 25 Agustus tahun 1998. Renovasi terakhir juga memperbaiki arah kiblat dengan bantuan ahli geodesi dari ITB menggunakan GPS (Global Positioning System).

Dokumentasi pemasangan ornamen kubah dengan helikopter TNI di tahun 1997.

Pemasangan kubah dengan Helikopter

Sebuah peristiwa menarik dan tak biasa dalam proses renovasi masjid Agung Garut ini di tahun 1994 tersebut, pada saat proses pemasangan kerangka kubah pada empat menara masjid ini, saat itu tidak tersedia peralatan Crane untuk mengangkut kerangka tersebut ke puncak menara, dan juga karena mungkin dianggap lebih praktis akhirnya helikopter digunakan untuk keperluan itu.

Panitiapun meminta bantuan TNI. Alhasil, selama tiga hari, tanggal 28 sampai 30 Desember 1997, satu helikopter SA-330 Puma HT-3315 dari Skadron Udara 8 yang bermarkas di Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja Bogor, dan dibantu pula rekan-rekan pecinta alam Garut, dikerahkan dalam pemasangan kubah menara Masjid Agung Garut ini.

Referensi



Sunday, May 28, 2017

Masjid Agung Sumber Kabupaten Cirebon

Masjid Agung Sumber, di komplek Pemerintahan Kabupaten Cirebon.

Masjid Agung Sumber merupakan masjid agung bagi kabupaten Cirebon, lokasinya berdiri berada di komplek kantor pemerintahan Kabupaten Cirebon. Pembangunan masjid ini memakan waktu cukup lama karena keterbatasan dana. Proses pembangunannya sudah dimulai tahun 1988, namun baru dapat diselesaikan tahun 1993.

Dibangun dengan dana sekitar Rp. 7.8 Miliar Rupiah. Di dalam areal masjid juga terdapat perpustakaan, kantor sekretariat DKM, Kantor DMI, Kantor LPTQ, Kantor RISMA dengan areal parkir yang cukup luas. Masjid ini juga dilengkapi dengan Taman Kanak Kanak Islam.

Masjid Agung Sumber
Jl. Sunan Drajat, kompleks perkantoran Pemkab Cirebon.
Koordinat: 6,4548°LS 108,2842°BT



Rancang bangunnya ditangani oleh Tim dari ITB Bandung, Masjid ini berdiri dengan gaya bangunan masjid modern dilengkapi dengan kubah besar di atap masjid ditambah dengan bentuk menara menara kecil berkubah gaya Mughal di empat penjuru atapnya. Ruang sholat utama ditempatkan di lantai dua, sejejer anak tangga berukuran besar dibangun menghubungkan halaman depan masjid langsung ke ruang utama.

Berdiri di areal seluas 10.916m2  dengan luas bangunannya sendiri berkisar lebih kurang 2.393,50m2, dan mampu menampung sekitar 2500 jemaah sekaligus. Selain ruang sholat utama, masjid ini dilengkapi dengan ruang serba guna, ruang perpustakaan, sekretariat DKM, DMI, RISMA, LPTQ, dan memiliki 5 unit tempat wudlu 6 kamar mandi kamar kecil serta halaman parkir dan taman yang cukup luas. Masjid ini memiliki daya tarik tersendiri yang menarik minat para wisatawan untuk mengunjungi masjid ini.

Interior Masjid Agung Sumber

Proses pembangunan masjid ini dimulai dengan pembukaan lahan di bulan Nopember tahun 1988 dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Sumber pada bulan November 1988 oleh Bapak Kol. (Inf). H. Memet Thohir (Bupati KDH Tk. II Cirebon),  mengingat keterbatasan dana dan kekurangan tenaga ahli maka pembangunan masjid sangat lambat.

Baru pada bulan Agustus 1992 dengan uluran tangan dari pihak swasta dan intensifikasi pengumpulan dana, pembangunan dapat berjalan dengan cepat dan lancar sehingga pada tanggal 29 September 1993 pembangunan masjid dapat diselesaikan dan diresmikan oleh Bapak Gubernur KDH Tk. I Jawa Barat, H. R. Yogi S. Memet, pada masa Bupati Cirebon Kol. (Kav). H. Soewendo.

Masjid Agung Seumber dengan menaranya yang masih belum selesai.

Masjid Agung Sumber ini telah mengalami beberapa kali renovasi diantaranya tahun 1996 dimasa pemerintahan Bupati Kol. Kav. H. Rahmat Djoehana dilakukan pembuatan tempat wudlu segi enam sebanyak dua buah pada, pembuatan pintu gerbang. Kemudian dilanjutkan tahun 1999 dengan pembuatan taman bermain TK Islam Plus pada masa pemerintahan Bupati H. Sutisna, SH. Lalu pembangunan kios pada tahun 2003 di masa pemerintahan Bupati Drs. H. Dedi Supardi, MM dan pembangunan menara dilaksanakan tahun 2012 pada masa pemerintahan bupati Drs. H. Dedi Supardi, MM.

Sejak tahun 2011 lalu masjid Agung Sumber ini sudah memulai proyek pembangunan menara yang rencananya akan dilengkapi dengan balkoni bagi para pengunjung untuk dapat menikmati panorama kota Sumber dari ketinggian, namun sama seperti pembangunan masjidnya pembangunan menara ini juga berjalan dengan sangat lambat.

Referensi


Saturday, May 27, 2017

Masjid KH Abdurrahman Tegalrejo, Peninggalan Pengikut Pangeran Diponegoro

Masjid KH. Abdurrahman Tegalrejo berada di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi, kabupaten magetan, Jawa Timur. Letaknya sekitar 25 KM ke arah tenggara dari alun alun Magetan.

Sejarah penyebaran agama Islam di abad ke-19 tak bisa dilepaskan dengan sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah Belanda di berbagai daerah. Salah satunya adalah sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya di tahun 1825-1830. Setelah perjuangan Diponegoro berakhir, para pengikutnya melanjutkan perjuangan sambil menyebarkan agama Islam ke masyarakat yang masih kental dengan budaya dan agama Hindu Majapahit.

Para pengikut Diponegoro ini mendirikan masjid sebagai pusat pendidikan sekaligus tempat strategis menyusun perjuangan gerilya. Beberapa pengikut Diponegoro lari dan menetap di wilayah Jawa Timur yang waktu itu berada di bawah teritorial Kraton Solo, Jawa Tengah. Salah satu wilayah tersebut adalah yang kini bernama Kabupaten Magetan. Di Magetan, terdapat masjid kuno peninggalan pengikut Diponegoro yakni masjid KH Abdurrahman yang berada di Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi.

Masjid KH Abdurrahman
Dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi
Kabupaten Magetan, Jawa Timur 63383
Indonesia



Seperti namanya, masjid KH Abdurahman didirikan oleh KH Abdurrahman pada tahun 1835 Masehi. Setelah kalah perang melawan penjajah Belanda, para pengikut Pangeran Diponegoro ini menyebar dan mendirikan masjid yang dijadikan sebagai tempat pendidikan dan perjuangan termasuk di masjid ini. KH Abdurrahman merupakan keturunan keluarga Kraton Padjajaran, Jawa Barat, dan hijrah ke Pacitan, Jawa Timur, yang waktu itu berada di bawah kekuasaan Kraton Solo. Beliau berganti-ganti nama sebagai strategi perjuangan agar sulit dicari penjajah.

Sewaktu kecil hingga dewasa, KH Abdurrahman bernama Bagoes Bantjalana. Bantjalana merupakan salah satu putera dari Kyai Achmadija. Achmadija adalah saudara dari Raden Djajanoedin yang pernah menjadi Bupati Pacitan dan mendapat julukan Tumenggung Djimat.

Sewaktu muda, Bantjalana pernah berguru ke Sunan Ampel di Surabaya. Setelah mondok, dia pulang ke Pacitan dan sempat mengabdi ke Kraton Solo dan akan diberi pangkat sebagai bupati namun ditolak. Dia lebih memilih syiar agama Islam. Lalu dia menyebarluaskan agama Islam ke beberapa daerah di Madiun hingga Magetan.

Beliau sempat mendirikan pesantren di Dusun Banjarsari, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun dan mendapat julukan Kyai Noer Basori. Setelah itu, ia hijrah ke gunung Lawu hingga ke Kabupaten Magetan dan menetap di sebuah dusun yang akhirnya dinamakan Tegalrejo.

Atap tumpang Masjid KH. Abddurrohman

Wilayah ini dikenal angker karena sebelumnya hutan yang sudah dua kali dibabat oleh warga setempat namun malah terjadi bencana. Banyak warga yang meninggal bahkan hilang. Setelah itu, Bantjalana yang waktu itu bernama Kyai Noer Basori ikut membabat hutan selama tahun 1833 hingga 1836 dan mendirikan sebuah masjid dan menetap disitu serta memiliki beberapa isteri dan anak. Waktu itu, Bupati Magetan dijabat Tumenggung Sosrodipuro. Setelah dibabat oleh beliau, wilayah setempat makmur dan “bersemi” kembali. Dari kata “semi” inilah akhirnya desa setempat dinamakan Desa Semen hingga sekarang.

Kyai Noer sempat berguru ke Mekah dan Madinah selama empat tahun dan mendapat ajaran Satariyah dari para sayyid di sana. Hingga kini aliran Satariyah ini dikembangkan di Tegalrejo. Semasa menimba ilmu di Arab, beliau pernah mengarang kitab tauhid yang diberi nama Bayanulloh (keterangan tentang Alloh) yang mengajarkan tentang ketuhanan. Kitab yang terbuat dari kulit hewan ini sampai sekarang masih utuh dan dirawat keturunannya.

Perjalanan hidup Bantjalana, Kyai Noer Basori, atau KH Abdurrahman ini tergambarkan dalam riwayat pendirian masjid dan pesantren Tegalrejo yang pernah dibukukan KH Bakin, keturunan keempat dari KH Abdurrahman, yang kemudian disusun ulang oleh Profesor M. Slamet dalam buku berbahasa Jawa.

Slamet adalah bekas santri setempat yang jadi anak angkat Kyai Iman Besari, keturunan ketiga KH Abdurrahman. Selain mengacu cerita keturunan setempat, Slamet juga mendasarkan dokumen sejarah tulisan peneliti barat dan Indonesia serta riwayat kerajaan yang waktu itu masih berbahasa Belanda, Jawa, dan Sunda kuno. Dalam buku tersebut disebutkan, KH Abdurrahman wafat pada tanggal 6 April 1875 Masehi atau 29 Safar 1292 Hijriyah. Tidak disebutkan kapan beliau lahir dan bagaimana perjuangannya mengikuti perjuangan Pangeran Diponegoro.

Interior Masjid KH Abdurrohman

Keunikan Masjid KH. Abdurrahman Tegalrejo

Ada beberapa keunikan dibalik pembangunan masjid KH Abdurrahman ini. Salah satunya adalah sumur tua yang dibangun di sekitar halaman masjid. Hingga kini sumur tersebut masih dimanfaatkan oleh warga sekitar, dan sumber airnya melimpah tak pernah kering walaupun di musim kemarau. Sir umur tersebut juga disebut sebut seperti air zam-zam. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, air dari sumur ini juga dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit atau gangguan jiwa yang dialami seseorang.

Selain khasiat air, benda peninggalan yang dikagumi adalah kentongan penanda waktu shalat lima waktu. Kentongan yang dinamakan “Kentongan Geger” itu sudah berusia ratusan tahun dan terbuat dari kayu nangka. Dulu suaranya sampai terdengar hingga puluhan kilometer karena waktu itu masih sepi. Namun  sekarang sudah ramai dan tidak sampai terdengar sejauh di masa lalu.

Arsitektur Masjid KH. Abdurrohman Tegalrejo

Arsitektur masjid ini merupakan gabungan arsitektur Jawa dan Islam, sama dengan masjid lainnya semasa itu. Bangunannya berbentuk rumah joglo yang atapnya berbentuk prisma segi empat yang biasa disebut meru. Di bagian puncak meru terdapat tonggak yang terbuat dari batu yang diukir sedemikian rupa. Menurut cerita, kayu untuk membangun masjid ini diambil dari hutan Kedungpanji, Magetan, dengan bantuan jin dan batu yang ada di atas meru diambil dari Sarangan, Magetan.

Bangunan dalam masjid terdiri dari ruang dalam yang jadi ruang inti untuk salat dan serambi yang biasa digunakan untuk tempat mengajar atau mengaji. Di ruang dalam masjid terdapat empat tiang kayu sono keling yang masih berdiri kokoh dan di bagian depan terdapat ruang imam shalat serta mimbar yang digunakan untuk ceramah atau khutbah. Di serambi masjid juga terdapat peninggalan bedug dan kentongan yang hingga kini masih difungsikan.

Sedangkan di barat masjid terdapat komplek pemakaman almarhum KH Abdurrahman beserta keturunannya. Setiap hari terutama malam, banyak peziarah dari dalam kota maupun luar kota yang berziarah. Peradaban Islam yang digagas KH Abdurrahman membuat wilayah dan masyarakat sekitar sejahtera dan makmur.  Sehingga kami sebagai keturunan beliau menyebut wilayah sini dengan Bumi Maslahat atau Bumi Kebaikan atau Bumi Kemakmuran.

Tradisi Masjid KH. Abdurrohman Tegalrejo

Seperti tradisi sebelumnya, selama bulan Ramadan, masjid keramat ini juga dipakai untuk sholat tarawih dan tadarus Al-Quran. Masjid ini sudah pernah direnovasi beberapa kali dan terakhir tahun 2003 dengan swadaya masyarakat. Masjid ini berdiri diatas tanah yang kini dijadikan tanah ulayat.

Di luar Ramadan, kegiatan di masjid ini juga terdapat pendidikan diniyah bagi anak-anak setiap Senin dan Kamis. Ta’mir masjid juga mengadakan pengajian rutin setahun sekali setiap Jum’at terakhir (Jum’at pungkasan) dalam bulan Sya’ban dan mengadakan sholat tolak bala yang dilakukan setiap Rabu pungkasan bulan Safar dalam tahun Hijriyah.

Referensi

  


Sunday, May 21, 2017

Langgar Agung Pangeran Diponegoro

Langgar Agung Pangeran Diponegoro ini bukanlah bangunan warisan beliau, namun sebuah Langgar yang dibangun di lokasi yang pernah beliau gunakan untuk melaksanakan sholat.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro berada di Desa Menoreh, Kecamatan Salaman, Magelang. Hingga sekarang masjid tersebut masih kokoh berdiri dan masih digunakan untuk tempat ibadah umat Muslim warga lereng Menoreh. Terletak di kaki bukit perbukitan Menoreh, Masjid Langgar Agung Pahlawan Nasional Pangeran (PNP) Diponegoro masih kokoh berdiri.

Meskipun menyandang nama Pangeran Diponegoro, bangunan langgar atau Mushola ini bukanlah bangunan yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro. Pembangunannya sendiri baru dilaksanakan tahun 1950 hingga tahun 1972, oleh warga muslim setempat dan dilanjutkan oleh TNI (saat itu masih disebut dengan ABRI).

Meskipun menyandang nama Pangeran Diponegoro, bangunan langgar atau Mushola ini bukanlah bangunan yang didirikan oleh Pangeran Diponegoro. Pembangunannya sendiri baru dilaksanakan tahun 1950 hingga tahun 1972, oleh warga muslim setempat dan dilanjutkan oleh TNI (saat itu masih disebut dengan ABRI). Langgar Agung PNP Diponegoro ini kini berada di dalam lingkungan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pangeran Diponegoro Salaman dan Pondok Pesantren Nurul Falah Salaman.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro
Desa Menoreh, Kecamatan Salaman
Kab. Magelang, Jawa Tengah



Dari tempat petilasan ini oleh penduduk sekitar dibangunlah langgar atau mushola pada tahun 1950. Atas prakarsa Jenderal Sarwo Edi Wibowo, pada paruh kedua tahun 1960-an dimulai pembuatan pondasi masjid dan bagian mihrab-nya berada di atas tatanan batu yang didirikan oleh pasukan Pangeran Diponegoro itu. Bangunan pun diperluas menjadi delapan-kali-delapan belas meter dan rancangannya ditangani oleh seorang arsitek keturunan Belanda beragama Islam.

Pembangunan masjid selesai dan diresmikan pada tanggal 8 Januari 1972 oleh gubernur Jawa Tengah, Mayjen Munadi, bersama sama dengan Gubernur AKABRI Mayjen Sarwo Edi Wibowo, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Magelang Drs. Ahmad, serta tokoh mayarakat Manoreh, Muhammad Kholil. Bertindak sebagai Juru Pelihara pertama Langgar ini adalah H. Fathoni dan A. Nurshodiq.

Arsitektur masjid pun dominan bergaya Belanda karena memang dibangun oleh Arsitek keturunan Belanda, bahkan sepintas lalu masjid ini pun lebih mirip dengan bangunan gereja. Bangunannya dilengkapi dengan enam kubah, terdiri dari satu kubah utama berukuran paling besar di atap ruang utama masjid dikelilingi oleh empat kubah berukuran lebih kecil masing masing ditempatkan di atas menara pendek.

Satu kubah lagi ditempatkan di ujung bangunan menara yang dibangun diatas menjulang diatas bagian serambi. Gaya yang cukup unik untuk sebuah mushola, denah bangunan seperti ini memang lebih mirip denah sebuah Gereja. Pola yang serupa juga akan anda temukan pada Masjid Cipari di Garut, Jawa Barat yang dibangun tahun 1895 persis seperti sebuah Gereja.

Mirip struktur bangunan gereja, karena memang dibangun oleh arsistek keturunan Belanda yang sudah masuk Islam.

Langgar Agung Pangeran Diponegoro ini tidak termasuk dalam bangunan Cagar Budaya karena tidak terdapat bukti sejarah tertulis yang mendukung. Bukti tulisan yang tercatat hanya pada pasca rehabilitasi mulai pada tahun 1972 saja bukan saat digunakan Pangeran Diponegoro.

Al-Qur’an Kuno Tulisan Tangan

Berseberangan dengan Langgar Agung terdapat sebuah pesantren yang menyimpan satu Mushaf Al-Quran kuno. Mushaf Al-Qur’an tersebut konon merupakan hasil tulisan tangan Mbah Abdul Aziz yang dikenal sebagai salah satu pengikut setia Pangeran  Diponegoro.  Mushaf Alquran tersebut berukuran tebal sekitar 12 sentimeter, terdiri dari  400 halaman dan beratnya sekitar 1,5 kilogram. Sampulnya terbuat dari bahan kulit hewan, kemungkinan dari kulit kerbau atau sapi. Namun, kondisi bagian sampulnya sudah patah dan disambung dengan perekat.  

Alquran itu ditulis oleh Mbah Abdul Aziz sebelum masa perjuangan Diponegoro pada 1825-1830. Alquran itu ditulis menggunakan lidi aren. Meski usianya sudah ratusan tahun, namun tulisan dari tinta hitam masih terlihat jelas. Hanya saja, kertasnya sudah ada yang robek di beberapa bagian. pada bagian awal lembaran Alquran peninggalan era Diponegoro tersebut ada hiasan bercorak batik warna-warni. Makam Mbah Abdul Aziz, penulis mushaf Alquran ini berada di Soroniten, Kalikajar, kabupaten Wonosobo. Di sana juga ada masjid peninggalan beliau yang sempat hancur. Namun kini sudah direnovasi.

Selain di kota Magelang, bangunan masjid yang berhubungan dengan Pangeran Diponegoro juga terdapat di kabupaten Magetan. Masjid tersebut dibangun oleh KH. Abdurrahmanm yang merupakan salah seorang pengikut Pangeran Diponegore, setelah berahirnya Perang Jawa. Lokasi Masjid tersebut berada di dusun Tegalrejo, Desa Semen, Kecamatan Nguntoronadi kabupaten Magetan, Jawa Timur.***

Referensi