Sunday, January 8, 2017

Masjid Giriloyo Yogyakarta

Masjid Giriloyo berada di komplek pamakaman Giriloyo.

Masjid Giriloyo adalah masjid tua yang berada di komplek pemakaman Giriloyo di Dusun Giriloyo, desa Wukirsari kecamatan Imogiri, kabupaten Bantul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdirinya kompleks Masjid dan Makam Giriloyo ini, erat kaitannya dengan Masjid Pajimatan dan kompleks makam raja-raja Mataram di Imogiri, usia kedua masjid dan pemakaman ini diperkirakan tidak jauh berbeda, dibangun sekitar abad 16 Miadiyah. Kedua tempat tersebut diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Sultan Agung.

Masjid Giriloyo atau Girilaya dibangun oleh Pangeran Juminah (Paman Sultan Agung) Atas perintah langsung dari Sultan Agung, sebagai bagian dari rencana pembangunan komplek pemakaman kerajaan. Lokasi-nya berdekatan dengan makam Sultan Cirebon ke VI, Panembahan Ratu Pakungwati II yang merupakan menantu dari Raja Mataram Sunan Amangkurat I (Putra Sultan Agung), Panembahan Ratu Pakungwati II dikenal dengan nama Panembahan Girilaya karena dimakamkan di Girilaya (Giriloyo).


Di Pemakaman Giriloyo terdapat makam Pangeran Juminah dan keluarganya, serta ibunda dari Sultan Agung. Letak komplek makam Giriloyo berada di perbukitan yang lokasinya lebih tinggi dari masjid ini, untuk sampai ke makam harus menaiki tangga batu dan semua orang akan melewati Masjid Giriloyo yang berada di bawahnya.

Kompleks makam Pangeran Juminah di-urus dan dijaga beberapa abdi dalem keraton yang ditunjuk untuk bertugas. Sebagian besar adalah warga sekitar Dusun Cengkehan Giriloyo. Sedangkan pembangunan masjid kemudian di lanjutkan oleh Kiai Marzuki dan keluarganya. Untuk makam di sekeliling masjid atau yang ada di bawah adalah diperuntukkan warga dusun setempat saja.

Bagian ruang utama Masjid Giriloyo masih utuh seperti semula dengan atap model tumpang atau tajug dengan empat saka guru dari kayu jati yang. Bangunan masjid berdenah bujur sangkar dengan luas sekitar 80 meter persegi. Di dalam ruangan tersebut terdapat mimbar tempat khatib menyampaikan khotbah.

Dinding bangunan terbuat dari batu bata yang diplester. Sedangkan lantai masjid terbuat dari tegel warna hijau tua. Selain itu terdapat bedug, kentongan dan beberapa keranda yang disimpan di samping masjid. Gempa 27 Mei 2006 sempat membuat retak-retak pada tembok sisi selatan masjid ini namun sudah diperbaiki.

Di sebelah selatan ruang utama terdapat ruang pawestren yang dulu biasa digunakan untuk jamaah perempuan. Serambi masjid juga masih ada dan berbentuk seperti aslinya. Di depan serambi masjid terdapat kolam dengan ukuran 10 x 1,5 meter yang digunakan para jamaah membersihkan kaki sebelum masuk masjid agar bersih dari segala kotoran.

Masjid Giriloyo dilengkapi dengan tiga buah pintu dan empat jendela, namun ruang utama masjid masih tampak gelap dan temaram ditambah dengan udara di dalam masjid yang sangat sejuk karena banyak pepohonan rindang yang tumbuh di sekeliling masjid, memberikan nuansa ke-khusu’an tersendiri beribadah di masjid tua ini.***


Saturday, January 7, 2017

Masjid Raya Al-A'zhom Tangerang

Empat menara lancip dan ramping menjulang mengapit kubah besar di atap masjid merupakan ciri utama masjid masjid dari era kejayaan Emperium Usmaniyah yang berpusat di Istambul, Turki. Rancangan klasik dinasti ke-khalifahan Islam terahir tersebut di aplikasikan dengan apik dalam sentuhan moderan di masjid Raya Al-A'zom Tangerang, Provinsi Banten ini.

Masjid Raya Al-A’zom dalah masjid yang berada di komplek perkantoran Pemerintah Kota Tangerang, provinsi Banten. Kubah bersusun berukuran besar dengan empat menara yang menjulang merupakan fitur utama tampilan Masjid Raya Al-A’zom ini. Kubah masjid ini terlihat benar benar mendominasi keseluruhan bangunan masjid. Empat menara masjid ini masing masing memiliki tingi 55 meter, dengan ujung berebentuk panjang meruncing, sangat khas bangunan masjid era emperium Usmaniyah yang berpusat di Istambul Turki. Gaya bangunan seperti ini memang ciri khas dari bangunan masjid dari era tersebut.

Masjid Raya Al-A’zom dirancang sedemikian rupa untuk menciptakan ruangan yang luas di dalam masjid dengan memanfaatkan keunggulan bahan bangunan modern dan keunggulan struktur bangunan kubah semi monokok menghasilkan area luas di bawah kubah tanpa tiang penyanggah. Kolom kolom penopang besar ditempatkan disekililing lingkar luar susunan kubah sekaligus sebagai penyanggah kubah yang juga sebagai atap masjid. Sisi dalam kubah juga memberikan ruang luas dibawah nya, menghasilkan efek sejuk alami dari sirkulasi udara yang baik dan penggunaan batu batu alam sebagai material bangunannya. Nuansa tradisional terasa sekali pada bagian interior, dengan sejumlah perangkat dan ornamen yang memunculkan nuansa tradisional itu.





Masjid Al-A’zom dibangun dengan satu kubah utama berdiameter 32,782 meter di bagian tengah ditopang oleh empat bangun semi kubah di empat sisi, masing masing bangun semi kubah ini berdiameter 32,782 meter, sehingga luas keseluruhannya mencapai 3.142 meter persegi, seluas itu pula luasan tanpa tiang yang ada dibawah tumpukan lima kubah ini. Berat keseluruhan lima kubah ini mencapai 300 ton. Seberat itu pula beban yang ditanggung oleh jejeran tiang tiang besar penopang struktur kubah ini yang menjadi unsur dekoratif tersendiri di masjid ini. Tiang tiang ini berketinggian rata rata tujuh meter dari permukaan lantai.

Sisi luar kubah ini di dominasi dengan warna hijau putih sedangkan sisi dalamnya di dominasi dengan warna ke-emasan. Kaligrafi Al-Qur’an menjadi pilihan ornamen di bagian dalam kubah. Kubah sisi barat, dihias kaligrafi Surah an-Nur ayat 35, Al-Baqarah 255 dan 285. Kubah sisi selatan, kaligrafi Surah at-Taubah 105, Ali Imran 112, dan Al-An’am 132-133. kubah sisi timur dihias dengan Kaligrafi Surah Al Bayyinah ayat 5 dan Ar-Ruum 30-33, sedangkan, kubah sisi utara dihias kaligrafi Surah al-Anbiyaa 107, al-Fath 29, dan Luqman 17-18.

Masjdi Raya Al-A’zom Tangerang ini dirancang oleh arsitek Slamet Wirasonjaya. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 7 Juli 1997 dan diresmikan pada 28 Februari 2003 oleh Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar, Berdiri di atas lahan seluas 20.810m2 Masjid Raya Al-A’zom terdiri dari dua lantai. Lantai dasar seluas 4.790 meter persegi, sementara luas lantai dua mencapai 909,92 meter persegi. Masjid Raya ini dilengkapi dengan perpustakaan dan perkantoran bagi lembaga lembaga Islam di kota Tangerang.

Pekarangan masjid ini cukup luas terdiri dari lahan parkir dan taman yang dihijaukan dengan aneka tanaman termasuk pohon kurma yang ditanam disisi jalan utama menuju ke pintu masuk masjid, serta tanaman tanaman lokal lainnya seperti palem, lengkeng, sawo kecil, kecapi, mangga, hingga jambu air. Di masjid ini juga dilengkapi dengan sebuah keran yang airnya dapat langsung diminum, berada di sisi kanan pintu masuk dan sebuah beduk besar berdiameter 185 cm.

Pada monumen peresmian yang berdiri di halaman depan masjid tertera bahwa peletakan batu pertama pembangunan masjid dilakukan pada 7 Juli 1997 oleh Walikota Tangerang saat itu yaitu H Djakaria Machmud dengan Ketua Panitia Pembangunannya HMA Thahiruddin. Pembangunan pun selesai pada 28 Pebruari 2003 dan diresmikan oleh Menteri Agama RI saat itu yaitu Said Agil Husin Al Munawar. Sementara seremonial peresmiannya juga dilakukan pada 23 April 2003 oleh Walikota Tangerang saat itu H Moch Thamrin.***


Sunday, January 1, 2017

Masjid Besar Pakualaman Yogyakarta

Gapura Masjid Pakualaman

Masjid Pakualaman adalah Masjid Resmi Puro Pakualaman yang berada di kelurahan Kauman, kecamatan Pakualaman kota Yogyakarta, lokasi nya berada disebelah barat laut alun alun Sewandanan diluar komplek Puro, sekitar dua kilometer kea rah timur laut dari karton Yogyakarta. Karena faktor usia dan sejarahnya Masjid Pakualaman merupakan salah satu benda cagar budaya di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan usianya yang sudah mendekati dua abad, kondisi masjid Puro Pakualaman ini sangat terawat. Bangunan utama masjidnya berupa bangunan joglo dengan empat sokoguru ditengah ruangan sebagai penyanggah struktur atap, bangunan ini memiliki luas luas 144 m2 dan dilengkapi dengan empat buah serambi dengan luas 238 m2. Didalam masjid dilengkapi dengan mihrab dan sebuah mimbar kayu berukir dibalut dengan warna emas.

Sejarah Masjid Pakualaman

Sejarah pembangunan masjid ini dicatat dalam empat prasarti yang ada di masjid ini. Dua prasasti menggunakan aksara arab dan dua prasasti menggunakan aksara Jawa. Dari dua jenis prasasti tersebut terdapat dua tarikh yang berbeda, prasasti yang berada disebelah utara masjid bertarikh Jawa 1767 atau bertepatan dengan tahun 1839 Miladiyah, sedangkan prasasti disebelah selatan menunjukkan tarikh Jawa yang bertepatan dengan tahun 1855 Miladiyah

Meski ada perbedaan tarikh pada dua prasasti tersebut namun pada umumnya para ahli bersepakat bahwa masjd Pakualaman dibangun oleh KRT Natadiningrat atau Sri Paku Alam II pada tahun 1831 yang berkuasa di wilayah Kadipaten Pakualaman dan Kadipaten Karang Kemuning paska perang Diponegoro.




Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Natadiningrat atau Kanjeng Pangerang Haryo (KPH) Suryaningrat atau Sri Paku Alam II dinobatkan sebagai Raja di Kraton Puro Pakualaman pada tanggal 4 Januari 1830 dan wafat pada tanggal 13 Juli 1885 dimakamkan di Pesarean Hastana Kotagede Yogyakarta. Beliau naik tahta menggantikan mendiang ayahandanya Pangeran Natakusuma atau Sri Paku Alam I yang wafat pada tahun 1829.

Selain sebagai Raja, Sri Paku Alam II juga dikenal sebagai seorang seniman ulung yang sangat terkenal. Paska perang Diponegoro, Paku Alam II banyak sekali menghasilkan karya seni termasuk juga mengenalkan seni musik dan drama secara terbuka di kalangan Kraton dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya.

Selain mendirikan dan memimpin jama’ah di masjid Puro Paku Alam, Sri Paku Alam II juga menulis karya sastra Serat Baratayudha dan Serat DewaRuci yang berisi tentang penjabaran dua kalimat syahadat dan sifat Allah yang dua puluh. Beliau juga dikenal dengan titahnya yang berbunyi : "Barang siapa masuk Masjid Puko Paku Alam, saya mengharap dengan sangat agar membasuh diri atau bersuci hingga bersih, juga agar turut menjaga kebersihan dengan menyapu serambi masjid dan halamanya".***


Saturday, December 31, 2016

Masjid Agung Nurul Ikhlas di Cilegon

Empat menara setinggi 55 meter ditambah dengan kubah hijaunya.menjulang diantara pertokoan dan pusat perniagaan di pusat kota Cilegon merupakan fitur utama dari Masjid Agung Nurul Ikhlas ini. 

Masjid Agung Nurul Ikhlas adalah masjid agung bagi kota Cilegon provinsi Banten. Lokasi masjid ini berada di sisi ruas jalan Sultan Ageng Tirtayasa 2 di pusat kota Cilegon berseberangan dengan rumah dinas walikota Cilegon, diantara jejeran pertokoan pusat perniagaan di kota yang wilayahnya membentang hingga ke pelabuhan penyeberang Merak yang merupakan gerbang utama pulau Jawa dari arah laut dari arah pulau Sumatera. Empat menaranya yang unik dan menjulang plus kubah hijau ala masjid Nabawi nya itu menjadi fitur utama bangunan masjid agung Kota Cilegon ini.

Masjid Agung Nurul Ikhlas Cilegon berdiri di atas lahan seluas 3600 m2. Menurut beberapa sumber masjid ini sudah berdiri sejak masa penjajahan Belanda dengan bentuk yang tak semegah, sebesar dan seindah saat ini. Kala itu masjid ini sudah memiliki menara namun tak setinggi menaranya saat ini, kemudian dilakukan perombakan, menara tunggalnya dibuat lebih tinggi dalam perombakan kedua bangunannya.




Pembangunan ulang masjid ini dilakukan oleh Pemkot Cilegon dimulai pada tanggal 2 Februari 2006, dengan masa pembangunan selama hampir tiga tahun menghabiskan dana sekitar 23 milyar Rupiah bangunan Masjid Agung Nurul Ikhlas berubah total dari bentuknya semula ke bentuknya saat ini, daya tamping Jemaahpun meningkat hingga mampu menampung 2000 jemaah sekaligus. Peresmian masjid ini dilakukan pada tanggal 27 Maret 2009 oleh Agama RI H. Maftuh Basuni dan Walikota Cilegon H. Tb. Aat Syafa’at.

Masjid Agung Nurul Ikhlas terdiri dari tiga lantai, lantai basemen (1.175 m2), lantai dasar (1.372) dan lantai satu (1.073 m2). Lantai basemen merupakan area pendukung tempat wudlu dan toilet berada di lantai ini. Ruang sholat utama berada di lantai dasar. Sementara lantai satu digunakan untuk ruang sholat wanita atau tambahan ketika sholat jumat atau Idul Fitri dan Idul Adha dilaksanakan. Dari pintu gerbang, kita bisa langsung bisa melihat pintu utama masuk ke dalam masjid.

Tangga, jembatan dan jalan akses langsung menuju ke lantai satu masjid ini disediakan di bagian luar masjid mengarah ke empat buah pintu besar yang langsung terhubung ke ruang sholat utama. Area parkir masjid ini tidak terlalu luas sehingga daya tampung kendaraanpun juga terbatas pula.Pemilihan material untuk masjid ini memang cukup apik. Interior dan ekterior masjid ini di dominasi oleh marmer bewarna putih hitam abu abu hingga ke ruang dalamnya menghadirkan suasana yang sejuk ditengah kota Cilegon yang panas. Masjid ini memang dirancang sebagai sebuah bangunan modern sesuai dengan kondiri kota Cilegon yang bergerak sebagai sebuah kota modern.***



Sunday, December 25, 2016

Masjid Agung An Nur Pare, Kediri

Masjid An-Nur ini dibangun di kota kecamatan dengan kemegahan yang tak kalah dengan masjid agung kabupaten.

Pare adalah kecamatan yang terletak di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Sebagai sebuah kecamatan, Pare tergolong maju. Berbagai infrastruktur seperti hotel, rumah sakit besar, pusat perbelanjaan, dan kantor-kantor perwakilan bank ada di sana. Salah satu yang mencirikan pesatnya kemajuan Pare adalah Masjid Agung An-Nur. Masjid megah ini merupakan pusat syiar Islam di Pare dan Kediri. Lokasinya di jalan utama kota menegaskan keberadaan masjid sebagai landmark wilayah Pare.

Pola arsitekturnya indah. Tak tanggung-tanggung, konsep arsitektur masjid ini telah mendapat penghargaan dari Kerajaan Saudi Arabia sebagai juara pertama sayembara internasional untuk kategori Perancangan Arsitektural Masjid, termasuk pemanfaatan teknologi modern dalam arsitektur masjid. Sayembara ini digelar dalam rangka memperingati 100 tahun lahirnya Kerajaan Arab Saudi pada akhir Januari 1999 lalu.




Masjid yang namanya diambil dari nama pejuang Islam tersohor di Pare, yakni Kiai Nurwahid, tersebut mengambil pola dasar arsitektur khas Jawa Klasik. Hal ini dapat dilihat pada atap masjid yang berbentuk tajug dengan model piramid di ujung atasnya. Menariknya, atap ini dibuat dengan sudut kemiringan yang cukup ekstrem sehingga terkesan menjulang tinggi ke langit.

Keindahan masjid diperkuat dengan keberadaan kolam tepat di area plaza masjid. Pada waktu-waktu tertentu, kolam tersebut merefleksikan bayangan masjid secara utuh hingga menghasilkan pemandangan yang sangat indah. Pada malam hari pun kolam menjadi aksen keindahan tersendiri karena dilengkapi lampu di sepanjang bibir dan tengah kolam.

Meskipun mengambil gaya Jawa Klasik, pada Masjid An-Nur ini juga diberlakukan modifikasi. Tiang utama atau biasa disebut sebagai soko guru yang pada kebanyakan masjid Jawa Kuno berjumlah empat, pada masjid ini masing-masing tiang digandakan lagi menjadi empat soko guru yang disatukan oleh balok pengikat saling bersilangan.

Bagian dalam ruang utama masjid tampil bersahaja, tidak terlalu banyak menggunakan detail ornamen. Konsep ruang memang dibuat terbuka sehingga pencahayaan alami dari luar bebas menerobos ke dalam ruang. Tidak banyak detail ornamen yang tampak pada mihrab masjid ini. Mihrab hanya dibentuk dari tiga lapis garis lengkung sebagai pembeda dengan bagian lain. Mimbar yang diletakkan di mihrab pun terlihat sederhana.

Keunikan lainnya adalah beduk di ruang utama ibadah. Di kebanyakan masjid, biasanya beduk diletakkan di plaza atau luar ruang utama. Namun, keberadaan beduk ini terkesan sebagai aksen ruang yang menegaskan keutamaan ruang tersebut. Masjid yang rancangannya terilhami oleh arsitek asal Amerika Serikat, John Portman, tersebut berhasil memadukan berbagai keunikan menjadi satu bentuk yang megah namun tetap elegan. Hasilnya, kesan ramah pun terasa kental di sana.***


Saturday, December 24, 2016

Masjid Islamic Centre Dr. H. Moeldoko

Masjid Islamic Center ini merupakan impian dari Pak Moeldoko sejak lama dan beliau wujudkan dengan memulai peletakan batu pertama pembangunannya pada saat beliau masih menjabat sebagai Panglima TNI.

Masjid megah yang masih gres ini bernama Masjid Islamic Center Dr. H. Moeldoko. Nama masjid yang sama sekali tak berarima arab seperti kebanyakan nama masjid yang biasa dikenal, nama masjid ini memang dinamai sesuai dengan nama pembangunannya yakni, Jendral TNI (Pur) Dr. H. Moeldoko, mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Masjid Megah nan modern ini berdiri di tepian ruas jalan raya Kayen di kecamatan Bandar Kedung Mulyo, kabupaten Jombang, ruas jalan yang saban hari di lalui oleh Pak Jenderal dengan berjalan kaki semasa masih menempuh pendidikan sekolah menengah dikampung halaman nya.

Masjid Islamic Center Dr. H. Moeldoko
Jl. Raya Kayen, Kayen, Bandar Kedung Mulyo
Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61462



Pembangunan Masjid Islamic Center Dr. H. Moeldoko di mulai dengan peletakan batu pertama pada tanggal 5 Oktober 2014 dan diresmikan pada hari Rabu tanggal 1 Juni 2016 langsung oleh Jenderal (purn) Dr. H. Moeldoko dihadiri oleh Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko, Ketua DPRD Jawa Timur A Halim Iskandar.

Pada saat peresmian, Dr. H. Moeldoko mengatakan bahwa “Masjid ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya yang telah membesarkan saya hingga sampai seperti ini. Selain itu Masjid ini saya persembahkan untuk bangsa dan negara.

Arsitektur masjid terisnpirasi saat Moeldoko melakukan perjalanan spiritual dan berkunjung ke puncak peradaban Islam, yaitu Masjid Biru di Istambul, Turki. Selain itu, kemegahan Masjid Ar Rayyan, Kebon Sirih, Jakarta, juga semakin membulatkan niat Moeldoko untuk segera merealisasikan cita-citanya membangun masjid.

Langgam bangunan masjid Turki sangat kental pada Masjid ini, perhatikan fasad bangunannya yang tinggi datar dan kokoh, lalu kubah besar di atap masjid plus menaranya yang menjulang.

Lahan tempat masjid ini berdiri merupakan lahan milik Pemkab Jombang sedangkan dana pembangunan masjid seluruhnya ditanggung oleh Pak Moeldoko. lokasi Islamic Centre ini sengaja dipilih di kawasan Bandar Kedungmulyo. Pasalnya, lokasi tersebut jaraknya dekat Kecamatan, Purwoasri, Kabupaten Kediri dan juga dekat dengan Kota Jombang. Masing-masing jaraknya hanya 10 kilometer.

Kecamatan Purwoasri, Kediri dan Jombang memang memiliki sejarah tersendiri bagi mantan Panglima TNI. Pasalnya, Pak Moeldoko dilahirkan di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri. Sedangkan Jombang adalah tempat Beliau mengahabiskan masa mudanya. Dia bersekolah di SMPP Jombang (sekarang SMA Negeri 2 Jombang).

Atas dasar itu pula Pak Moeldoko ingin memberikan hal terbaik untuk masyarakat Jombang dan Kediri. Yakni dengan mendirikan komplek Islamic Centre. Dalam komplek tersebut terdapat masjid mewah berarsitek Turki Istambul dengan dua menara tinggi menjulang. Seluruh aset tersebut pengelolaannya diserahkan ke Pemkab Jombang. Kecuali untuk panti asuhan, yang tetap beliau tangani sendiri. Di panti asuhan tersebut terdapat 14 anak yatim. dan beliau sudah berniat untuk menyekolahkan mereka hingga sekolah tingkat tinggi.

Selain masjid, di komplek tersebut juga terdapat gedung Islamic Centre, serta pusat oleh-oleh. Karena masjid mewah itu memang diproyeksikan sebagai tempat wisata religi. Masjid ini berukuran 30x30 meter dan mampu menampung sekitar 1500 jamaah. Sedangkan luas lahan mancapai 6.685 meter persegi. Bukan hanya itu, di komplek tersebut juga terdapat sekolah TK dan TPQ berukuran 8×24 meter persegi, serta panti asuhan. Terakhir terdapat tiga unit toko atau pusat oleh-oleh.***


Sunday, December 18, 2016

Masjid Al-Ishlah Arso IX Keerom

Berbentuk masjid masjid tradisional di pulau Jawa, masjid Al-Ishlah Arso IX ini merupakan salah satu dari masjid masjid serupa di kabupaten Keerom, provinsi Papua.

Keerom adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua yang berbatasan langsung dengan Republik Papua Nugini, bersama sama dengan kota Jayapura, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Boven Digoel dan kabupaten Merauke. Keerom juga merupakan wilayah kabupaten di provinsi Papua yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Pekembangan wilayah kabupaten ini salah satunya adalah keberhasilan program transmigrasi sejak masa pemerintahan mendiang Presiden Soeharto.

Terdapat tiga distrik di Kabupaten Keerom yang merupakan daerah penempatan trasnmigran antara tahun 1964 hingga tahun 2000 yaitu Distrik Arso 4.820 KK atau 20.033 jiwa, Skanto 3.309 KK atau 13.729 jiwa dan Distrik Senggi 330 KK atau 1.218 jiwa. Daerah asal para transmigran antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT (Flobamora).

Di tahun 2008 Bupati Kabupaten Keerom, Provinsi Papua, Drs Celsius Watae mendapat pengharagan dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) karena keberhasilannya dalam melakukan pendampingan kepada para eks transmigran di kabupaten tersebut.

Kabupaten Keerom merupakan wilayah pemekaran dari Jayapura. Berdasarkan undang-undang Nomor 26 Tahun 2002, Luas wilayahnya mencapai 9.365 kilometer persegi dengan 7 distrik yang masuk wilayah Kabupaten Keerom, yaitu Arso, Waris, Senggi, Skanto, Web, Arso Timur dan Towe. Sesuai dengan UU 26/2002, kabupaten Keerom beribukota di Waris, namun karena belum tersedianya infrastruktur yang memadai, roda pemerintahan kabupaten, dijalankan di Arso.

Zikir dan Sholawat di masjid Al-Ishlah Arso IX

Keerom memiliki banyak potensi, seperti pertanian yang menghasilkan padi, perkebunan dari kelapa sawit, peternakan di antaranya ayam, dan perikanan yang menghasilkan pendapatan ikan air tawar. Belum lagi buah merah, buah populer dari Papua dan hanya di Papua. Begitu pula dengan sarang tawon.

Sebagai daerah dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, Masjid dan mushola dengan mudah dapat ditemukan di kabupaten Keerom. Salah satunya adalah Masjid Al-Ishlah Arso IX yang berada di kampong Intaimilyan Skanto. Salah satu kawasan yang berkembang melalui program transmigrasi.

Masjid Al-Ishlah Arso IX dibangun pertama kali tahun 1990 diatas tanah seluas 1000 meter persegi dan luas bangunan 600 meter persegi. Tanah tempat masjid ini berdiri berstatus Sertifikat Hak Milik (SHM). Masjid Al-Ishlah juga sudah terdaftar di kementrian agama dengan nomor I.D. masjid 01.4.32.11.05.000008.

Masjid Al-ishlah Arso IX
Jl. Nusantara, UPT IX Kampung Intalmilyan
Disttrik Skanto, Kabupaten Keerom,
Kabupaten Keerom, Papua 99468, Indonesia


Para pengurus masjid dan mayoritas jamaahnya adalah para transmigran muslim dari luar Papua. Di malam Jum’at, praktis aktifitas masyarakat muslim di sini seperti terhenti. Aktivitas masjid ini cukup makmur termasuk penyelenggaraan pengajian dengan mengundang Ustadz dari Pulau Jawa seperti yang dilaksanakan pada hari Minggu, 28 Agustus 2016.

Sekitar 500 jemaah begitu antusias dan berbondong-bondong mendatangi Masjid Al-Islah guna menghadiri pengajian, dzikir dan sholawat yang terselenggara atas kerjasama ta’mir Masjid Al-Islah dengan Majelis Ta’lim Al-Munawwarah Kabupaten Keerom dengan menghadirkan Gus Anom bin Syech Arifin bin Ali bin Hasan dari Sidoarjo Jawa Timur. Turut hadir dalam acara tersebut Wakil Bupati Kabupaten Keerom M. Markum, Dansatgas Yonmek 516/CY Letkol Inf.  Lukman Hakim dan Ketua MUI Kabuapten Keerom H. Nursalim.***